
" Apa yang kalian lakukan di sini apa kalian tidak tahu jika ini adalah area terlarang untuk saling bermesraan." Ucap Akbar.
" Tapi, kami... kami tidak... kami sedang...." Aini terbata karena dirinya tidak menemukan kata-kata yang pas untuk menggambarkan kondisi yang sebenarnya.
" Hah, aku tahu kalian adalah pasangan suami istri tapi tidak seharusnya kalian bermesraan di depan anak-anak yang bahkan belum mengerti."
" Aku rasa Kakak Ipar sudah salah paham aku dan Aini tidak melakukan hal seperti yang kakak duga."
" Benar Sebenarnya tadi itu kami sedang bermain-main dan tidak sengaja saling bertabrakan seperti ini. hehe..." Ucap Aini sambil menggaruk-garuk kepalanya karena sebenarnya dia sendiri juga tidak mengerti apa yang baru saja dia katakan.
" Baiklah karena kalian telah ketahuan melakukan adegan mesra di kawasan panti asuhan. Sekarang saya menyatakan Anda sebagai suami istri, Anda sekarang dapat mengubah status Facebook Anda."
" Ha?" Aini dan Daffa saling berpandangan kemudian kembali melihat Akbar yang memberikan ponselnya kepada Daffa.
" Lihatlah, kalian sudah menikah selama beberapa bulan tapi akun sosial media kalian masih berstatus lajang."
" Astaga apa itu penting?" Tanya Aini mengingat dirinya yang sudah lama tidak menggunakan akun sosial medianya karena memang ini juga tidak pernah meletakkan fotonya di sana.
" Tentu saja itu penting. Akun sosial media kamu terhubung dengan akun sosial media panti asuhan ini Jadi bagaimana jika ada yang mencoba mencari tahu dan menemukan kenyataan bahwa status kamu masih lajang dan mencoba mendekati kamu."
Aini menepuk dahinya sendiri kemudian mengambil ponsel Akbar yang berada di tangan Daffa dan segera mengganti status dalam akun sosial media miliknya menjadi menikah.
" Oke done." Ucap Aini sambil berlalu pergi meninggalkan dua laki-laki yang saling berpandangan.
" Apa Dia sedang datang bulan?. Kenapa tingkahnya begitu sensitif?" Tanya Akbar.
" Aku tidak tahu karena aku tidak pernah melihatnya."
" Kau harus melihat agar kamu tahu kapan jadwal istrimu itu datang bulan sehingga kamu bisa mempersiapkan diri." Ucap Akbar sambil menepuk-nepuk bahu Daffa. Sementara Daffa hanya tersenyum masa memikirkan kata-kata dari kakak iparnya itu.
*Melihatnya, apa iya aku harus melihat barang ini untuk memastikan bahwa Aini datang bulan atau tidak. Ah itu pasti menjadi suatu hal yang sangat memalukan.
Apa kata dunia jika aku memaksa melihat sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana bentuknya*.
" Kakak bolehkah aku bertanya sesuatu tentang seputar kehidupan?" Tanya Daffa.
" Tentu saja.."
" Bagaimana caranya agar istri mendengarkan apa yang coba dijelaskan untuk suami."
"Jika kamu ingin istrimu mendengarkanmu, bicaralah dengan wanita lain dia akan menguping." Ucapan Akbar semakin membuat Daffa merasa bahwa Kakak ipanya itu benar-benar bukanlah kakak ipar yang layak untuk dimintai solusi.
__ADS_1
" Hei Kenapa mukamu terlihat lusuh begitu. Kemarilah, Ayo kita duduk dan minum segelas minuman hangat untuk menyegarkan pikiran mu. Dan akan aku ceritakan sedikit kejadian yang terjadi beberapa bulan lalu."
Akbar kemudian mengajak Daffa untuk berjalan dan mencari tempat duduk yang sangat nyaman sambil mulai menceritakan pengalamannya.
"Suatu hari kartu kredit istriku dicuri .. sungguh melegakan mengetahui bahwa pencuri menghabiskan uang lebih sedikit daripada istriku. Hahaha."
" Kenapa kakak tertawa.Bukankah Kakak tak seharusnya panik bahwa pencuri itu sudah membelanjakan sesuatu dan kakak harus membayarnya?"
