
Dalam perjalanan rupanya Daffi sangat pintar membuat Fiona mengucapkan alamat lengkap tempat tinggalnya sehingga membuat Daffi langsung menyalakan GPS di mobilnya untuk menunjukkan arah.
" Ohya ngomong-ngomong proyek barisan seperti apa yang akan kamu lakukan di daerah terpencil seperti itu?" Tanya Viona.
" Yaa tanah biasanya di daerah terpencil itulah banyak kopi-kopi berkualitas dan rasanya enak yang tidak pernah bisa kita dapatkan ketika kita berada di kota."
" Begitu..."
" Iya.., Viona bolehkah aku menanyakan sesuatu kepadamu?"
" Tentu.."
" Begini sebelumnya jika kita bertemu kamu selalu saja mencoba merayuku atau berkata sesuatu yang membuat telingaku panas tapi kenapa sekarang kamu tidak pernah melakukannya?"
" Ah jadi apa kamu sudah merindukan aku?"
" Tidak hanya saja telingaku yang sudah biasa rusak oleh kata-kata gila mu itu rasanya sedikit aneh karena sekarang telingaku sudah normal."
" Haha, jadi kamu lebih suka jika telingamu rusak daripada telinganya menjadi normal?"
" Tidak hanya saja aku mulai berpikir apakah kamu sudah berhenti mencintaiku dan mengharapkan aku menjadi jodohmu?"
"Selalu terselip namamu di dalam doaku, karena mendoakan adalah cara mencintai yang paling rahasia." Lirih Viona tanpa melihat ke arah Daffi.
"Jika kau tak ditakdirkan bersamaku, mungkin aku ditakdirkan hanya untuk melihatmu." Imbuhnya yang membuat Daffi meremas setir.
Jika dia adalah Daffi yang dulu, mungkin dia sudah menemui menepikan mobilnya dan mengajak Fiona untuk berolahraga sebagai bentuk rasa cintanya dan menyatakan perasaannya saat itu juga.
Tapi kini Daffi sudah berubah dia sudah tidak lagi bermain dengan wanita sejak dia memutuskan untuk memperbaiki diri dan kembali karena sudah siap menang Aini.
Daffi hanya bisa menghela nafas panjangnya, rasanya cukup aneh sih Kak Devi harus mengatakan bahwa sebenarnya dia merindukan setiap kata-kata gila yang dilontarkan oleh Viona.
Tak mungkin jika selama ini kau tak tahu jika aku menyimpan rasa untukmu, apa kita hanya terdiam dalam gengsi kita masing-masing. Tanpa kata hanya berani melihatmu dari kejauhan, tanpa kepastian hanya melalui harapan, dengan jauh ku mengagumimu. Pekik Viona.
Hening..
Tiba tiba keduanya merasa canggung satu sama lain.
__ADS_1
Kalau setiap detik rindu itu dihargai, entah berapa banyak uang yang aku dapat karena merindukanmu. Tapi sayangnya keengganan untuk mengungkapkannya padamu menjadi jalan lukaku sendiri. Batin Daffi sambil melihat ke arah Viona yang tengah memejamkan mata menikmati semilir angin karena kaca pintu mobil terbuka.
" Viona, apa kamu sudah benar-benar tidak menginginkan kita untuk berjodoh?" Ucap Daffi yang memberanikan diri untuk bertanya.
"Tidak ingin memiliki tapi hanya sekadar mencintai, menyayangi, dan mengagumi." Lirih Viona masih dalam keadaan memejamkan mata dan menikmati angin.
" Apa kamu mencintaiku?" Tanya Daffi yang sukses membuat Viona memejamkan mata dan melihat ke arah nya.
" Kenapa kita tiba-tiba membahas hal seperti ini?" Tanya Viona.
"Ada seorang yang mengagumimu, senyummu, dan merasa kehadiranmu sangat berarti. Dia selalu memikirkanmu walaupun hanya bisa diam dan gengsinya, iya itu adalah aku."
" Ohya?" Tanya Viona tidak percaya, karena bisa dirinya sudah tidak lagi memikirkan tentang pasangan, Daffi justru mengatakan bahwa ada seseorang yang tengah mengagumi dirinya.
"Ada yang mendoakanmu meski kamu mengabaikan. Ada yang merindukanmu meskipun kamu tak tahu."
" Benarkah?, apakah kamu tahu siapa orangnya?"
" Aku."
" Haha kamu pasti bercanda."
