
Beberapa bulan berlalu...
Viona, Daffi dan Lala tidak pernah lagi bertemu...
Semua sibuk dengan kesedihan nya masing-masing.
Viona mencoba menghilangkan kesedihannya dengan terus berjualan, sementara Daffi terus memperbaiki diri dan hubungan dengan keluarga nya sementara Lala memilih untuk mengurung diri di rumah.
" Kamu tidak ingin mengunjungi Lala, Mama dengar dari mama nya jika Lala sudah tidak pernah lagi mau untuk keluar dari rumah." Ucap Mama saat Daffi sedang santai.
" Biarkan saja." Ucap Daffi.
" Jangan seperti itu nak, dulu kamu dan dia adalah teman yang sangat dekat kalian saling menguatkan dan saling menghibur ketika salah satu dari kalian ada yang bersedih dan sedang terpuruk bukankah begitu?" Ucap Mama yang membuat Daffi terdiam.
Daffi terdiam karena apa yang dikatakan oleh Mama nya memang benar, dan karena alasan itulah Daffi akhirnya pergi untuk menemui Lala.
Kedua orang tua Lala sangat gembira karena kedatangan Daffi.
Daffi langsung di persilahkan masuk dan ke lantai dua dimana Lala berada.
"Cinta tak harus memiliki memang terdengar sangat pedih. Bahkan jika dituangkan dalam sebuah lagu akan sangat menyayat hati." Ucap Daffi membuat Lala yang sedang memutar lagi berkisar cinta yang tidak bisa menyatu langsung mematikan musik.
" Daffi..."
"Cinta memang harus diperjuangkan. Namun, ketika dia tidak bisa membalas dan menerima, kita harus terima dengan lapang dada." Ucap Daffi saat dia sudah duduk di samping Lala.
Lala sedang ada di balkon kamarnya. Pintu jendela di biarkan terbuka semua sehingga sejuknya angin memenuhi ruang kamar itu.
"Kata orang cinta memang tak harus memiliki. Tapi sulit bagiku mencintai seseorang namun tidak bisa memilikinya." Ucap Lala tanpa melihat Daffi.
" Maafkan aku karena tidak bisa membalas perasaan mu padaku. Beberapa bulan ini aku mencoba untuk menentukan kemana perasaan ku. Tapi semakin aku berusaha untuk tertuju padamu aku tidak bisa. Mungkin kita memang ditakdirkan saling mencintai tapi tidak untuk saling memiliki agar kita tetap bisa berbagi suka dan duka bersama."
"Cinta tak harus memiliki dan mencintai bukanlah menguasai. Biarlah aku mencintai dengan caraku sendiri."
" Jika kamu sudah mengerti bahwa Cinta tidak harus memiliki Kenapa kamu bersikap seolah-olah kamu tidak ingin melihat jalan yang ada di hadapanmu?"
" Entahlah, aku masih terlalu takut untuk melangkah karena aku tidak tahu apa yang akan ada di hadapanku." Ucap Lala.
"Pagi itu memiliki embun yang menetes tanpa harus diminta. Kebahagiaan itu memiliki arti ketulusan tanpa rencanakan. Sama halnya hati dia memiliki cinta tanpa harus diminta meskipun terkadang menyakitkan. Sama halnya dengan kehidupan terkadang apa yang kita minta justru apa yang tidak kita harapkan, tapi selama kita bisa menemukan cela aku yakin bahwa kita akan menemukan kebahagiaan."
__ADS_1
Lala menatap Daffi yang merentangkan kedua tangannya.
Lala tersenyum dan memeluk Daffi.
Daffi mengajak Lala untuk keluar rumah dan jalan jalan, mereka bercanda tawa dan melupakan kesedihan masing-masing.
" Aku sangat mencintaimu Daffi, Semoga kamu akan menemukan seseorang yang akan memberikan kebahagiaan yang indah padamu." Ucap Lala sambil memeluk Daffi ketika mereka sudah lelah bercanda tawa.
" Semoga kita akan tetap seperti ini. Mengenang cinta yang ada tapi tidak akan pernah bisa bersama." Pekik Daffi.
Viona yang tidak sengaja melihat Daffi dan Lala jadi berpikir mungkin keputusan untuk tidak mengharapkan Daffi lagi sudah benar.
