
Daffi masih memandangi kepergian Viona dan Aini.
"Sesungguhnya nikmat terbesar dalam hidup adalah ketika kita ikhlas mendoakan orang yang membenci dan menghina kita. Aini tanpa sadar kamu sudah mengajari aku makna kehidupan." Pekik Daffi.
Daffi yang tadinya ingin melihat Bagaimana keadaan keluarga Aini karena diperintahkan oleh sang mama. Setelah mendengar percakapan antara Aini dan Viona, Daffi mengurungkan niatnya dan memilih untuk pergi dari sana.
" Loh Daffi mau ke mana bukannya kamu diberi amanah oleh Mama untuk melihat bagaimana keadaan Aini?" Tanya Akbar yang saat itu melihat Daffi melangkahkan kakinya untuk pulang bahkan belum sempat bertemu dengan Aini.
" Aku sudah melihatnya dan memastikan bahwa ini baik-baik saja jadi aku harus pulang sekarang karena aku juga punya urusan dengan temanku."
" Baiklah.."
Setelah mengucapkan salam Daffi akhirnya pergi dari rumah Aini dan menuju rumah sahabatnya. Salsa.
" Assalamualaikum..." Pekik Daffi Setelah dia sudah sampai di rumah Salsa.
" Walaikumsalam, yaelah tumben banget ngucap salam biasanya langsung masuk nyelonong gitu aja." Ketus Salsa.
" Memangnya tidak boleh?"
" Ya boleh sih."
" Jadi aku boleh masuk nggak nih kok aku nggak ditawarin masuk?" Tanya Daffi.
" Iya silahkan masuk... Dasar aneh." Pekik Salsa.
" Kamu kenapa sih?, kesambet, keselek sosis apa kesurupan." Tanya Salsa setelah mereka duduk di ruang tamu.
" Aku sedang mencoba untuk menjadi pribadi yang baru."
" What??"
" Akuakan mencoba untuk hilangkan sisi buruk dalam diriku walaupun aku tahu diriku sudah berubah tapi aku masih merasa bahwa aku adalah Daffi yang dulu."
" Ha???"
Salsa masih melongo mendengar penjelasan dari Daffi.
" Tapi kenapa, ada apa apakah ajalmu sudah dekat sehingga kamu tiba-tiba bersikap aneh seperti ini?"
" Sialan apa kamu mendoakan aku untuk mati secepat itu?"
" Ya habisnya kamu aneh datang-datang ngucap salam habis itu bilang mau jadi pribadi yang baru."
__ADS_1
" Hmm. aku mengucap salam Karena aku tahu bahwa aku seorang muslim jadi Aku mengucapkan salam ketika aku bertamu dan bertemu dengan muslimah lainnya." Ucap Daffi yang membuat Salsa sedikit tersempit pasalnya Salsa bukanlah gadis muslimah.
Salsa beragama Islam tapi pakaiannya sama seperti pakaian yang dikenakan Fiona dulu, pakaian kurang bahan.
" Bisa kamu jelaskan secara rinci Apa yang membuatmu ingin menjadi pribadi yang baru?" Tanya Salsa.
" Tidak ada, Aku hanya ingin lebih bisa bersabar ketika segala sesuatu yang aku harapkan tidak pernah aku dapatkan di kehidupan."
"Kamu memang bisa tak mendengar kenyataan yang menyakitkanmu, tapi kamu tak bisa menutup mata jika hidup ingin kamu mempelajarinya." Ucap Salsa.
" Ya Kamu benar karena itu aku akan mencoba untuk ikhlas dan sabar mengenai takdir yang aku inginkan tapi tidak bisa aku dapatkan."
"Percayalah bahwa segala sesuatu masalah akan berakhir dengan kebahagiaan apabila kita bisa sabar dan ikhlas menghadapinya." Ucap Salsa.
" Hei dari mana kamu belajar kata-kata mutiara seperti itu?"
" Cih jangan kamu pikir karena penampilanku seperti ini jadi kamu menganggap aku sebagai wanita yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan terutama tentang Bagaimana menjadi pribadi yang ikhlas dan sabar." Ketus Salsa.
" Haha ya memang aku menganggapnya seperti itu jadi ketika kamu mengatakan sesuatu yang menurutku sangat indah aku sungguh-sungguh terkejut." Pekik Daffi.
" Dasar. Ya sudah jika kamu ke sini hanya ingin mengatakan bahwa kamu akan menjadi pribadi yang baru silakan pergi Aku sedang banyak urusan."
