
" Haaahh...."
Daffa yang sedang menatap layar Laptop terkejut saat melihat Aini berada di depannya.
" Bisakah kamu memberi aku kode sebelum kamu datang agar penyakit jantungku ini tidak kembali kambuh."
" Maaf..."
" Huh ya sudah ya sudah. Ada apa?"
" Aku ingin menagih apa yang sudah kamu janjikan tadi."
" Janji apa?" Ucap Daffa pura pura lupa.
" Tadi kata-kata yang sempat kamu ucapkan saat aku berada di dalam kamar mandi."
" Oh soal yang kamu akan sakit jika terus berdiri di bawah air shower?"
" Setelah itu?"
" Aku memintamu berganti pakaian."
" Dan setelah aku berganti pakaian apa yang akan kamu lakukan?"
" Mencium mu." Ucap Daffa refleks.
" Bagus, jadi sekarang ayo cium aku." Ucap Aini sambil menyodorkan pipinya.
" Apa?"
" Ayo aku menunggu." Pekik Aini.
Bagadum...
Bagadum....
Bagadum....
Jantung Daffa tidak karuan. Dia gemetar.
" Ayo..."
" Bi....sa... Be....sok.... sa....ja....?" Daffa dalam mode gugup.
" Jika besok maka kamu harus mencium ku sepuluh kali..." Pekik Aini yang membuat Daffa kembali merasakan ketenangan.
Dengan menahan nafas Daffa mendekati pipi Aini dan menciumnya.
Cup
Daffa mencium pipi Aini.
Aini tersenyum, dia merasa bahwa inilah yang seharusnya dari dulu dia dan Daffa lakukan.
Daffa masih memejamkan mata setelah dia mencium pipi Aini, hingga.
Cup
" Terima kasih suamiku." Bisik Aini yang juga mencium Daffa.
__ADS_1
Daffa membuka mata dan melihat Aini sudah tidak ada dihadapannya.
Daffa tersenyum sambil memegangi pipinya.
...Kenapa Tidak dari dulu aku dan Aini melakukan pendekatan seperti ini. Jika saja aku sudah terbuka sejak awal pernikahan mungkin sekarang aku dan ini sudah melakukan hubungan yang dilakukan oleh suami istri pada umumnya....
...----------------...
Pagi harinya..
Daffa yang terbangun lebih dulu dan sudah selesai untuk bekerja ke kantor heran melihat Aini masih ada di atas tempat tidur.
"Tumben Aini masih tidur. Apa jangan-jangan aku yang terlalu pagi bangun karena bersemangat." Ucap Daffa sambil melihat ke luar jendela.
Hari ini hujan turun dengan lebat disertai beberapa kilat yang menyambar mungkin itu menjadi alasan kenapa Daffa terbangun karena Daffa terkejut dengan suara petir.
Daffa lalu mendapatkan ide untuk membuatkan sarapan kecil sebagai bentuk pendekatannya dengan Aini.
Daffa kemudian segera menuju dapur, membuat minuman hangat dan 2 roti isi yang akan dia makan bersama dengan Aini.
Daffa tersenyum ketika dia sudah bisa membuat apa yang ingin dia berikan kepada Aini.
Daffa membawa makanan itu ke dalam kamar dan masih tidak mengerti kenapa Aini masih dalam posisi yang sama.
" Aini..." Daffa memanggilnya setelah meletakkan nampan berisi makanan.
Aini tidak bergeming. Daffa mendekati Aini dan menyentuhnya.
" Aini apa kamu demam?"
" Tidak, aku hanya merasa sedikit kedinginan jadi aku memutuskan untuk tidur 5 menit lagi."
Daffa segera mematikan AC di dalam kamar itu.
" Aku melihat kamu tidak pakai selimut jadi aku pikir kamu kepanasan." Ucap Aini sambil berbalik menghadap Daffa.
" Bangunlah, aku sudah membuat kamu minuman hangat dan membawakan roti isi."
" Maaf, seharusnya aku yang membuatkan sarapan." Ucap Aini sambil mencoba untuk bangun dan tentu saja Daffa dengan sigap membantu Aini untuk duduk.
Daffa terkejut saat dirinya memegang tubuh ini suhu tubuhnya sangat panas.
" Aini kamu demam.."
" Iya sepertinya aku terkena demam cintamu." Ucap Aini sambil tersenyum.
