Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Potongan Puzzle


__ADS_3

Setelah selesai menerima panggilan teleponnya Deren kembali ke dapur dan membantu Aisyah menghidangkan masakan yang sudah siap masak.


"Dek, ada kabar gembira untuk kita," ucap Deren.


"Apa itu Ak?" tanya Aisyah.


"Ada yang mau bantuin kita buat ngebebasin ayahmu," jawab Deren.


"Benarkah? siapa itu?"


"Rivalnya dia! tapi Aak nggak tahu siapa, abang angkat Aak yang kenal!" jawab Deren.


"Apakah pria itu banyak musuh Ak?" tanya Aisyah. Deren mencubit hidung Aisyah.


"Aaaa ... Aak, sakit!" teriak Aisyah manja.


"Makanya jadi orang jangan oon. Ya pasti lah dia banyak musuh. Hidup di dunia per-gangster-an itu nggak mudah Dek. Kita harus tega melenyapkan seseorang demi tujuan kita," jawab Deren. Pria ini terlihat bersedih. Kemudian dia pun melanjutkan lagi kata-katanya.


"Tapi, Aak merasa bersyukur. Karena Aak dikelilingi orang-orang yang baik. Mau mengingatkan ketika Aak salah. Bahkan, kepercayaan yang Aak anut sekarang juga berkat mereka. Jujur Aak sudah lelqh dengan dunia yang keras ini, Aak ingin hidup damai bersama anak dan istri Aak nanti. Makanya Aak pulang ke Malang dan ingin mengubah nasib. Nggak tahunya mau dapet istri aja jalannya sama juga, harua berhadapan ama preman juga," ucap Deren. Aisyah malah tersenyum lucu.


"Calon istrinya ternyata malah anaknya ketua geng ya Ak," balas Aisyah dengan senyum cantiknya.


"Kamu cantik Dek," puji Deren.


"Aak juga tampan ... tapi boong!" balas Aisyah. Deren kembali mencubit manja hidung kekasihnya. Mereka terlihat sangat uwu sekali.


"Kata Bang Joker, Mr. Zen itu pria yang hendak membeli Aish ya 'kan, Ak?" tanya Aisyah.


"He em,"


"Dasar orang gila, emang Aish apaan? main beli aja, dia pikir dia siapa?" ucap Aisyah geram. Entah kenapa? Aisyah terlalu terlihat lucu di mata Deren. Mau marah, mau crewet mau dalam situasi apapun gadisnya ini tetep menggemaskan baginya.


"Sebaiknya kita pulang ke Jawa Dek, kita tanya abah. Dimana alamat ibumu!" ajak Deren.


"Aak nggak capek bantun Aish? jujur Aish nggak enak sama Aak," ucap Aisyah merasa tak nyaman dengan kebaikan yang Deren berikan untuknya.

__ADS_1


"Nggak sayang, kamu tenang aja. Bantu orang ma nggak boleh setengah-setengah," jawab Deren.


"Makasih ya Ak. Maaf semalem Aish udah ciumin Aak tanpa izin," ucap Aisyah sambil tertunduk malu.


Deren tersenyum mendengar ucapan aneh kekasihnya. Aisyah memang unik.


"Ngga apa-apa. Asal jangan nodai Aak aja," ledek Deren. Aisyah menatap tak percaya pada ucapan Deren.


"Dih, mana ada cewek menodai cowok. Belum pernah denger Aish," jawab Aisyah. Deren tak menjawab dia malah makin asik memakan krupuk yang ada di depannya.


"Aak ma kebiasaan. Kalau ngomong setengah-setengah," ucap Aisyah manja. Deren tak perduli rengekan kekasihnya, dia malah asik melanjutkan aktifitas makannya.


"Setengah-setengah gimana to Ish, Aisyah," goda Deren.


"Tahu ah ... Aak nyebelin," ucap Aisyah kesal.


"Tuhan, cantik-cantik ngambekan! ntar kalau Yoyok lihat bingung lagi dia. Ntar, dia pasti nanya gini ... Nona Bos kenapa lagi tu?" ucap Deren menirukan kemungkinan kata yang akan diucapkan anak buahnya. Aisyah pun tertawa.. Menurut Aisyah anak buah Deren yang paling kocak adalah Yoyok. Pria tanpa dosa itu selalu terlihat polos memang.


"Bosnya aneh, anak buahnya apa lagi," jawab Aisyah sambil mengambilkan nasi dan lauk untuk Deren dan dirinya. Deren hanya tersenyum saja. Duh ... indahnya punya istri.


