
Sepi nih novel sebelah...
Mampir yukk...
Angga dan Imelda sudah berada di depan ruangan dokter itu tapi tidak ada dari mereka yang berani untuk mengetuk pintu lebih dulu.
Imelda takut jika hasil lab dari Migel seperti yang dia takutkan sementara Angga justru mengkhawatirkan Imelda jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan.
Mereka berdua saling berpandangan sebelum akhirnya Angga memilih untuk mengetuk pintu setelah dirinya mengambil nafas panjang dan menggenggam tangan Imelda seolah-olah mengajaknya untuk tegar dan berdoa agar hasil lab sesuai dengan harapan.
Tok
Tok
Tok
Perawat yang tadi memanggil Angga dan Imelda membukakan pintu untuk mereka.
Ceklek..
" Apa anda orang tua dari Migel. Silahkan masuk dokter sudah menunggu Anda." Ucap perawat itu kemudian pergi setelah Angga dan Imelda masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.
" Mari silakan duduk dulu." Ucap dokter.
Angga dan Imelda lalu duduk menghadap dokter kemudian dokter itu memberikan sebuah amplop yang berisi hasil tes lab dari Migel.
Angga membuka nya dan betapa terkejut dia saat mengetahui hasil dari tes lab Migel.
Walaupun Angga adalah seorang pengusaha tapi Angga memang bisa sedikit membaca hasil tes lap kedokteran.
" Angga bagaimana hasilnya, apakah Migel baik-baik saja?. Katakan jangan diam saja." Ucap Imelda.
Angga terdiam. Dia kemudian meletakkan kertas yang dia baca di atas meja.
Imelda langsung mengambil kertas itu dan melihatnya mencoba membaca apa hasil dari tes Migel.
" Apa hasil dari tes Migel?, Kenapa semuanya menunduk. Tidak adakah yang bisa menjelaskan padaku?" Ucap Imelda.
" Begini bu, dari hasil pemeriksaan yang sudah dijalani putra ibu diketahui jelas bahwa putra ibu positif mengidap kanker Rhabdomyosarkoma."
Imelda syok, tubuhnya goyah dia hampir saja pingsan dan terjatuh jika Angga tidak memegangnya dengan cepat.
" Imelda, kau baik-baik saja." Tanya Angga.
" Ini ini tidak mungkin ini pasti tidak benar hasil lab-nya pasti salah. Dokter, hasil lab Migel pasti salah saya mohon melakukan tes ulang lagi tidak mungkin Migel ku menderita penyakit itu tidak mungkin."
" Imelda tenanglah."
" Bagaimana aku bisa tenang Angga jika hasil lab menunjukkan bahwa Migel menderita penyakit itu. Aku.....aku yakin hasilnya pasti salah atau tertukar dengan pasien lain."
" Tidak Bu ini benar hasil dari Migel, karena di hari itu hanya Migel yang melakukan tes lab. Jadi hasilnya tidak mungkin salah."
Imelda menangis..
" Angga bagaimana ini aku tidak ingin kehilangan Migel?" Ucap Imelda yang menangis didalam pelukan Angga.
" Imelda tenanglah pasti akan ada obat untuk penyakit yang diderita Migel aku janji akan menemukannya."
" Ya, karena kankernya baru memasuki stadium awal maka kita bisa segera melakukan tindakan sebelum kanker itu menyebar dan merusak jaringan otot yang lain dalam tubuh Migel." Imbuh dokter itu yang membuat Imelda mempunyai harapan lebih besar untuk kesembuhan Migel.
" Lakukan, segera lakukan yang terbaik untuk mengobati anak ku dokter. Aku aku mohon sembuhkanlah anakku." Pinta Imelda.
" Kami akan melakukan yang terbaik untuk putra ibu, Kalau boleh saya sarankan sebaiknya ibu dan bapak membawa Migel berobat ke luar negeri. Di sana peralatannya sudah canggih dan saya yakin akan ada obat untuk penyakit yang diderita para ibu dan bapak."
" Baik saya akan segera membawa putra saya ke luar negeri untuk berobat." Ucap Angga.
" Ya, saya akan membuatkan dokumen pengantar agar nantinya Migel bisa segera langsung ditangani.,"
" Baik terima kasih dok." Ucap Imelda dan Angga.
Setelah keluar dari ruangan dokter Imelda segera berlari menuju ruang Migel.
Saat Imelda akan masuk ke dalam Angga mencegahnya..
