Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Rencana Deren dan Aisyah


__ADS_3

Deren enggan menganggu keasikan ibu dan anak itu. Mereka terus bercerita dan sepertinya lupa pada pria yang mereka abaikan. Astaga, sabar pak!.


Berniat tak ingin mengganggu, akhirnya Deren pamit ke perkebunan. Sudah lama ia tak memantau sendiri ladang rejekinya itu.


"Dek, Aak ke perkebunan dulu ya. Udah lama Aak nggak ke sana," ucap Deren berpamitan. Aisyah menoleh ke arah suaminya. Muka pria tampan itu terlihat kusut, seperti menginginkan sesuatu dan tak mendapatkannya.


"Iya, Ak. Mari Aish siapkan bekal dan tasnya," ucap Aisyah sambil beranjak dari duduknya. Sang Ibu tersenyum bangga, karena Aisyah bisa melaksanakan kewajibannya sebagai istri dengan baik.


"Sebentar ya, Bu. Aish layani Aak dulu," ucap Aisyah meminta ijin melaksankan kewajibannya dulu. Ibu Fatimah pun tersenyum dan mengizinkannya.


Setelah mendapat izin, Aisyah segera ke ruang kerja suaminya dan menyiapkan apa yang suaminya perlukan. Sedangkan Deren hanya mengikutinya saja.


Deren diam, tak ingin memganggu istrinya yang tengah asik mengumpulkan barang-barang yang hendak ia bawa. Deren duduk dengan tenang di atas meja kerjanya sambil terus memperhatikan apa yang istrinya kerjakan.


"Aak kenapa?" tanya Aisyah. Curiga pada kediaman suaminya.


"Nggak kenapa-napa. Sedih aja, Aak dicuekin," jawab Deren sedikit kesal. Sekarang Aisyah paham jika suaminya cemburu. Cemburu melihat dirinya lebih mementingkan ibunya.


"Astaga suamiku, Aak cemburu?" ledek Aisyah. Deren hanya menatap malas pada istri cantiknya. Aisyah menyudahi pekerjaannya dan berjalan menghampiri yang suami yang sedang merajuk.


Tanpa diminta Aisyah langsung merangkul leher suaminya dan mengecup sekilas bibir milik pria tampan ini.


"Senyum dong sayang, maaf kalau Aish cuekin Aak tadi. Maaf ya, uluh suamiku tampannya kalau ngambek," rayu Aisyah mencoba memenangkan hati suaminya lagi. Deren masih dingin. Tak perduli dengan godaan Aisyah yang terus menciuminya tanpa henti.


"Maaf," ucap Aisyah masih setia merangkul leher sang suami. Bahkan saat ini dia menyenderkan kepalanya di dada bidang pria yang dicintainya ini.


Ternyata Deren tak bisa berlama-lama mendiamkan sang istri. Pria tampan ini pun menyambut pelukan manja sang istri. Mengelus kepala wanita cantik yang selalu tertutup hijab ini dan memberikan kecupan hangat di kening sang pemilik hati.


"Makasih, Suamiku," ucap Aisyah. Deren tersenyum. Mereka saling melempar senyum pertanda cinta di antara mereka sedang merekah.

__ADS_1


"Makasih untuk apa, Sayang," balas Deren.


"Atas semua yang udah Aak berikan pada, Aish. Atas semua yang udah Aak korbanin buat, Aish." Wanita berhati lembut ini tak kuasa menahan harunya. Mata sayunya menatap penuh kelembutan pada sayang suami. Tanpa ia sadari, air mata kebahagiaan itu keluar begitu saja dari pelupuk matanya.


"Jangan menangis, Aak nggak mau sedih-sedihan gini. Aak mau kamu selalu bahagia, Dek," ucap Deren. Pria bertubuh tinggi besar ini pun kembali memeluk istri cantiknya. Aisyah tak kuasa menahan perasaan haru bercampur sedihnya lagi. Ia pun menumpahkan segala sesak yang menderanya dalam dekapan yang pemilik hati.


"Aish bahagia Ak, sangat bahagia," ucap Aisyah dalam tangisnya.


"Iya, Aak tahu kamu bahagia, tapi ada satu yang membuat Aak gelisah, Dek," balas Deren. Aisyah mengangkat wajahnya, menghapus air matanya. Tentu saja saja apa yang barusan diucapkan suaminya ini membuatnya terkejut.