Tapi ternyata hati tidak bisa di bohongi, dalam perjalanan pulang Viona menangis merasakan betapa sakitnya dia melihat pemandangan itu.
Ternyata selama ini Daffi tidak pernah lagi menghubunginya karena dia sudah bahagia bersama dengan Lala.
Ahh sudahlah, terserah mereka saja.
Kita menuju pasangan Daffa dan Aini yang tengah berbahagia karena Aini hamil dan kehamilannya sudah berjalan 3 bulan.
Ini sudah malam, Daffa yang merasa lelah dan ketiduran tiba-tiba terbangun karena merasakan perut dan yang lapar.
Daffa mencari ke kamar mandi dan ke ruang ganti namun tidak menemukan keberadaan Aini, hingga saat Daffa mulai menuruni anak tangga dia mendengar suara yang mengerikan.
" Hiii...."
" Hihihi....."
" Hoam....."
Deg !!!
Daffa tiba-tiba merinding. Dia melihat ke arah jarum jam yang menunjukkan pukul 12.00 malam.
" Sekarang malam apa? kenapa aku merasa bahwa malam ini begitu seram dari malam sebelumnya?"
" Hihiii.."
Walaupun merinding, Daffa tetap berjalan mencari asal suara yang tadinya bersuara seram ini bersuara menangis.
__ADS_1
Daffa terus melihat ke sekitar tapi dia tidak menemukan apapun.
Hingga Daffa melihat sosok dengan rambut panjang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
Ternyata suara mengerikan dan suara tangisan berasal dari wanita yang duduk di sana.
Jantung Daffa semakin berdetak tidak karuan dia ingin berteriak hantu tapi rasanya tenggorokannya tercekik sehingga dia tidak bisa mengeluarkan suara.
Daffa mencoba berbalik arah tapi kakinya sudah kaku.
Daffa menutup mata sambil mulutnya berkomat-kamit membaca doa tak kalah wanita yang sedang menunduk itu menoleh ke arahnya dan semakin berjalan mendekati Daffa.
Daffa tidak tahan lagi, dia takut dengan hantu wanita itu ada akhirnya pingsan.
" Ah ternyata ayahmu tidak seru, belum juga ditakuti udah pingsan." Pekik Aini sambil menyikat rambutnya dan menali rambutnya seperti biasa."
Ya jadi suara mengerikan dan suara tangis itu datangnya dari Aini yang sedang membacakan buku untuk calon bayinya, tak lama kemudian Daffa membuka mata dan dia melihat Aini berada di hadapannya.
"Jika aku harus memilih antara bernapas dan mencintaimu, aku akan menggunakan napas terakhir untuk memberitahumu aku mencintaimu."
" Tapi Aku tidak mau kamu menggunakan nafas terakhirmu karena itu pertanda bahwa kamu akan menjadikan aku janda anak satu." Ketus Aini yang kemudian bangkit serta duduk kembali di atas sofa sambil kembali membaca cerita yang sempat tertunda.
Dari sana Daffa akhirnya tahu bahwa suara mengerikan dan suara tangisan yang horor itu berasal dari Aini.
" Aini apa kamu memang benar-benar sudah mencoba untuk mencopot jantungku dari tempatnya kenapa kamu bersuara seperti itu apa kamu tidak tahu sekarang ini jam berapa?"
" Maaf, setiap hamil aku merasa insomnia dan aku baru bisa tidur setelah aku bercerita dan ternyata cerita itu baik untuk calon bayi kita." Ucap Aini sambil tersenyum.
Daffa tersenyum Dia kemudian mengambil alih buku itu dan bercerita cerita yang menyenangkan sehingga tanpa sadar Aini mulai berbaring di atas sofa sambil mendengarkan cerita Daffa hingga Aini tertidur.
Mendengar Aini yang mendengkur halus Daffa menyudahi ceritanya dan dia dengan perlahan memindahkan Aini ke dalam kamar.
"Hatiku adalah yang paling beruntung dan paling bahagia di alam semesta karena kamu hidup di dalamnya. Tidak ada kata yang dapat menjelaskan betapa aku bersyukur menjadi penerima cinta dan dukunganmu." Ucap Daffa sambil mengecup kening Aini dan perut Aini.
" Sehat sehat junior, jangan menyiksa bunda. oke..."
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...