
Walau digenggam kuat, andai dia bukan milik kita, dia terlepas juga. Walau ditolak ke tepi, andai dia untuk kita, dia datang juga. Itulah namanya jodoh.
Viona terus teringat perkataan Aini sambil melihat ke dua tangannya.
" Padahal aku tidak pernah menggenggam tangannya, jangankan untuk menggenggam dengan erat memegangnya sedikit saja Aku tidak pernah. Tapi dia tetap pergi, apa itu artinya dia bukan jodohku?"
" Mak Erot... Oh Mak Erot..."
" Hadeh... Pasti Paijah." Keluh Viona.
Dan bener saja, saat Viona keluar, dia melihat Paijah. Temannya.
" Apa.an sih?"
" Yaelah galak amat. Mau masuk lah tapi gerbangnya di kunci."
Sambil mengomel Viona berjalan membuka pintu gerbang.
" Eh eh aku dengar kamu berhenti kerja di bar ya?"
" Iya."
" Eh Mak Erot kenapa?. Bar kan tempatnya cogan."
" Apa an itu cogan?"
" Cowo ganteng..." Ucap Paijah sambil mengedipkan mata.
" Tidak Paijah, aku ingin berhenti."
" Ah... apa matamu katarak sekarang?"
" Gundulmu..."
" Lah itu mau berhenti melihat Cogan. Kan berrti katarak."
" Aku mau meninggalkan kebiasaan burukku." Ucap Viona.
" Maksud kamu. Kamu ingin berhenti ngupil di toilet?"
" Astaga..."
" Lah kan memang itu kebiasaan buruk kamu kan?"
" Mak Erot aku mau berhenti main main."
" Kita kan belum main apa apa, kok udah minta berhenti."
" Tau ah gelap." Ucap Viona sambil masuk ke dalam kamar.
" Yah sewot memangnya aku salah apa." Pekik Paijah.
" Wow makanan. Kebetulan sekali aku lagi lapar."
Paijah langsung memakan makanan yang ada di meja. Sementara Viona membongkar lemari pakaian nya dan mengambil sebuah paper bag yang beisi baju baju gamis pemberian ibunya.
" Ibu tahu Ibu tidak bisa memberikanmu barang mahal dan juga barang-barang lainnya yang kamu inginkan. Ibu hanya bisa memberikan kamu ini." Ucap Ibu Viona sambil memberikan sebuah paper.
" Gamis?" Ucap Viona saat membuka paper bag pemberian ibunya.
" Karena Ibu tidak bisa menjagamu di kota jadi ibu harap pakaian ini akan tetap menjaga dirimu untuk selalu berada di jalan-Nya dan tidak tersesat saat kamu mencoba untuk mencari arah ke mana sebenarnya kamu ingin melangkah."
Viona menerima pemberian ibunya itu tapi tidak pernah dia pakai karena Fiona sudah nyaman dengan pakaian minimnya akibat pengaruh lingkungan.
Dan sekarang Viona menangis sambil memeluk baju-baju pemberian ibunya.
Bukan pakaian bermerek tapi Viona tahu bahwa ibunya menjual cincin satu-satunya untuk membeli gamis itu saat tahu bahwa Fiona akan pergi ke kota bersama dengan Radit dan dua teman lainnya.
" Maafkan Viona bu..."
...****************...
Setelah memasak, Aini memutuskan untuk mandi karena rasa badannya begitu lengket.
Jadi Aini tidak tahu bahwa Daffa sudah pulang dan membaca catatan yang ditinggalkan Aini.
"Oh begini rasanya jadi pengantin baru. Semuanya sungguh mengejutkan. Kenapa tidak dari awal saja yaa aku dan Aini begini. Hehe, rasanya gemas gemas gimana gitu... Melahap tapi yang dibuat melahap tidak mendukung. Nasib... nasib .."
Daffa masuk ke dalam kamar nya dan melepaskan pakaiannya.
Dia berencana untuk mandi karena ingin terlihat kerena serta wangi saat di dekat Aini.
Ckelek...
__ADS_1
Daffa yang hanya mengenakan celana pendek masuk dengan santai ke kamar mandi karena mengira Aini ada di taman belakang rumah untuk menyiram tanaman seperti yang biasa Aini lakukan.
Baru beberapa langkah masuk kamar mandi, Daffa melongo dengan mata dan mulut terbuka lebar.
Bagaimana tidak, mata nya suguhi pemandangan dimana Aini hanya di lilit handuk dan sedang mengeringkan rambutnya yang panjang se pinggang dengan menggunakan hairdryer.
" Sempurna kan...." Pekik si entong.
" Sempurna itu ketika kamu sudah bisa masuk kesana." Ucap Daffa.
" Siapa takut..."
Tuwing......
" Aaahhh ..." Daffa menutup mulutnya melihat pisang tanduk kesayangan nya terbangun.
Dengan perlahan Daffa masuk ke ruang mandi dan menutup tirai nya.
