Ajari Aku Selingkuh

Ajari Aku Selingkuh
CUPLIKAN BAB


__ADS_3

Maaf yaa...


Mak Phi-khun lagi fokus sama anak pada sakit...


Biar nih novel gak kena pinalti jadi di isi cuplikan bab PERNIKAHAN RAHASIA SUAMIKU season 2 yaa...


Cekidot...


🌸🌸🌸🌼🌼🌸🌸🌸🌸🌸


Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk Leo.


Semalam dia berhasil menghentikan Hasna yang akan kembali balapan.


Leo menceritakan tentang bagaimana dirinya memergoki Hasna dan Adam kepada Naina, dan meminta Naina ikut masuk dalam drama yang akan di mainkan Leo.


Naina akhirnya menurut dan mau bekerja sama untuk membuat drama yang akan Leo buat, Awalnya Naina kurang setuju jika harus memberikan hukuman berupa pernikahan kepada Hasna tapi mungkin inilah jalan yang terbaik agar Hasna tidak lagi bermain balapan.


Pagi harinya, di meja makan ada yang tidak biasa.


Leo memasang muka marah walaupun sebenarnya dia ingin sekali tertawa, tapi dia harus mempertahankan diri agar terlihat benar benar marah dan kecewa.


Bowo sendiri memilih untuk tidak ikut campur Karena dia sudah tahu apa yang membuat Leo begini pastilah karena Leo sudah mengetahui bahwa Hasna masih melakukan balapan secara sembunyi-sembunyi.


Adam, Hasna dan Hawa melihat Bowo seolah-olah meminta perlindungan tapi Bowo bersikap seolah-olah dirinya tidak melihat tatapan dari ketiga cucu nya itu.


" Makanan tidak akan menghilang secara ajaib dan masuk ke dalam perut jika hanya di lihat saja begitu." Pekik Naina.


Ketiganya secara bersamaan langsung makan dengan perlahan namun cepat.


" Aku sudah selesai, aku akan naik ke atas untuk bersiap bekerja." Ucap Adam.


Brak !!!


" Tidak ada yang akan keluar ke rumah ini dengan alasan apapun." Pekik Leo yang membuat Hasna yang tadinya ingin ikut pergi jadi kembali terdiam.


" Tapi Ayah berencana untuk jalan jalan, apa ayah tidak boleh keluar juga?" Tanya Bowo.


" Baiklah terkecuali ayah." Ucap Leo yang membuat Bowo langsung menghilang dari tempatnya membuat ketiga cucunya itu melongo.


Hasna, Adam dan Hawa menatap nanar kepergian Bowo.


Mereka kemudian saling menatap satu sama lain dan merasakan bahwa mereka benar-benar akan disidang kali ini setelah beberapa kali peringatan tidak mereka gubris.


" Ehem, papi akan menunggu kalian di ruang keluarga." Ucap Leo sambil berjalan meninggalkan tempat makan.


" Mom...." Hasna memanggil Naina berharap Naina akan membantu Hasna.


" Mami tidak menyangka jika putri Mami masih bermain dan melanggar janji yang sudah dia buat."


" Mom..."


" Jangan menatap Mami seperti itu, bukankah kita sudah sepakat jika Papi sampai tahu tentang hal ini maka Mami tidak akan pernah membantu dan menyerahkan hukuman kepada Papi, dan jangan lupa jika kesepakatannya adalah kalian bertiga akan menerima apapun hukuman dari Papi."


Glek !!!


Hasna, Adam dan Hawa kembali saling berpandangan setelah Naina pergi.


Di ruang keluarga...


Leo benar-benar bersikap seolah-olah dia malah besar atas janji yang sudah diingkari oleh putrinya itu.


Naina menahan mati-matian tertawanya agar tidak terlepas, sungguh Leo memang tidak pantas jika harus berperan sebagai antagonis karena Leo tidak pantas memerankan nya. Jika saja ketiga anak itu tidak merasa bersalah mungkin mereka bisa melihat bahwa sebenarnya Leo tidak bisa berpura-pura marah walaupun sebenarnya dia juga marah.


" Papi sudah memutuskan kalian ketiga agar tinggal di mansion sampai kalian menemukan pasangan dan kalian akan menikah."