" Kenapa?, biarkan saja mungkin pencuri juga butuh sesuatu demi menjaga kelangsungan hidupnya. Dan yang ingin aku sampaikan di sini adalah seboros borosnya istri jangan pernah menganggap bahwa itu hal yang berlebihan terkecuali memang istrimu membelanjakan sesuatu yang tidak dibutuhkan dalam kehidupan rumah tangga atau untuk dirinya sendiri. Selama dia menggunakan uangmu untuk suatu keperluan yang sifatnya wajar maka maklumi saja. Kerena borosnya istri itu juga untuk mengisi perutnya."
Daffa terdiam, dia menyadari satu hal bahwa selama ini dia tidak pernah tahu apa yang Aini belanjakan. Yang Daffa tahu bahwa setiap hari dapat selalu meninggalkan uang sebelum dia berangkat bekerja.
"Istriku sangat mencintaiku, dia mencoba yang terbaik untuk menarikku padanya. Suatu hari, dia memakai parfum yang berbau seperti komputer." Ucap Akbar lagi.
" Kenapa?" Tanya Daffa yang heran saat mendengar bahwa Yuli memakai parfum yang beraroma komputer.
" Karena dia tahu bahwa sehari-hari aku selalu berada di depan komputer jadi dia memesan parfum khusus yang beraroma komputer dan membuatku untuk berada di depannya dalam waktu yang lama." Kekeh Akbar.
"Istriku juga mengatakan kepadaku beberapa hari yang lalu bahwa aku tidak membawanya ke tempat-tempat mahal lagi, jadi aku membawanya ke pom bensin."
" Lah Kenapa Kakak membawanya ke pom bensin?. Bukankah seharusnya Kakak membawanya ke mall?"
" Hah kau ini bagaimana sih. Kau itu orang kota tapi ketinggalan berita yang sedang viral. Bukankah sekarang harga bensin naik Tentu saja aku membawanya ke pom agar dia tahu bahwa yang saat ini sedang mahal adalah bensin."
" Mau kemana?, minumannya saja belum habis kenapa kamu buru-buru berniat untuk pergi?" Tanya Akbar sambil menarik tangan Daffa yang sudah berdiri dan hendak pergi.
" Aku hanya merasakan bokong ku tertusuk sesuatu karena itu aku berdiri dan mencoba untuk melihatnya tapi ternyata aku tidak menemukan apapun di bokong ku." Ucap Daffa sambil tersenyum menunjukkan deretan giginya dan terpaksa duduk kembali.
"Daffa aku akan memberimu empat kata terpenting untuk pernikahan yang sukses, jadi catat lah."
" Apa itu?" Tanya Daffa yang sepertinya mulai tertarik dengan pembahasannya akan dibahas oleh Akbar.
" Ikuti aku..."
" Baik..."
" Aku...."
" Aku..." Daffa mulailah mengikuti Akbar dengan tangan yang menghitung setiap kata yang akan di ucapkan Akbar.
" Akan..."
__ADS_1
" Akan.." Daffa sudah mendapatkan dua angka dan mencatatnya di dalam otak.
" Mencuci..."
" Mencuci... Uang?" Ucap Daffa.
" Bukan..."
" Lalu?"
" Piringnya.."
" Hue?. Aku akan mencuci piring nya?" Ucap Daffa.
" Iya.."
" Tapi ada apa dengan kata aku akan mencuci piringnya?"
" Percayalah kata itu akan mampu membuat istrimu tersenyum dan akan dengan senang hati melayanimu sampai pagi." Kekeh Akbar sedikit berbisik dan melihat ke kanan ke kiri karena takut Yuli akan mendengar mendengar empat kata yang selalu dia jadikan senjata agar Yuli mau menemaninya begadang sampai pagi.
Daffa akhirnya berdiri dan langsung meninggalkan Akbar.
" Hei kamu mau kemana?"
" Mencari Aini."
" Untuk apa?"
" Untuk menguji kesaktian dari 4 kata yang baru saja Kakak berikan kepadaku."
" Tapi kau harus memastikan bahwa kamu dan Aini benar-benar sedang berada di dapur dan sedang makan bersama."
" Baiklah."
Daffa tersenyum sambil mencoba mencari keberadaan Aini. Dan senyuman itu menjadi senyuman penuh kemenangan saat melihat Aini sedang berada di dapur dan bersiap untuk makan siang.
" Setelah ini Aini pasti bersedia untuk menemaniku begadang sampai pagi." Kekeh Daffa yang sudah membayangkan apa yang akan dia lakukan bersama Aini malam nanti.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...