Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Lolos


__ADS_3

Patrio membuka matanya saat dia mendengar seperti suara ledakan. Seperti, suara bom yang meledak. Ah ... bukan, seperti gas yang meledak. Ih ... bukan juga. Seperti mobil yang meledak. Ya, seperti mobil yang meledak, begitulah kira-kira yang sekarang ada di pikiran pria tua ini.


"Ya Tuhan, apakah itu adalah saat dimana aku mengalami kecelakaan," gumam Patrio.


Pria itu berusaha mengingat lagi kejadian yang menimpanya waktu itu. Semua masih terlihat samar dan terputus-putus. Sayangnya Patrio merasakan sakit yang teramat sangat pada kepalanya setiap kali dia mencoba mengingat. Hingga dia tak sengaja berteriak. Untung teriakannya tak terdengar oleh para pria bertato yang menjaga pintu kamarnya.


Patrio tersadar, bahwa saat ini dia tak berada di rumahnya. Mengingat bau obat yang dia cium. Bahkan, warna gorden yang terpasang di jendela kamar ini juga lain baginya. Barulah dia benar-benar menyadari ada yang aneh dengan dirinya.


"Astaga, di mana aku," gumam pria tua itu, sesaat setelah sakit kepala yang dia rasakan sedikit mereda. Pria ini pun segera bangkit dari pembaringan dan melihat sekeliling. Apa yang dia pikirkan benar, saat ini dia tidak berada di dalam rumahnya.


"Brengsek, siapa yang berani memperlakukanku seperti ini?" ucap Patrio bertanya pada dirinya sendiri.


Pria ini berusaha mengingat kejadian terahir yang menimpanya. Beruntungnya dia masih ingat. Berada di dalam pesawat dan Ayunda menyuntikkan sesuatu hingga dia tak sadarkan diri.


"Aisyah," gumamnya. Patrio mencari ponsel miliknya. Sayangnya dia tak menenmukan benda yang dia cari.


"Brengsek!! akan ku musnahkan wanita jalang itu jika berani menyakiti putriku!" ancam Patrio. Sepertinya kali ini jiwa preman kembali merasuki sang pemimpin besar. Tak sengaja pria tua ini mendengar keributan di luar. Dia pun mencoba mengintip dari jendela. Betapa terkejutnya dia melihat dokter pribadinya sedang berhadapan dengan regu tembak.


"Furqon," gumam Patrio.


"Brengsek, berani sekali pria ini menyentuh orang orang kepercayaanku!" ancam Patrio. Sayangnya saat ini pria ini tak bisa berbuat apapun. Suara tembakan telah dia dengar pertanda Furqon sang dokter pribadi telah menemui ajalnya.


Patrio menutup matanya penuh penyesalan, karena dia merasa gagal melindungi orang-orang yang sangat dia sayangi. Patrio merasa sangat lemah.


"Ini sungguh gila, siapa sebenarnya monster yang ada dibalik Ayunda?" tanya Patrio pada dirinya sendiri. Tak lama dia pun mendengar suara langkah kaki mendekati kamarnya. Patrio pun segera berbaring dan pura-pura terlelap.


Beberapa orang berpakaian serba hitam masuk ke dalam ruangan di mana dia disekap.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya?" tanya Pria itu. Suaranya terdengar tak asing, karena hanya satu orang yang dia kenal. Yang memiliki suara khas seperti ini.


"Dia belum sadarkan diri Mr." jawab salah satu pria yang ada di sana.


"Tunggu! Mr.?" tanya Patrio dalam hati. Di dalam organisasinya hanya satu orang yang memiliki suara khas seperti ini. Dan hanya dia yang dipanggil Mr.


"Mungkinkah itu Zen?" kembali Patrio bertanya dalan hati. Patrio masih mengaktifkan telinganya, untuk mendengar setiap kata yang mereka bicarakan. Dan bodohnya mereka menyebut satu nama yang pernah dia dengar dari Joker. Yaitu kekasih putrinya, Patrio merasa sedikit lega karena saat ini putrinya aman. Pria ini yakin jika putrinya aman bersama pria yang dicintainya.


Setelah sang dokter yang baru mereka rekrut memeriksanya. Merek pun segera pergi. Barulah Patrio membuka matanya kembali. Mereka tak menyadari bahwa orang yang mereka tangkap adalah suhunya preman. Jika sudah bergerak dan menganggat senjata jangan pernah kalian berharap akan bisa lolos dari maut.


