Ajari Aku Selingkuh

Ajari Aku Selingkuh
BAB 29 : Aini - Daffa


__ADS_3

"Meskipun sudah menikah, namun keromantisan harus selalu dijaga. Suami bisa memanjakan istri tercintanya dengan mempersembahkan kata-kata yang meluluhkan hati."


Daffa tiba-tiba teringat tentang perkataan Akbar.


" Di saat sudah menikah penting sekali untuk selalu menjaga keharmonisan dan keromantisan. Biarpun antara suami dan istri memiliki kesibukan masing-masing, namun tetap perlu untuk memiliki quality time berdua. Di saat inilah para suami bisa menunjukkan rasa sayangnya yang tulus dan tak akan pernah pudar pada sang istri tercinta."


Ah benar, aku harus menujukan kepada Aini walaupun aku masih belum bisa memenuhi tugasku sebagai seorang suami tapi setidaknya aku harus meluncurkan betapa aku sangat mencintai nya


Tunggu. Apa? aku mencintai nya?


Aku mencintai Aini...


Ah Tuhan sungguh aku sangat berterima kasihkan sedikit demi sedikit kau sudah memulihkan tingkat kenormalan ku.


" Ap...a yang kamu lakukan?" Tanya Aini sambil berjalan mundur ketika melihat Daffa terus berjalan mendekat.


" Aku, kenapa jadi memperdulikan aku?." tanya Daffa.


" Ka..re..na k..mau semakin mendekati ku..."


" Bukankah hal yang wajar jika suami mendekati istri, kenapa kamu gugup sekali?" Pekik Daffa.


"Beberapa orang menciptakan kebahagiaan kemanapun dia pergi, sementara orang yang lain menciptakan kebahagiaan setiap kali dia pergi." Ucap Daffa lagi.


" Jadi???"


" Jadi sekarang aku akan pergi, semoga kamu berbahagia.." Ucap Daffa.


"Dasar gak waras." Keluh Aini saat melihat Daffa pergi.


Setelah Aini selesai membereskan meja makan, dia segera masuk ke dalam kamar.


Di sana dia terkejut melihat Daffa sudah menunggu nya dengan menggunakan baju koko dan sarung lengkap dengan peci nya.


" Apa yang merasukinya.." Lirih Aini sambil berjalan mendekati Daffa.


" Tetap saling menjaga satu sama lain untuk selalu dekat dengan Allah. Semoga kelak bersama-sama masuk surga. Tapi sebelum itu ayo kita sholat bersama."


Aini tersipu malu, dia segera berjalan menuju kamar mandi.


Setelah memakai mukena, Aini berjalan dan langsung berdiri di belakang suaminya.


Setelah selesai sholat...


" Pernikahan adalah ibadah, dan setiap ibadah bermuara pada cinta-Nya sebagai tujuan. Sudah sewajarnya setiap upaya meraih cinta-Nya dilakukan dengan sukacita." Ucap Daffa yang membuat Aini binggung.


Apa tadi aku salah masak ya?..


" Aini..."


" Ya sayang, ah maksud ku suami.."


Daffa tersenyum tipis mendengar kata sayang yang di ucapkan Aini.


" Walau dengan siapapun Allah menjodohkan kita atau sebenarnya kamu tidak setuju dengan jodoh yang diberikannya, bersyukurlah dengan kelebihannya dan bersabarlah dengan kekurangannya. Aku harap kamu akan bersabar dengan segala kekurangan ku

__ADS_1


"


Aini tertegun. Dia menatap Daffa seolah-olah sedang terkejut dan berpikir benarkah yang ada di hadapannya ini benar benar Daffa suaminya.


" Seorang pria mendambakan sosok istri yang sempurna, seorang perempuan juga memimpikan sosok suami yang sempurna. Namun keduanya tidak menyadari bahwa mereka diciptakan untuk saling menyempurnakan. Tapi untuk hal ini maafkan aku yang masih belum bisa menyempurnakan ikatan suami istri diantara kita."


" Daffa, apa yang terjadi padamu?" Tanya Aini sambil memegang bahu nya karena posisi Daffa masih duduk di hadapan Aini dan tidak berbalik.


Daffa seperti tersengat listrik saat Aini memegang bahunya.


" Aku tidak apa apa. Aku hanya merasa bahwa aku bukan lah pria yang pantas menyandang gelar suami karena aku belum bisa menunaikan kewajiban ku." Ucap Daffa.


Aini tersenyum, dia mengambil kembali tangannya dan duduk dengan tenang.


" Pernikahan bagaikan rantai dari cincin emas, diawali dengan secercah sinar terang dan diakhiri oleh keabadian. Aku bersedia menunggu hingga kamu siap untuk menunaikan kewajiban mu padaku." Ucap Aini yang membuat Daffa langsung menatap Aini.