Daffa tersenyum sambil memegang tanduknya.
" Aku merindukanmu kawan kecil.." Pekiknya.
Daffa justru sedang berinteraksi dengan tanduk yang masih gagah perkasa, dia lupa jika Aini masih ada disana.
Aini yang mendengar suara, tentu saja curiga. Dengan air di ember dia berjalan mengendap-endap menuju tirai kamar mandi.
Sebelumnya Aini mengenakan handuk kimono dan menutup kepala dengan handuk yang tadi melilit tubuhnya.
" Aku yakin kamu sudah siap bertempur sekarang." Pekik Daffa saat dia terus mengkocok tapi tanduknya tetap kokoh.
Satu..
Dua...
Tiga....
Daffa bersiap keluar..
Aini bersiap membuka tirai...
Dan ....
Ba....
Byur...
Brak....!!!
Keduanya terkejut dan Aini langsung melempar ember air kepada Daffa dan ember nya mendarat di kepala Daffa.
Daffa mundur tapi karena banyak air dia hilang keseimbangan dan terjatuh.
Aini yang tidak bisa melihat wajah Daffa karena tertutup ember langsung mengambil tongkat besi penyangga tirai untuk memukuli Daffa.
" Penjahat...."
" Pencuri..."
" Maling, ini apa juga yang berdiri.. haaa...."
" Kyaa... jangan ini aku suami kamu..."
Aini yang sudah siap memukul tanduk Daffa langsung berhenti dan terkejut.
" Suami?" Pekik Aini terkejut.
" Untung masih selamat." Pekik Daffa sambil melepas ember dan meletakkan nya di atas tanduknya.
" Kamu kenapa ada disini?" Tanya Aini sambil berjongkok dan membantu Daffa bangun.
Daffa tidak sadar jika dia menginjak handuk kimono Aini.
Jadi posisi Aini yang jongkok karena membantu Daffa untuk duduk.
" Kenapa disini?" Tanya Aini lagi
" Ini apa?"
" Ember."
" Hais bukan ini..." Ketus Daffa sambil memukul ember di depannya.
" Terus apa?"
__ADS_1
" Tempat apa ini?" Tanya Daffa sambil menghela nafas panjang.
" Kamar mandi..." Jawab Aini.
" Pinter, halo sedang apa orang jika dia berada di dalam kamar mandi?" Tanya Daffa lagi dengan suara dan intonasi kata yang melambat.
" Mandi lah, gak mungkin kan orang di dalam kamar mandi itu makan apalagi tidur." Ucap Aini.
" Pinter, jadi kamu sudah tahu kan untuk apa aku berada di dalam kamar mandi."
" Untuk mandi."
" Pinter lagi..." Ucap Daffa sambil sesekali mengintip di balik ember untuk memastikan sang tanduk masih tetap on atau sudah off.
Ternyata masih on pemirsaaa, melihat itu Daffa tersenyum.
" Kenapa senyum senyum?. Ah Aku tahu kamu pasti menyembunyikan sesuatu kan di balik ember ini?"
" Menyembunyikan apa?" Tanya Daffa.
" Ya mana aku tahu tadi kamu sudah ngomong-ngomong sendiri kayak orang gila."
" Aku nggak ngomong sendiri aku tuh ngomong sama Daffa junior."
" Loh sejak kapan kamu punya Daffa junior?"
" Udah dari aku lahir."
" Kok aku gak tahu.."
" Ya kan aku memang belum ngasih tahu kamu."
" Kenapa?"
" Ya gak apa apa."
" Dih aku kan istri kamu seharusnya aku juga dikenalin dong sama Daffa junior."
" Nanti."
" Nanti kapan?" Tanya Aini.
" Kalau kita udah siap ehem ehem."
" Ehem ehem apa?"
" Eeh eh mau apa?" Tanya Daffa saat Aini mencoba untuk mengintip apa yang ada di balik ember yang terus dipegang oleh Daffa.
" Mau liat Daffa junior. Dia ada disini kan?"
" Gak ada."
" Katanya tadi ada."
" Dia udah minggat ke Pluto."
" Lah kapan perginya kan dari tadi aku di sini."
" Dia itu punya jurus ngilang makanya kamu nggak akan tahu saat dia keluar dari balik ember ini."
" Oh...."
" Kamu percaya?"
" Kenapa?. Kamu bohong?"
" Iya." Jawab Daffa.
" Huh dasar ngeselin." Ucap Aini sambil berdiri. Disaat bersamaan. Daffa juga sedang menguatkan kakinya untuk berdiri.
Sring....!!
Aini yang berdiri ditambah kaki Dava yang sudah ancang-ancang untuk berdiri membuat handuk kimono itu lepas dengan begitu cepat dari tubuh Aini.
Aini mendelik karena tubuhnya kini polos seperti bayi, sementara Daffa kembali menga-nga hingga...
****** TTT !!!!!
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...