Ajari Aku Selingkuh

Ajari Aku Selingkuh
Bab 46 : Kecewa


__ADS_3

" Tidak ada agama yang menganjurkan orang marah. Sama halnya dengan Islam. Memaafkan adalah cara terbaik untuk menyelesaikan semua masalah dengan keluarga." Ucap Akbar.


Yuli bersyukur akhirnya suaminya itu datang tepat waktu sebelum emosi Aini meluap-luap. Karena Yuli tahu bahwa jika Aini sudah merasa kecewa dia akan mengeluarkan semua yang dia rasakan.


Akbar lah yang kemudian menceritakan kepada Aini.


Almarhum Ayah menikahi wanita itu demi menyelamatkannya dari fitnah karena saat wanita itu pindah ke sini wanita itu dalam keadaan hamil.


Ayah juga menikahi wanita itu atas saran dari ibu. Ibu tidak tega melihat seorang wanita yang harus difitnah sementara dia sendiri sedang terpuruk karena diusir dari keluarga suaminya.


Lalu, beberapa tahun kemudian ibu baru mengetahui bahwa sebenarnya wanita itu memanglah istri siri dari ayah. Mereka menikah saat Ayah pergi ke Madinah.


Wanita itu datang ke Indonesia setelah dirinya tahu jika dirinya hamil dan diusir dari keluarganya karena dia hamil tapi tidak ada suami di sisinya.


Mau tidak mau Ibu mengizinkan Ayah untuk berpoligami dan meminta Ayah untuk membelikan rumah yang sangat jauh dari sini agar anak anaknya tidak ada yang tahu.


Aini meneteskan air mata saat mengingat bagaimana besarnya hati ibu yang ingin menutupi keburukan yang dilakukan oleh sang ayah di mata anak-anaknya.


Bahkan sampai hari terakhir beliau menghembuskan nafas juga Ibu masih tetap menyimpan rahasia ini sendiri.


" Lalu kenapa sekarang ibu dan dua anaknya ini menampakkan diri Bukankah sebelumnya almarhum ibu sudah mengatakan bahwa beliau tidak boleh menampakkan diri?" Tanya Aini.


" Ini adalah pesan terakhir dari almarhum Ayah kamu. Ketika kalian dalam keadaan yang rapuh karena tiang penyanggah kalian sudah tidak ada lagi. Beliau meminta saya untuk datang sebagai pengganti orang tua kalian" Terang wanita itu sambil menunduk.


" Benarkah? atau kalian datang karena sekarang sudah tidak ada lagi yang menafkahi kehidupan kalian?" Ucap Aini.


" Aini tolong jaga sikap kamu." Pekik Yuli.


" Nak kami tahu kemarahan dan kekecewaan yang ada di dalam hatimu tapi sungguh ini bukan kemauan kami tapi kami hanya menjalankan wasiat terakhir almarhum Ayah kamu. Dan kami tidak berharap apapun.."


" Maksud nya harta?" Pekik Aini.


" Kami sekeluarga sudah menemukan cara untuk menjaga kelangsungan hidup kami bertiga."


" Benar kak, aku dan ibu membangun tokoh yang insya Allah cukup untuk menjaga kelangsungan hidup kami." Ucap Laki laki yang kira kira usianya sama dengan Yuli.

__ADS_1


" Jangan panggil aku kakak karena aku belum menganggap kalian sebagai saudaraku."


" Istighfar Aini mereka adalah saudara kandungmu mereka dari satu ayah yang sama sepertimu." Ucap Akbar.


" Benar Aini kakak tahu ini adalah kenyataan yang sangat sulit untuk diterima Tapi Kakak harap kamu akan menerimanya dengan kelapangan hati dan keikhlasan yang besar."


" Ingat apa pesan dari Ayah?" Imbuh Yuli.


"Jangan berubah karena seseorang, kamu akan sakit hati dan kecewa. Berubah karena Allah, kamu akan bahagia." Lirih Aini.


"Penderitaan adalah berkah. Terdapat makna tersembunyi di dalamnya.Orang terkuat bukanlah pegulat. Tapi, orang yang bisa mengontrol dirinya saat marah." Ucap Akbar.


"Jangan terlalu bergantung pada siapa pun di dunia ini. Karena bayanganmu saja akan meninggalkanmu di saat gelap." Ucap Aini.


" Nak hidup kami lebih seperti mati terbunuh namun tetap hidup dalam sebuah penyesalan. Terutama ibu yang menyesal karena sudah menjadi benalu dalam rumah tangga orang tua kalian." Lirih wanita itu sambil menangis tak kalah mengingat kebaikan hati almarhum ayah Aini yang menebusnya ketika dia menjadi budak orang yang terkenal jahat dan juga kejam.


