Ajari Aku Selingkuh

Ajari Aku Selingkuh
AAS 26 : Ternyata...


__ADS_3

Aini mengenakan kembali pakaiannya dan hijabnya dan membantu Daffa berbaring ke atas tempat tidur.


" Hidup tak seindah drama Korea yang biasa kau tonton, tapi juga tak setragis sinetron azab. Aku akan selalu disampingmu untuk mengembalikan kodrat mu sebagai lelaki normal." Ucap Aini sambil memandangi wajah Daffa setelah membersihkan mimisannya.


" Semoga setelah ini, Kami saling bisa menunjukkan kasih sayang sebagai pasangan suami istri. Semoga setelah ini suami bisa tunjukkan kasih sayang dengan menggenggam erat istri saat berbelanja, memastikan


dia tak salah jalan dan kalap berbelanja xixixi..." Kekeh Aini.


Aini teringat akan cerita dari almarhum kedua orang tuanya. Dia kemudian menceritakan hal itu kepada Daffa yang masih pingsan.


" Nak terkadang dalam menjalani rumah tangga harus diselingi hal-hal yang menarik dan mampu kita ingat dan kita catatan kelak kepada anak dan cucu."


" Apa Ayah dan Ibu mempunyai momen yang sangat menarik untuk dibagikan kepadaku?" Tanya Aini.


Ibu dan Bapak saling berpandangan sebelum akhirnya mereka secara bergantian menceritakan momen yang masih mereka ingat sampai sekarang.


Bapak ceritakan momen di mana saat itu Ibu mengatakan akan pergi ke dokter mata.


Ibu: aku mau ke dokter mata


Bapak: loh matanya kenapa?


Ibu: entah kenapa tiap buka dompet kok ga bisa lihat apa-apa


Bapak: langsung merogoh saku dan memberikan isinya kepada ibu.


Setelah itu ibu tersenyum dan langsung memeluk Bapak.


Lalu giliran ibu yang bercerita bahwa dirinya baru saja pulang dari dokter, mendengar itu tentu saja Bapak sangat khawatir dan langsung bertanya mengenai apa yang ibu rasakan.


Bapak: Gimana bu,Kata dokter kamu sakit apa?


Ibu :Ga apa-apa pak,cuma sedikit stres, terus sama dokter dianjurkan jalan-jalan ke mall dan membeli semua barang yang diinginkan


Bapak: besok kita ganti dokter lain.


Ibu : langsung ngomel dan memasang tanda ibu selama 1 bulan di depan pintu kamar.


Aini terkekeh saat dia mengingat cerita tentang yang satu itu.


Aini melihat Daffa yang masih memejamkan mata entah itu karena benar-benar pingsan atau pura-pura pingsan.


Hingga tiba-tiba Daffa bersuara.


" Kenapa kamu berhenti menceritakan kisah-kisah tentang ayah dan ibumu padahal aku sudah menunggu kisah yang lain."


" Kamu sudah sadar?"


" Ya dan sekarang aku ingin kamu menceritakannya lagi karena aku sangat tertarik mendengarnya.."


Aini senyum lalu dia mencoba mengingat momen yang paling membuatnya terkekeh jika mengingatnya.


Ibu: Pak, coba dong kayak tetangga kita , kalau suaminya mau kerja istrinya dipeluk dan

__ADS_1


dicium


Bapak: ya Bapak mau banget lah bu, tapi kalau Bapak cium istrinya, emang gak apa-apa?


" Maksud nya bapak mau cium istri tetangga?" Tanya Daffa.


" Iya.." Kekeh Aini.


Keduanya saling tertawa hingga Aini Jadi semangat untuk menceritakan kembali apa yang pernah diceritakan oleh almarhum orang tuanya.


Aini dia menceritakan tentang uang sial.


Ibu: Duh, Bapak ya enggak bilang-bilang kalau dapat uang bonus


Bapak: loh kan dah Bapak kasihin kemarin


Ibu:kalau yang di bawah lemari itu apa?


Bapak: yang mana?


Ibu: amplop putih


Bapak: oh itu duit sial Bu


Ibu: sial? Maksudnya?


Bapak: iya duit sial, udah disembunyikan eh masih ketahuan.


Daffa yang melihat Aini tertawa lepas membuat dirinya merasa bahagia, setidaknya walaupun dia masih belum bisa memberikan nafkah batin tapi dia bisa membuat Aini tertawa walaupun harus mengingat kedua orang tuanya.


