
Malam ini, di sebuah villa termewah di kawasan Bogor, Deren dan kedua temannya yaitu Joker dan Kopri sedang mengawal Bos mereka untuk melakukan pertemuan besar bersama sekutu sekutu mereka.
Awalnya Deren tenang dan damai. Sayangnya begitu dia mendengar gelak tawa para kolega kolega Bosnya. Darah Deren mendidih seketika. Emosinya langsung memuncak tak terkendali.
Deren tak mau menunggu lagi, persetan dengan Bos barunya yang terlihat santai dan seolah menertawakan dirinya. Menertawakan keadaanya, menertawakan kelemahannya.
Untuk apa menunggu jika tak ada kejelasan seperti ini. Aku bukan pria bodoh, lalu kenapa aku mau saja diperlakukan seperti binatang congek seperti ini batin Deren.
Pada dasarnya Deren bukan pria yang patuh pada perintah, Dia terbiasa bebas. Lalu kenapa sekarang dia menjadi pengecut yang bodoh untuk tujuannya sendiri.
Deren bangkit dari duduknya. Berdiri tegak dengan penuh keyakinan. Bawa dia pasti bisa mengatasi ini sendiri tanpa bantuan siapapun.
"Kenapa aku jadi bodoh begini. Brengsek!" umpat Deren kesal. Joker dan Kopri terkejut. Mereka hanya diam melihat kemarahan Deren. Mereka sangat tahu bahwa kemarahan Deren adalah sumber petaka bagi siapapun yang mendekatinya.
"Sabar Bos!" pinta Kopri gugup.
"Diam kau, atau ku ledakkan kepalamu!" ancam Deren sengit sambil menodongkan senjatanya tepat di kepala Kopri. Joker pun tak berani bergerak dari tempatnya berpijak. Dia tetap memilih jalur aman.
Deren sudah mengeluarkan suaranya, maka lebih baik diam dan mengalah. Menurut, dengan semua yang dia kehendaki.
"Bang, tolong hubungi Yoyok. Perintakan dia untuk menyiapkan pasukan. Aku mau besok pagi siap dan malam kita bergerak!" perintah Deren sambil kembali menyimpan senjata apinya.
"Siap, laksanakan Bos!" jawab Joker tegas. Joker pun langsung menjauh dari Deren dan Kopri untuk melaksanakan perintah yang dititahkan oleh ketua geng mereka.
"Kopri, panggil Gatot (pilot heli milik almarhum Steven) katakan padanya. Bahwa aku membutuhkannya, suruh dia datang sekarang untuk menjemputku. Aku muak berada diketiak pria bodoh seperti itu. Dia pikir dia siapa?" umpat Deren, Deren terlihat tidak perduli, bahkan dia mulai berani mengumpat pada Bos barunya.
"Siap laksanakan Bos!" jawab Kopri. Tak ada pilihan lagi bagi Kopri dan Joker. Selain menghiyakan dengan segera apa yang Deren mau.
Joker salah menilai tentang pria tinggi besar ini. Deren susah dikendalikan jika sudah punya mau.Apa lagi saat jiwa juang sudah merasukinya.
Emosi Deren tak terbendung lagi, bisa dikatakan seperti singa kelaparan. Dia terlihat sangat siap melahap kepala siapapun yang berani menertawakanya. Sorot mata tajam dan penuh kebencian terpancar jelas di sana.
__ADS_1
"Bos semua sudah siap, Yoyok dan anak buahnya menunggu kita di rumah kebun. Ditambah anak buah Juan juga siap berjuang," ucap Joker melaporkan.
"Keluarkan semua senjata yang kita perlukan, katakan pada Yoyok agar anggota memegang senjata. Jangan ada yang pergi dengan tangan kosong," perintah Deren lagi.
Deren sudah tak bisa dianggap main main. Semua keinginannya sudah dia ucapkan, pastinya sang bawahan harus segera menjalankan perintahnya, atau akan tahu akibat terburuknya.
"Bro, kabar buruk!" ucap Joker mana kala dia melihat notice di ponselnya.
"Kabar apa Bang?" tanya Deren.
"Sekarang bukan hanya Aisyah yang ada di genggaman Obor Merah. Tapi ayahnya juga. Menurut Info sekarang ibu tiri dan juga kakak tiri Aisyah juga dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah milik persatuan mereka!" ucap Joker, sesuai info yang didapat dari Yoyok barusan.
"Siapa yang kasih info!" tanya Deren datar.
"Yoyok," jawab Joker.
