
"Terlalu sering memegang pensil alis dapat membuat mata menjadi buta, jika dicolok-colokkan ke mata." Ucap Daffi saat dia melihat Fiona sedang memoles wajahnya.
" Mulut juga bisa menjadi bengkak jika kamu berciuman dengan tawon." Ucap Viona.
"Katanya pak haji, cowok yang nggak mau pergi salat Jumat disuruh pakai rok aja."
Mendengar itu Daffi yang baru saja duduk langsung bangkit kembali dan berjalan menuju masjid meninggalkan Viona yang terkekeh melihat tingkah laku Daffi.
Viona selalu memasukkan semua alat make up nya dan mengeluarkan ponsel, rupanya tangannya sangat gatal ingin mendengar kabar dari Radit.
"Aku suka kamu, kamu suka dia, tapi dia sayangnya nggak ke kamu. Wkwkw lucu ya? Cinta serumit ini." Ucap Viona saat dia melihat Radit mengunggah foto preweddingnya dengan wanita yang bukan kekasih Radit sebelumnya.
Viona baru tahu jika kekasih Radit yang sebelumnya mencintai pria lain dan memilih untuk meninggalkan Radit sehingga tadi terpaksa menikahi wanita lain yang belum lama dia kenal untuk menutup rasa malu karena undangan pernikahan sudah terlanjur disebar namun si mempelai wanita justru pergi dengan pria lain.
"Allah sudah mempersiapkan jalan untuk hidupmu, tapi kamu malah rebahan." Ucap Yuli saat melihat Fiona sedang rebahan di kursi yang ada di dekat panti yang jaraknya juga tidak jauh dari masjid.
" Eh kak Yuli hehe. Maaf maaf gara-gara foto ini sih aku lupa kalau sekarang aku masih sedang di luar ruangan bukan di dalam ruangan."
Yuli tersenyum kemudian duduk di samping Viona.
" Memangnya apa yang kamu lihat sehingga kamu itu sangat fokus dan tidak sadar jika kamu sedang rebahan di luar?"
" Gak ada sih lagi buka Google aja."
" Google?"
"Iya google. Dan apa kak Yuli tahu Google itu hebat ya? Tapi sayang sehebat-hebatnya Google nggak bisa menemukan jodoh kita."
" Pfffftttt, memangnya kamu tahu dapat jodoh dari Google?"
" Ya kalau bisa ngasih jodoh kenapa enggak?"
" Lah kan Google udah banyak tuh ngasih pilihan jodoh ke kamu kamu tinggal milih aja mau yang mana."
" Iya sih tapi kan cuma fotonya doang bukan orangnya."
" Ya udah nikah sama fotonya aja kan kamu mintanya sama Google kalau mintanya sama Allah kamu akan dikasih orangnya."
" Hehe gitu ya?"
" Iya.."
" Hmm, aku udah minta sama Allah tapi sampai sekarang masih belum dikasih juga jodohnya apa Aku mintanya kurang ngebet ya?" Tanya Viona.
" Kamu tuh kayaknya kebelet banget ya pengen nikah, kayak orang kebelet BAB udah nggak tahan."
" Hehe Ya nggak juga sih tapi yang ngebet juga."
" Sudah Jangan pikirkan soal jodoh mending pikirkan untuk terus memperbaiki diri sehingga ketika jodoh itu datang kamu sudah siap."
" Siap dilamar?"
" Siap ditikung." Ucap Yuli sambil berjalan meninggalkan Fiona karena dirinya sudah tidak tahan jika Viona sudah dalam mode konslet.
" Yah di tinggalin." Pekik Viona.
Viona kemudian memutuskan untuk mencari Aini karena dia ingin mengutarakan niatnya untuk kembali ke kota dan mulai menjalankan kembali usahanya yang sempat tertunda selama beberapa hari.
" Kamu yakin nggak mau tinggal di sini selama beberapa hari lagi?" Tanya Aini ketika Fiona sudah mengatakan jika dirinya akan kembali ke kota sore nanti.
" Tidak lagi pula Mas Dafa sudah ada untuk menemani kamu jadi aku pikir untuk kembali ke kota kasihan kan masakan aku mangkrak nanti pelangganku pada kabur semua."
__ADS_1
" Nanti Kalau kamu pergi ke kota dan ternyata ada jodoh kamu yang datang nyariin gimana?"
" Gampang ntar aku share loc aja agar nyusulin aku ke kota."
" Haha iya iya iya bisa juga bisa juga."
" Hehe.."
" Eh kamu kalau nggak pulang sama aku sama siapa?"
" Samanta."
