Ajari Aku Selingkuh

Ajari Aku Selingkuh
Bab 66 : Modusnya


__ADS_3

" Gengsi yang terlalu tinggi membuat aku terjebak cinta dalam diam bahkan terus mengagumimu dalam pengabaian." Lirih Daffi sambil memandang kepergian Viona.


"Tanpa kata hanya berani melihatmu dari kejauhan, tanpa kepastian hanya melalui harapan, dengan jauh ku mengagumimu."


" Woy, ngapain?" Pekik seorang wanita ( yang inget nggak sih nama wanita yang saat itu dalam adegan Daffi berkunjung ke rumahnya dan ternyata wanita itu sebenarnya suka sama Daffi, namanya siapa ya kok aku pikun banget sih aku udah cari ke seluruh BAB tapi nggak ketemu apa karena aku carinya terlalu cepat ya 😂. Ya udah lah anggap namanya Lala oke.)


" Lala kamu tuh ngagetin aja bisa nggak sih kalau mau teriakin aku itu pamitan dulu biar aku nggak jantungan." Ketus Daffi.


" Ya habisnya kamu ngomong sendiri sambil ngeliatin apa nggak jelas." Keluh Lala.


" Tadi aku..."


" Dah lah ayo kamu udah janji kan mau ngajak aku jalan-jalan selama aku ada di kota."


" Hmmm, baiklah." Ucap Daffi yang akhirnya terpaksa karena Lala terus saja menyeretnya.


Viona kembali ke meja dimana beberapa dessert sudah tertata di meja dan Daffa serta Aini terlihat sudah menunggu Fiona untuk memakan makanan penutup itu.


" Maaf yaa lama tadi ada iklan lewat." Pekik Viona yang membuat Daffa dan Aini sontak menoleh ke belakang untuk mencari iklan apa yang lewat di mall karena biasanya mereka selalu mengetahui jika iklan itu tayangnya di TV bukan di mall.


Daffa dan Aini saling berpandangan seolah-olah mereka sedang mengatakan bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi di mall ini.


Mereka kemudian memutuskan untuk segera menghabiskan dessert dan pulang.


Sepanjang perjalanan Fiona terlihat diam dan ketika Aini bertanya dia mengatakan bahwa dia bingung Haruskah dia datang ke acara pernikahan temannya itu atau tidak.


" Datang saja, buktikan kepadanya kalau kamu adalah manusia paling tegar di dunia ini." Ucap Daffa.


" Tegar karena?" Tanya Viona.


" Ya tegar karena ternyata sampai sekarang kamu masih jadi jomblo aja haha..."


" Hmmmm...."


Seketika Viona langsung berubah jadi Mak Lampir dan membuat mobil yang ditumpanginya terbang sehingga lebih cepat sampai di depan rumah mereka.


Daffa dan Aini seperti baru saja terkena tornado sehingga wajah mereka berantakan.


Viona segera turun dari mobil lalu mengucapkan terima kasih dan nyelonong pulang ke rumahnya tanpa menoleh lagi ke arah Dafa dan Aini.


" Sayang seharusnya kamu tidak boleh begitu boleh mengatakannya jomblo tapi harus dengan cara yang halus setidaknya kamu katakan jika ternyata Fiona harus datang ke pernikahannya seorang diri tanpa membawa pasangan."


" Ya kan itu sama saja kalau dia masih jomblo kata-kata yang kamu ucapkan kan hanya perinciannya sedangkan aku mengucapkannya dengan simpel jelas dan singkat."


" Iya yaa hehe.."


" Ya udah lah lebih baik kita masuk dan menata ini lalu mempersiapkan diri untuk berangkat bulan madu minggu depan."


" Astaga aku pikir setelah kamu memutuskan untuk melihat kantor kamu akan membatalkan niat kita untuk melakukan bulan madu."


" Oohh tidak bisa, aku sudah memesan semuanya dan kita akan berbulan madu ke pulau Bali selama satu minggu."


Aini tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia tersenyum setidaknya mungkin inilah yang seharusnya mereka lalui saat pertama kali mereka menikah.

__ADS_1


Daffa langsung memeluk Aini yang masih menatap makanan ke dalam kulkas.


" Aku merindukanmu.." Bisik Daffa.


" Astaga kita baru saja menghabiskan waktu bersama, kita belum resmi berpisah selama satu menit loh.."


" Itulah yang ada di dalam dirimu, membuatku selalu rindu."


" Pergilah, aku ingin kerumah Viona untuk membujuknya."


" Hmm baiklah tiba-tiba aku juga merasa kasihan kepada nya."


Aini tersenyum, dia berbalik lalu menatap Daffa.


" Jika merasa kasihan sebaiknya lepaskan pelukannya agar aku bisa segera bersiap untuk pergi ke rumah Fiona."