"Jangan salah kaprah, aku hanya mengagumi, bukan mencintai." Ucap Daffi yang membuat jiwa Fiona yang sebelumnya sudah melayang melayang di udara kini seperti balon yang ditusuk dengan sebuah jarum.
Ah sialan, kenapa kata-kata salah kaprah tiba-tiba dilontarkan saja oleh mulutku sepertinya besok aku harus ganti mulut agar dia lebih bisa mengontrol kata-kata yang akan dia ucapkan terutama saat berada di dekat Viona.
Karena perjalanan dari kota menuju kampung halaman Viona memakan waktu sekitar 8 jam akhirnya Devi memutuskan untuk beristirahat setelah mereka berkendara selama lebih dari 3 jam.
Aku harus membuat dan melihat tawa di wajahmu, kalaupun karena aku atau tanpa aku.
Jauh dari tatapan, jauh dari pelukan, namun selalu menjadi yang terdekat untuk selalu mengatakan 'rindu'. Namun, kenyataannya aku tak juga bisa mengatakannya. Batin Daffi sambil melihat Fiona yang sedang menikmati angin pantai karena mereka memilih untuk beristirahat di dekat pantai karena sepanjang perjalanan menuju kampung halaman Fiona melewati beberapa pantai.
Viona sendiri tidak terlalu memikirkan kata-kata yang diucapkan oleh Daffi setelah Daffi mengatakan bahwa dia hanya mengagumi Fiona bukan mencintai Fiona.
Setelah mereka rasa bahwa sesi istirahat ini sudah cukup mereka memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan.
" Apa ada seseorang yang sudah kamu rencanakan untuk masa depanmu?" tanya Daffi.
__ADS_1
" Belum, kalau kamu?"
" Sudah, hanya saja aku terlalu gengsi entah gengsi atau takut untuk menyatakan perasaanku dan itu benar-benar membuatku sedih setiap hari terutama saat aku bertemu dengannya."
"Kesedihan datang karena kamu terlalu banyak memendam rasa yang seharusnya bisa kamu ungkapkan. Sampai kapan gengsi dalam dirimu mau kamu turuti selalu?" Pekik Viona.
"Cintaku lebih besar sehingga aku tak sanggup mengungkapkannya. Karena semua kata-kata tak akan cukup untuk mengungkapkannya. Memejamkan mata adalah caraku yang paling mudah untuk merasakan kehadiran nya di sisiku." Lirih Daffi.
" Oke, tapi jangan memejamkan mata sekarang karena kita sedang berkendara."
" Haha, aku tahu.." Ucap Daffi.
Viona terdiam sesekali dia melihat ke arah Daffi yang benar-benar sudah berubah.
Viona tersenyum tipis setidaknya ada rasa syukur karena Daffi yang dulu dia kenal sangat cuek dan juga jutek ini berubah menjadi seseorang yang menyenangkan. Walaupun Viona tahu bahwa Daffi sudah memiliki wanita yang akan dia jadikan sebagai pasangan hidupnya setidaknya Fiona memiliki satu teman baru selain Aini dan Daffa.
"Selama ini, aku berharap kamu bisa tahu perasaanku, walau rasanya itu mustahil." Lirih Viona.
" Apa kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Daffa.
" Tidak."
" Lucu sekali aku seperti mendengar kamu mengatakan sebuah harapan bahwa aku mengetahui perasaan mu."
" Haha mungkin itu hanya perasaanmu saja karena aku tidak mengatakan apapun." Ucap Viona sambil menahan nafasnya karena dia tidak mengerti bagaimana bisa Daffi mendengarnya padahal dia berkata sangat lirih.
Sampai detik ini setidaknya aku tahu gimana rasanya mencintai dalam diam, memendam perasaan rindu sendirian. Batin Viona sambil memejamkan mata dan mengingat bagaimana dulu dia dengan mudah mengatakan cinta kepada setiap laki-laki dan tentu saja laki-laki itu menerima pernyataan cinta yang dilontarkan oleh Viona.
Dan sekarang, Viona baru menyadari bahwa mencintai dalam diam dan menyelipkan setiap namanya di dalam doa adalah hal yang sangat luar biasa.
Perasaan yang sama juga dirasakan oleh Daffi, Dia merasa bahwa cintanya kepada Fiona sangatlah luar biasa karena dia mencintai Fiona dalam diam.
Inilah yang terjadi ketika gengsi memenangkan segalanya.
Dua orang yang sebenarnya saling mencintai tapi karena gengsi mengalahkan semuanya jadilah mereka hanya mencintai dalam diam dan dalam doa.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...