
" Apa ini?, Apa kamu akan menikah?" Tanya Daffi saat dia datang ke rumah Viona untuk memesan makanan dan melihat ada undangan di atas meja.
" Bukan, itu adalah undangan pernikahan temanku"
" Teman aja udah nikah, la kamu nya masih jomblo aja." Kekeh Daffi.
"Pernikahan adalah komitmen bersama untuk mencintai tanpa kondisi atau tanggal kedaluwarsa." Pekik Viona sambil membuang saus yang sudah kadaluarsa.
"Menikahlah dengan seseorang yang berjanji akan selalu membangunkanmu sebelum fajar menyingsing. Agar kamu tidak telah untuk masak makanan untuk nya."
" Yaelah kirain biar bisa sholat berjamaah." Ketus Viona.
"Pernikahan bukan sekadar tentang berpelukan bersama setiap saat, namun juga perkelahian yang akan selalu dihadapkan bagi pasangan yang kurang bersabar."
" Berarti aku harus menghindari mencari pasangan preman untuk meminimalisir terjadinya peperangan."
"Seorang pria mendambakan sosok istri yang sempurna, seorang perempuan juga memimpikan sosok suami yang sempurna. Namun keduanya tidak menyadari bahwa mereka diciptakan untuk saling menyempurnakan."
" Apa kamu mencoba mengingat aku bahwa aku tidak perlu mencari pasangan hidup yang sempurna menurut ku?"
" Aku tidak mengatakan nya. Kamu sendiri yang menyimpulkan begitu."
"Pasangan suami istri harus berperan seperti dua sayap pada seekor burung yang sama. Keduanya harus bekerja sama atau pernikahan mereka tidak akan pernah sampai ke permukaan." Ucap Viona.
" Memangnya nikah itu kayak menyelam pakek acara ke permukaan segala. Kalau di dalam air itu sayap gak bisa terbang, kan basah. Adanya cuma sirip sama ekor."
Bruk..
Bruk...
Viona yang sedang menggeprek ayam sengaja melakukan nya dengan keras sebagai bentuk protes kepada Daffi karena selalu melihat sisi lain dari apa yang dia katakan.
" Kekecewaan sebenarnya adalah penolakan kita untuk melihat ke sisi lain yang lebih cerah."
" Kamu itu ngomong apa sih?" Ketus Viona
" Ya kan kamu lagi kecewa, jadi aku kasih kata kata."
" Sekali kali kasih duwit jangan kata kata, karena kita hidup butuh duit bukan kata kata."
" Tapi kata kata juga dibutuhkan untuk menghasilkan duwit." Ucap Daffi yang tidak kalah.
" Terserah kamu saja. Aku mulai muak dengan sisi lain darimu." Ketus Viona sambil memberikan beberapa jenis makanan yang sudah dia masak di depan Daffi.
Daffi mulai memakan makanan itu hingga habis.
__ADS_1
" Viona, ceritakan tentang hidupmu lebih jelas lagi.Aku ingin mengetahuinya."
" Memangnya kau siapa apakah kamu reporter yang akan mewawancarai seorang artis?"
" Ya anggap saja begitu."
Fiona memasang wajah tidak suka, bukan tidak suka karena Daffi ingin mengetahui tentang kisah hidupnya tidak tapi karena merasa bahwa Daffi mulai menjadi orang yang cerewet dan menyebalkan.
" Ayo ceritakan." Ucap Daffi sambil membenarkan posisi duduknya mencari posisi ternyaman untuk mendengarkan cerita yang akan diungkapkan oleh Viona.
" Tidak ada yang menarik dalam kisah hidupku Kenapa kau terlihat begitu tertarik dengan hidup ku?"
" Yaa mana tahu kita adalah teman seperjuangan."
" Maksudnya??"
"Bisa memiliki teman seperjuangan yang selalu menemanimu dalam keadaan suka maupun duka tentunya menjadi hal yang patut syukuri. Kehadiran mereka tentunya merupakan pelipur lara ditengah perjuangan yang terasa sulit."
" Ah apa sekarang kamu sudah kekurangan teman?"
" Haha, seorang seperti ku kehilangan teman itu tidak ada dalam kamus ku."
" Lalu?"
" Sok bijak."
