
Semuanya terlihat memakan makanan yang ada di film mereka namun percayalah semuanya menjadi Tidak selera padahal makanan yang tersaji sudah enak dan lezat bahkan menggugah selera.
Hanya Daffa yang terlihat menikmati makanan itu karena memang Dafa sudah mengenal dan mengerti bagaimana sifat Aini.
Sungguh Aku menjadi pria yang paling beruntung karena memiliki istri seperti Aini. Dia mampu menyembunyikan rasa sedihnya demi mendapatkan kembali kehormatan dari kedua kakaknya dan memerdekakan mereka yang telah di dzolimi.
Setelah selesai makan, Aini mengajak Yuli untuk mengunjungi panti asuhan.
" Ah Aini. Kamu kan baru datang. Sebaiknya kamu beristirahat." Ucap Ibu.
" Benar kak Aini, lebih baik nanti malam atau besok saja Kakak mendatangi panti asuhan."
" Baiklah..." Aini tersenyum kemudian berjalan menuju kamar untuk beristirahat.
Daffa mengikuti langkah Aini.
" Yuli, sebaiknya kamu juga beristirahat ajak anak-anak dan suami kamu biarkan ini dibereskan oleh bagian pencucian piring." Ucap Ibu sambil tersenyum.
Senyum yang terasa seperti pedang bagi Yuli dan Akbar.
Akbar sendiri tidak bisa berbuat apa-apa setelah ibu itu mengatakan bahwa Akbar tidak mempunyai hak apapun untuk ikut campur dalam urusan keluarga mereka walaupun Akbar adalah suami dari Yuli karena sejatinya Akbar adalah anak yatim piatu yang kebetulan beruntung diangkat menjadi suami dan ditunjuk sebagai pengurus panti itu oleh almarhum ayah.
" Kamu jangan sok menjadi pahlawan jika kamu tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga kamu adalah anak yatim piatu yang sudah dibuang oleh keluargamu dan beruntung diangkat menjadi keluarga dari pengurus panti asuhan ini jadi jangan pernah kamu mencampuri urusan dari keluarga ini ingatlah batasanmu ingat siapa dirimu." Kata yang masih di ingat oleh Akbar.
" Mas, mas baik baik saja?" Tanya Yuli saat mereka sudah sampai di kamar dan melihat Akbar termenung sambil memandang keluar jendela.
" Mas tidak apa apa. Sebaiknya kamu beristirahat."
Yuli mengganggu kemudian memilih untuk tidur bersama dengan kedua buah hatinya.
" Dengar, ayahmu sudah mewariskan seluruh harta kekayaan ini untuk kedua putra dan putriku mengingat kalian sudah pernah menikmati fasilitas ini jadi ayah kalian menginginkan bahwa kalian akan bertukar kehidupan seperti kami." Ucap Ibu saat itu.
" Apa maksud ibu?" Tanya Yuli.
Ibu kemudian menyerahkan surat wasiat yang memang sudah dimodifikasi yang berisi bahwa seluruh harta kekayaan itu akan diberikan kepada ibu dan juga dua anaknya mengingat Yuli dan Aini sudah tidak memiliki Ibu yang akan membimbing mereka.
Yuli dan Akbar awalnya tidak serta merta percaya pada itu tapi karena Ibu dan dua saudara mempunyai cara licik sehingga membuat keduanya diusir dari sana.
__ADS_1
Mereka kemudian memilih untuk menyewa sebuah rumah kecil dan membuka usaha sederhana untuk menghidupi kedua buah hatinya mengingat mereka pergi dari sana tanpa membawa apapun kecuali pakaian mereka.
Akbar memilih untuk keluar dari kamar karena dia tidak bisa untuk beristirahat sementara rumah itu sudah memberinya luka.
Sepeninggalan Akbar, Yuli membuka mata dan mulai mengunci pintu memastikan agar ketika ada seseorang yang masuk Yuli akan tahu.
Setelah pintu terkunci Yuli mulai membuka atap dari kamarnya itu dan menarik sebuah tali hingga kemudian beberapa kantung terjatuh.
" Alhamdulillah, mereka tidak menemukan ini." Ucap Yuli saat mengetahui bahwa perhiasan almarhum ibunya masih tersimpan di sana dengan baik dan Yuli kemudian memutuskan untuk menyimpannya ke dalam koper pakaiannya.