Mungkin saat ini Patrio memang sendiri, tapi jiwa juangnya tak takut dengan apapun. Dia pun segera bangkit dan mempelajari keadaan agar bisa segera keluar dari tempat di mana dia disekap.


Malam pun datang. Patrio pun telah siap bergerak. Meski saat ini dia masih belum memiliki senjata apapun, tapi Patrio tak gentar.


Dia pasti akan segera memilikinya ketika dia berhasil mematahkan leher satu atau dua orang para ajudan bodoh itu.


Patrio mambuka pelan jendela kamarnya.


Patrioa masih mencari cara, idenya datang seketika untuk memancing salah satu penjaga yang berjaga. Patrio pun melemparkan gelas ke tembok agar menimbukan bunyi untuk memancing slaah satu dari mereka. Kali ini dia berhasil, bukan hanya satu yang masuk ke kamarnya. Tapi kedua pria bodoh yang berjaga di depan pintu itu langsung masuk bersama.


Tak menunggu waktu lagi. Patrio pun langsung mematahkan leher kedua penjaga itu dan menguasai senjata mereka.


"Dasar bodoh!" umpat Patrio sambil menendang kepala kedua pria yang tergeletak tak berdaya karena ulahnya itu.


Patrio mula mengendap-ngendap. Terlihat beberapa orang terlelap di dalam pos jaga. Ini pasti bukan suatu kebetulan. Mungkinkah diam-diam ada yang membantunya, batin Patrio.


"Ah ... persetan!" Patrio pun segera berlari dan kabur dari penjara laknat itu. Ditengah jalan Patrio mendegar seseorang memanggilnya.

__ADS_1


"Tuan Bos!" panggil orang itu. Patrio pun menoleh tak lupa dia pun menodongkan senjatanya.


"Ini saya Tuan Bos, Kosan, yang biasanya masakin Tuan Bos!" jawab pria bertubuh pendek sambil mengangkat tangannya.


Suasana sangat gelap, hingga tak mungkin bagi Patrio mengenal wajah orang yang mengajaknya bicara.


"Kosan? siapa itu. Aku tak kenal!" jawab Patrio tegas. Pria bersaja ini memang selalu berwibawa. Tentu saja dia tak kenal karena semua orang di istananya dulu wajib memakai penutup wajah. Patrio mempunyai cara tersendiri untuk bisa mengenali mereka hanya dengan mencium aroma tubuh mereka.


"Tuan Bos, saya tak bohong. Apakah saya boleh menyebutkan makanan dan jadwal makan Tuan Bos agar anda percaya," ucap Kosan berusaha membuat percaya Patrio.


"Hah ... katakan!" pinta Patrio.


"Jam enam anda bangun, makan buah pir dan pepaya. Jam sembilan biasanya anda makan bubur kacang ijo kalau nggak ya sereal gandum. Jam 12 anda makan nasi dengan lauk apapun asalkan ada lalapan dan sambal. Makanan favorit Tuan Bos yang berkuah adalah soto batawi. Ikan bakar sambel kemangi dan saya malu mau nyebutnya Tuan Bos. Anda pasti marahkan saya, karena itu rahasia kita. Soalnya kalau Tuan Bos makan itu nyonya ratu pasti marah sama Tuan Bos!" jawab Kosan sambil cengengesan.


"Baiklah aku percaya padamu, tapi aku tetap mau tahu apa makanan kesukaanku?" tanya Patrio.


"Baiklah Tuan Bos, jika anda memaksa anda paling suka semur jengkol dan sambal kemangi dan pete bakar. Benar kan? makanan yang paling dibenci nyonya ratu hihihihi," jawab Kosan kembali dengan mode cengengesannya.


"Hahaha!! baiklah, aku percaya bahwa kamu orang kepercayaanku," jawab Patrio malah ikutan tertawa lucu. Perbincangan mereka berhenti mana kala mereka mendengar suara orang berlarian. Mungkin orang-orang itu sedang megejar Patrio.


"Mari Tuan Bos, kita tak ada waktu. Mari naik motor saya!" ajak Kosan. Patrio pun menurut dia segera membonceng motor yang dikendarai Kosan.


"Kita mau kemana?" tanya Patrio.


"Ke markas rahasia saya. Tuan Bos!" jawab Kosan.


Patrio pun tak menolak, dia hanya percaya pada keberuntingannya kali ini. Siapa tahu kali ini dia benar-benar beruntung.

__ADS_1


Bersambung...


Tetep like dan komen kalian yang aku tunggu😘😘😘😘


__ADS_2