
Pesawat yang membawa Deren mendarat dengan selamat di Palembang. Di sana sudah ada anak buahnya yang telah siap menunggu di pintu kedatangan domestik. Dan bersiap mengantar sang big bos ke tempat tujuannya. Deren terlihat gagah dan tampan dengan keca mata hitamnya. Banyak pasang mata yang memperhatikannya membuat pria beristri ini sedikit risih.
Di dalam mobil muka Deren terlihat suram, membuat anak buah heran dia pun memberanikan diri bertanya..
"Kenapa, Bos?" tanya anak buah Deren.
"Nggak ... ane cuma nggak suka diperhatiin aja."
"Diperhatiin? emang Bos tadi ngapain?" tanyanya lagi.
" Ya nggak ngapa-ngapain lah. Ane cuma lewat doang 'kan tadi. Dasar wanita kayak nggak pernah lihat cowok aja,"gerutu Deren kesal. Sang anak buah malah tertawa geli.
"Napa lo malah ketawa, gila lo ya?" hardik Deren bertambah kesal.
" Kagak, Bos. Maaf Bos. jujur ni ya sekarang Bos ni lebih mempesona," jawabnya sambil lembali tertawa lepas. Sayangnya tawa dan pujian itu malah menyakiti telinga Deren.
" Mempesona matamu!" umpat Deren makin kesal. Pria yang selalu setia pada bosnya ini pun tertawa semakin kencang.
"Diem lo brengsek. Nggak usah sok-sok'an memuji. Ane nggak butuh, Setan dasar!,"umpat Deren kesal.
"Maaf Bos, Ane serius. Bos sekarang lebih tampan. Ya wajar lah kalau sekarang Bos banyak yang menatap penuh perasaan. Kan sekarang udah ada yang ngurus ya Bos," tambahnya.
"Diem lo ******, bacot kagak jelas lo," Deren makin kesal pada pria berambut kriting ini. Sayangnya pria ini bukannya takut, dia malah makin semangat menggoda bosnya.
"Jangan marah atu Bos, nanti cepet tua lo."
Deren enggan menjawab candaan itu. Dia pun memfokuskan perhatiannya pada hal yang lain.
"Lo jangan bikin ane makin kesal. Sekarang kasih tahu Ane, gimana kerja kalian? Apakah kalian sudah berhasil bawa ibu mertua keluar dari sarang laknat itu?" tanya Deren.
"Belum Bos, keamanan di sana ketat luar biasa. Dan kabarnya ibu Fatimah di kurung di ruang bawah tanah," jawab pria kriting itu. Sesuai informasi yang dia peroleh.
__ADS_1
"Brengsek ! keluarga macam apa mereka yang tega memenjarakan anaknya sendiri," ucap Deren.
"Menurut kasak kusuk yang kami dengar, Ibu Fatimah gila Bos, dan mereka malu. Itu sebabnya mereka mengurung ibu, Bos," balasnya.
"Apa kalian yakin jika ibu mertuaku gila?" tanya Deren memastikan.
"Soal kepastiannya kami sedang menyelidiki Bos, semoga dalam waktu dekat ini kita bisa mendapatkan jawaban. Serta celah untuk menyusup kesana."
Deren diam, mencoba mengerti apa yang anak buahnya ucapkan. " Kamu fokus saja pada ibu. kalau sudah ada kabar nanti kamu langsung hubungi ane. Siapa yang mengatur strateginya?" tanya Deren.
"Bang Joker, Bos. Yang menyusup bang Kopri dan Codot," jawab pria kriting itu.
"Okey lah. Sekarang di mana ayahku?" tambah Deren.
"Tuan Bos pingsan saat turun dari pesawat. Sekarang beliau di rawat d rumah sakit, Bos."
" Siapa yang nemenin dia sekarang?" tanya Deren.
" Oh, terus kata dokter apa?"
" Ane kagak ngarti, dokter ngomongnya ama bang Joker, Bos."
Deren diam, pertanda dia mengerti. Tapi pria tampan ini bukan pria yang bisa berpuas diri demgan satu informasi. Jika dia ingin tahu lebih detail maka dia harus mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
Mobil yang membawanya ketempat tujuan pun sampai dengan selamat. Deren turun dari mobil dan langsung menuju ruang rawat inap ayah mertuanya. Di depan ruang rawat itu ada Joker yang terlihat sedikit khawatir. Deren pun langsung menyapa pria tinggi besar itu.
"Bang," sapa Deren.Joker pun berdiri dan menyambut kedatangan sahabatnya. Mereka pun berpelukan sekilas.
"Gimana ayah, Bang?" tanya Deren. Joker melirik sekilas pria yang ada di sebelahnya membuat Deren sedikit merasa bahwa Joker menyembunyikan sesuatu darinya.
" Abang kenapa?" tanya Deren.
__ADS_1
" Ini di luar dugaan dan kendali kita, Bro," jawab Joker pelan. Tapi Deren masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
" Maksud Abang apaan?" tanya Deren lagi.
Joker mengusap air mukanya dan berkata. "Mertuamu kena tumor otak, Bro," jawab Joker dengan nada pernuh kekhawatiran.
Deren dia terpaku, terkejut, bingung dan tak tahu harus menjawab apa. Joker kembali melanjutkan ucapannya.
"Tumor otaknya sudah lama bersarang di sana Bro. Itu sebabnya dia susah mengembalikan ingatannya," tambah Joker. Kini Deren mengerti sekarang, itu sebabnya ingatan Patrio tak kunjung kembali.
"Maaf Bang. Apakah penyakit yang ayah derita sudah parah?" tanya Dereb khawatir.
"Stadium 3, Bro."
Mendengar jawaban Joker membuat Deren makin shock. Pikirannya melayang tak tahu harus menjawab apa. Deren bingung, bagaimana caranya menjelaskan ini pada sang istri nanti.
"Astaga Bang, kenapa ujian ayah nggak ada henti-hentinya," ucap Deren.
"Kita nggak boleh ngomong begitu Bro. Anggap saja ini adalah tabungan amal buat beliau. Yang harus kita lakukan sekarang adalah memberinya dukungan. Syukur- syukur kita bisa membatu beliau berkumpul dengan cintanya," balas Joker penuh penghayatan.
"Iya, Bang. Kira kira ada harapan buat ayah sembuh nggak Bang!"
"Bisa dioprasi Bro, tadi Abang sudah konsultasikan pada dokter yang menangani tuan bos. Kemungkinan beliau hidup sekitar 40%. Dan kemungkinan terburuknya setelah oprasi, beliau bisa saja koma," jawab Joker. Deren berfikir, sepertinya dia punya teman seorang dokter yang bisa dia tanyain dan berkonsultasi soal ini.
"Makasih ya Bang, atas bantuan Abag selama ini. Coba nanti ane konsultasikan ini pada seseorang yang ane kenal," ucap Deren.
Sesaat mereka menghentikan percakapan. Karena Joker mendapat penggilan telepon dari anak buahnya memgabarkan situasi terkini di tempat di mana Ibu Fatimah di sekap.
Bersambung...
Mon maap ya kawan kawan, emak sedang repot.. lagi bantu masak buat pak tentara yang lagi latihan dekat rumah ... sementara ditahan dulu kangenmya, okey😘😘😘
__ADS_1