Ajari Aku Selingkuh

Ajari Aku Selingkuh
AAS 28 : Kok marah?


__ADS_3

"Pacaran kok nangis mulu. Kamu pacaran sama manusia apa bawang?" Ucap Daffa dengan santai saat dirinya ikut mendengar curhatan hati Fiona yang mengatakan bahwa lelaki hanya datang dan singgah sebentar lalu pergi.


"Putus cinta itu tidak sakit. Yang sakit itu, udah putus tapi tetap cinta!" Ucap Aini sambil melirik ke arah Daffa yang baru saja selesai menghubungi Kenzo.


Daffa yang sadar jika Aini sedang menyindirnya langsung meletakkan ponsel dan memikirkan kata-kata yang tepat untuk membalikan suasana.


Ide muncul saat mata Daffa melihat botol hijau di dekat wastafel.


"Kamu itu ibarat Sunlight, mampu menghilangkan kenangan mantan yang membandel.


Aini langsung menoleh ke arah sunlight yang ada dibelakang nya. Sementara Fiona kembali meleleh mendengar gombalan Daffa.


Aini dan Fiona saling berpandangan, jika Aini menganggap Dafa sedang dalam model gilanya tapi tidak dengan Fiona. Fiona justru menganggap bahwa Daffa adalah makhluk yang paling sempurna diantara makhluk yang sempurna lainnya karena mampu merangkai kata yang dapat melelehkan hati.


Fiona kembali meleleh saat Daffa kembali mengeluarkan kata-kata yang menjadi andalannya sekarang.


"Bukan makanan saja yang harus memiliki gizi yang seimbang, tapi hati ini perlu penyeimbang. Penyeimbangnya ya kamu."


" Aku?" Ucap Fiona sambil menunjuk dirinya sendiri.


" Bukan kamu, tapi dia yang berdiri di sebelah kamu."


" Uhuk..." Aini yang sedang minum langsung terkejut dan tersedak.


Seperti nya Fiona memasukkan suatu bahan yang membuat kegilaan dalam diri suamiku meningkat tajam. Aku harus mencari tahu dengan apa Viona memasak makanan-makanan ini.


Setelah selesai makan, Viona pamit pulang karena dirinya sudah tidak sanggup jika terus-menerus mendengar kata-kata gombal dari Daffa, bisa-bisa dia akan meleleh sepenuhnya.


Saat Daffa juga ikut mengantar kepulangan Aini tiba-tiba Daffa berbicara ketika dirinya mendengar berita acara yang dibawakan oleh reporter TV.


"Tau nggak?" Ucap Daffa.


" Apa?" Ucap Aini.


" BMG: Badan Meteorologi Geofisika, berubah nama jadi OMG setelah melihat paras secerah kamu."


Gubrak !!!


Fiona langsung terbentur pintu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Daffa.


" Suami bisakah kamu mengkondisikan kegilaan yang sedang kambuh ini. Atau kamu bisa melupakannya sebentar karena aku tidak enak dengan tamu kita." Bisik Aini.


" Tentu aku bisa melupakannya, tapi kalau disuruh melupakanmu, aku harus ke kantor kelurahan dulu bikin surat keterangan tidak mampu." Ucap Daffa sambil tersenyum dan mengedip-ngedipkan matanya.


*Astaga sebaiknya aku segera membawa sampel makanan yang dimasak oleh Viona kolaboratorium untuk memastikan bahan apa yang membuat kegilaan suamiku menjadi tambah parah.


Ya Tuhan di mana Aini menemukan lelaki seperti ini. Aku harus bertanya agar aku bisa mencari satu lagi yang seperti ini.

__ADS_1


Ahahaha ternyata aku tidak buruk juga dalam hal romantisme. Aini aku akan hadir kembali dengan jiwa-jiwa romantisku yang akan melelehkan hatimu. Dan Jangan pernah panggil aku Daffa jika aku tidak bisa melelehkan hatimu*.


" Aku pamit ya terima kasih karena sudah mengizinkan aku untuk datang dan bertamu." Ucap Fiona.


" Sama sama."


" Rumah kamu yang mana?" Tanya Daffa.


" Itu." Viona menunjuk ke arah rumah yang berada di depan rumah Daffa.


" Hmm lumayan, jaraknya mungkin sekitar 20 atau 30 kaki."


"Walaupun jarak kita bagai matahari dan Pluto saat ephehelium. Amplitudo gelombang hatimu berintervensi dengan hatiku." Ucap Viona.


