Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Kenyataan ini


__ADS_3

Hasan meremas lembaran biodata milik Deren. Pria tua ini sudah terlihat tak sabar, dia ingin segera bertemu dengan pria yang hendak menikahi putri asuhnya. Hasan ingin menggagalkan pernikahan menjijikan ini menurutnya. Dengan penuh emosi Paka Hasan pun berteriak pada pria yang selama ini merawatnya. Emosi Pak tua ini sudah tak terbendung rupanya.


"Yono! sini kau. Cepat bawa aku ke mushola!" teriak Hasan.


Pria muda itu pun langsung berlari ke arah Pak Hasan.


"Sebentar, Pak de! saya lagi nyariin baju yang bagus buat Pak De," jawab Yono, pria muda yang Deka minta untuk merawat beliau. Selama tinggal di rumah tambak milik Deka.


"Wis ora usah, ngene wae ( udah kayak gini aja), cepetan. Aku nggak mau ketinggalan!" ucap Pak Hasan dengan nada agak tinggi. Yono jadi terheran-heran. Pak Hasan biasanya selalu bicara lemah lembut, tiba-tiba jadi garang gini.


Ada apa ya? batin Yono.


"Nggih, Pakde. Ayo!" ajak Yono. Kemudian pria muda itu pun mengangkat tubuh Pak Hasan dan membawanya naik ke kursi roda.


"Cepetan mlakune ( cepetan jalannya)!" pinta Pak Hasan, agar Yono mempercepat langkahnya.


"Nggih Pakde!" Yono pun mempercepat langkahnya. Agar Pria tua ini tak marah lagi.


Sesampainya di panti, Pak Hasan langsung minta bertemu dengan Deren, Patrio dan juga Burhan. Pria yang mendampingi Patrio saat bertemu dengannya. Usut punya usut, ternyata Burhan adalah sepupu Kosan.


Mereka bertemu tadi malam, ketika Buhan mengantarkan pakaian yang diminta Kosan untuk mantan bosnya.


Perasaan Burhan hancur saat pertama kali melihat mantan sahabatnya. Bagaimana tidak? pria yang dia anggapnya sudah meninggal, kini berdiri tegak dengan gagah di depan matanya. Buhan menangis menjadi-jadi. Mengingat perjuangan mereka dulu. Sayangnya Patrio tak bisa diajak bernostalgia, karena ingatan Patrio tak bisa diandalkan.


Hasan terlihat marah saat melihat Deren tersenyum di samping Deka, sahabatnya. Pria tua ini sepertinya siap meledakkan bom waktu yang selama ini dia pendam. Hasan terus menatap tajam pada calon pengantin itu. Membuat Patrio heran.


"Kenapa Ndos?" tanya Patrio.


"Mohon maaf Pat, sepertinya pernikahan ini tidak akan pernah terjadi. Aku berhak menentangnya. Karena aku adalah pria yang membesarkan Aisyah Nur. Meskipun aku bukan bapak kandungnya!" jawab Pak Hasan lantang. Agar semua orang yang ada di sana mendengarnya.


Terang saja, semua mata saat ini tertuju pada pria yang duduk penuh amarah di atas kursi rodanya. Tak terkecuali Deren dan Deka. Mereka berdua terlihat shock, bingung dan tak percaya dengan apa yang di ucapkan pria tua itu.


"Apa maksud Ndos?" tanya Patrio bingung.


"Burhan ... kemarilah!" pinta Hasan. Pria yang dari tadi gugup dan takut melihat Deren itu pun mendekati Hasan.


"Ada apa Ndos?" tanya Burhan. Pria paling muda di kesatuan mereka dulu itu pun terlihat gemetar di depan Hasan dan Patrio. Dia tahu ini bakalan terjadi. Hasan bukan seperti dirinya yang bisa menahan amarah.

__ADS_1


Hasan adalah pria yang penuh ketegasan. Dia mempunyai jiwa juang yang sangat tinggi. Kejujurannya tak diragukan lagi. Dalam kesatuannya dulu Hasan terkenal sebagai amunisi pembakar semangat untuk para anggota tim.


"Baca dengan keras identitas calon mempelai pria kita. Kamu pasti masih ingat kan siapa orang tua pria itu!" ucap Pak Hasan sambil menunjuk penuh amarah ke arah Deren. Patrio dan Deka masih mempelajari situasi, meskipun tak dipungkiri bahwa saat ini mereka bingung, dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ndos, haruskan aku baca ini?" tanya Burhan gemetar.


"Aku bilang baca! ya baca!" bentak Pak Hasan penuh emosi. Aisyah dan Arti yang mendengar keributan di ruang tamu panti itupu langsung keluar.


Aisyah yang sudah siap dengan baju pengantinnya itupu berjalan menghampiri abahnya yang terlihat marah.


"Ada apa, Bah?" tanya Aisyah.


"Maafkan Abah, anakku. Sepertinya pernikahan ini harus batal. Abah nggak bisa merestui pernikahanmu dengan dia!" ucap Hasan tegas.


"Tapi kenapa, Bah? Apa salah Aak?" tanya Aisyah.


"Mungkin dia tidak bersalah! orang tuanya yang salah!" jawab Pak Hasan. Kekesalan dan kebencian terlihat jelas di mata pria tua itu.


"Orang tua saya salah apa, Bah?" tanya Deren berani.