"Tentang apa, Ak?" tanya Aisyah.


"Tentang ...." Deren ragu meneruskan kata-katanya.


"Tentang apa, Ak?" tanya Aisyah sekali lagi. Agaknya wanita ini sudah tak sabar mengetahui apa yang menganggu suaminya.


"Ayahmu," jawab Deren jujur.


"Ayah kita sakit, Dek," ucap Deren pelan. Aisyah menatap tak percaya pada suaminya. Kabar itu sungguh mengejutkan baginya.


"Ayah sakit! sakit apa, Ak?" tanya Aisyah khawatir. Wanita cantik terlihat gemetar. Sepertinya dia gugup.


"Kata dokter, ayah menderita timor otak, Dek," jawab Deren jujur. Aisyah tertegun tak percaya. Kabar ini sungguh membuat wanita cantik ini shock. Ini sungguh di luar banyangannya.


"Ayah, Ak," ucapnya lirih.


"Iya, Dek. Ayah kita. Beliau, sedang Allah uji kesehatannya," jawab Deren bijak.


"Ya Allah, Ak. Apa yang harus Aish lakukan?" tanya Aisyah bingung.

__ADS_1


"Aak sudah cerita ini sama bang Deka. Beliau mau membantu kita, saat ini ayah sedang ada di negeri Jiran untuk menemui dokter di sana. Dan tadi pagi ayah di pindahkan lagi ke Rumah Sakit Elisabeth di Singapura. Beruntungnya Aak kenal dokter yang menangani ayah sekarang. Dan, Aak percaya padanya," jawab Deren jujur. Aisyah tak tahu harus menjawab apa. Perasaannya sungguh kacau. Aisyah goyah. Deren tak tinggak diam dia langsung memeluk istrinya yang bergeming tanpa kata itu.


"Maafin, Aak ya Dek. Bukan maksud Aak berbohong sama kamu. Tapi, Aak belum siap mengatakan ini sama kami. Aak nggak tega ngelihat kamu kayak gini, Dek," tambah Deren. Seperti tak mendengar ucapan suaminya Aisyah masih saja diam. Bahkan, berkedip pun tidak.


Deren tak mungkin membiarkan istrinya berdiri mematung seperti ini. Dia pun membopong istrinya dan membawanya ke sofa. Agar Aisyah lebih nyaman menenangkan dirinya.


"Dek, jangan diam begini. Bicaralah? Jangan bikin Aak takut, Dek," pinta Deren. Tangisan Aisyah pecah, wanita cantik ini merasa bahwa ujian terus saja menghadangnya.


"Aak," ucapnya.


"Iya, Sayang. Yang sabar ya, kita sama-sama berusaha cari obat dan obat terbaik untuk ayah."


"Aak, apa yang harus Aish lakukan, Ak?"


"Bujuk ibu supaya mau mendampingi ayah dalam masa pengobatannya. Kita tidak akan tahu sampai kapan ayah bertahan," jawab Deren. Aisyah kembali tak percaya pada ucapan suaminya. Berarti kecurigaannya benar.


"Apa maksud, Aak?"


"Ibu, tak ingin tahu lagi tentang ayah. Sepertinya ibu belum bisa memaafkan ayah. Untuk lebih jelasnya karena apa Aak nggak tahu, Dek," jawab Deren. Aisyah kembali menatap suaminya, bibirnya gemetar tak tahu harus menjawab apa.


Deren membantu menghapus air mata sang istri. Dia juga membantu wanita yang ia nikahi ini membetulkan posisi hijabnya. Deren terlihat begitu mencintai istrinya.


"Aish, akan bujuk ibu supaya mau memaafkan ayah, Ak. Aish janji," ucap Aisyah yakin.


"Bagus, di dunia ini nggak ada manusia yang bersih, Dek. Semua pasti melakukan kesalahan. Marilah kita saling memaafkan. Seperti kamu memaafkan keluarga Aak," balas Deren.


"Iya, Ak. Semoga ibu bisa memaafkan ayah dan mau bersama lagi. Kasihan ayah."


Deren dan Aisyah pun mulai menyusun rencana untuk menyatukan orang tua mereka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2