
Juan seperti tak bersemangat pulang, sebenarnya dia malas sekali bertemu dengan Handoyo. Sang kakek pasti akan memaksanya menikah lagi. Huufff ... itu adalah hal paling menyebalkan baginya.
Di mobil....
"Entar lo masuk sendiri ya, ane langsung cabut ke apatemen. Kalau udah kelar lo minta sopir kakek tua itu, suruh anter ke tempat ane," ucap Juan malas.
"Emang kenapa?" tanya Deren curiga.
"Nanti si kakek tua itu pasti suruh ane kawin!" jawab Juan ketus.
"Astaga Gengs, diusia kita ini emang udah waktunya kita kawin. Ah elo, ane aja pengen kawin. Bibir cewek tu ternyata enak bro," canda Deren (Dasar kampret, udah ngrasain aja lo bisa ngomong. Emak santet online juga ni geram Emak).
"Otak lo mulai rusak, dasar preman nggak waras!" umpat Juan kesal. Juan emang belum tertarik dengan wanita, sekalinya tertarik sama istri orang. Apes bener lo Juan, Juan. (Emak ketawa lihat mereka berdua, udah pada tua cewek masih nyari heemmm).
"Dibilangin nggak percaya!" balas Deren.
"Bodo amat!" Juan makin muak dengan sahabatnya. Deren tertawa, ternyata Juan sangat sensitif soal perempuan. Dia bisa ngamuk juga rupanya.
"Sabar Bro, nggak usah emosi gitu. Ntar kalau elo udah ketemu yang pas kayak ane. Elo bakalan sadar kalau sebenarnya kita sangat membutuhkan dukungan perempuan bro. Dalam hal apapun itu," ucap Deren apa adanya, sesuai apa yang dirasakan oleh hatinya. Juan masih saja diam tak perduli dengan apa yang sahabatnya katakan.
Mobil yang membawa mereka pun akhirnya sampai di kediaman Handoyo. Salah satu sultan di negri ini. Asetnya dimana-mana. Bahkan dia juga memiliki beberapa mobil mobil mewah yang berjejer rapi di garasinya.
Juan serius dengan perkataannya, dia sama sekali tidak mau masuk ke rumah kakeknya. Alasan utamanya adalah tak ingin dipaksa menikah dengan gadis pilihan kakeknya.
Deren melangkahkn kakinya masuk kedalam mension pribadi Handoyo. Beruntungnya Deren, karena pria tua itu belum bertolak ke Korea.
"Hallo kakek tampan, apa kabar?" sapa Deren pada Handoyo. Sok akrap adalah jurus Deren agar tak kena marah pria tua itu. Deren memang selalu ceria jika berada di depan pria yang sudah menganggapnya cucu ini.
Handoyo menatap tak percaya akan kehadiran Deren. Karena Deren memang sudah sangat lama tak menemuinya.
"Ngapain kau kesini hah. Masih ingat pulang!" hardik Handoyo geram.
"Jangan gitu lah kakek, nanti cepet tua kalau marah marah tak jelas begitu!" goda Deren.
Handoyo tak perduli, dia pun memilih duduk di kursi goyang miliknya sambil menikmati cemilannya.
__ADS_1
"Kakek apa kabar?" rayu Deren.
"Kau lihat saja Kakek kesepihan heh, saudara kurang ajarmu itu tak pernah mau pulang," jawab Handoyo. Dia mulai geram juga dengan Juan.
"Jangan gitu lah Kek, Juan pasti punya alasan," jawab Deren.
"Kau dan dia sama saja. Mana mau mendengarkan permintaan Kakek," balas Handoyo. Deren diam, ingin rasanya dia mulai mengutarakan isi hatinya, tapi melihat wajah suram Handoyo membuatnya mengurungkan niatnya.
Handoyo menghentikan makannya dan bertanya pada Deren. "Kau dari mana tadi?" tanya Handoyo.
"Dari Malang Kek, tadi Juan juga kesini. Tapi dia nggak mau masuk!" jawab Deren.
"Kakek bilang juga apa, dia itu keparat," tambah Handoyo. Deren kembali diam karena Handoyo menatap padanya dengan tatapan sedikit mengintimidasi.
"Kau pun ngapain kemari, pasti punya maksudkan?" tanya Handoyo, pertanyaannya sangat tepat membuat Deren salah tingkah.
"Kakek benar, emm ... Apa kakek marah jika Deren datang hanya untuk meminta bantuan?" tanya Deren pelan. Pertanyaanya begitu sopan, Deren ingin selalu menjaga emosi pria tua ini agar tetap stabil.
"Bantuan apa itu?" tanya Kakek Handoyo. Bersyukurlah Deren apa yang kamu takutkan tidak terjadi.
"Untuk apa kau bertanya tentang dia, apakah kau ada masalah dengannya?" tanya Handoyo datar.
"Benar Kek, Deren sedang ada urusan dengannya," jawab Deren.
"Urusan apa itu?" tanya Handoyo lagi.