"Apa dia tahu kemana pria bangs*t itu membawa mertuaku?" tanya Deren masih dengan muka datarnya. Joker pun kembali membaca pesan teks yang ditulis oleh Yoyok.
"Ke rumah sakit. Ini sungguh ironis sekali. Apa mungkin dia sedermawan itu?" tanya Deren curiga.
"Bisa jadi, bisa juga mereka kenal mungkin!" balas Joker. Deren tak mau ambil pusing soal ini. Yang jelas saat ini yang dia mau adalah kembali ke kehidupan yang merdeka. Bisa mengatur strateginya sendiri tanpa campur tangan orang lain.
Menemukan kekasih dan juga calon mertuanya. Terlebih jika dia mampu membebaskan para sandra. Tujuan yang amat baik bukan.
***
Patrio membawa Aisyah ke tempat di mana dia memberikan perawatan khusus pada Hasan. Ayah asuh Aiysah. Aisyah sedikit berlari ketika mengikuti langkah kaki sang ketua gangster ini. Pria bertubuh tegap ini memiliki ukuran kaki diatas rata-rata memang. Sehingga langkah kakinya sangat panjang bagi Aisyah. Maka bersabarlah Aisyah kalau jalan bareng dia.
Keadaan Aisyah tak bisa disebut santai mana kala mereka turun dari Heli. Sambutan pasukan bersenjata milik kesatuan terpilih Obor Merah membuat Aisyah merinding. Dengan mata kepalanya sendiri, Aisyah menyaksikan betapa berkuasanya pria paruh baya ini.
"Kita mau kemana Om?" tanya Aisyah berani. Patrio menghentikan langkahnya dan berbalik menatap geram ke arah Aisyah.
__ADS_1
"Apa perlu ku congkel matamu agar kau tahu kalau ini rumah sakit," jawab Patrio geram.
"Ya Tuhan Om, Aish kan cuma nanya!"!gerutu Aisyah.
"Diam!"! bentak Patrio. Aisyah terkejut, jiwa oon Aisyan pun langsung merasukinya.
"Maaf Om," jawab Aisyah lagi. Patrio tak mau menghiraukan gadis bodoh disampingnya. Patrio harus tetap menjaga wibawanya di depan anak buahnya. Dia tak mau dianggap lemah hanya karena gadis polos yang ia bawa.
"Amankan semua area. Aku mau pria itu dan putrinya tetap berada di dalam pengawasan kita. Kalian paham?" perintah Patrio pada seluruh anak buahnya. Aisyah bingung, bahagaimana tidak. Pria menyeramkan ini sebenarnya mau melindungi siapa, dan dari siapa.
Ingin Aiysah bertanya, tetapi dia sangat takut Partrio Guran akan membentaknya atau mengulitinya hidup hidup jika banyak bertanya. Astaga dia sangat menyeramkan batin Aisyah.
Pengawal Patrio membukakan pintu rahasia yang ada di rumah sakit tersebut, untuk pimpinan mereka. Kekaguman Aisyah datang lagi ketika kakinya melangkah memasuki ruangan itu. Ruangan itu bisa dikatakan jauh dari kesan rumah sakit. Semua terlihat sangat mewah dan rapi.
Mata Aisyah terbelalak tak percaya mana kala dia melihat pria yang disayanginya berbaring di ranjang bagus itu.
"Abah!!" sapa Aisyah, gadis berhijab itu pun langsung berlari dan memeluk pria yang selama ini menjaganya. Air mata kesedihan bercampur bahagia pun mengalir di pipi mulus sang gadis.
Ada sedikit rasa iri di hati Patrio, tapi dia berjanji Aisyah akan memperlakukannya seperti itu juga jika nanti dia sudah membuka semua rahasia yang ada padanya.
"Anakku," balas Hasan sambil menangis penuh haru. Aisyah pun sama tangisan bahagianya begitu terdengar menyayat hati.
"Bagaimana kabar Abah hah, mana yang masih sakit. Sini Aish pijat," ucap Aisyah sambil titik di mana biasanya pria tua itu mengeluhkan sakitnya.
"Tidak Nak, Abah udah nggak sakit. Bahkan sekarang Abah sudah bisa duduk dan makan sendiri," jawab Hasan memberitahu apa yang dia rasakan.
Aisyah pun tersenyum bahagia dan menciumi kedua tangan pria yang membesarkannya ini. Aisyah benar benar tak menyangka bahwa Patrio Guran akan menepati janjinya.
Bersambung..
Like komen tetap Emak nantinya gengs..Salam sayang dari kalajengking tampan Emak🤩🦂.
__ADS_1