Hanya sebentar sebelum akhirnya Daffa kembali menunduk.


" Sebaik-baik cinta adalah pernikahan. Dan sebaik-baik mencintai adalah saling mendoakan. Dan aku akan selalu mendoakan mu agar kamu bisa segera mendapatkan hidayah sehingga bisa memberikan hak yang telah lama tidak kamu berikan." Ucap Aini.


Cup !!


" Terima kasih karena sudah mau terbuka kepadaku." Bisik Aini setelah dia mencium pipi Daffa.


Daffa tertegun sambil memegangi pipinya.


Aini sudah pergi berganti pakaian setelah dia mencium Daffa.


Aini juga tertegun mengingat dirinya yang begitu berani mencium Daffa.


" Aku tidak dosa karena mencium pipi suami ku sendiri kan?" Lirih Aini.


" Ada apa?" Tanya Kenzo.


" Ken, aku mendapatkan ciuman ku. Ciuman pertama ku..."


" Huft,, pasti akan mulai lagi." Pekik Ken.


Kenzo lalu meletakkan ponselnya dan membiarkan Daffa berbicara sendiri.


Hingga malam hari Daffa tidak bisa tidur dan masih setia memegangi pipinya.


Sepertinya aku akan libur mencuci muka selama satu bulan untuk menjaga kenangan jejak bibir Aini tetap ada.


...----------------...


Pagi harinya....


Aini binggung dan mengira bahwa Daffa sedang sakit gigi karena Daffa terus memegangi pipinya sejak kemarin.


Setelah makan, Aini mengantarkan Daffa keluar rumah.


" Tangan kamu mana?" Tanya Aini.


" Ini kan?" Ucap Daffa sambil menunjukkan kedua tangannya.

__ADS_1


Aini lalu mengambil tangan kanan Daffa dan mencium punggung tangan nya.


" Selamat bekerja suamiku, aku akan menunggumu pulang." Ucap Aini sambil tersenyum. Daffa ikut tersenyum.


" Sekarang cium aku..." Pinta Aini.


" Apa?"


" Aku sudah mencium tangan mu, dan biasanya setelah istri mencium tangan suami sebelum dia berangkat bekerja maka suami akan mencium kening istrinya. Dan aku ingin kamu melakukan itu sekarang padaku."


" Se...se..karang?"


" Tentu saja. Ayo cium aku.."


Dengan sedikit ragu-ragu dan gemetar dapat mendekati Aini dan mencium keningnya.


"Dulu sebelum bertemu denganmu, hidupku sangatlah tidak berwarna. Namun, kedatanganmu mengubah semuanya. Terima kasih telah hadir dalam hidupku." Ucap Daffa.


" Kamu bagai kedamaian yang kuinginkan di dunia yang kacau ini."


" Jadi apa kamu akan tetep disini dan kembali memberikan aku kata kata indah lagi?" Goda Aini.


Daffa tersipu dan terlihat salah tingkah. Dia kemudian segera pamit dan masuk ke dalam mobilnya.


Aini melambaikan tangan saat Daffa menekan klakson mobil.


Setelah Daffa pergi, Aini memutuskan untuk menemui dokter ahli untuk mencari tahu segala hal yang berkaitan dengan keperkasaan pria.


Saat Aini menutup pintu, dia terkejut karena ada catatan kecil disana.


...Cintamu seperti lampu di jendela yang menuntunku pulang melewati malam yang paling gelap....


Aini tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala ini pasti kerjaan dari Daffa.


Aini lalu menuju dapur untuk membersihkan meja sebelum dia pergi ke dokter.


Setelah menyelesaikan cuci piring ini kembali menemukan catatan di tempat sunlight.


...Kamu bagian dari diriku yang selalu aku butuhkan....


...Istriku, dirimu adalah masa kiniku, dan semua dari hari esokku."...


...Istriku yang cantik, aku menginginkanmu seutuhnya, semoga aku dan kamu akan bertahan selamanya....


Aini kembali tersenyum, dia menyimpan catatan itu di saku bajunya bersama dengan catatan yang tadi dia temukan.


Aini menaiki anak tangga dan saat dia hendak membuka pintu kamarnya sebuah catatan tertempel di pintu itu.


...Kamu adalah cinta yang terbaik, karena engkau telah membuat imanku meningkat, juga membantuku di dunia ini. Karena itulah, aku ingin segera bisa menunaikan kewajiban ku sebagai seorang suami....


...Semoga kamu akan tetap di samping ku sampai aku siap menjalankan kewajiban ku....


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2