Deren pun menceritakan permasalahan yang kini sedang melandanya. Handoyo mendengarkan dengan seksama. Mencerna setiap kata demi kata agar dia sendiri tak salah dalam mengambil keputusan.
"Jadi ini persoalan asmara," balas Handoyo. Deren terisipu malu. Handoyo sedikit lega karena apa yang dipikirkannya tidak terjadi.
"Apa Kakek bisa bantu Deren menyusup ke Markas besar mereka?" tanya Deren. Handoyo tersenyum licik, seolah memikirkan balasan yang harus dia terima jika dia membantu pria tampan ini.
"Kamu yakin kekasihmu ada di Markas itu?" tanya Handoyo. Pertanyaan itu malah membuat Deren bingung. Mungkinkah Obor Merah punya markas lain selain itu.
"Apakah dia ada camp lain Kek?" tanya Deren.
__ADS_1
"Ada, dia kaya raya. Bahkan asetnya tersebar dimana mana. Hanya saja dia terlalu angkuh pada Tuhannya. Kau lihat, dia membangun surganya sendiri. Berkuasa dan ya ... dia juga membawa serta bidadari bidadari sesua kriterianya. Pria psikopat itu sangat sulit dijangkau. Banyak yang menyerah jika berurusan dengannya. Dia tidak merugikan negara sih. Tetapi lebih ke menggencet manusia manusia lemah seperti mereka yang membutuhkan uang dan mencekiknya secara perlahan. Mungkin masa lalunya yang membuatnya seperti itu," jawab Handoyo jujur. Kini Deren yakin bahwa Handoyo sangat mengenal Patrio Guran.
"Kelihatannya Kakek sangat mengenal pria itu?" selidik Deren. Handoyo hanya menatap penuh pertanyaan pada Deren.
"Kakek sudah kenyang dengan asam manisnya dunia anakku. Kecil bagi Kakek untuk paham masalah seperti ini. Hemmm (Kakek Handoyo berdiri dan mengambil ponselnya, kemudian dia pun duduk kembali bergabung bersama Deren). Kamu yakin mau Kakek bantu?" tambahnya.
"Yakin Kek, inilah yang Deren mau!" jawab Deren semangat.
"Kau boleh melakukan penyamaran sebagai pengawal teman Kakek yang dekat dengannya. Mereka sejalan dan sering seneng seneng bareng dengannya. Oia kamu masih bisa bawa heli kan ?" tanya Handoyo.
"Masih Kek!" jawab Deren tegas.
"Bagus, bawa dua atau tiga temanmu. Nanti Kakek rekomendasikan kalian pada teman Kakek yang dekat dengannya. Kau sudah bisa membawa dirimu bukan, jadi tak perlu Kakek jelaskan," ucap Handoyo, dia yakin Deren bisa memikirkan sendiri apa yang harus dia lakukan.
"Baik Kek, Deren mengerti. Deren tak akan mengecewakan Kakek!" balas Deren gembira. Dia pun memeluk pria tua itu dengan perasaan yang sukar diutarakan.
"Jangan senang dulu, apa yang Kakek berikan tidak gratis. Kau harus membayarnya!" ucap Handoyo tenang. Tentu saja kebahagiaan Deren bubar seketika.
"Deren harus membayarnya dengan apa Kek?" tanya Deren. Handoyo tersenyum bahagia karena dia yakin Deren pasti mau membantunya.
"Kau yakin mau melakukan ini untuk Kakek?" tanya Handoyo meyakinkan pikirannya.
"Tentu saja Kek, selama Deren bisa," jawab Deren. Handoyo menghela nafas dalan dalam dan kembali mengutarakan maksudnya.
"Kau tahu kan Kakek sudah tak muda lagi. Dan saudaramu masih saja kekeh tak mau menikah. Kakek tak akan tenang jika dia belum punya pendamping yang akan menemani dan mengingatkannya. Kau tahu Juan suka semaunya sendiri dan itu sangat tidak baik untuk kelangsungan hidupnya. Kakek mau keluarga Kakek punya keturunan. Untuk apa semua yang Kakek miliki kalau tak ada yang bisa meneruskannya hah?" jawab Handoyo. Deren tahu ini adalah ganjalan terbesar dalam hidupnya. Kesedihan tampak jelas diraut wajah pria tua itu.
"Deren akan coba bantu Kakek bujuk Juan agar mau menikah. Tapi ngomong ngomong calonnya udah ada belum kek?" tanya Deren.
"Sudah, Kakek sudah mempersiapkan segalanya. Dia tinggal jalan saja!" jawab Handoyo. Pantesan Juan tak pernah mau pulang, memang benar apa yang dia katakan tadi.
"Deren akan coba bujuk Juan Kek, semoga dia mau dan mengerti," jawab Deren. Raut wajah pria itu terlihat sangat sedih. Seolah menyembunyikan sesuatu yang berat. Tapi Deren tak berani bertanya. Yang jelas Deren bisa merasakannya.
Bersambung...
Like dan komen kalian adalah hadiah terbaik buat Emak..biar Emak rajin up🤩🤩🦂🦂🦂.
__ADS_1