
Nina berjalan masuk ke dapur untuk membuat minuman hangat.
" Permisi Tuan..." Ucap Nina karena dia akan mengambil gula yang ada di depan Kenzo.
Kenzo sendiri masih termenung dengan bayangan nya sendiri, hingga Nina kembali memanggilnya kali ini sambil memegang Kenzo dengan jari telunjuknya.
" Permisi Tuan..."
" Aku mencintaimu Nina..." Ucap Kenzo dengan refleks.
Melihat Nina ada di hadapannya membuat Kenzo salah tingkah dan memutuskan untuk pergi.
" Ah maaf... aku tidak bermaksud...aku.... aku.... hmm sudahlah."
Kenzo pergi meninggalkan Nina yang terlihat terkejut karena baru saja dia mendengar Kenzo mengatakan cinta.
Setelah selesai membuat minuman, Nina kembali ke ruangan nya.
Hening...
Kenzo dan Nina yang biasanya bercanda tawa atau sekedar berbicara basa-basi kini mereka berdua memilih untuk diam.
Hawa mengerikan tiba-tiba tercipta di ruangan yang dingin ber-ac itu.
Hingga saat jam kerja dari Nina sudah habis Nina pun keluar dan hanya mengucapkan kata bahwa dia akan pulang karena jam kerjanya sudah selesai kepada Kenzo.
" Hmmm..." Kenzo hanya membalas dengan kata hmmm...
Nina yang Memang dari awal tidak membawa mobil karena mobilnya dibawa oleh sang kakak membuatnya harus menunggu taksi agar bisa pulang.
Tapi sayangnya dia sudah menunggu setengah jam namun tidak ada satu pun taksi yang lewat.
Kenzo yang merasa hari ini sangat kacau memilih untuk pulang lebih awal dan menenangkan diri.
Saat Kenzo baru saja keluar dari halaman kantor dia melihat minat sedang berdiri di halte tempat di mana taksi biasa berhenti.
Kenzo memutuskan untuk menepikan mobilnya dan Nina Tentu saja sangat gembira Karena Dia mengira bahwa mobil yang sebenarnya ditumpangi oleh Kenzo adalah taksi yang sedang dia tunggu kedatangannya.
" Ke jalan XXXX ya pak..." Ucap Nina yang sudah naik dan duduk di kursi belakang tanpa menyadari bahwa yang mengemudi adalah Kenzo.
" Ehem, kamu pikir aku adalah supir taksi?"
Mendengar suara yang tidak asing membuat Nina langsung melihat dan betapa terkejutnya dia saat dia mengetahui bahwa dia berada di dalam mobil Kenzo.
" Maaf... maafkan saya Tuan, Saya pikir mobil ini adalah mobil taksi karena anda berhenti tepat di depan halte di mana saya sudah menunggu taksi.
" Tidak usah, maksudku tetaplah di dalam aku akan mengantarkanmu pulang." Ucap Kenzo saat melihat Nina sudah bersiap untuk turun dari mobil.
" Te... terima kasih tuan..." Ucap Nina gugup.
__ADS_1
Mobil tidak kunjung berangkat dan itu membuat minat sedikit bingung tentang sebenarnya Kenzo mau mengantarkannya pulang atau tidak.
" Apa bensin nya habis?" Tanya Nina.
" Tidak..."
" Lalu kenapa tidak jalan?"
" Kamu pikir aku akan membiarkanmu duduk di belakang itu sementara aku di kursi depan sehingga aku akan benar-benar terlihat seperti seorang sopir taksi yang sedang mengantar penumpangnya."
" Ah iya maafkan aku.."
Nina segera turun dari sana dan kembali duduk di kursi yang berada di sebelah Kenzo.
Gadis pintar.. peti Kenzo saat dia mengetahui bahwa Nina langsung mengerti apa yang dimaksud oleh dirinya.
Mobil pun melaju, tapi sepertinya tidak ada di antara mereka yang ingin memulai pembicaraan lebih dulu.
" Tuan Apa anda sedang sakit gigi Kenapa satu hari ini hanya sama sekali tidak mengajak saya untuk berbicara.." Tanya Nina memecah keheningan saat mobil berhenti karena lampu merah.
" Tidak, aku hanya sedang mencoba untuk menata hidupku setelah atasanku sudah bahagia bersama dengan pasangan nya."
" jadi apa anda sudah merencanakan untuk mencari pasangan hidup seperti Tuan presiden?" Tanya Nina.
" Sepertinya begitu, kalau kamu bagaimana apakah kamu sudah memiliki rencana untuk masa depan?" Tanya Kenzo.
" Entahlah."
" Kekasih?" Nina mengkerutkan dahinya.
" Iya." Jawab kenzo sambil melajukan mobilnya karena lampu sudah berubah hijau.
" Ah Bukankah anda sudah bertanya kepadaku dan aku menjawab bahwa aku masih single dan belum memiliki pasangan."