" Jadi kamu mengusirku?"
" Baiklah akhirnya kamu mengetahui bahwa aku memanglah memiliki pesona ketampanan yang sangat hakiki."
" Ya ya Terserah kamu saja sekarang pergilah dari rumahku karena lama-lama aku merasa muak dengan kamu."
" Baiklah baik aku pergi.."
Salsa memandang kepergian Daffi.
Kapan kamu akan melihat cintaku.
Cinta yang sudah lama tidak terbalaskan karena kamu selalu saja melihat pada satu orang dan tidak menyadari bahwa cinta yang kamu inginkan sudah ada di samping mu.
...----------------...
"Aku mencoba ikhlas dari suatu kehilangan dan tersenyum dari suatu kesakitan yang sedang menimpa." Ucap Aini saat Daffa menanyakan kenapa Ibu dan juga dua anaknya tinggal di rumah.
"Hal yang paling sulit dari hidup ini adalah menerima kenyataan pahit. Percuma disesali, jadikan saja pelajaran." Ucap Aini lagi sambil tersenyum menatap Daffa.
"Terimalah kekecewaan yang hanya sementara, jangan sampai kehilangan harapan yang tak terbatas. Aku tahu kamu adalah wanita yang paling luar biasa kamu adalah sinar dalam kegelapan." Ucap Daffa.
__ADS_1
" Jangan pernah terpaksa untuk berbuat kebaikan. Beri sedikit keikhlasan, maka Allah akan membalas dengan berlipat kebahagiaan. Memberi sedikit dengan keikhlasan lebih membahagiakan dibanding memberi banyak tapi memiliki pamrih." Imbuhnya.
" Terima kasih karena sudah hadir untuk mengingatkan aku bahwa menghadapi suatu masalah dengan hati yang buruk dan amarah tidak akan menyelesaikan nya." Ucap Aini.
"Ikhlas bukan melepaskan sesuatu dengan air mata, tetapi bisa merelakan sesuatu dengan senyuman." Ucap Daffa sambil menghapus air mata yang masih keluar membasahi pipi Aini.
" Maafkan aku ternyata disaat sendiri seperti ini aku masih belum bisa menerima sepenuhnya."
"Jangan pernah terpaksa untuk berbuat kebaikan. Beri sedikit keikhlasan, maka Allah akan membalas dengan berlipat kebahagiaan." Ucap Daffa sambil menatap Aini.
"Makin berusaha mengikhlaskan, makin tenang perasaan, makin yakin Allah memberikan yang terbaik di masa depan."
"Ikhlas menerima kesalahan dan belajar dari setiap kesalahan karena itu yang akan menjadikanmu lebih kuat dan tegar dalam menjalani kehidupan." Ucap Daffa.
Viona yang tidak sengaja mendengar percakapan Aini dan Daffa menjadi sangat tersentuh.
Viona menyadari bahwa tidak harus ditunjukkan kepada orang lain. Viona harus banyak belajar dari Aini yang pandai menyembunyikan kesedihannya.
" Semoga aku bisa seperti Aini yang selalu bisa membuat orang merasa lebih baik walaupun sebenarnya dalam hatinya sangat terluka."
Viona akhirnya mengurungkan niat untuk memanggil Aini karena Viona berencana untuk kembali ke kota.
Viona berjalan dan menikmati malam bersama anak anak yatim yang ada di panti asuhan tersebut.
Dari sana Viona belajar bahwa dirinya masih jauh beruntung daripada anak anak yang ada di panti asuhan itu.
Walaupun dia dulu hidup dalam serba kekurangan tapi setidaknya dia masih memiliki orang tua yang menyayangimu.
Viona berjanji akan semakin giat untuk meningkatkan bisnis makanannya agar bisa membantu anak-anak yang berada di panti asuhan.
Viona bertekad akan memperbesar bisnis makanannya sehingga dia bisa mengajak para anak-anak di panti asuhan itu yang sudah dewasa untuk bekerja dengannya.
" Aini benar, tidak ada gunanya terlalu terpuruk meratapi masa lalu ataupun kenyataannya yang tidak sesuai harapan. Lebih baik sekarang aku bangkit menata kembali hidupku dan bersiap untuk hal besar yang akan mewujudkan demi kebahagiaan orang-orang yang memang membutuhkan." Lirih Viona.
" Hmm tadi aku ngomong apa ya aku sendiri tidak tahu apa artinya hehe..."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...