Yuli memasukkan itu ke dalam wadah obat agar ketika mereka menggeledahnya mereka tidak akan menyangka jika ada perhiasan yang tersimpan di dalam obat tersebut.
Yuli kemudian penasaran kemana Akbar pergi karena ini sudah 1 jam dan Akbar belum kembali.
Akhirnya Yuli memutuskan untuk mencari keberadaan Akbar.
Yuli melewati kamar di mana Aini dan Daffa beristirahat namun kamar itu terbuka dan Yuli tidak menemukan mereka di sana.
Yuli kemudian melihat Akbar ada di belakang panti asuhan, tepatnya di makam Ibu dan ayah dimana dia membantu Aini dan Daffa membersihkan makam yang di beri tumpukan kayu dan sisa bangunan roboh.
Aini sudah sangat merasakan amat penting dalam dirinya. Dia segera bangkit dan berjalan menuju panti asuhan saya melihat Ibu memasuki ruangan khusus untuk pengurus panti asuhan dan anak anak.
Aini berjalan melewati pintu belakang sengaja agar ibu tidak mengetahui bahwa sebenarnya Aini tidak istirahat.
" Masyaallah..." Aini terkejut saat melihat ruangan belakang penuh dengan makanan dan barang-barang donasi yang seharusnya diberikan kepada anak-anak dan penghuni panti asuhan.
" Apa ini?"
Aini membuka beberapa kotak yang ada di sana dan di sana tertulis bahwa kotak itu disumbangkan beberapa bulan yang lalu.
Aini memejamkan mata, kemudian memilih untuk mencari ke mana ibunya pergi.
Aini selalu mendengar ibu itu memakai para pengurus panti asuhan dan mengancam mereka agar mereka tidak mengatakan hal apapun kepada Aini.
" Kenapa ibu harus mengancam mereka apa mereka melakukan kesalahan yang sangat besar sehingga Ibu mengatakan kepada mereka agar tidak mengatakannya kepadaku?" ucap Aini yang langsung masuk ke dalam ruangan itu.
" Aini. Sejak kapan kamu ada di sana?"
__ADS_1
" Dari tadi. Aku sebenarnya ingin berisitirahat namun aku mendapatkan firasat yang tidak enak tentang makan Ibu dan Ayah."
" Soal itu. Maaf beberapa minggu lalu memang terjadi musibah ****** beliung yang menyebabkan beberapa bangunan roboh sehingga menimpa makam almarhum ibu dan ayah."
" Benarkah, tapi kenapa aku merasa seolah-olah makam itu memang sengaja ditutup-tutupi?"
" Aini kamu terlalu berpikir jauh..."
" Dan Kenapa stok makanan dan juga barang-barang lainnya yang seharusnya menjadi hak milik dari panti asuhan dan anak-anak di sini disembunyikan di gudang belakang?"
" Itu.. itu..." Ibu terlihat gugup karena dia juga tidak kunjung menemukan kata yang tepat hingga anak sulungnya datang.
" Ruang penyimpanan yang lama rusak akibat angin itu sehingga kami memindahkannya sementara ke gudang belakang."
" Ah begitu jadi kalian memindahkannya ke sana dan kalian lupa memberikannya kepada yang berhak hingga itu tertimbun selama beberapa bulan lamanya?" Ucap Aini.
Anak sulung itu diam.
"Ciri ciri orang serakah ya gituu. Tuhan kasih harta kekayaan, jabatan, tapi tetep masih kurang."
" Kak Aini, apa kamu menuduh kami sebagai orang yang serakah?"
" Aku tidak mengatakan itu kamu sendiri yang menyimpulkannya." Ucap Aini santai.
"Untuk memiliki sesuatu adalah satu hal, tetapi untuk mendapatkan yang bahkan bukan milikmu untuk memulai adalah hal lain. Kamu harus belajar untuk merasa puas dengan apa yang kamu miliki atau kamu akan menderita akibat serakah untuk itu semua." Ucap Aini sambil berlalu meninggalkan mereka.
" Aini kamu mau kemana?" Tanya Ibu.
" Mengecek keuangan..."
Ibu dan anak saling berpandangan sebelum akhirnya mereka menyusul Aini.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1