" Tunggu Apa kamu pikir bisa berinvestasi dengan hati suamiku?. Memangnya berapa hati yang kamu punya sehingga kamu mau menginvestasikan kepada suamiku dan memangnya suamiku ini bank?"


" Huh, tau ah gelap." Ucap Viona sambil berlalu membuka gerbang rumah Aini dan berjalan pulang.


" Lah masih terang ini kok sudah gelap." Teriak Aini.


" Tau ah..."


" Lah kok marah?" Ucap Aini, sementara Daffa terkekeh karena dia tahu sebenarnya Fiona sedang mencoba untuk berkata gombal padanya dan berharap bahwa Daffa akan membalas gombalan Fiona seperti yang Daffa lakukan kepada Aini.


Sayang nya Aini yang beranggapan bahwa gombal itu merupakan salah satu gejala dari kegilaan Daffa membuat Fiona kehilangan selera untuk bergombal lagi.


" Sudah tidak usah dipikirkan nanti juga datang lagi, Sekarang kamu mau nggak aku ajak jalan-jalan."


" Kemana?"


" Ke hatiku..."


Tung !!!


Aini memukul kepala Daffa dengan sendok yang tanpa sadar dia bawa.


" Sadar suami sadar. Jangan kumat terus..." Ucap Aini sambil melengos masuk.


" Yah orang gombal kok dikata kumat. Sebenernya Aini itu wanita tipe seperti apa sih?" Keluh Daffa.


...----------------...


Malam harinya...


" Aini..." Panggil Daffa.


" Hmmm..." Jawap Aini yang tidur sambil membelakangi Daffa.

__ADS_1


" Aini..."


" Hmm...."


" Dalam hati kamu ada aku gak?" Tanya Daffa.


" Ya gak ada lah orang kamu segede gajah masa iya mau lagi dalam hatiku yang sekecil upil."


" Yah, padahal handphone yang punya memory kecil aja sanggup simpan foto sampai beribu-ribu, masak hanya untuk menyimpan aku yang satu biji, hati kamu nggak sanggup sih."


Aini lalu berbalik dan menatap Daffa.


" Suami Sebenarnya kamu itu kenapa sih akhir-akhir ini aku merasa bahwa tingkat kegilaan kamu sudah sangat overdosis. Kamu salah minum obat atau kelebihan obat?"


" Loh memangnya salahku apa?" Tanya Daffa.


" Ya kamu malah meminta aku untuk memasukkan kamu ke dalam hatiku Ya jelas nggak muat lah. Memangnya mau masuk lewat mana orang lubang aja aku nggak punya."


Hah, padahal dia punya satu lubang yang menuju ke dalam hati yang terdalam. Hmmm, seandainya saja aku bisa menjelajah lubang itu. Pekik Daffa.


Aini jadi menggeleng-gelengkan kepala melihat Daffa yang memejamkan mata sambil senyum-senyum sendiri membayangkan ketika dirinya berhasil menjelajahi lubang yang ada pada Aini.


Aini kembali mengunjungi Daffa dan bermain dengan ponselnya mencari tahu cara untuk menghentikan kegilaan pasangan yang menjadi-jadi.


Pagi harinya, tidak biasanya Daffa akan minta dibuatkan segelas kopi kepada Aini.


Namun Aini tetap membuatkannya karena berpikir mungkin Daffa sudah kembali dalam mode normalnya.


" Terima kasih istri ku." Ucap Daffa saat Aini meletakkan segelas kopi di hadapannya.


Aini hanya tersenyum karena kalau Aini berbicara takut kegilaan Daffa kembali muncul.


"Kamu suka kopi nggak? Aku sih suka. Tau kenapa alasanya? Kopi itu ibarat kamu, pahit sih tapi bikin candu jadi pingin terus." Ucap Daffa sambil tersenyum.


Sementara Aini kembali dibuat melongo.


"Tatapanmu memanglah sederhana, namun dapat mengalihkan dunia. Jadi jangan terlalu lama menatapku karena aku takut jadi pindah ke dunia lain."


Aini yang tadinya memang melongo sambil memandangi Daffa langsung terlihat salah tingkah. Dan itu membuat Daffa semakin merasa bahagia karena dia merasa bahwa jiwa ke laki-lakinya mulai kembali.


Berjuang lah entong. Aku sedang berusaha menumbuhkan kembali jiwa-jiwa gila dalam diriku. Setelah ini kamu harus berusaha bangkit agar kita bisa bersama-sama menikmati indahnya dunia.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2