
Tak butuh waktu lama bagi seorang Deren untuk menyusup ke dalam rumah sakit jiwa itu. Tak perduli seberapa banyak pasang mata yang menatap dirinya dengan aneh.
Deren menundukkan kepalanya khas seseorang yang memiliki masalah berat. Tetapi mata dan telinganya tetap waspada. Yang kini dihadapinya bukan orang-orang biasa pada umumnya. Mereka bisa saja menyerangnya tanpa sebab. Walaupun saat dia digandeng oleh dua perawat. Terbukti beberapa pasien mengikutinya seperti masa yang hendak menghajarnya.
Andai mereka waras, aku pasti akan menghajarnya satu persatu. Berani sekali mereka mengikutiku seperti tahanan, batin Deren kesal.
Deren di masukan ke dalam salah satu ruangan dengan satu kamar yang sedikit sempit. Diam tanpa kata, tak protes maupun membuat ulah. Deren sangat patuh agar dua perawat itu tak curiga.
Bukan Deren namanya kalau tak bisa beracting senatural mungkin. Mantan ketua gangster yang biasa menyusup di berbagai medan itu pun kecerdasannya tak diragukan lagi. Setelah mengantarnya, dan memberikan nasehat. Kedua perawat itu pun pergi meninggalkannya.
Deren segera mengeluarkan ponsel yang ia selipkan di celana pendek yang di tutupi celana panjang khas pasien. Pisau lipat dan peralatan lain yang dia siapkan untuk mencongkel pintu ruangan di mana dia dikurung. Alat-alat itu hanya untuk berjaga-jaga.
Malam nanti adalah saat yang dia nanti. Rencana untuk menggapai tujuannya. Menemukan keberadaan sang ibu mertua. Wanita yang telah melahirkan belahan jiwanya. Deren sudah menyiapkan hati dan pikiran jikalau nanti Ibu Fatimah akan marah padanya. Tidak bisa menerima akan perlakuan orang tuanya pada masa terdahulu, Deren sudah mempersiapkan itu.
***
Di sisi lain kawanan Deren sedang berjaga di luar. Takutnya anak buah orang tua Ibu Fatimah mengintai mereka. Ini adalah pekerjaan yang rumit dan menengangkan. Bahagaimana tidak ? Mereka berurusan dengan sesuatu yang baru. Mungkin, kalu rumah sakit yang menampung manusia-manusia normal akal masih mudah mereka kelabuhi.
Disamping itu mereka juga bersiap menerima perintah. Jika Deren telah berhasil membawa sang target keluar dari tempat laknat itu.
***
__ADS_1
Keberuntungan sedang berpihak pada Deren rupanya. Sang dokter di sana percaya bahwa gangguan jiwa yang di derita pasien baru ini tak terlalu parah. Terlihat saat ini Deren sudah di ijinkan berbaur dengan para pasien yang lain.
Mata Deren mulai aktif mempelajari karadaan. Pria tampan ini tak ingin kehilangan sedikitpun kesempatan melewatkan kata yang diucapkan para perawat yang mulai kasak-kusuk membicarakan pasien baru mereka.
Telinga Deren mulau menangkap sesuatu. Sebuah nama yang dia nantikan. Bangusnya lagi, sang suster sedang berjalan menuju kamar seseorang yang kehendaki.
Perkiraan Deren dan kawan-kawan tak meleset. Terlihat kamar Ibu Fatimah dijaga katat oleh beberapa ajudan. Gila , tak tanggung-tanggung. Wanita yang dianggap kurang waras itu mungkin memiliki keistimewaan diatas rata-rata. Jika tidak mana mungkin dia akan dijaga super ketat seperti itu.
Deren balik kanan, mencari tempat di mana kira-kira bisa dia meminta para anak buahnya untuk bersiap memulai pergerakannya. Ini agak sulit, karena bukan di perumahan biasa.
"Bang, brengsek ! di depan kamar ibu ada tiga ajudan sialan. Siapkan jamuan untuk mereka," pinta Deren. Joker paham dengan jamuan yang kawannya maksud.
"Siap, Bro. Pergantian jam nanti kita mulai bergerak," jawab Joker mantap.