Kenzo terdiam, dia jadi berperang dengan pemikirannya sendiri. Jika Nina mengatakan bahwa dia tidak memiliki kekasih lalu siapa laki-laki yang kini terlihat tengah berpelukan dengan Nina.
" Ternyata benar, pertemuan pertama itu menumbuhkan rasa penasaran, sedang pertemuan kedua menumbuhkan rasa rindu, dan pertemuan selanjutnya hanya meninggalkan rasa candu." Ucap Nina kemudian.
" Apa kamu memiliki seseorang yang kamu sukai?"
" Mungkin. Bagaimana dengan anda, seperti apa perjalanan hidup anda? apa yang anda sukai dari hidup Anda" Tanya Nina mencoba mencarikan suasana dan mencoba menjadikan pintu sebagai pribadi yang sebelumnya yang suka berbicara basa-basi dengan Nina.
"Yang kusuka dari hidup, di sepanjang perjalanan kutemui orang-orang baru. Salah satunya dirimu." Ucap Kenzo.
Deg !!!
Nina memandangi Kenzo hingga Nina tidak sadar bahwa mereka sudah sampai di rumah.
" Kita sudah sampai." Ucap Kenzo.
__ADS_1
" Apa?, Bagaimana Tuan bisa tahu rumah saya. Bukankah saya belum memberitahukan ke mana saya akan pulang?" Tanya Nina yang tentu saja terkejut karena mereka sudah sampai di rumah Nina.
" Tuan Apa maksud dari perkataan Anda barusan?"
"Sejak pertemuan pertama, aku sudah tertarik padamu. Apakah kau juga merasakan hal itu?" Tanya Kenzo.
" Me.... merasakan apa?" Tanya Nina sedikit gugup.
"Dalam setiap romansa dan rasa yang kau tumpahkan dalam setiap pertemuan kita. Sederhana, tapi aku suka."
" Aku suka padamu Nina.."
" Aku tahu kau sudah memiliki kekasih karena aku tidak sengaja melihatmu bersama dengan pria saat aku akan berkunjung ke rumahmu. Dan aku hanya mengatakan apa yang selama ini menggangguku sehingga aku harus mengatakannya untuk membuat hidupku jauh lebih tenang dan aku bisa menjalani tidur dengan nyenyak lagi."
Nina masih terdiam.
"Ada sepasang mata yang tak saling kenal, bertemu dan saling sapa. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membiarkan kamu yang menentukan kita akan berteman atau menjadi pasangan." Ucap Kenzo lagi.
"Pertemuan adalah takdir, dan setiap pertemuan selalu membawa kita ke takdir yang lain." Ucap Nina.
" Aku tidak memaksamu untuk menjawabnya sekarang karena sejujurnya aku hanya mengatakan apa yang selama ini mengganggu dan menghambatku untuk tidur nyenyak di setiap malam. Dan maaf karena mungkin tidak seharusnya aku mengatakan perasaanku mengingat kamu yang sudah memiliki seorang kekasih. Tapi percayalah aku tidak mengajari kamu untuk berselingkuh." Pekik Kenzo.
Kenzo melihat Nina masih terdiam.
" Aku kau yang kau pikirkan karena tidak seharusnya Aku mengatakan perasaan ini kepadamu. Kita tidak seharusnya bertemu sehingga aku tidak akan memiliki perasaan kepadamu."
"Yakinlah, pertemuan itu tidak akan salah tempat, tidak akan salah waktu, apalagi salah orang." Ucap Nina sambil tersenyum ke arah Kenzo.
Sumpah demi apapun, saat ini Kenzo seperti akan melayang ke udara. Untung saja sabuk pengaman masih terpasang dengan erat. Jika tidak, mungkin Kenzo sudah melayang seperti balon yang terlepas sebelum di ikat dengan benar.
" Nina sebaiknya kamu segera turun Aku tidak ingin keluargamu mencurigai sesuatu terjadi pada kita karena sedari tadi kamu tetap berada di dalam mobil dan tidak kunjung turun."
" Anggap saja ini adalah pertemuan yang berujung perpisahan. Besok kita akan memulai kembali pertemuan kita dan kali ini akan Aku pastikan pertemuan kita hanya akan meninggalkan kisah atasan dan bawahan. Aku tidak akan mengatakan hal gila seperti ini lagi aku berjanji."
"Jika kata orang setiap pertemuan akan menyisakan luka karena perpisahan. Maka bertemu denganmu adalah luka paling manis yang kurasakan." Ucap Nina sambil menatap Kenzo.
Cup.
"Terima kasih karena telah menyatakan perasaan mu padaku, dan aku rasa aku memilik untuk melanjutkan hubungan ini menjadi pasangan" Lirih Nina setelah dia dengan berani mencium pipi Kenzo dan segera keluar dari mobil.
Sementara Kenzo...
Dia sudah meleleh seperti mentega...
" Aku tidak akan mandi semalam sebulan.." Pekik Kenzo
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...