Ajari Aku Selingkuh

Ajari Aku Selingkuh
Bab 62 : Malam indah


__ADS_3

Suami ku, kamu membuatku tertawa, menyeka air mataku, memelukku erat, dan membuatku tetap kuat apapun yang terjadi. Kamu adalah janji bahwa aku akan punya teman selamanya.


Aku mencintaimu karena kamu pantas untuk dicintai. Aku mencintaimu karena kamu adalah pria yang membuatku merasa nyaman. Yang terpenting, aku mencintaimu karena kamu menunjukkan kepadaku arti cinta yang sebenarnya dan apa artinya dicintai.


Lenganmu telah memelukku pada saat terlemahku, matamu telah melihatku pada saat terburuk, dan hatimu telah mencintaiku melalui saat-saat tergelap. Aku sangat berterima kasih untuk semua cinta yang kamu beri.


Semua kata itu muncul bersamaan dengan menangisnya Aini karena kebahagiaan tidak terduga yang dia dapatkan.


Malam itu dengan rembulan dan gemerlap nya bintang menjadi saksi dua insan yang menyatu dalam ikatan cinta.


Tidak ada satupun dari mereka yang menyangka jika malam itu adalah malam pertama bagi mereka.


Malam indah bagi keduanya, penyatuan sempurna menciptakan perasaan bahagia yang luar biasa, untuk pertama kalinya Daffa dan Aini merasakan kenikmatan dunia.


Daffa menatap Aini seolah olah hatinya berkata,


'Kamu adalah matahari di hariku, angin di langitku, ombak di samuderaku, dan detak di hatiku. Aku akan mencintaimu dan akan menjalankan kewajiban sebagai suami sepenuhnya.'


Aini membalas tatapan suaminya dengan doa di dalam hati..


'Terima kasih Tuhan karena telah memberiku suami yang paling tampan, penuh kasih, dan pintar di dunia ini.'


Daffa kembali mendaratkan ciuman pada Aini dan memulai apa yang baru saja selesai dia lakukan.


Pagi harinya...


Aini bangun dan menyesalkan dia yang melewatkan waktu subuh. Lalu pandangannya tertuju pada Daffa dan mengingat kembali kejadian malam tadi.


Senyum menghiasi wajah Aini, dia berjalan mendekati jendela sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


Aini melihat hari seperti nya sudah sangat terang karena matahari sudah menyinari padatnya aktivitas Ibu kota.


Aini memegangi bibirnya, bibir yang semalam begitu sering disentuh oleh suaminya.


Sentuh demi sentuhan tiba tiba kembali Aini rasakan. Rasanya sangat hangat lalu Aini merasakan sebuah tangan melingkar di pinggang nya.


"Terima kasih telah ada untukku bahkan ketika aku tidak layak atas cinta dan perhatianmu." bisik Daffa.


"Kamu telah menjadi hal terbaik yang pernah terjadi padaku, memberi aku begitu banyak tawa, begitu banyak kegembiraan, dan begitu banyak cinta. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih dan mengingatkanmu betapa aku sangat mencintaimu." Imbuhnya.

__ADS_1


Aini berbalik dan menatap Daffa.


"Kamu adalah suami yang diinginkan setiap wanita. Kamu adalah ayah yang akan dicintai setiap anak. Kamu adalah teman yang tidak bisa dimiliki orang lain. Kamu adalah semua sosok yang orang lain inginkan. Terima kasih sudah memilihku untuk memilikimu. Terima kasih karena kamu telah menjadikan aku istri seutuhnya."


"Tanpamu aku akan seperti layang-layang yang terputus melayang pergi tanpa tujuan. Terima kasih telah membuat rasa aman dan menunjukkan arah dalam hidup."


Aini tersenyum, tangannya tanpa sadar terangkat untuk memeluk leher Daffa.


Karena gerakan itu tentu saja selimut yang menutupi tubuhnya jatuh dengan sangat indah ke lantai.


Daffa yang mengetahui itu langsung memeluk Aini dan membawanya berjongkok untuk mengambil kembali selimut yang terkejut.


Wajah Aini merah karena malu, dia tidak menyadari jika dirinya tidak menutupi tubuhnya dengan sempurna sehingga tubuh polosnya terlihat oleh Daffa.


