Ajari Aku Selingkuh

Ajari Aku Selingkuh
Jangan serakah (1)


__ADS_3

" Aini kenapa kamu berkata seperti itu?" Tanya ibu.


" Kenapa wajah Ibu jadi tegang?, apa ibu takut jika aku tahu bahwa Ibu sudah mengusir Kak Yuli dan Mas Akbar dari sini dan membuat penghuni panti asuhan membayar tagihan selama mereka tinggal di sini?"


Degh!!!


" Apa maksud kamu Aini, jangan bicara macam macam deh.." Ucap Ibu sambil tersenyum.


" Iya. Aini kamu bicara apa sih?. Mungkin Aini lapar mangkanya bicaranya agar ngelantur." Timpal Yuli.


" Kalau begitu Ibu akan segera masak untuk kamu yaa..." Ucap Ibu kemudian segera berlalu pergi meninggalkan Yuli dan Aini.


Aini segera mencengkal lengan Yuli saat dia juga akan pergi.


" Kakak mau kemana?, sampai kapan kakak mau menghindariku agar aku tidak bertanya kejadian yang sebenarnya kepada kakak?"


" Aini kamu itu bicara apa sih kejadian sebenarnya seperti apa yang kamu ingin tahu dari kakak karena memang tidak pernah terjadi apa-apa." Ucap Yuli sambil tersenyum.


" Kak, Mau sampai kapan kakak bisa diwara di depanku aku sudah tahu semuanya bahkan di kamar Kakak sudah tidak ada satupun barang milik kakak dan penghuni panti asuhan sudah mengatakannya kepadaku."


" Apa?"


" Kakak pikir begitu datang aku langsung beristirahat dan menenangkan diriku sementara Kakak menghadapi masalah sebesar ini sendirian?" Ucap Aini.


Yuli tidak tahu ketika dia sudah menyuruh Aini untuk beristirahat. Aini justru langsung pergi ke panti asuhan yang mencari tahu apa yang terjadi.


Aini langsung masuk begitu mendengar pengurus panti asuhan bersama-sama menangis dan mengeluh serta berdoa berharap pertolongan akan segera datang mengingat betapa tertindasnya dia ketika ibu dan dua saudara dari Yuli dan Aini mengambil alih seluruh aset kekayaan beserta panti asuhan.


Aini langsung masuk dan bertanya bagaimana sikap mereka selama ini.


Mereka tentu saja langsung mengatakannya kepada Aini karena mereka tahu bahwa yang sebetulnya berhak atas panti asuhan dan seluruh aset kekayaan ini adalah Aini.


Aini begitu murka dan penuh kemarahan begitu dia mendengar apa yang dilakukan oleh ibu dan kedua saudaranya itu.


" Sampai kapan kakak akan menutupi kebusukan yang sebenarnya dari ibu sambung kita?" Tanya Aini.


" Sudahlah jangan menangis. Ayo sebaiknya kita membantu ibu kita untuk membuat sarapan yang kita lihat apakah dia juga akan menuangkan racun pada makanan kita." Ucap Aini sambil tersenyum dan memeluk Yuli.


" Jangan menangis, aku sudah ada di sini dan kita akan menyelesaikan masalah ini bersama-sama."


Yuli memeluk adiknya itu..

__ADS_1


" Seharusnya kamu yang lahir dulu dari aku karena kamu sejatinya adalah kekuatan bagi Kakak dan keluarga kita. Kakak tidak pantas lahir duluan karena ternyata kakak tidak sekuat dirimu."


" Tidak peduli siapa yang lahir duluan karena bagi aku kita adalah satu kesatuan. Kita adalah saudara di mana saudara harus saling membantu saudara yang lain bukankah itu yang selalu diajarkan oleh almarhum ibu dan ayah?"


" Iya kamu benar."


Aini melepas pelukannya dan menghapus air mata yang membasahi pipi Yuli.


" Berikan aku senyum terbaik Kakak dan kita akan bersama-sama menuju meja makan."


Yuli tersenyum dan mencium pipi Aini.


" Ayah bener, Kamu adalah perisai rumah ini dan kamu adalah tetangga saat keluarga kita sedang terjerumus ke dalam lembah kegelapan. Ibu benar, bahwa suatu saat nanti kamu akan menjadi Surya ketika malam panjang terus saja menyinari ruang lingkup keluarga kita."


" Sudah jangan terlalu menyanjung ku nanti aku akan besar kepala."


Yuli tersenyum kemudian mereka memanggil suami mereka serta anak-anak untuk bergabung bersama makan siang yang sudah selesai disiapkan.