Dalam hukum disana, membeli budak dan memerdekakan budak artinya menjadikan dia bagian dari hidupnya. Ayah saat itu tidak bisa berpikir dengan jaringan karena tuntutan dari keluarga pihak perempuan yang akhirnya membuat Ayah menikahi wanita itu.


" Allah menitipkan kelebihan di setiap kekurangan, menitipkan kekuatan di setiap kelemahan." Ucap Ayah saat mencoba mengajak wanita itu datang ke Indonesia.


"Orang bilang darah itu lebih kental dari air. Tapi sering kali hanya air yang ada ketika kita butuh. Sementara darah entah ada di mana." Ucap Wanita bernama Fatimah.


" Maaf, mungkin untuk beberapa waktu ini aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kamu adalah ibu sambung ku." Pekik Aini.


" Tidak apa, aku akan menunggu waktu di mana kamu sendirian akan datang dan memanggilku itu. Aku akan memperlakukan kamu sama seperti aku memperlakukan kedua putra putri. Dan Aku harap kamu juga akan memperlakukan aku sama."


"Kalau saya memperlakukan anda menyerupai cara anda memperlakukan aku. Anda mungkin akan membenciku. Karena Aku tidak akan bisa berperilaku seperti yang Anda inginkan."


" Aini..." Pekik Yuli.


" Aku tahu di rumah ini sebagai siapa, tapi tolong beri sedikit waktu saja agar aku bisa bernapas dengan tenang kak, dan izinkan aku untuk kembali ke kamar."


Aini langsung ke jalan keluar dari sana meninggalkan semuanya. Akbar memberikan kode kepada Yuli agar mengejar Aini.


" Aini.. istighfar Aini istighfar kendalikan dirimu cobalah untuk menerima kenyataan bahwa dia adalah orang tua kita." Ucap Yuli ketika dia telah berhasil menghentikan langkah Aini.

__ADS_1


"Secara tidak langsung orang tuaku mendidikku, bahwa keluarga itu sebuah omong kosong!"


" Astaghfirullah Jangan berbicara seperti itu Aini pasti ada alasan yang lebih masuk akal kenapa Ayah sampai menikahi wanita itu dan membohongi ibu."


" Lalu Kakak berharap akan menemukan kebenaran itu dari siapa sementara kedua orang tua kita sudah tenang di alam yang berbeda. Apa Kakak berpikir akan mempercayai omongan dari wanita itu?"


Yuli terdiam Karena sejujurnya dia sendiri masih belum bisa menerima kenyataan bahwa dia memiliki saudara yang lain.


"Satu kebohongan cukup untuk mempertanyakan semua kebenaran."


" Aini..."


"Baiklah kalau kakak tidak dapat menemukan kebenaran itu. Ajari aku bagaimana caranya menerima keadaan tanpa membeci kehidupan." Ucap Aini.


"Percayalah, ada beberapa hal dari orang tua kita yang tidak akan pernah bisa kita mengerti. Anggap saja ini sebagai rahasia mereka untuk tetap menjaga agar persaudaraan kita tetap terjaga."


" Baik lah Aku akan mencoba untuk ikhlas walaupun secara batin aku terluka, secara emosi aku kacau, secara mental aku depresi, tapi aku akan mencoba bahagia dan tersenyum secara fisik."


"Jauh di dalam lubuk hati kita tahu hal yang diketahui semua terapis, masalah kedua orang tua akan menjadi masalah anak juga." Ucap Aini lagi.


"Jika kita ikhlas dalam berupaya untuk kebahagian hidup keluarga. Tuhan akan memudahkan dan menunjukkan jalan." Ucap pria yang sedari tadi ternyata menyimak pembicaraan dari awal hingga akhir.


" Daffa?" Pekik Yuli.


Aini yang tadinya hanya melihat Yuli langsung berbalik dan melihat serta memastikan bahwa pria tadi benar benar suaminya, Daffa.


"Keluarga adalah tempat terbaik untuk kita belajar tentang sebuah pengorbanan. Tunjukkan senyum di hadapan orang banyak, tangis di hadapan sahabat, pengorbanan di hadapan keluarga, dan rasa beryukur di hadapan Tuhan. Mungkin itulah yang sedang dilakukan oleh almarhum ayah dan ibu." Ucap Daffa sambil terus berjalan hingga dirinya sampai di hadapan Yuli dan Daffa.


"Zaman memang sudah berubah tapi manusia tetap sama. Kita tetap butuh cinta, kebahagiaan, dan kehangatan sebuah keluarga. Surga yang nyata saat ini yang bisa kita rasakan adalah rumah kita yang dipenuhi kehangatan dari keluarga kita."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2