
Beberapa hari berlalu...
Ibu dan dua anaknya tidak tahu kondisi Aini karena mereka sibuk mengamankan barang berharga yang bisa dia amankan.
" Aini apa kamu sudah merasa jauh lebih baik?" Tanya Yuli.
" Ya.." Ucap Aini sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Daffa datang dan langsung menghampiri Aini.
Yuli segera membawa nampan makanan itu keluar begitu mengetahui Daffa memasuki kamar.
" Terima kasih Kak Yuli." Ucap Daffa
" Sama sama, Aku akan pergi ke dapur sekarang tolong temani Aini dan pastikan dia tidak banyak bergerak."
" Tentu saja."
Sepeninggalan Yuli...
" Ada apa?" Tanya Aini saat melihat Daffa yang hanya memandangi nya sambil tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa.
"Istriku yang soleha, jika aku bisa menjadi apapun yang aku inginkan, maka aku hanya ingin menjadi seseorang yang kau cintai."
Aini tersipu malu...
" Kamu sudah menjadi seseorang yang aku cintai." Ucap Aini.
"Cinta kita adalah cinta yang terbaik, karena engkau telah membuat imanku meningkat, juga membantuku di dunia ini. Karena itulah, aku ingin berjumpa kembali denganmu di surga."
" Kamu sudah sering mengatakan hal itu." Ucap Aini.
"Jangan pernah berhenti mencintaiku, seperti matahari yang selalu mencintai bumi." Ucap Aini.
Daffa tersenyum dan memeluk Aini.
"Aku tidak pernah ingin melihatmu bersedih. Hanya kebahagiaanlah yang ingin kulihat dari wajah cantikmu. Jadi selama kamu masih berstatus menjadi istriku jangan pernah mencoba untuk merasakan kesedihan karena aku tidak akan pernah mengizinkannya."
Aini terharu, dia semakin mempererat pelukannya.
__ADS_1
Daffa melepaskan pelukan itu kemudian memberikan beberapa berkas kepada Aini.
" Apa ini?"
" Ini adalah berkas yang asli. Dimana seluruh aset harta kekayaan almarhum ayah dan ibu termasuk panti asuhan ini masih menjadi milik keluarga dan di sana tertulis jelas bahwa kamulah yang menjadi penanggung jawab setelah almarhum ayah dan ibu meninggalkan dunia."
" Apa?"
" Walaupun mereka mengatakan bahwa mereka telah menerima surat wasiat yang sudah membalikkan seluruh harta kekayaan atas nama mereka tapi aku bisa pastikan bahwa itu hanyalah berkas palsu. Karena kamulah yang berhak menentukan kepada siapa seluruh aset kekayaan beserta panti asuhan ini diberikan."
" Kenapa kamu melakukan ini semua?" Ucap Aini saat melihat bahwa berkas hak kepemilikan itu dikeluarkan beberapa hari yang lalu.
" Tentu saja karena aku mencintaimu dan aku menyayangi anak anak yang tinggal di panti asuhan ini dan tentu saja aku merasa kecewa dan marah begitu mendengar bahwa mereka tidak mendapatkan hak mereka selama beberapa bulan karena keserakahan dari orang orang tidak berperikemanusiaan."
"Suatu kebanggaan bisa memelukmu seperti ini dan dengan senang hati menyebutmu milikku." Ucap Aini yang langsung memeluk Daffa.
Daffa tersenyum bahagia.
" Seharusnya aku yang berkata demikian karena aku adalah pria yang paling beruntung karena memiliki istri solehah dan juga pemberani yang pandai menyembunyikan kesedihannya dan dapat mengendalikan amarah nya."
"Kita telah melalui begitu banyak hal dan aku tidak akan ingin melewatinya dengan orang lain selain kamu." Ucap Aini tanpa melepas pelukannya.
" Ya, tentu aku akan menjadi pria yang paling bodoh karena membiarkanmu melewati semua yang terjadi dalam kehidupanmu bersama dengan orang lain."
" Kamu adalah sumber kebahagiaanku Kamu adalah duniaku dan kamu adalah anugerah yang dikirimkan Tuhan kepadaku. Jadi aku akan selalu menjagamu melebihi aku menjaga diriku sendiri."
Tak lama kemudian mereka mendengar suara histeris yang tak lain berasal dari Ibu sambung Aini yang menolak di bawa pergi para mafia.
