
Arumi menyelimuti tubuh Aisyah. Mengelus punggung gadis manis ini dengan penuh kasih sayang.
"Mbak, baju sama hijab saya kapan datang?" tanya Aisyah.
"Bentar lagi, udah aku pesenin kok," jawab Arumi.
"Makasih ya, Mbak. Jangan kasih Aak masuk ya kalau baju saya belum dateng. Saya malu, Mbak," ucap Aisyah sambil meremas selimut yang kini menutupi tubuhnya
"Iya sama-sama. Biasanya orang-orang yang ada disekeliling kamu, manggilnya siapa?" tanya Arumi lagi.
"Nama saya Aisyah Nur, Mbak. Biasanya orang-orang memanggil saya Aish," jawab Aisyah.
"Ooh, Aish. Aish jangan sedih lagi ya. Kami semua menyayangimu. Terutama Aak mu, dia sangat mencintaimu. Percayalah!" ucap Arumi mencoba membuka pikiran Aisyah agar lebih terang.
"Iya, Aish juga sayang sama Aak, Mbak." jawab Aisyah jujur.
"Mbak tahu itu, sekarang istirahatlah. Jangan pikirkan sesuatu yang membuatmu sakit. Mengerti! Mbak, tinggal bentar ya," ucap Arumi.
" Iya Mbak. Makasih banyak ya, Mbak!" jawab Aisyah.
Arumi pun mengelus pundak gadis malang ini lagi. Sebelum dia keluar dari ruangan itu.
Arumi harus segera menemui suami dan juga Deren, untuk membicarakan apa yang sebenarnya terjadi pada Aisyah.
"Gimana Mbak?" tanya Deren saat melihat Arumi keluar dari ruangan itu. Arumi tersenyum pada Deren. Dia tahu bawa pria ini sangat mencintai dan perduli pada gadis yang sedang berbaring lemah di dalam. Makanya dia sangat khawatir dan itu wajar menurut Arumi.
"Sepertinya kita harus bicara serius, Uncle," ucap Arumi.
"Mbak Rum jangan bikin aku takut," jawab Deren.
__ADS_1
"Enggak, tapi ini memang harus kita bicarakan, Uncle. Kasihan someone-mu," jawab Arumi. Mereka bertiga pun memutuskan mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol. Dan mereka menemukan tempat duduk di ujung lorong rumah sakit tersebut.
"Jadi gini Uncle, sepertinya Mbak Aisyah ini bukan hanya trauma akan satu hal," ucap Arumi. Yudha dan Deren saling menatap bingung.
"Maksudnya?" tanya Deren dan Yudha barengan.
Arumi menatap kedua pria yang tidak peka itu secara bergantian.
"Uncle, uncle itu sekarang udah tampan bak bintang hollywood tapi kepekaan uncle soal perasaan perempuan perlu dipertanyakan. Aku nggak jadi deh ngefans ama uncle. Cukup Mas Yudha aja yang bikin aku pusing," jawab Arumi kesal.
Yudha menatap bingung pada wanita yang memberinya dua anak ini. Deren apa lagi, dia terlihat seperti anak sekolah yang ketahuan tidak mengerjakan tugas.
"Abi bikin Bunda pusing piye to, cinta kasih sayang dan isi dompet udah Abi kasih semua ke Bunda!" jawab Yudha mengalah.
"Ck ... apaan, Abi nggak ngerti perasaan Bunda. Kata Bunda tu kalau nglembur atau perginya kemana mbok yo bilang. Ora meneng-meneng bae (nggak diam-diam saja)," jawab Arumi kasal. Deren menatap wajah suami istri itu bergantian. Mereka terlihat cute dan menggemaskan. Yudha kini terlihat selalu mengalah pada istri cantiknya.
"Yo maaf kalau soal itu, Bun. Kan Bunda tahu Abi pelupa," jawab Yudha mencoba membela diri.
Deren sangat haus akan kasih sayang dan cinta. Derita masa kecilnya telah membuatnya menjadi seperti ini. Entah mengapa? yang jelas dia takut kehilangan Aisyah.
Yudha tersadar, bahwa sebenarnya yang harua mereka bahas adalah masalah Deren. Bukan masalah kepekaannya pada sang istri.
"Bun, jangan muter muter napa!" pinta Yudha.