" Apa?" Ketiganya sontak saja melotot ke arah Leo.


" Wah wah wah, berani melotot pada Papi?"


Ketiganya kembali menunduk.


" Papi akan memberi waktu kalian selama satu minggu untuk bersiap dan menemukan pasangan kalian sendiri kalau tidak maka Papi yang akan memilihkan pasangan untuk kalian jadi ketika kita sudah tinggal di mansion maka kalian akan langsung menikah." Tegas Leo.


Ketiga merasa lesu dan tidak berdaya.

__ADS_1


Malam harinya, Naina mengatakan kepada Leo bahwa Bowo bersedia ikut ke kota karena Bowo juga merindukan istrinya.


Leo tentu saja bahagia karena keputusan yang bawa ambil sangatlah pas di saat Leo akan membawa anak-anak untuk tinggal di mansionya dan menikahkan mereka.


Satu Minggu berlalu....


Mereka kini sudah tiba di mansion Leo. Bowo langsung pergi mengunjungi istrinya setelah mereka baru saja tiba di bandara.


Sesuai kesepakatan, Leo langsung mencarikan seorang pria untuk Hana dan Hasna karena Adam sudah memiliki kekasih dan itu membuatnya sangat bahagia karena sebentar lagi dia dan kekasihnya akan resmi menjadi pasangan suami-istri.


"Anakku, kalian berhak memilih siapapun yang menurut kalian terbaik sebelum kalian menikah dengan tetap membuka mata lebar-lebar, namun, tutuplah rapat-rapat mata kalian setelah menikah dengan hanya melihat satu sama lain." Ucap Naina pada Hasna dan Hawa.


" Hmmm..."


"Pasangan kalian seperti lembar demi lembar buku yang tak akan habis dibaca. Untuk itu, tetaplah belajar dan mempelajari satu sama lain hingga selama-lamanya."


" Hmm...."


""Dimulai berdua, kalian nantinya akan membangun keluarga kecil seperti aku dan ayah kalian dulu. Untuk itu, tetaplah saling menjaga dan bertanggung jawab satu sama lainnya. Kalian adalah harta tak ternilai untuk masing-masing."


" Hmmm..."


Naina menahan tawa melihat ekspresi Hawa dan Hasna yang seolah-olah terlalu pasrah dan berat untuk berkata kata.


" Kalian baik baik saja?" Tanya Naina.


" Hiks hiks... Mami..." Keduanya tidak dapat lagi menahan tangisnya. Mereka mengadu kepada Naina tentang betapa jahatnya Leo yang memberikan hukuman pernikahan kepada keduanya. Terutama Hawa yang tidak pernah ikut balapan hanya ikut andil dalam menyamar sebagai Hasna yang tidur.


"Tidak ada yang bisa mengukur kasih sosok seorang ayah pada anaknya yang kadang kehadirannya dikalahkan oleh seorang ibu. Seorang ayah yang mengajarkan kita tentang kebaikan, menjelaskan pada kita tentang makna kehidupan, dan mendidik kita dengan penuh kasih sayang." Ucap Naina.


"Dan ketika anak perempuannya bakal menjadi istri orang lain, seorang ayah akan memiliki perasaan yang bercampur baur antara gembira dan sedih. Gembira karena anaknya bakal mendirikan rumah tangga, sedih karena tanggung jawabnya sudah lepas."


"Bimbang dan kasihan saat melepaskan genggaman pada anak perempuan yang digendong sejak kecil lalu diserahkan pada seorang pria yang kini dipanggil suami." Ucap Naina sambil meneteskan air mata. Karena sebentar lagi dia akan merasakan kesedihan itu.


"Tidak lagi masuk kamarmu, mencium dahi tiap malam sebelum kamu tidur meskipun kamu sudah berusia 21 tahun. Tidak lagi menyelimutimu dan mengambil ponsel dari tanganmu ketika kamu sudah terlelap." Lirih Naina.


Leo yang melihat itu langsung menghampiri mereka.