" Imelda tunggu.." langkah email dan terhenti karena Angga memegang lengannya.
" Jangan masuk dalam keadaan seperti ini." Kata Angga.
" Apa maksudmu?"
" Lihatlah dirimu sedang kacau. Bagaimana bisa kau akan menemui Migel dalam keadaan seperti ini. Jika Migel tahu kau sedih Migel pasti akan jauh lebih sedih."
Imelda terdiam, perkataan Angga ada benarnya. Dia juga tidak ingin Migel tahu penyakit apa yang sebenarnya diderita oleh Migel dan Imelda tidak boleh terlihat sedih di hadapan Migel. Dia harus kuat.
" Ayo kita jalan-jalan sebentar sambil menjernihkan pikiran." Ajak Angga
Imelda menatap pintu masuk ruangan Migel sebelum akhirnya mengikuti langkah kaki Angga.
Dan saat Imelda serta Angga akan masuk ke dalam lift rumah sakit dan menuju balkon. Mereka bertemu dengan Bastian.
" Imelda, Angga. Bagaimana hasil lab Migel, apakah semuanya baik-baik saja?" Tanya Bastian.
Imelda memilih diam dan mengalihkan pandangan ke arah lain membuat Bastian bingung lalu dia balik menatap Angga.
" Angga katakan bagaimana hasil lap Migel"
" Migel menderita kanker Rhabdomyosarkoma stadium awal." Angga menjawab pertanyaan dari Bastian dengan satu kali tarikan nafas.
" Apa? Tidak mungkin."
Bastia syok. Angga menepuk bahu Bastian.
" Aku akan membawanya Migel berobat ke luar negeri malam ini."
__ADS_1
" Bagaimana kalau kita bawa Migel berobat ke dokter yang dulu menangani ayahku dulu."
" Bukankah kau bilang dokter itu tidak dapat menyembuhkan?"
" Itu kan dulu beberapa tahun yang lalu, sekarang mereka telah menemukan obat untuk menyembuhkan kanker itu. Lagipula kanker Migel masih stadium awal, aku rasa dokter itu pasti punya obat yang dapat menyembuhkan Migel."
Angga menatap Imelda.
" Bagaimana apakah mau membawa Migel kepada dokter yang menangani mendiang ayah Bastian? atau kau ingin pergi ke dokter lain?"
Imelda hanya terdiam Karena sejujurnya dia tidak tahu harus pergi ke mana yang dia pikirkan hanyalah kesembuhan dari putranya itu.
" Sebaiknya ke dokter mendiang ayahku dulu bukankah dokter itu sudah menangani kasus yang sama. Dokter itu pasti sudah berpengalaman dibidang penyakit ini." Ucap Bastian meyakinkan Imelda agar mau membawa Migel kesana.
" Terserah Migel mau dibawa berobat ke mana yang penting dia bisa sembuh dan sehat seperti sedia kala." Ucap Imelda kemudian yang membuat Angga dan Bastian bernafas lega.
" Baiklah kalau begitu aku akan ikut penerbangan kalian malam ini. Kita akan bersama-sama mencari obat untuk Migel dan menyembuhkannya" Ucap Bastian.
" Tapi Bagaimana dengan istrimu Bukankah istrimu baru saja hamil apakah kamu akan meninggalkannya?" Tanya Imelda.
" Kehamilan istriku masih akan terjadi selama 9 bulan dan aku mempunyai banyak waktu untuk itu tapi untuk kesembuhan Migel Aku tidak akan pernah melewatkan kesempatan apapun."
" Aku akan ikut berjuang untuk kesembuhan Migel, Ya anggap saja ini perjuangan yang belum maksimal saat aku memperjuangkan kesembuhan ayahku dulu."
Angga mengelus-ngelus bahu Imelda seakan-akan membiarkan jika Bastian juga akan ikut andil untuk mencari obat dan memperjuangkan kesembuhan Migel.
" Baiklah terserah kau saja asal kau harus memberikan alasan yang tepat kepada keluargamu karena aku tidak ingin keluargamu menganggap bahwa aku yang memaksamu untuk ikut." Ucap Imelda.
Setelah mengatakan itu Imelda mengajak Angga untuk pergi dari hadapan Bastian.
...----------------...
...----------------...
Setelah mengurus dokumen dari rumah sakit tempat Migel dirawat. Angga dan Imelda segera bersiap meninggalkan rumah sakit menuju luar negeri.