"Oo iya, Uncle. Aduh sampai lupa, maaf-maaf. Jadi gini Bi, Uncle. Tadi Aisyah bilang sama Bunda, kalau dia merasa banyak selai orang orang yang membencinya. Berusaha menyakitinya. Dia bilang seperti ini. Kenapa ya Mbak, semua orang jahat sama saya. Memangnya salah saya apa?. itu artinya apa? itu artinya banyak orang yang tak menyukainya, bukan?.Dan bisa jadi dia pernah mendapatkan siksaan sebelum ini," jawab Arumi, menebak apa yang sebenarnya terjadi pada Aisyah. Deren sangat paham dengan apa yang Arumi maksud. Dan dia membenarkan itu.
"Tebakan Mbak Rum nggak salah. Sebelum ini dia memang merasakan sesuatu yang nggak nyaman," jawab Deren memelas. Pikirannya kalut. bagaimana tidak? bukan hanya fisik kekasihnya yang kena, tapi juga jiwanya.
Yudha dan Arumi menatap tak percaya pada jawaban yang diberikan oleh Deren.
__ADS_1
Deren tak bisa menunggu lagi. Dia pun hendak berdiri dan mendatangi kekasihnya. Ingin sekali rasanya dia memeluk wanita yang sangat dikasihinya ini. Menangkannya dan mengatakan padanya bahwa tidak semua orang membencinya. Bahkan, bisa dikatakan bahwa Deren adalah pria yang perduli padanya. Mencintainya sepenuh hati, mengasihinya dengan ketulusannya. Sayangnya Arumi mencegahnya.
"Uncle, jangan temui dia sekarang. Dia lagi malu sama Uncle. Dia nggak pakek hijab kan. Apakah dia selalu menutup auratnya?" ucap Arumi sambil bertanya. Dia pun cepat mencegah langkah Deren. Dan menarik tangan pria itu dan menyuruhnya duduk kembali.
Meski khawatir Deren tetap menuruti perkataan Arumi.
"Dia selalu menutupnya auratnya, Mbak," jawab Deren lirih.
"Ooo, pantesan. Uncle aku tanya sekali lagi ya, biar jelas. Siapa sajakah yang melakukan hal keji ini pada Aish, Uncle. Kenapa dia bisa setrauma itu?" tanya Arumi lagi. Deren menghela nafas dalam dalam dan berusaha menjelaskan apa yang dia ketahui.
"Dia memiliki ibu sambung dan abang tiri, Mbak Rum. Dia disiksa sama mereka, Mbak. Bahkan, dijadikan alat pembayaran hutang. Dan kasus itu merembet sampai ke kasus ini," jawab Deren sedih. Pantas saja Deren memperjuangkan Aisyah tak setengah-setengah. Arumi dan Yudha sangat kenal Deren. Pria ini memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Bisa dikatakan muka garang hati hellilo kitty.
"Sepertinya Uncle harus lebih sabar ngadepin si Someone. Dia merasa terkucilkan Uncle. Dan ini bisa membuatnya tak percaya diri nanti," jawab Arumi memperingatkan.
"Iya Mbak, aku akan coba," jawab Deren paham.
Kalau boleh jujur Deren sendiri pun belum paham benar apa yang sebenarnya terjadi pada Aisyah, kekasihnya. Menurutnya Aisyah masih belum terbuka sepenuhnya padanya. Masih ada sesuatu yang menuruy Deren masih ditutup rapat oleh kelasihnya ini.
***
Disisi lain ada Ayunda yang lemas tak berdaya, setelah disiksa oleh anak buah Deren. Dia sudah menangis dan memohon ampun. Sayangnya mereka sama sekali tak mau mendengarkan tangisan Ayunda.
"Kau katakan di mana Tuan Bos kau sekap. Atau kau memilih kami mengulitimu hidup-hidup wanita cantik?" tanya salah satu anak buah Deren. Emosi pria ini sudah memucak. Bagaimana tidak ?, entah sudah berapa tamparan dan cekikan yang mereka lakukan tapi Ayunda tetap saja bungkam. Bahkan, Ayunda berani meludah di wajah pria yang mengintrogasinya.
Mereka menghentikan sementara introgasi itu dan memilih meninggalkan Ayunda yang kini penuh luka itu.
Bersambung...
Hay gengs, maaf ya kemarin emak nggak Up ... lagi ngurus nopel sebelah hehehe ... Yang suka cerita uwu uwu manja dan HQQ bisa main ke karya emak yang baru ya. Happy readingπππππ€©π€©π€©π€©.
__ADS_1