Ajari Aku Selingkuh

Ajari Aku Selingkuh
Bab 42 : Gak jelas


__ADS_3

Viona sedang fokus memasak. Hari ini dia cukup sibuk karena banyak pesanan yang masuk.


" MAK, sebentar lagi anak mu akan menjadi sukses. Hiks hiks..." Ucap Viona sambil menangis.


Dia menangis bukan karena terharu, tapi karena dia sedang mengulek bawang merah.


Setelah selesai masak, Viona mulai menata makanan di meja karena biasanya sebentar lagi akan ada ojol yang mengambil makanan dari Viona.


Namun ada satu pelanggan yang keberatan untuk memesan ojol dan meminta Viona untuk mengantarkan nya langsung dengan alasan dia takut makanan nya di ganti yang beracun oleh tukang ojol.


" Sabar sabar, kata Aini jalan menuju sukses gak bisa instan. Kalau instan semua pabrik mie bakal bangkrut hahaha.."


Viona kemudian membalas pesan dari salah satu pembelinya itu dan mengatakan bahwa dia bersedia Untuk mengantarkan makanannya sampai ke tempat tujuan.


Setelah membersihkan diri dan memastikan bahwa alamat yang akan Viona datangi sudah jelas. Dia bergegas pergi menaiki sepeda motor.


" Hehe maaf yaa mobil sementara kamu aku ganti dulu sama yang roda dua tapi tenang aja setelah aku kaya aku sukses dan aku punya banyak uang aku akan membeli kamu lagi jadi sabar ya." Viona berbicara sendiri sambil mulai berangkat ke alamat yang diberikan pembeli.


Tak beberapa lama kemudian Viona datang ke alamat yang diberikan oleh pembeli.


" Lah ini bukan nya kantor pusat promosi?"


Viona membuka ponselnya dan mengirimkan pesan kepada pembeli yang mengatakan bahwa dia sudah ada di depan alamat sesuai maps.


Viona tersenyum setelah pembeli itu mengatakan bahwa dia akan segera keluar.


" Heh mak gambleng. Kamu ngapain disini?"


Viona mendongak, ternyata yang keluar adalah...


" Mas calon jodohku??"


" Jadi kamu yang jual makanan?"


" Jadi kamu yang beli makanan aku?


Alhamdulillah dari makanan jalan lurus sampek pelaminan." Pekik Viona.


" Jangan jalan lurus."


" Kenapa?"


" Gak liat apa disana ada tikungan." ketus Daffi sambil menunjuk ke arah jalan yang ada di depannya dan pergi setelah mengambil makanan di tangan Viona.


Beberapa detik kemudian Viona sadar bahwa makanan nya sudah dibawa tapi Daffi belum membayarnya.


" Et dah ponsel pakek acara mati segala. Ya udah deh aku nunggu dia disini aja. Itung-itung latihan nunggu jadi calon istri xixixi..."


Karena bosan, Viona memutuskan untuk masuk ke dalam dan berkeliling.


" Heh saodah, kamu ngapain disini?. Nungguin aku?" Ucap Daffi saat dirinya tidak sengaja melihat Fiona berkeliling kantor temannya itu.


"Aku tak pernah menunggumu. Kamu tak pernah sengaja datang. Tapi kita sengaja dipertemukan Tuhan. Entah untuk saling duduk berdampingan atau saling memberi pelajaran. Entah untuk saling mengirim undangan pernikahan, atau duduk bersama di pelaminan."


" Ciiee ciiee, mukanya merah gara-gara aku gombalin." Kekeh Viona.

__ADS_1


" Heh paijah muka aku merah bukan karena gombalan kamu tapi karena makanan kamu itu pedes banget."


" Lah kan situ sendiri yang pesan makanan ekstrak pedas membludak. Ya udah aku pedas sih."


" Hadeh, mending pergi deh. Kamu itu merusak pemandangan."


" Merusak pemandangan tidak apa apa, asal jangan merusak cetakan nama kita di kartu undangan. Eaaa...."


" Ya Tuhan, mimpi apa aku di ikuti mak lampir."


" Enak aja, cantik cantik gini dikata Mak Lampir."


" La terus siapa?"


" Mak cantik lah."


" Emang udah beranak?"


" Ya belum sih, tapi aku siap melahirkan anak untuk kamu." Ucap Viona sambil mengedipkan mata.