" Siapa Samantha?"
" Gak tahu Aku asal nyerocos aja."
" Astaga Fiona aku tanya benar-benar kamu jawabnya malah ngelantur."
" Ya kamu kayak nanya sama anak SD aja nakut-nakutin kalau nggak pulang sama orang tuanya bakal diculik Aku kan udah gede ya tentu saja aku balik ke kota naik taksi memangnya kamu pikir aku ke kota bakal jalan kaki?"
" Ya kali aja kamu punya sayap ya cepetan sampai."
" Haha bisa aja ente."
" Udah pulangnya bareng aku aja mungkin aku beberapa hari lagi kembali ke kota."
" Enggak ah kelamaan. Kan katanya kalau berduaan dengan pasangan Lalu ada orang ketiga maka orang ketiga itu disebut setan aku nggak malah disebut setan."
" Hahaha memangnya siapa yang bakalan nyebut kamu setan yang bener aja deh."
" Ya kan nanti kamu sama Mas Dafa berduaan kalian sudah pasangan dan aku jadi orang ketiganya orang ketiga setan."
" Kata kata itu berlaku untuk pasangan yang bukan pasangan halal."
" Ya sudah yang penting jaga diri saat di dalam perjalanan jangan tebar pesona."
" Ya siapa juga yang mau tebar pesona orang nggak ada yang mau sama aku juga." keluh Viona.
" Jika kamu tak mampu meyakinkan dan memukau orang dengan kepintaranmu, bingungkan dia dengan kebodohanmu."
" Maksud aku harus jadi oon di depan orang-orang gitu?"
" Yaa nggak gitu juga maksudnya kamu harus tetap waras walaupun sebenarnya ada tingkat kebodohan."
" Aini Kamu itu sebenarnya ngomong apa sih?"
" Gak tahu."
" Ya Tuhan..." Fiona menepuk dahinya sendiri kemudian pergi meninggalkan Aini dan masuk ke dalam kamarnya untuk membereskan barang-barang miliknya.
Sore harinya, Fiona sudah siap untuk kembali ke kota dan sedang menunggu taksi yang dipesannya.
" Mau minggat yaa?" Pekik Daffi saat dia melihat Fiona sedang duduk dan membawa barang-barangnya.
" Enggak. Tapi mau mandi."
" Mandi di mana kok bawa pakaian banyak banget?"
" Di planetarium."
" Widih jauh banget kira-kira berapa jam perjalanan ke sana?"
__ADS_1
" Seumur hidup."
" Galak amat , Ya udah pulang sama aku yuk."
" Hue?"
" Aku juga mau balik ke kota, aku ke sini karena tadi aku mengantarkan Mama untuk tinggal di sini sebaring menunggu Daffa kembali."
" Tapi katanya kalau bukan pasangan halal kita tidak boleh berdua-duaan nanti ada setan."
" Ya bagus dong sekali kali aja setannya naksir sama kamu dan kamu juga suka sama dia dan jadi jodoh kamu kan."
" Astaghfirullah lazim."
" Maaf maaf canda setan. Udah lah mau bareng sama aku atau enggak?"
" Enggak usah deh?"
" Yakin ?"
" Iya.."
" Ya udah kalau gitu aku berangkat duluan ya selamat menunggu."
" Eh tunggu. Aku ikut deh."
" Tadi gak mau?"
" Ya kan tadi, sekarang mau." Pekik Viona.
" Ya udah masuk."
" Kenapa memilih untuk lebih pulang dulu kenapa tidak pulang bersama dengan Aini?" Tanya Daffi setelah mereka berkendara sekitar setengah jam.
" Ya kan aku harus bekerja, aku bisa menangis jika aku tidak memiliki uang."
"Uang bukanlah segalanya, tapi lebih baik menangis di dalam mobil Mercedes daripada di atas sepeda."
" Haha bisa ngelawak juga Paijo."
" Jadi sekarang kamu sedang menekuni bisnis kuliner Apa kamu nggak lelah kamu masak sendiri kamu juga yang nganter pesanan sendiri."
"Selelah-lelahnya bekerja, lebih lelah lagi kalau nganggur."
" Kalau pengangguran digaji mungkin presiden sudah bangkrut."
" Haha..."
" Kalau ketawa tolong dikondisikan nanti lalat masuk aku yang jadi tersangka."
" Terima kasih karena sudah mau memberikan tumpangan kepadaku aku benar-benar merasa spesial." Ucap Viona
"Gak perlu ngerasa spesial, kamu manusia, bukan nasi goreng."
Viona langsung menatap tajam Daffi.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...