Ya, sebenarnya para pengkhianat yang dibawa pergi oleh mafia itu tidak akan disiksa melainkan hanya ditempatkan di sebuah ruangan tertutup seperti penjara namun lebih nyaman karena mereka di sana akan diajarkan untuk lebih memperdalam ilmu agama dan mendekatkan diri kepada Allah.
Mereka akan dibebaskan kembali setelah mereka menyadari kesalahan mereka dan mengerti bahwa apa yang mereka lakukan benar-benar merugikan diri mereka sendiri.
Aini dan Daffa memutuskan untuk pergi melihat mereka.
Aini kemudian memberikan kode kepada Daffa agar para mafia itu tidak memaksa mereka jika memang mereka tidak ingin ikut.
Sepeninggalan para geng itu, Ibu mengambil semua barang-barangnya juga beberapa uang yang terjatuh karena adegan tarik-menarik.
"Sebagai seorang muslim yang beriman, jika memiliki harta yang berlebih, harus membelanjakan atau menghabiskannya sesuai perintah Allah SWT.
__ADS_1
Contohnya dengan cara bersedekah, memberikan makanan dan minuman kepada kaum papa atau orang yang membutuhkan, yang berada di sekitar kita.
Dengan itu semua, harta yang kita miliki akan selalu diberkahi oleh Allah SWT karena harta tidak akan berkurang jika digunakan untuk beramal." Ucap Aini yang langsung membuat Ibu menghentikan aktivitasnya yang tengah memunguti uang dan memasukkannya ke dalam tas.
" Dengar, ini adalah uangku ini adalah hartaku yang aku dapat dari jerih padaku sendiri jadi Jangan menganggap bahwa ini adalah hasil dari aku memanipulasi dana yang seharusnya diberikan kepada anak-anak panti asuhan ini." Ketus Ibu sambil berlalu pergi membawa hartanya dan masuk ke dalam rumah.
Namun, belum sampai sang Ibu itu masuk ke dalam rumah dia terkejut saat melihat dua anaknya memberikan beberapa uang dalam jumlah besar kepada pengurus panti asuhan.
"Kekayaan dalam Al-Qur'an telah dianggap sebagai sarana untuk mencapai kesucian. Ketika kita memberi amal dari kekayaan kita, itu memurnikan hati dan kekayaan kita. Tapi ketika kita mengambil hak dari anak yatim piatu maka itu akan membawa kita kepada kemiskinan dan keburukan hati." Ucap si sulung saat ibu mencaci maki mereka karena mengatakan bahwa uangnya mereka berikan kepada pengurus panti adalah uang mereka sendiri dan bukan uang dari hasil korupsi.
" Ka.. kalian mau kemana?" Tanya Ibu saat melihat si bungsu keluar dengan membawa beberapa tas.
" Kami akan ikut bersama dengan paman-paman menyeramkan lagi." Ucap si bungsu sambil menghampiri Aini dan Daffa untuk meminta maaf atas apa yang terjadi.
" Kakak, hanya kepada kakak lah kami belum meminta maaf. Semalam kami sudah merenung dan kami menyadari kesalahan kami sendiri lalu kami mendatangi kak Yuli dan Kak Akbar tapi beliau mengatakan bahwa kami harus meminta maaf terlebih dahulu kepada kalian." Ucap Bungsu sambil menunduk.
Aini melihat Yuli dan Akbar yang tersenyum seolah-olah memberikan isyarat bahwa apa yang mereka lakukan sudah benar karena yang paling tersakiti disini adalah Aini.
"Hidup berkah itu ketika kehidupan dunia senapas dengan tujuan akhirat
Bukanlah kesabaran jika masih mempunyai batas. Bukanlah keikhlasan jika masih merasakan sakit
Selalu ada harapan bagi mereka yang sering berdoa. Selalu ada jalan bagi mereka yang sering berusaha.
Semoga kalian bisa mendapatkan syafaat dan akan menjadi muslim dan muslimah yang lebih berguna untuk panti asuhan ini setelah kalian pulang dari sana." Ucap Aini.
" Hei, siapa kau yang beraninya memerintah kedua anakku untuk ikut bersama dengan mereka?" Ketus Ibu pada Aini.
" Bu, Ini bukan tentang siapa yang memerintah kami tapi ini tentang kami yang memang menginginkan ini untuk hidup kami."
Ibu hanya memandang kepedulian dua buah hatinya dengan tatapan sedih dan juga dendam saat dia melihat ke arah Aini dan Yuli.
Akan aku tunjukkan luka yang selama ini tidak terlihat.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...