"Oke, siap! kabari saja," tambah Joker.
Tim Deren sungguh biasa diandalkan. Jam terbang mereka soal ini tak di ragukan lagi. Soal tak-tik dan juga rencana-rencana menghadapi musuh bagi mereka sudah biasa.
Deren kembali ke taman. Di mana para pasien berkumpul. Mata Deren terus saja melirik ke arah pintu yang jaga oleh beberapa ajudan. Berharap, pasien yang ada di rungan itu, di keluarkan dari kamar itu.
Deren mengumpat kesal dalam hati. Pasien yang ingin dia lihat wajahnya tak kunjung di keluarkan dari kamar itu. Membuat Deren bertanya-tanya sendiri dalam hati. Mungkinkah Ibu Fatimah memang beneran gila? kalau benang gila, ngapain harus di jaga sedemikian ketatnya? gumam Deren dalam batinnya.
__ADS_1
Jika difikirkan ini memang sungguh aneh. Sangat aneh, dia dianggap gila. Lalu kenapa? harus sedemikinan pengamanannya.Mungkinkah, Ibu Fatimah memiliki rahasia yang ditakuti oleh mereka. Mengapa mereka bersikap, seolah Bu Fatimah adalah momok yang sangat menakutkanbbagi mereka. Ini sungguh aneh.
Malam yang di nanti Deren dan kawanannya pun tiba, Deren kembali di masukkan ke dalam kamar yang dipesan atas namanya oleh Joker dan Korpri. Pria tampan ini tetap waspada, dengan apa yang masuk ke dalam tubuhnya. Termasuk obat-obatan yang diberikan dokter untuknya. Deren takut, obat yang diberikan padany malah mengundang rsa kantuk.
Suasana rumah sakit itu mulai sepi. Deren mengintip di balik jendela kamarnya. Beruntung sekali ruangan di mana Ibu Fatimah di sekap berada tak jauh dari pandangannya.
Penjaga yang dia lihat tadi siang pun tak kelihatan. Mungkinkah mereka hanya berjaga di siang hari. Atau mereka sudah merasa aman jika di malam hari. Entahlah.
Deren membuka pintu kamarnya pelan. Astaga, perawat yang bertugas menjaganya sepertinya ceroboh. Kamarnya tak di kunci, tapi ini membantunya. Tak perlu baginya susah susah mengeluarkan tenaganya untuk mencongkel pintu sialan itu.
Malam semakin sepi, Deren mulai melancarkan aksinya. Keluar dari kamar itu, dan mulai berjalan setengah berlari ke arah ruangan di mana Bu Fatimah berada.
Ini sungguh sial, pintu ruangan yang membelenggu wanita tua itu ternyata di kunci.
Deren tak kehabisan akal. Dicongkelnya pintu itu hingga dia bisa masuk. Hal sepele seperti ini sudah biasa bagi pria pemilik nama lengkap Deren Manopo ini. Atau lebih di kenal dengan sebutan Uncle tato oleh keponakan-keponakan lucunya.
Deren berhasil masuk kedalam ruangan yang di desain cukup mewah itu. Terlihat di sana seorang wanita bertubuh amat kurus berbaring meringkuk dengan kedua tangan dan kaki di ikat tali platik. Sungguh sangat biadap ini. Ya Tuhan, siapa yang menyuruh mereka memperlakukan wanita lemah ini seperti ini Tuhan. Batin Deren menangis perih.
Pria keturunan Jawa Batak ini terlihat serius memperhatikan wanita berambut bergelombang ini.
Deren menatapnya dengan seksama. Tak berkedip sedetikpun. Deren shock, ternyata wanita yang hendak dia temuai adalah wanita yang pernah menolong keluarganya kala itu. Dan ... sayang ayah tega sekali menghancurkan masa depan mereka. Ini gila, kalaupun wanita ini marah padanya dia pasti menerimanya dengan iklas.
__ADS_1
Deren pasrah dengan ini. Wanita baik hati ini dan tak bersalah ini, kini tersiksa akibat dari ulah ayahnya. Deren bingung, pria tampan ini pun menangis dalam diamnya.
Bersambung...