" Pulang pulang... Males tahu gak sih ketemu kamu."


" Eh ya gak bisa gitu dong."


" Kenapa?"


" Kamu belum bayar makanan nya."


" Astaga, aku lupa. Maaf yaa.." Ucap Daffi sambil memberikan sejumlah uang kepada Viona.


Daffi hanya geleng-geleng kepala melihat Viona.


" Kok ada yaa cewek kayak gitu. Muslimah sih tapi setengah eror." Pekik Daffi.


Sore hari, setelah Daffi selesai melakukan pekerjaan Dia memutuskan untuk pulang walaupun sebenarnya ada rasa sedikit malas karena dia harus kembali bertemu dengan Aini.


Saat keluar dari kantor Daffi kembali memejamkan matanya menahan rasa kesal karena dia melihat Viona masih ada di depan kantor.


" Ya Tuhan mak ijah kamu ngapain disini."


" Heh calon jodoh kalau manggil calon istrinya itu bisa bener nggak sih nama aku tuh Viona. EV I O EN ANA. Viona."


" Ya terserah kamu aja deh kamu itu ngapain Di sini ngapain pakai acara nunggu aku segala."


" Dih Ge er memangnya siapa yang lagi nunggu kamu aku tuh lagi nunggu Bambang bengkel."


" Lah kenapa, udah konslet otaknya sampek lupa jalan pulang?"


" Bukan tapi ban motor aku perlu ditambal seperti hatiku yang ingin sekali ditambal oleh cintamu."


Daffi memilih untuk segera naik ke dalam mobilnya daripada meladeni Viona.


" Eh eh tunggu." Ucap Viona sambil menarik baju Daffi.


" Apa lagi sih?"

__ADS_1


" Boleh numpang gak?"


" Gak."


" Pelit amat."


" Bodo."


" Ya udah kalau gitu sini aku pinjam mobil kamu dan kamu pakai motor aku."


" Ya sudah nih, memangnya siapa yang mau semobil dengan kamu." Ucap Daffi sambil melemparkan kunci mobilnya.


Saat Daffi mendengar suara mobil, dia baru sadar jika Viona sedang mengerjai nya. Dan menyadari bodohnya dia yang memberikan kunci mobil karena itu artinya Daffi yang akan menunggu tukang bengkel datang.


Tok


Tok


Tok


" Woi mak lampir bukak pintunya." Teriak Daffi sambil menggedor-gedor kaca mobil.


" Katanya gak mau semobil dengan aku?" Kekeh Viona saat melihat Daffi masuk dan duduk di sebelahnya.


" Udah jalan jangan bawel."


Viona menggerakkan kedua bahunya lalu mulai berjalan pulang.


" Gak usah liat liat aku kayak gitu, anggap aja aku tidak terlihat." Ketus Daffi saat tahu Viona terus saja mencuri pandang dengan nya.


"Tersembunyi atau terlihat, ada sebuah pemisah antara laki laki dan perempuan sampai sebuah pernikahan menyatukan mereka."


" Ngomong apa sih, kamu itu lagi ngebet banget kawin yaa?"


" Aku udah puas kawin, sekarang pengen nikah."


" Ya sudah sana nikah susah amat."


" Nikah sama kamu ya?"


Daffi memasang headset di kedua telinganya, membuat Viona ntar kekeh dan kembali fokus menatap jalanan.


"Wahai Yang Maha Lembut, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan seseorang yang mungkin akan menjadi imam dalam shalat ku. Jadi aku mohon manjakanlah hatiku yang sendiri ini, bahagiakanlah aku dalam pernikahan yang penuh cinta, yang mesra, yang setia, yang akan segera terjadi."


Daffi langsung melirik ke arah Fiona dengan lirikan tajam karena sebenarnya Daffa tidak benar-benar mendengarkan sebuah lagu. Dia hanya memasang headset berharap Fiona tidak akan berkata hal yang membuatnya merasa semakin gila.


"Sahabat terbaik cenderung mendapatkan istri terbaik, karena pernikahan yang baik didasarkan pada bakat untuk persahabatan. Jadi ayo kita bersahabat agar mendapatkan pasangan hidup yang terbaik." Ucap Viona sambil fokus menyetir.


Ampun dah, ni cewek sebenarnya mau apa sih nggak jelas banget.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2