" Aku serius. Ayo ceritakan kisahmu Dan aku berjanji akan menceritakan kisahku." Ucap Daffi.
" Hmmm, tidak ada yang menarik dalam kisahku karena memang aku memulai hidup di sini hanya karena aku kecewa pada orang tua ku karena mereka tidak bisa memberikan apa yang aku ingin milikki seperti yang sudah dimiliki orang lain. Karena gelap mata..."
" Mangkanya pakai Philips dong, menerangi jalan sepenuh hati."
" Kan kamu gitu sih, suka rese." Ketus Viona.
" Baiklah baik maafkan aku, sekarang lanjutkan cerita mu."
" Tidak."
" Ayolah."
" Aku tidak mau."
" Vio..."
" Bodoh."
__ADS_1
" Bagaimana kita bisa menjadi teman seperjuangan jika kita tidak saling bertukar bisa hidup."
" Kamu kenapa sih kok kayaknya ngembet banget pengen tahu cerita hidup aku memangnya kenapa?. Apa kamu belum menyukaiku?"
" Tidak aku hanya pernah mendengar bahwa Kamu dan teman seperjuanganmu dapat merasakan pahit manisnya usaha untuk mencapai sebuah tujuan tertentu. Terkadang teman seperjuangan juga dapat menjadi sahabat karib yang menemani di kala susah ataupun senang."
" Jadi..."
" Jadi aku pikir mungkin akan menyenangkan jika aku memiliki teman seperjuangan karena selama ini temanku adalah mereka yang selalu memiliki kehidupan jauh lebih baik dari aku."
" Memangnya kenapa dengan hidupmu Aku lihat hidupmu baik-baik saja orang tuamu mapan dan...."
" Semua orang yang tidak mengenal diriku dengan lebih baik pasti akan mengatakan itu."
" Hem????" Fiona menatap Daffi dengan tanggapan yang dipenuhi 1001 pertanyaan.
Bagaimana mungkin Daffi bisa mengatakan jika hidupnya tidak seperti yang terlihat, karena bagi Viona hidup Daffi sudah sangat jauh lebih baik daripada kehidupan yang saat ini sedang dia jalani.
"Sahabat bukan tentang siapa yang telah lama kamu kenal, tapi tentang siapa yang menghampiri hidupmu dan tidak pernah meninggalkanmu dalam situasi dan kondisi seburuk apa pun. Dan aku belum menemukan teman yang seperti itu." Ungkap Daffi yang membuat Viona berpikir mungkin Daffi tidak seberuntung saudara kembar nya, Daffa.
"Apa yang kita alami demi teman terkadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah." Ucap Viona sambil tersenyum saat mengingat bagaimana dia menjalin persahabatan dengan Mak Erot.
"Tidak ada yang tahu saat yang tepat ketika persahabatan terbentuk, tetapi saat terlupakan yang diam-diam inilah yang menyebabkan rasa sakit ketika kita harus mengucapkan selamat tinggal." Ucap Daffi yang secara tersirat menggambarkan betapa kecewanya dia saat mengetahui bahwa Aini sudah menikah dengan saudara kembarnya sendiri.
Daffi juga tidak bisa menyalahkan keadaan dan takdir karena memang semuanya terjadi begitu saja dan begitu cepat.
Seandainya saja, Ayah Aini masih sehat mungkin saat ini dia dan Aini masih dalam fase ta'aruf karena Daffi ingin memantaskan diri menjadi suami Aini.
"Sahabat sejati bukanlah mereka yang memiliki banyak persamaan, tapi mereka yang memiliki pengertian terhadap setiap perbedaan. Dan aku ingin menemukan seseorang yang bisa aku sebut sebagai sahabat sejati." Pekik Daffi.
" Kamu ini sebenarnya Kenapa sih Apa kamu kesambet sesuatu atau ternyata kamu diserempet oleh dedemi saat perjalanan menuju ke sini?" Ucap Viona.
"Kemarin aku menjadi pintar, aku ingin mengubah dunia. Hari ini, aku menjadi lebih bijak. Aku ingin mengubah diriku sendiri."
" Maksudmu kamu ingin berubah menjadi spider-man atau Ultraman atau power rangers begitu?"
Daffi langsung memberikan tatapan tajam sikomaru.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1