"Kok, Aak bisa ketemu ama orang-orang aneh gitu, gimana ceritanya Ak?" tanya Aisyah.


"Kamu ini, yang ditanya kok yang aneh-aneh to Dek," jawab Deren. Aisyah hanya tersenyum polos.


"Ak, panggil anak buah Aak tu. Sekalian ajakin sarapan!" pinta Aisyah. Deren pun menurut dan menghubungi kedua kawannya ini by phone.


"Udah tak panggil, jangan kaget nanti lihat cara mereka makan," canda Deren.


"Emang kenapa Ak?"


"Lihat aja," jawab Deren sambil tertawa. Obrolan


mereka berhenti sesaat, mana kala Yoyok dan Kopri datang untuk sarapan dan bergabung di meja makan.


Tampak Yoyok masih menatap heran kearah Aisyah. Sebab Aisyah terlihat tenang dan tidak menunjukan kemarahannya.

__ADS_1


"Duduk Pri, Yok. Nggak usah takut!" canda Deren. Aisyah hanya tersenyum. Dia tahu Yoyok takut pada gadisnya.


"Silakan dimakan Bang! rasanya kurang apa bisa kasih tahu saya!" ucap Aisyah. Yoyok tersenyum, rasa takutnya hilang tiba-tiba. Berganti dengan nafsu makan yang memuncak.


"Kelihatanya enak Non, wissss ... ora sabar aku," ucap Yoyok sambil menggosok-gosokkan tangannya. Bersiap mengambil piring dan makanan yang dia kehendaki.


"Ish ... sing sopan. Gae isin ae arek iki (ish, yang sopan. Buat malu aja anak ini)," ucap Kopri. Pastilah dia malu dengan tingkah adeknya yang kekanak-kanakan itu.


"Isin nyapo to Bang. Wong tujuane dimasak ya dipangan kok (malu kenapa to Bang. Orang masak kan tujuannya buat dimakan," jawab Yoyok ngeles.


"Iya, tapi jangan malu-maluin gitu. Maaf Nona Bos, maaf Bos, maafkan adek saya!" ucap Kopri. Deren dan Aisyah hanya tersenyum menyaksikan perdebatan kakak beradik itu.


"Nggak apa-apa Bang. Bang Yoyok bener kok, kan dimasak buat dimakan," jawab Aisyah. Mendengar Aisyah berkata seperti itu membuat Yoyok merasa mendapat lampu hijau untuk melepaskan hasratnya. Menyantap setiap menu yang ada di meja makan.


***


Malang...


Dokter pribadi Patrio Guran yang ikut disandera oleh Mr. Zen merasa sangat kasihan pada pria tua itu. Dia mulai mencari akal untuk tetap mematuhi perintah Mr. Zen tapi tetap setia pada Patrio Guran.


Malam itu seperti biasa, dia harus menyuntikkan obat tidur untuk Patrio. Dengan dikawal oleh beberapa ajudan Mr. Zen sang dokter pun melaksankan tugasnya dengan baik.


Sayangnya sang ajudan tak tahu bahwa yang dokter suntikkan ke tubuh pria tua itu hanyalah air biasa.


"Tuan, maafkan saya. Saya tadi menyuntik Tuan, tapi itu hanya air biasa. Saya harap Tuan segera sadar dan bisa kabur dari sini. Jangan buka matamu sebelum kami keluar," bisik sang Dokter di telinga Patrio Guran. Untungnya Patrio mendengar dengan baik ucapan sang dokter.


Meski tubuhnya masih terasa berat untuk digerakkan tapi Patrio tak putus asa. Dia berusaha untuk terus menjaga kesadarannya. Anehnya, dalam tidur panjang yang dia alami beberapa hari ini. Patrio merasakan ada keanehan pada ingatannya.


Ingatan itu seperti potongan potongan puzzle yang tak jelas. Patrio merasa seperti mimpi. Mimpi yang nyata.


Patrio seperti berada dalam rumah yang mewah, di sana ada seorang wanita yang sedang bermanja manja dengannya. Dalan hati Patrio bertanya, siapa wanita itu? wajahnya terlihat samar, kurang jelas.


Patrio berusaha mengulang lagi ingatan tang datang secara tiba-tiba itu. Sayangnya, semakin dia memaksa semakin ingatan itu hanya kembali seperti potongan puzzle. Membuat Patrio bingung dan merasakan sakit di kepalanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2