" Angga antarkan aku ke rumah Hepi aku akan mengambil pakaianku dan milik Migel."
" Tapi siapa yang akan menjaga Migel?" Tanya Angga.
" Aku yang akan menjaganya." Ucap Bastian yang baru saja tiba di ruangan Migel.
Imelda dan Angga saling berpandangan bagaimanapun juga mereka masih tidak percaya pada Bastian.
" Ya, kalau kau takut aku akan membawa Migel pergi lagi. Biar aku yang mengantar Imelda ke rumah Hepi."
" Enak saja, ya sudah kau menjaga Migel biar aku yang mengantar Imelda." ketus Angga.
Bastia tersenyum, lalu segera masuk dan berjalan menuju ranjang Migel.
" Apa tidak apa-apa jika kita meninggalkannya bersama Migel?" Tanya Imelda.
" Akan sangat apa-apa jika aku membiarkanmu pergi bersamanya." Ucap Angga sambil tersenyum dan menggoda Imelda .
" Ya sudah ayo jadi atau tidak kita pergi ke rumah Hepi?"
" Jadi dong."
Angga dan Imelda lalu segera meninggalkan rumah sakit menuju rumah Hepi.
Karena terlalu panik dengan kondisi Migel membuat Migel belum sempat memberi tahu Hepi tentang hasil lap Migel yang menderita kanker.
" Imelda, bagaimana keadaan Migel apa dia sehat-sehat saja?. maaf aku tidak bisa datang ke rumah sakit Alex melarangku." Ucap Hepi saat Angga dan Imelda tiba di rumahnya.
" Tidak apa-apa. Aku mengerti, aku datang untuk mengambil barangku dan milik Migel. Kami akan berangkat ke luar negeri malam ini." Ucap Imelda.
" Ke luar negeri? tunggu kenapa harus ke luar negeri memangnya sakit apa yang diderita Migel?"
"Migel menderita kanker yang sama yang sebelumnya pernah diderita oleh mendiang ayah mertuaku."
" Astaga..."
" Tapi masih memasuki stadium awal, jadi aku dan Angga akan membawanya berobat ke luar negeri. Dan semoga saja kanker itu bisa hilang dari tubuh Migel selamanya."
Hepi memeluk Imelda,
" Kuatkan hatimu menjalani cobaan ini. Aku akan selalu berdoa untuk kesehatan Migel." Ucap Hepi.
" Terima kasih Hepi kamu adalah yang terbaik dari yang terbaik."
Setelah drama berpelukan, Imelda segera menuju kamarnya yang sebelumnya ia tempati untuk mengambil barang miliknya.
Juga menuju ruang dimana Migel pernah tidur dan membersihkan barang milik Migel.
Saat Imelda akan pergi dari rumah Hepi.
" Imelda..." Panggil Hepi.
" Ya?"
" Tetaplah tersenyum. Aku tahu kau kuat dan Migel adalah anak yang kuat."
Imelda tersenyum dan kembali menghampiri Hepi lalu memeluk nya.
" Terima kasih Hepi.."
Malam harinya..
Imelda, Bastian, Angga serta Migel langsung terbang menuju Singapura menggunakan jet pribadi milik Angga.
Sepanjangan perjalanan, Bastian terus saja menatap ke arah Angga dan Imelda.
Imelda, mungkinkah sudah tidak ada lagi kesempatan untuk ku bisa memilikimu? mungkinkah tidak ada lagi yang bisa aku lakukan agar aku bisa memenangkan hatimu lagi. Batin Bastian.
__ADS_1
Mungkinkah ini saatnya bagiku Untuk merelakan kamu menjadi milik orang lain?.
Perjalanan yang panjang menurut Imelda dan kini dia sudah tiba di negara Singapura.
Dengan ijin dari manajemen rumah sakit jet pribadi milik Angga mendarat di atas atap rumah sakit itu.
" Rumah sakit ini sangat besar hingga mempunyai landasan untuk jet pribadi." Ucap Imelda.
" Ayo kita segera turun dan segera menemui dokter yang dulu menangani ayahku." Ucap Bastian.
" Ya. Bastian benar kita tidak boleh membuang buang waktu." Ucap Angga.
Mereka segera masuk ke dalam rumah sakit setelah menyerahkan dokumen itu kepada dokter, dokter rumah sakit itu pun tahu Migel harus dibawa ke ruangan mana.
