
" Belajarlah dari hari hari kemarin dan hiduplah untuk hari ini, lalu berharaplah untuk hari esok." Ucap Aldo pada Lala.
" Terkadang aku berpikir bisakah aku menjalani kehidupan bahagia seperti saat aku bersama dengan Daffi."
"Jangan pernah berharap bahwa jalan hidupmu akan seperti jalan hidup orang lain. Perjalanan hidup yang kamu miliki merupakan sesuatu yang unik, seperti dirimu."
Lala tersenyum ke arah Aldo.
" Terima kasih karena sudah mau berada di sisiku dan menyadarkan aku bahwa cinta itu tidak harus memiliki. Cukup di kenang dalam hati dan melihat dia yang di cintai hidup bahagia."
" Fokuslah untuk mencapai tujuanmu, meskipun banyak hal yang menarik dalam perjalanannya.Tidak peduli bagaimana kerasnya kehidupan yang kamu miliki di masa lalu, kamu selalu bisa memulainya kembali."
" Iya kamu benar." Ucap Lala.
Aldo kemudian mengajak Lala untuk pulang karena hari sudah mulai malam.
Saat mereka dalam perjalanan pulang, Lala tidak sengaja melihat Daffi dan Viona di panti asuhan Aini.
Jalan menuju rumah Lala memang melewati panti asuhan Aini yang memang letaknya sangat strategis.
" Daffi, Kenapa ada di sini?" Tanya Lala.
Aldo menepikan mobilnya dan melihat ke arah panti asuhan, terlihat Daffi sedang membersihkan halaman panti yang sepertinya akan di bangun tenda.
" Apa kamu ingin mampir?" Tanya Aldo.
"Aku ingin, tapi pakaianku..." Ucap Lala sambil melihat pakaian nya yang serba pendek.
Aldo tersenyum kemudian mengajak Lala untuk pergi ke salah satu toko pakaian muslim.
" Kita mau apa?"
" Memperbaiki pakaian mu, bukankah kamu merasa tidak nyaman dengan pakaian mu sementara kamu ingin menemui Daffi." Ucap Aldo sambil tersenyum.
Aldo mengajak Lala untuk memilih satu gamis yang dia sukai.
Pilihan Lala jatuh pada gamis dengan kombinasi warna abu-abu dan hitam.
Lala menunjukkan nya pada Aldo, dan Aldo tersenyum serta mengisyaratkan agar Lala mencoba nya.
Tak lama kemudian, Lala keluar dengan pakaian muslimah.
" Uhuk...." Aldo yang sedang minum sambil menunggu Lala berganti pakaian tentu saja tersedak melihat penampilan Lala yang jauh lebih cantik dengan pakaian tertutup.
" Ada apa?" Tanya Lala
" Tidak ada, kamu lebih pantas menggunakan itu."
__ADS_1
Lala berbalik dan kembali melihat pantulan dirinya dalam cermin.
Lala mengiyakan apa yang barusaja dikatakan Aldo.
Dia terlihat lebih anggun dengan gaun muslim.
" Jika kamu ingin memiliki pakaian seperti ini lebih dari satu maka ambillah sesuka mu." Ucap Aldo sambil tersenyum.
Lala kemudian tersenyum dan memilih beberapa pakaian dan mengajak Aldo untuk pulang.
" Kenapa pulang, bukan kah kita akan menemui Daffi?"
" Tidak, aku berubah pikiran sebaiknya kita pulang saja karena aku masih belum siap menemui nya."
" Kenapa?"
" Aku malu."
" Karena berpakaian seperti ini?" Tanya Aldo, dan Lala mengangguk.
" Justru perubahan mu ini akan membuat Daffi menjadi senang. Bukankah sejak dulu dia sudah menyuruhmu untuk berpakaian seperti ini?. Lagipula kita tidak akan tahu apa yang Daffi lakukan di sini kecuali kita mendatanginya dan bertanya. Dan tadi aku juga sempat melihat Viona."
Lala terdiam.
" Ya sudah, bagaimana kalau nanti malam kamu ikut aku untuk memenuhi undangan."
" Nanti kamu akan tahu.."
Malam harinya, Lala sedikit binggung saat Aldo membelokkan mobilnya ke panti asuhan dimana sudah ada beberapa tenda dan pentas kecil.
Aldo berjalan lebih dahulu, sementara Lala berjalan di belakang Aldo.
" Aldo, Terima kasih sudah mau datang." Ucap Daffa.