" Besok kita akan bertemu dengan seseorang yang akan menjadi suami dari Hasna dan Hawa." Ucap Leo tegas


" Papi akan memberi waktu kalian untuk saling mengenali calon pasangan kalian selama satu pekan penuh dan jika kalian merasa tidak cocok dengan pasangan kalian maka kalian boleh memberitahu kepada Papi teriak seperti apa yang kalian inginkan untuk menjadi suami kalian." Setelah mengatakan itu Leo kembali pergi meninggalkan mereka karena sebenarnya Leo juga tidak tega memberikan hukuman ini tapi dia tidak memiliki pilihan lain.


----------------


----------------


Dia tidak menyangka apa yang dia lakukan bersama Kasim langsung membuatnya hamil.


Ayudia menyembunyikan alat itu setelah dia melihat mobil Pras memasuki area apartemen.


Kasim sendiri sudah pulang untuk mengurus pekerjaan dan berjanji akan kembali dan mempersiapkan pernikahan mereka.


Ayudia dilema, di sisi lain dia mencintai peras tapi bayi di dalam kandungannya adalah milik Kasim dan itu membuatnya harus menikahi Kasim karena tidak mungkin Ayudia akan mengaku kepada Pras bahwa dia sedang hamil anaknya karena Kasim tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Jika Ayudia mengatakan itu dia sama saja membongkar aib nya sendiri.


Ayudia berusaha tersenyum saat Pras datang nggak langsung memeluknya.


Pras melihat tanda merah yang ada di bahu sebelah kanan Ayudia.


" Apa kau dan dia sudah melakukan nya?" Tanya Pras.


Ayudia terdiam, dia tidak bisa membohongi Pras dan dia juga tidak bisa mengatakan ya kepada Pras.


Ayudia memilih pergi dari hadapan Pras dan duduk di samping tempat tidur.


" Hei ada apa?" Tanya Pras.


" Kak Pras, lebih baik kita akhiri saja hubungan kita ini. Aku harap kakak akan mengucap kata talak padaku."


" Apa?, kenapa? Bukankah selama ini kamu bersedia hanya menjadi istri siriku apa Kasim sudah mencuci otakmu?"


" Tidak, aku hanya mulai berpikir realistis ini sudah 5 tahun berlalu, lambat laun orang tuaku pasti akan memaksa aku untuk menikah dan selama ini mereka mengenal hanya Kasim orang yang dekat dan menjadi kekasihku dan tentu saja mereka pasti akan menikahkan aku dengan Kasim."


" Tidak, Aku tidak akan membiarkan kamu menikah dengan Kasim karena jika kamu menikah dengannya maka tidak akan ada lagi kesempatan aku untuk bisa bersamamu."

__ADS_1


" Kau egois mas."


" Ayudia Bukankah sejak awal sudah kukatakan bahwa orang yang aku cintai adalah dirimu dan aku tidak berniat untuk menikahi Amelia. Hari itu aku sudah mengatakannya kepadamu bahwa aku akan menceraikan Amelia tapi kamu mengatakan bahwa Amelia sedang hamil anakku dan melarang aku untuk menceraikan Amelia lalu kamu bersedia menjadi istri siriku dan akan selamanya menjadi istriku tapi kenapa sekarang kamu sudah berubah?"


" Karena Aku juga ingin merasakan sepenuhnya menjadi seorang istri yang tinggal bersama dengan suami dan juga rumah yang ramai dengan anak-anak."


" Jadi ini semua karena anak..." Pekik Pras sambil tersenyum smirk dan meninggalkan pakaiannya.


" Mas Pras, kau mau apa?" Ucap Ayudia saat melihat Pras pejalan ke arah pintu menguncinya dan mengaktifkan kedap suara serta menutup semua jendela yang ada di dalam kamar itu secara otomatis dengan menekan tombol yang memang tersedia di sana.


" Bukankah kamu bilang bahwa kamu ingin menjadi seorang istri yang seutuhnya maka aku akan mewujudkan itu.


Pras langsung menyerang Ayudia dengan brutal. Kali ini, Ayudia berusaha untuk menolak Tapi apalah daya ke brutalan Pras sudah mencapai di puncaknya. Akhirnya Ayudia hanya bisa pasrah dengan permainan panas Pras.


Ayudia semakin dilema jika dirinya dan Pras terus saja seperti ini maka Ayudia akan sangat sulit untuk lepas dari Pras.


