Aak Preman Aku Padamu

Aak Preman Aku Padamu
Akhirnya


__ADS_3

Pagi menjelang, Aisyah sudah tak sabar ingin bertemu dengan ibu kandungnya. Wanita yang telah melahirkannya, tanpa ia tahu bagaimana rupanya selama ini. Dengan langkah penuh semangat Aisyah pun berjalan menuju di mana ibunya berada.


Deren menemani istrinya berdiri tegak di depan pintu kamar itu. Aisyah terlihat sangat gugup. Senang, dan tak sabar. Deren sangat paham sengan sikap istri cantiknya ini. Dia memang punya sifat yang enggan menunda apa pun. Semua harus selesai saat ini juga. Andai tadi malam Deren tak mencegahnya, mungkin Aisyah sudah menerobos waktu demi bertemu dengan ibu kandungnya.


"Ketuk aja pintunya, Dek," suruh Deren.


"Aish, gugup Ak," jawab Aisyah.


Deren tersenyum, akhirnya dia lah yang mengentuk pintu itu. Tak lama terdengar dari dalam, seseorang berjalan ke arah pintu. Dan ini sungguh membuat jantung Aisyah berdegup ebih kencang. Tapi Aisyah bahagia. Jarak antara dirinya dan wanita yang telah melahirkannya hanya terhalang pintu itu,tentu saja ini semakin membuatnya gugup karena terlalu bahagia.


Rasa tak sabar kembali Aisyah rasakan, ia pun memegang gagang pintu itu dan membukanya. Tampak di balik pintu itu terlihat seorang wanita paru baya memakai baju stelan bermotif bunga mawar. Rambut diikat rapi, belum beruban sama sekali. Wanita itu terlihat segar dan cantik. Walaupun, di tangan kanannya memegang tongkat untuk menopang tubuhnya yang memang belum sehat benar.


Mata Aisyah bertemu pandang dengan wanita yang telah mengandung dam melahirkannya. Aisyah tertegun, bergeming tanpa kata. Matanya berkaca-kaca, tak kuasa menahan rasa haru.


Rasa sesak di dada menyerang keduanya. Aisyah melangkah mendekati wanita itu. Memeluknya tanpa kata. Keduanya menangis penuh kerinduan. Mereka saling memepererat pelukan itu. Tangis keduanya pecah.

__ADS_1


Deren tak kuasa melihat tangis ibu dan anak itu. Ia pun membiarkan mereka melepas rindu.


Deren hanya memperhatikan tanpa bisa berkata-kata. Sungguh sangat mengharukan pertemuan itu, jujur ini membuat pria tampan ini iri. Andai dia bisa merasakan ha yang sama, pasti indah juga rasanya. Deren merindukan ibunya juga.


Pria tampan ini kembali memperhatikan mereka, masih saling memeluk dalam isak tangis yang menyayat hati. Deren paham, pasti perasaan mereka saat ini campur aduk tak menentu. Antara senang, sedih, rindu dan yang jelas juga tak menyangka ini balakan terjadi. Pasti saat ini perasaan itu campur aduk.


"Ibu," ucap Aisyah sambil mengelus punggung sang ibu. Mereka sama-sama masih belum mau melepaskan pelukan itu.


"Iya Sayang, ini Ibu, wanita yang melahirkan sekaligus menelantarkanmu, Nak," jawab Ibu Fatimah. Mendengar jawaban penuh penyesalan itu membuat Aisyah menangis menjadi-jadi.


"Tidak, Sayang. Kamu adalah permata Ibu. Mana mungkin Ibu ninggalin kamu lagi," tambah Ibu Fatimah.


"Aish tahu, Bu. Ibu tak menelantarkan Aish, ibu terpaksa 'kan nitipin Aish ke abah dan umi?" tanya Aisyah . Ibu Fatimah tak kuasa menjawab pertanyaan itu. Ia hanya menganguk lemah. Karena itu lah sebenarnya alasan beliau.


Tangis Aisyah kembali pecah, Ibu Fatimah juga, mereka sama-sama menangis. Ibu Fatimah kembali memeluknya. Mengelus punggungnya, bahkan beberapa kali ia juga mencium pipi putrinya. Rasanya indah sekali, Aisyah menyukainya.

__ADS_1


Aisyah merasakan Ibu Fatimah melepaskan pelukannya. Dan kini mata indah itu menatapnya.


"Sudah, jangan menangis lagi. Malu sama suamimu yang tampan itu," ucap Ibu Fatimah demgan senyum mainisnya. Aisyah juga ikutan melepaskan pelukan itu dan membalas tersenyum itu dan sambil melirik kekasih hatinya.


"Aish, rindu Ibu."


"Ibu juga, Nak. Maafkan Ibu yang tak bisa merawatmu," ucap Ibu Fatimah pelan, suaranya terdengar begitu lembut dan mendebarkan. Ini kah suara ibu kandung? terdengar nyaman di telinga, membuat hati Aisyah merasa sangat bahagia.


"Tak apa, Bu. Aish udah tahu. Alasan Ibu menitipkan Aish pada umi dan abah. Aish serius," jawab Aisyah sama seperti yang ia katakan tai, apa adanya. Ibu Fatimah pun tersenyum pada putrinya. Itu artinya ia tak perlu susah-susah menjelaskan pada buah hati cantiknya ini apa yang sebenarnya terjadi.


Aisyah mengajak ibunya keluar kamar. Mengajaknya ke meja makan dan sarapan sekaligus berbincang. Banyak yang mereka bicarakan. Mereka berdua seperti dua sahabat yang sedang reoni. Dan tanpa sengaja, mereka telah mengacuhkan pria tamoan yang jadi perantara keduanya.


Sudahlah Deren, nikmati saja....


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2