" Tentu saja, bagaimana aku tidak datang dalam undangan resmi yang dikirimkan langsung kepada ku?"
" Dan siapa yang datang bersama mu?" Tanya Daffa.
Lala kemudian sedikit bergeser hingga berada di samping Aldo.
" Masyaallah, Lala. Maaf aku tidak mengenalimu dalam pakaian seperti ini."
Lala tertunduk.
"Hijab dapat mendorongmu dan menjadikannmu sebagai seorang muslimah yang lebih baik dan beriman. Semoga bermanfaat untuk kedepannya." Ucap Daffa sambil tersenyum dan mempersilahkan Aldo dan Lala untuk masuk.
Daffi menemui Aldo dan dia juga sama terkejutnya dengan Daffa saat melihat Lala.
__ADS_1
" Hijab merupakan kewajiban bagi setiap muslimah, karena Allah telah mengatakan setiap muslimah di dunia harus menutup auratnya. Alhamdulillah akhirnya kamu mau juga berhijab dan itu berkat Aldo." Ucap Daffi sambil menepuk bahu Aldo.
Acara pun di mulai, Lala akhirnya mengerti bahwa Devi ada di sana untuk membantu mengurus panti asuhan yang sempat tercoreng nama baiknya karena pula dari ibu dan kedua saudaranya.
Lala kemudian melihat Aini yang melambaikan tangan kepada nya.
Lala tersenyum dan berjalan menghampiri Aini.
" Aini, kamu bisa mengenali aku?" Tanya Lala.
"Wahai saudari, Matahari tidak kehilangan keindahannya saat tertutup awan. Begitu juga dengan kecantikanmu yang tidak akan pudar saat engkau mengenakan Hijab."
Lala tersipu malu, Aini tersenyum.
" Aku masih belum terbiasa, bagaimana kamu bisa terbiasa dengan pakaian seperti ini?" tanya Lala
"Ini bukan sekadar Hijab, ini adalah kunci kami untuk menuju surga. Allah mengangkat martabatmu melalui Hijab. Ketika ada seorang pria asing melihatmu, dia akan menghormatimu, karena dia melihat bahwa dirimu bisa menghormati diri sendiri"
"Mengapa wanita muslimah harus mengenakan Hijab? Karena kecantikan mereka diperuntukkan bagi suami mereka, bukan untuk setiap orang." Ucap Aini.
Lala melihat ke arah Aldo.
Mungkinkah aku dan Aldo akan menjadi pasangan suami istri seperti Viona dan Daffi yang akan segera melangsungkan pernikahan?.
" Hei, apa yang kamu pikirkan?" Tanya Aini.
" Tidak ada."
Aini kemudian mengajak Lala untuk menikmati makanan yang ada dan bergabung bersama dengan Viona, Nina dan kak Yuli.
Lala awalnya ragu, tapi kemudian Lala merasa nyaman karena mereka semua benar benar terlihat seperti berbicara dengan saudara.
"Seorang wanita yang menutup aurat itu ibarat mutiara yang berada di dalam cangkangnya. Tidak perlu malu karena pakaian yang sudah jauh lebih tertutup dari sebelumnya." Ucap Aini saya dia mengantar kepulangan Lala, dan Lala menunduk ketika dia bertemu dengan teman-temannya yang kebetulan lewat dan melihat Lala.
"Wahai saudari, Suatu hari nanti tubuh kalian semua akan tertutup dari ujung kepala sampai kaki (terbungkus kain kafan). Maka jangan sampai hari terakhirmu di muka bumi ini menjadi hari pertamamu mengenakan Hijab." Ucap Aini yang seolah memberikan gambaran bahwa Lala tidak perlu merasa ragu dengan perubahan yang dia ambil.
"Aku berhijab bukan karena aku sudah menjadi baik ataupun shalihah. Tapi ini adalah cara bagiku untuk menjadi muslimah taat yang baik dan shalihah karena selama ini aku sudah jauh menyimpang dari ajaran Islam." Ucap Lala.
"Hijab itu awal perbaikan. Berhijablah sambil terus memperbaiki hati dan perilaku. Hijab bukan hanya untuk wanita yang pandai agamanya saja. Hijab juga bukan hanya untuk wanita yang pandai mengaji saja. Tapi hijab adalah kewajiban bagi semua wanita yang mengaku dirinya muslimah."
" Terima kasih Aini, seharusnya aku mengenalmu lebih awal jadi aku bisa lebih memperbaiki diri."
" Tidak ada kata terlambat untuk memulai perubahan." Ucap Aini sambil tersenyum.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...