" Tentu saja, sepertinya cerita itu membuat kondisi jantungku semakin membaik." Ucap Daffa yang memperbaiki posisi duduknya dan meminta Aini untuk duduk tepat di sampingnya.


Aini menceritakan momen-momen lucu yang pernah dia menyadari orang tuanya, hingga tanpa sadar Aini sesekali memeluk dan memukuli Daffa karena hal yang ceritakan oleh kedua orang tuanya begitu lucu saat di ingat.


Keduanya tertawa dan tanpa sadar posisi mereka sudah berpelukan.


Deg !!


Pandangan mereka bertemu.


Jika ada alat ukur untuk mengukur seberapa besar bunyi jantung, mungkin alat itu sudah rusak karena suara jantung keduanya saling bersautan hingga kaca kaca di atmosfer mengalami perubahan bentuk.


" Akhirnya aku mengerti indahnya cinta, itu semua karena dirimu." Ucap Daffa.


" Istriku, dirimu adalah masa kiniku, dan semua dari hari esokku. Terima kasih untuk hari-hari yang penuh cinta. Semoga selalu bersemi hingga aku bisa menjalankan kewajiban ku sebagai seorang suami yang seutuhnya.."


" Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga." Ucap Aini sambil tersenyum dan mencoba untuk berusaha tenang agar Daffa tidak mengetahui bahwa dirinya saat ini sedang sangat gugup.


" Satu-satunya hal yang aku harapkan untuk saat ini adalah cinta kita akan berbunga selamanya. Walaupun aku tidak tahu kapan bunga itu akan mekar tapi aku berharap kamu akan tetap ada di sisi ku."


"Jauh sebelum aku menemukanmu, aku telah mengenalmu dalam doaku, aku selalu berdoa agar dipertemukan dengan pria yang akan mampu membuatku merasa seakan-akan aku ada di rumahku sendiri dan berkumpul dengan orang-orang yang aku cintai. Dan hari ini kau membuatku merasakan besarnya kasih sayang yang keluargaku berikan kepadaku."


" Aini aku sudah siap bertanggung jawab untuk menghidupimu, sebagai suamimu."

__ADS_1


" Apa itu artinya kamu akan melepaskan benih kadalmu padaku?" Ucap Aini.


"Benih kadal yaa...." Ucap Daffa bangun dan berdiri lalu berjalan seperti kipas angin sambil terus mengulang kata-kata yang Aini ucapkan.


" Benih kadal..., hahah aku punya benih kadal..."


" Suami apa kamu baik-baik saja?" Tanya Aini khawatir karena mengira sepertinya mode gila dalam diri suaminya sudah mulai aktif.


Aini memberanikan diri untuk mendekati Daffa dan memeluknya.


Aini pikir hal itu mungkin bisa membuat Daffa tenang dan tidak mondar-mandir seperti kipas angin yang tidak jelas mau pergi ke mana karena hanya pergi ke kanan dan ke kiri tanpa merasa lelah.


Dan benar saja pelukan Aini membuat Daffa berhenti. Keringat dingin mulai membasahi tubuh Daffa. Sesuatu di bawah saya kembali menunjukkan sinyal keperkasaannya karena Daffa juga merasakan sesuatu yang sangat empuk menempel di punggungnya.


"Kita semua agak aneh, hidup ini sedikit aneh. Ketika kita menemukan seseorang yang keanehannya cocok dengan kita, kita bersatu dengan mereka dan jatuh ke dalam keanehan yang saling memuaskan, menyebutnya cinta, cinta sejati. Semoga kita bisa saling mencintai seperti pasangan normal pada umum nya."


Daffa langsung berbalik dan sedikit mendorong Aini hingga membuatnya terjatuh di atas tempat tidur.


" Aini..."


" Ya...?"


" Apa kamu merasakan nya?"


" Merasakan apa?"


Daffa terdiam, Aini memandang wajah Daffa yang seolah olah ingin mengatakan sesuatu yang sangat serius.


" Aku ingin...."


" Iya...."


Aini menunggu dengan hati berdebar-debar.


Mungkinkah Daffa akan menjadi suami yang sesungguhnya hari ini?. Batin Aini.


" Aini...."


" Ya..."


" Aku ingin merasakan..."


" Ya ya..." Ucap Aini penuh semangat.


"......"


" ...."


" Masakan mu lagi."


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2