Tok
tok
tok
Ruangan tempat Migel dirawat diketuk seseorang lalu masuklah seorang dokter.
" Bastian.." Sapa dokter itu.
" Dokter Bramantyo." Ucap Bastian.
" Apa kabar? sudah lama kita tidak bertemu sejak kematian ayahmu. Bagaimana kabarmu dan ibumu?" Tanya dokter tadi sembari memeluk Bastian.
Ya. dokter yang dulunya merawat mendiang ayah Bastian adalah teman Ayah Bastian dan siapa sangka jika Ayah Bastian menjadi pasiennya.
" Apa yang membuatmu datang lagi ke negara ini khususnya ke rumah sakit ini lagi?"
" Emm, ya. Aku membawa seorang anak yang menderita kanker seperti Ayahku."
" Ohya.."
" Ya, dan dia adalah putraku, cucu dari mendiang ayah ku. Dulu dokter mengatakan bahwa penyakit ini tidak akan menurun kepada aku atau keturunan ku. Tapi nyatanya sekarang putraku memiliki penyakit yang sama yang pernah diderita oleh ayahku."
" Astaga, Maafkan Aku. Jika ternyata dulu prediksiku salah. sekarang di mana putramu apakah aku bisa menemuinya?"
" Tentu."
Bastian lalu mengajak dokter itu mendekat ke Migel, dimana saat itu mata Migel mulai terlihat bengkak akibat dari kanker itu.
" Kita harus segera mengambil tindakan sebelum sel kankernya menyebar."
" Lakukan apa saja yang terbaik untuknya, operasi kemoterapi radioterapi atau apa saja." Ucap Angga.
" Ya, kita akan melakukan kemoterapi sebelum operasi. Karena kemoterapi bertujuan untuk menyusutkan ukuran tumor sebelum operasi dan mengurangi risiko kanker tumbuh kembali setelah operasi."
" Lakukan segera mungkin, lakukan yang terbaik agar anakku bisa sehat seperti sedia kala." Ucap Imelda.
" Ya, kali ini kami akan berusaha untuk menyembuhkan, dan mengalahkan kanker jenis ini." Ucap dokter.
. Skip .
Selama 1 bulan Migel mulai menjalani perawatan untuk menghilangkan sel-sel kanker dalam tubuhnya. Migel sudah melakukan operasi 1 kali.
Dalam waktu itu juga, Migel melawan penyakit itu dengan didampingi mami dan papi serta ayah kandung Migel membuat Migel semakin bersemangat untuk bisa terbebas dari kanker itu.
" Hai sayang..." Sapa Imelda saat Migel terbangun.
" Mami Migel bosan di sini Migel ingin pulang."
" Ya kita akan segera pulang setelah Migel sembuh."
" Tapi Migel sudah tidak mau lagi menjalani terapi mami, terapi itu sangat menyakitkan untuk Migel."
Imelda menangis, memang di sela-sela terapi yang sedang dijalani oleh Migel, setiap minggunya Migel selalu disuntik dan diambil sampel darahnya. Untuk diteliti apakah pengobatannya berhasil atau tidak.
" Migel Sayang, Migel adalah anak kuat. Migel adalah anak mami yang paling kuat jadi Migel pasti bisa melalui ini semua. Kita akan melaluinya bersama-sama." Ucap Imelda.
Tak lama kemudian Angga masuk dan menghampiri mereka berdua.
" Ada apa sayang?" Tanya Angga.
" Papi, Migel ingin pulang Migel bosan ada disini."
Angga menatap ke arah Imelda dia tahu rasa jenuh yang dirasakan Migel. karena itu sebelumnya Angga sudah meminta izin kepada dokter apakah Angga boleh membawa Migel jalan-jalan keluar ruangan dan menuju taman.
" Migel bosan di sini ya?" Tanya Angga.
Migel menggangguk.
" Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman yang ada di rumah sakit ini, tapi baru saja dari sana. Tamannya sangat indah dan nyaman, papi juga sudah meminta izin dari dokter untuk membawa Migel keluar. Dan apa Migel tahu apa yang dikatakan dokter?"
" Apa?"
Migel memandang wajah Angga dengan tatapan tidak bersemangat.
" Dokter memperbolehkan Migel untuk pergi ke taman yeeee.."
Migel murung.
" Migel ingin pulang bukan ingin ke taman."
Angga kembali menatap Imelda, mata Imelda mulai berair dan siap menurunkan air matanya lagi.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1