"Jangan panggil aku abah, aku bukan abahmu!" tolak Pak Hasan kesal. Deren diam, karena dia pun masih belum tahu pasti, alasan kenapa calon mertuanya ini marah besar padanya.


"Kamu yakin ingin tahu kebenarannya, Pat?" tanya Hasan sambil menatap mata sahabatnya.


"Tentu saja lah Ndos. Jangan bikin teka-teki begini. Kasihan mereka. Masak udah siap, penghulu pun udah ada. Ya masak dibatalin nikahnya?," ucap Patrio mencoba meredam emosi sahabatnya.


"Kamu yakin mau menikahkan putrimu dengan putra dari pria bangsat yang membuat hidupnya porak-poranda seperti ini Pat?" ucap Hasan. Ucapan Hasan ini semakin membuat Patrio bingung. Telinga Deren terasa panas, agarknya pria tampan ini tak terima jika ada orang yang menjelekan orang tuanya.


"Ayolah Bah, jangan bikin kami semakin bingung!" pinta Deren mulai tak sabar. Dengan sigap Deka memegang Deren, agar pria ini tak lepas kendali.


"Sabar Bro," bisik Deka.


"Burhan, tolong kamu baca siapa nama ayah pria yang sok menantangku ini!" pinta Hasan lantang sambil menatap tajam ke arah Deren.


"Ba-baik Ndos," jawab Burhan terbata-bata. Tangannya gemetar saat membuka map warna hijau tua itu.


"Cepat Bur, atau ku pukul kepalamu!" bentak Hasan. Burhan pun semakin gemetaran.

__ADS_1


"I-iya Ndos, sabar atuh .... Nama Deren Manopo, nama ayah Jevan Raharjo, nama ibu Rosalinda. Alamat rumah ... !" ucap Burhan.


"Cukup, itu tak perlu," sela Hasan. Kembali Hasan menatap tajam ke arah Deren. Deren pun sama, matanya menunjukan bahwa dia pun berani menghadapi kenyataan dan konsekuensi tentang apa yang akan Pak Hasan katakan.


"Apa kau ingat Bur, siapa Jevan?" tanya Hasan pada Burhan sahabatnya.


"Ingat," jawab Burhan.


"Siapa dia?" tanya Hasan lagi.


"Dia adalah sahabat kita juga," jawab Burhan.


"Dulu anggota kita siapa saja, Burhan?" tanya Hasan lagi. Tapi matanya tetap menatap penuh permusuhan pada Deren. Seolah, sorot mata itu memberi isyarat betapa dia sangat membenci peia yang sedang mereka bahas saat ini.


"Ketua Pak Handoyo, Pak Patrio, panjenengan (dirimu), Mas Anton, Mas Aryo, Ko Jevan sama aku, Ndos," jawab Burhan.


"Katakan pada mereka kenapa persahabatan kita bisa pecah, Bur?" pinta Hasan lagi.


"Karena kesibukan masing-masing, Ndos,"jawab Burhan masih mencoba menutupi apa yang telah terjadi.


"Bukan itu jawaban yang aku mau bodoh. Saat ini kita sedang membahas ayah dari pria ini. Katakan pada semuanya, apa yang dilakukan oleh pria penghianat itu. Sehingga dia tega menjual persahabatan kita pada musuh Bur. Dan menghancurkan hidup pria yang memungutnya dari sampah !" ucap Hasan pelan tapi penuh amarah dan penekanan.


Deren dan Deka saling menatap bingung. Lain dengan Aisyah, gadis ini terus menangis dan bersimpuh di kaki abahnya. Aisyah belum pernah melihat sang bapak marah sebesar ini.


Aisyah tahu benar bagaimana sifat pria yang telah merawat dan menjaganya selama ini. Dia bukan tipe pemarah, kecuali kalau benar-benar keterlaluan.


"Jevan ... dia ... !!"


"Ceritakan saja apa yang kamu tahu Bur, tak usah takut. Biar semuanya gamblang dan tak ada prasangka buruk lagi. Biar semuanya clear dan pria ini sadar, bahwa sejatinya dia tak pantas mendapatkan putriku. Putriku terlalu berharga untuk putra seorang penghianat," ucap Hasan. Deren semakin panas. orang tuanya selalu dibilang penghianat, penghianat tapi pria tua ini tidak mau memberi alasan, kenapa dia beranggapan seperti itu?.


Deka masih setia menjaga Deren. Agar tetap kuat menghadapi kenyataan apa yang akan mereka dengar.


Burhan pun tak berani membantah Hasan. Dengan penuh keberanian dia pun menceritakan detail semua yang dia ketahui tentang penghiantan Jevan pada persahabatan mereka. Hingga mengakibatkan hancurnya keluarga Patrio Guran.


Disini bukan hanya Patrio Guran yang tercengang, Deren pun sama. Terlebih Aisyah, dia tak menyangka jika perjalanan hidupnya yang rumit dan penuh teka teki itu berasal dari penghianatan orang tua kekasihnya. Aisyah diam terpaku, sepertinya gadis ini shock. Dan akhirnya dia pun tumbang. Aisyah pingsan.


Bersambung...

__ADS_1


Bantu Aak naik Level yu. .. dengan selalublike dan tinggalkan jejak ya.. Love u😘😘


__ADS_2