" Sayang aku ingin ayam goreng.." Ucap Daffa saat Aini mengambilkan makanan untuk nya.


" Baiklah..."


" Sepertinya udang asam manis itu juga enak.. aku mau ya..."


" Itu apa?" Tanya Daffa.


" Cumi pedas manis.." Ucap Ibu.


" Aku juga mau boleh?. Dan tempe bacem nya juga." Ucap Daffa sambil tersenyum.


"Ingin memiliki ini dan itu adalah serakah, dan orang yang serakah pada akhirnya dia akan kehilangan segalanya."


Yuli dan Akbar yang baru akan meminum saling berpandangan saat Aini mengatakan itu.


" Maaf." Ucap Daffa sambil menerima piring dari Aini.


" Tambah itu gak boleh ya?" Ucap Daffa sambil mengedipkan mata.


"Jangan menjadi orang yang serakah, karena mereka yang serakah cepat ditangkap KPK." Ucap Aini.


"Bumi ini cukup untuk semua orang tapi tak bisa memuaskan 1 orang serakah." Imbuhnya yang membuat Ibu menjadi sedikit tegang.

__ADS_1


" Ayo makan, Ibu kita yang baik hati dan penyayang sudah memasak banyak untuk kita semua.." Ucap Aini sambil tersenyum.


Yuli dan Akbar mulai makan makanan itu dan saling berpandangan sesekali melihat Aini menjadi dua kali lipat lebih tegar dan terlihat menakutkan bagi Ibu dan dua saudara nya.


Ibu dan dua saudara itu mengingat saat Almarhum ayah mereka mengatakan...


" Semua urusan dunia, semua harta dan seluruh aset yang aku miliki setelah aku tiada akan menjadi tanggung jawab Aini."


" Apa maksud Abi?" Tanya Ibu.


" Aini adalah kekuatan dalam keluarga ku. Jika kalian mau berdamai dengan nya dan mendapatkan hatinya niscaya kalian akan merasakan kebahagiaan dan ketenangan yang hakiki, tapi jika kalian tidak ingin berniat berdamai dengan ini maka jangan coba-coba untuk mencari masalah dengannya karena dia bisa menjadi lebih buruk saat terluka."


" Kenapa Abi menyerahkan semua tanggung jawab kepada Aini dan bukannya Yuli?"


" Yuli memang anak pertamaku dan seharusnya memang dialah yang berhak atas seluruh kekayaanku tapi tidak ada yang mampu menjadi seorang yang tegas dan berwibawa selain Aini. Karena itulah walaupun aku membuat surat wasiat tentang kepada siapa harta kekayaanku akan jatuh itu tidak akan berlaku tanpa persetujuan dari Aini."


Anak laki-laki itu memandang ibunya, ibunya tersenyum dan memainkan mata seolah-olah memberikan kode agar mereka bersikap biasa dan melanjutkan makan.


Tak lama berselang ada seorang anak datang dan meminta makanan.


" Pergilah, Bukankah kamu sudah memiliki jatah makanan di dapur panti asuhan. Jangan pernah datang ke sini bukankah aku sudah berulang kali mengatakannya kepadamu." Ucap Ibu itu pada anak yang berusia sekitar 6 tahun.


"Segunung emas belum tentu cukup untuk orang serakah, tapi sepiring nasi itu cukup bagi orang yang bersyukur. Ambilah ini.." Ucap Aini sambil memberikan piring makanannya pada gadis itu.


Gadis itu tersenyum dan berterima kasih lalu pergi dari sana.


" Apa Kak Yuli lupa memberitahu Ibu bahwa dapur ini juga terbuka bagi siapapun penghuni panti asuhan yang akan mencari makanan kemari?" Tanya Aini.


" Maafkan Kakak Aini, Mungkin memang kakak yang lupa memberitahu ibu." Ucap Yuli, Akbar memegang tangan Yuli seolah-olah menguatkannya karena memang Akbar tahu bahwa Yuli sudah memberitahukan hal itu namun Ibu mempunyai cara sendiri sejak dia mengambil alih.


" Berbulan bulan tinggal di sini tidakkah Ibu mengetahui bahwa kebiasaan yang ada di sini memang sudah ada sejak zaman dahulu kala. Kenapa Ibu masih belum mengerti jika dapur ini juga terbuka bagi penghuni panti asuhan yang lain?"


"Aini Ibu memasak makanan ini khusus untukmu dan tentu saja Ibu marah ketika ada seseorang yang mencoba untuk memintanya."


"Dunia ini menyediakan hal yang cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tetapi tidak untuk orang-orang yang serakah."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2