Ayudia sendiri sudah merasa bahwa dia ingin sekali seperti keluarga yang lainnya yang menghabiskan akhir pekan jalan-jalan bersama dengan suaminya dan memiliki seorang anak hasil dari buah cinta mereka.


Tapi kini Ayudia diantara dua jurang yang sama-sama akan menenggelamkannya jika Ayudia berjalan maju dan memilih untuk tetap berada di tempat.


Perselingkuhan ini pastilah akan terkuak suatu saat hari nanti dan Ayudia harus segera pergi dari sisi Pras sebelum ada yang berhasil menemukan bahwa dia Pras menjalin hubungan terlarang.


Clara yang saat itu tengah berada di mall setelah melakukan tidak sengaja bertemu dengan Amelia dan seorang pria yang merupakan kekasih gelapnya sedang berada di mall itu juga.


Clara memperhatikan Amelia dan kekasihnya yang sedang bercanda tawa bersama dengan kedua buah hatinya dan kemudian percaya dengan apa yang dikatakan oleh Pras.


" Mas Pras benar, mungkin anak itu menganggap wajah Pras dan Ayahnya adalah sama sehingga tanpa sadar dia memanggil Pras dengan sebutan ayah." Pekik Clara.


Clara sedang berada di pinggir jalan untuk menunggu supir yang akan menjemputnya saat mobil Kasim tiba tiba oleng dan hampir menabrak Clara.


" Maafkan aku nona aku sedang buru buru, apa anda baik baik saja?" Tanya Kasim yang memang kembali lebih cepat karena dia tidak bisa menahan diri untuk menikah Ayudia setelah Kasim mendengar rumor bahwa Ayudia sering diantar oleh Pras.


" Aku tidak apa apa." Ucap Clara.


Tak lama kemudian supir Clara datang dan langsung memeriksa Clara.


" Lain kali anda harus hati-hati. Apa anda tidak tahu jika beliau adalah istri dari Tuan Pras." Ucap supir itu sambil mengajak Clara untuk pergi.


Kasim melihat Clara dan tidak sedikit terkejut karena Kasim mengenal Amelia sebagai istri Pras dan bukan Clara.


Walaupun Kasim belum mengetahui nama Clara tapi dia ingat jelas dengan wajah wanita yang bernama Amelia yang dikenalkan sebagai istri Pras.


Kasim tidak lagi mempedulikan hal itu karena sekarang tujuannya adalah mendatangi Ayudia dan mengajaknya pulang hari ini juga untuk langsung mempersiapkan pernikahan.


Kasim melaju dengan kecepatan tinggi menuju apartemen Ayudia dimana Ayudia dan Pras masih bermandikan keringat.


" Sudah cukup..." Pinta Ayudia.


" Kenapa, apa kamu marah padaku?" Tanya Pras.


" Tidak, aku hanya merasa lapar." Ucap Ayudia.


" Baiklah, kalau begitu ayo kita mandi dan makan siang bersama." Ucsp Pras yang langsung menggendong Ayudia ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, rupanya Pras masih mengajak Ayudia bermain. Dan untuk pertama kalinya Ayudia membenci permainannya dengan Pras.


Dia mulai merasa bahwa Pras adalah orang yang sangat egois karena dia sudah memiliki dua wanita tapi tidak mau melepas Ayudia.


Ayudia berusaha untuk menghindari Pras, tapi penghindaran itu justru membuat Pras merasa bahwa Ayudia ingin sesuatu yang berbeda karena memang biasanya mereka melakukannya dengan gaya dan juga hal-hal yang tidak biasa.


Pras dengan gesit mengejar Ayudia dan kembali menghajarnya begitu dia berhasil Ayudia. Tidak peduli tempat, dilantai, di tembok, di tangga bahkan pernah melakukannya di depan pintu keluar saat Ayudia akan berangkat bekerja tapi hasrat Pras sudah di ubun-ubun.


Seluruh kamar menjadi basah karena Ayudia berlari menuju tempat tidur dalam keadaan tubuh basah.


Pras semakin menggila hingga suara bell pintu apartemen Ayudia menghentikan aktivitas Pras.


" Sial, siapa yang menganggu." Pekik Pras sambil mengenakan handuk dan melihat dari lubang pintu apartemen.


Pras terkejut saat melihat Kasim ada dibalik pintu itu.


" Kasim..."


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2