" Baiklah.."


Daffa mencium kening Aini sebelum akhirnya dia membiarkan Aini bersiap-siap untuk pergi ke rumah Fiona.


Aini langsung masuk saat melihat pintu rumah Fiona terbuka.


" Assalamualaikum.."


" Walaikumsalam..."


Aini masuk dan mendapati Fiona tengah berbaring di atas sofa sambil melihat kartu undangan pernikahan.


" Datang saja sekalian kamu melepas rindu kepada keluargamu." Ucap Aini.


Aini langsung berpindah dan duduk di samping Viona.


" Pulanglah selagi kamu bisa melihat dan membahagiakan keluargamu karena jika keluargamu sudah pergi maka yang bisa kamu lakukan hanyalah berdoa." Ucap Aini sambil tersenyum.


" Ketika mereka sudah tidak dapat kamu lihat dan kamu bahagiakan yang ada hanyalah rasa penyesalan seumur hidupmu." Ucap Aini lagi.


Viona tersenyum selalu memeluk Aini.


" Terima kasih Aini, kamu selalu bisa menemukan jalan di saat aku sudah sangat tersesat."


" Itulah gunanya saudara." Pekik Aini sambil mengelus-elus punggung Viona.


Akhirnya Fiona memutuskan untuk pulang hari itu juga ke kampung halamannya untuk menghadiri pesta pernikahan Radit dan juga bertemu dengan keluarganya.


Sementara di tempat lain, Daffi sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.


Saat dia dalam perjalanan pulang mengantarkan Lala ke apartemennya dia tidak sengaja melihat taksi yang ditumpangi Viona, Daffi berpikir mungkin Fiona akan pergi menghadiri pesta pernikahan temannya itu.


"Tak mungkin jika selama ini kau tak tahu jika aku menyimpan rasa untukmu, apa kita hanya terdiam dalam gengsi kita masing-masing."


" Dulu kamu suka sekali menggodaku dengan kata-kata yang bahkan sekarang aku rindukan tapi kenapa sekarang kamu tidak pernah lagi mengatakan kata-kata rayuan itu." Pekik Daffi.


" Argh... kenapa aku semakin tergila-gila saat aku mencoba untuk melupakanmu."

__ADS_1


Tanpa pikir panjang lagi Davi segera mengambil jaket dan juga kunci mobilnya dan menyusul Viona.


Di dalam perjalanan pandangan David terus saja mencari taksi dengan plat nomor yang di tumpangi Viona.


Dengan kecepatan tinggi dan mata elang yang Daffi punya, dia berhasil menemukan taksi yang ditumpangi oleh Fiona baru saja berhenti di stasiun kereta.


" Viona..." Panggil Daffi yang berlari menuju Viona.


" Hari ini aku libur jadi aku tidak bisa memasak untukmu lebih baik kamu beli makanan lain saja." Ucap Viona.


" Siapa juga yang mau beli makanan kamu Aku tuh mau tanya kamu ngapain ke stasiun kereta?"


" Mau potong rambut." Ketus Viona sambil pejalan menuju loket untuk membeli tiket.


Daffi hanya melihat Viona yang terlihat berbicara dengan petugas yang menjual tiket selalu Fiona berjalan dengan langkah gontai ke arah Daffi.


" Kenapa?, kereta apinya nggak mau ya motongin rambut kamu karena rambut kamu ternyata rambut gimbal?" Kekeh Daffi.


" Jadi kamu benar benar percaya jika aku datang ke sini untuk memotong rambutku?"


" Lah kan kamu sendiri yang bilang?"


" Kamu itu sebenarnya waras atau edan sih?, masa iya kamu percaya kalau orang yang datang di stasiun itu memotong rambut?"


" Ya kalik aja, terus kalau bukan mau potong rambut kamu ke sini untuk apa?"


" Mau pulang tapi ternyata sekarang tiketnya tidak bisa dibeli secara langsung harus secara online."


" Pulang ke mana?"


" Ke Xxxxx..."


" Ya udah bareng aku aja kebetulan aku juga ada proyek barista di sana."


Viona memandangi Daffi seakan-akan tidak percaya jika Daffi juga akan pergi ke sana.


" Gak mau ya udah aku tinggal." Pekik Daffi sambil berjalan meninggalkan Viona.


Viona terlihat berpikir dia tidak tahu apakah dia harus ikut dengan dasi atau mencari alternatif lain agar dia bisa sampai ke kampung halamannya.


Tapi kemudian Fiona akhirnya berlari mengejar Daffi.


" Aku ikut..." Teriak Viona yang membuat Daffi tersenyum.


Kenapa tersenyum?,


Ya iyalah orang sebenarnya Daffi tidak tahu jalan menuju kampung halaman Viona.


Itu hanya modus Daffi untuk mengantarkan Viona pulang.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2