" Hais ini bukan waktunya untuk bercanda Kamu benar-benar demam ini pasti karena kamu terlalu lama berada di bawah air shower."
Daffa segera menuju kotak P3K untuk mencari obat penurun panas tapi sayangnya dapat tidak memiliki itu.
Daffa segera mengambil ponselnya dan menelpon dokter R untuk memintanya datang.
" Maaf Daffa bukannya aku tidak mau datang dan memeriksa istrimu tapi apakah kamu tahu aku sendiri juga terjebak di rumah sakit dan rumah sakit ini sedang terendam banjir. Ditambah ada pohon tumbang tidak jauh dari rumah sakit ini bagaimana bisa aku keluar sementara aku sendiri tetap di sini."
" Kalau kamu tidak bisa datang ke sini tidak bisakah kamu mengirimkan aku obat?"
" Bagaimana caranya, apa Kamu pikir aku Aladin yang bisa hilang dan muncul di hadapanmu sekarang juga?"
" Ya sudah ya sudah aku akan meminta tolong Kenzo mana tahu dia berada di dekat rumahku." Ucap Daffa.
__ADS_1
Daffa segera memanggil Kenzo, sementara Aini menatapnya heran Bukankah dia hanya sedikit demam tapi kenapa Daffa bersikap terlalu berlebihan seolah-olah dirinya sedang sakit yang parah.
Aini lalu melihat keluar jendela dan mengetahui bahwa hari itu hujan disertai kilat. Aini kemudian menyadari Daffa karawatir karena dirinya tidak bisa membawa Aini untuk berobat.
" Ya sayang..." Pekik Kenzo saat dia mengangkat panggilan dari Daffa.
" Ini aku.." Ucap Daffa.
Mata langsung on dan melihat ke layar ponselnya lalu mengetahui bahwa yang menelpon bukanlah gadis yang dia sukai melainkan Daffa.
" Maaf Bos. Ada apa?"
" Kamu ada dimana?"
"Di apartemen.."
" Apa kamu bisa datang ke sini dan membawakan obat untuk Aini sepertinya dia sedang demam."
" Tuan maaf bukannya saya tidak mau dan tidak bisa, tapi ban mobil saya kempes, diluar hujan deras dan kilat. Telepon dokter R saja. Dokter pasti punya apa yang dibutuhkan dalam keadaan darurat."
" Aku baru saja menelpon nya dan R mengatakan bahwa dia sendiri juga terjebak. Rumah sakit nya banjir."
Kenzo tertawa kecil, bagaimana bisa Daffa percaya saat Dokter R mengatakan bahwa rumah sakit nya banjir. Padahal jelas-jelas rumah sakit itu adalah tempat yang sama sekali tidak pernah banjir karena saluran air nya mudah ditemukan.
" Begini saja, ukur suhu nya selama tidak melebihi 40 derajat maka bisa dikatakan demam sedang. Bos bisa membuatkan sup hangat atau melakukan metode skin to skin untuk menurunkan panas."
" Skin to skin bagaimana?"
" Yaa hampir mirip dengan pasangan yang akan kawin. Jadi tuan dan nyonya saling berpelukan tanpa menggunakan pakaian."
" Apa kamu gila?" Pekik Daffa.
" Lah kenapa?, udah sah juga kan?"
Duar !!!
Kilat menyambar tower jaringan ponsel yang mengakibatkan sambungan telepon Daffa dan Kenzo terputus.
" Sial.."
Daffa kemudian melihat Aini yang sudah memakan satu roti isi dan menghabiskan setengah dari air hangat yang dia bawa.
Apa iya aku harus memberikan kehangatan pada Aini. Bagaimana jika Aini bertambah panas karena bersentuhan dengan aku. Tidak tidak, sebaiknya aku membuka sup saja.
Daffa membuka ponselnya dan mencari resep terbaik sup yang membantu menurunkan suhu tubuh.
Lima belas menit kemudian Daffa kembali dengan semangkuk sup daging.
" Astagfirullah kenapa kamu repot-repot memasak?"
" Tidak apa apa karena kamu sakit jadi inilah kesempatanku untuk menunjukkan kepadamu bahwa sebenarnya aku juga mempunyai skill memasak yang bagus."
Aini tersenyum lalu mencoba bangkit tapi kepalanya terasa pening.
Sepertinya memang harus skin to skin..
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...