"Aku tidak akan pernah menemukan kata-kata yang cukup untuk menjelaskan betapa aku menghargai kamu. Aku akan mencintaimu sampai nafas terakhirku dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu." Ucap Daffa yang berada dalam satu selimut dengan Aini.


Tiada hubungan terindah seorang laki-laki dan wanita kecuali hubungan dalam pernikahan.


Daffa membawa Aini kembali ke tempat tidur.


Bunyi ponsel tidak membuat Daffa mengalihkan pandangannya dari Aini.


" Batalkan semuanya dan atur ulang untuk minggu depan. Aku tidak akan ke kantor sampai akhir pekan." Ucap Daffa sambil mematikan ponselnya dan meletakkannya kembali ke tempat dimana sang tangan tadi mengambil nya.


" Kenapa kamu tidak akan pergi ke kantor?" Tanya Aini memberanikan diri walaupun jantung nya kini berdetak kencang.


" Karena aku sudah memiliki tugas baru disini."


" Apa itu?"


" Membangun pabrik bayi." Ucap Daffa sambil tersenyum dan mulai melakukan pemanasan seperti yang dia lakukan sebelumnya.


Aini hanya tersenyum dan membiarkan Daffa melakukannya lagi dan lagi.


Rasa sakit yang dirasakan Aini karena memang ini adalah yang pertama bagi keduanya tidak menyurutkan semangat untuk kembali mengulang apa yang sudah terjadi tanpa di rencanakan itu.


Mereka tidak tahu jika diluar sana Viona sedang berteriak-teriak karena Viona sudah 1 jam memanggil Aini dan Daffa namun tidak ada satupun dari mereka yang menunjukkan tanda-tanda akan keluar dari rumah.


Bahkan gorden rumah mereka pun masih belum terbuka membuat Viona bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan.

__ADS_1


" Sudah sini lebih baik makanannya buat aku saja mungkin mereka sedang pergi liburan." Ucap Daffi yang baru saja datang karena dia sudah 1 jam memesan makanan namun Fiona tidak kunjung mengantarkannya ke kantor.


" Padahal kan aku ingin Aini yang pertama mencicipi menu baru yang baru saja aku tambahkan ke dalam daftar jualanku.," Ucap Viona.


" Tidak apa anggap saja aku adalah Aini. Aku kan Daffi, saudara kembar Daffa, sementara ini adalah istri dari Daffa. Jadi kamu bisa menganggap bahwa aku adalah Aini."


" Hmmm..."


Dengan langkah gontai Fiona akhirnya membawa makanan itu kembali pulang dan menyajikannya untuk Daffi.


" Fiona apa kamu berencana untuk datang ke pesta pernikahan dari teman kamu itu?"


" Tidak."


" Kenapa?"


" Itu membuatku ingin menjalani kehidupan seperti yang akan dijalani oleh temanku itu." Ucap Fiona sambil tersenyum, Fiona berbohong dengan mengatakan itu alasannya dia tidak datang ke pernikahan temannya padahal alasannya sebenarnya karena dia belum siap untuk bertemu dengan kedua orang tuanya lagi walaupun sebenarnya rasa rindu di hatinya sudah sangat membara.


" Kenapa tidak coba untuk datang saja mana tahu kamu akan menemukan jodoh di sana."


"Membangun rumah tangga ibarat sebuah perahu kecil yang harus didayung bersama-sama. Jika perahu hanya didayung oleh salah seorang di antara suami istri, maka perahu itu tidak akan mampu berlabuh ke pulau kebahagiaan."


Daffi terdiam, dalam hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh Viona.


"Pasangan idaman bukanlah pasangan yang memenuhi kriteria semua seseorang. Akan tetapi, pasangan yang dapat menerimamu apa adanya." Ucap Viona lagi.


" Dan aku rasa hanya sedikit yang bisa menerima aku apa adanya mengingat aku mempunyai masa lalu yang buruk. Aku tidak sesuci yang terlihat. Aku dulu pernah berumur dan sekarang aku juga tidak sebersih air di telaga."


" Kalau begitu kamu harus mencari pasangan yang sempurna yang mau menerimamu apa adanya." Ucap Daffi.


Viona tersenyum lalu menjawab,


"Seorang pria mendambakan sosok istri yang sempurna, seorang perempuan juga memimpikan sosok suami yang sempurna. Namun, keduanya tidak menyadari bahwa mereka diciptakan untuk saling menyempurnakan."


Lagi lagi pernyataan Viona membungkam Daffi.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2