Ajari Aku Selingkuh

Ajari Aku Selingkuh
Bab 52 : Semangat


__ADS_3

" Terima kasih tumpangan nya." Ucap Viona saat dirinya sudah sampai di rumah.


" Terima kasih doang?"


" Loh mau ongkos? Kan tadi yang nawarin bareng sih itu masa iya aku harus bayar ongkos?"


" Ck iya ditawarin mampir kayak apa emangnya kamu pikir aku nggak capek apa nyetir?"


" Yaelah bilang aja mau lebih lama bersama aku itu aja gengsi." Ketus Viona.


" Ya udah ayo turun."


" Aman gak nih?" Ucap Daffi saat memasuki rumah Viona.


" Aman lah orang aku rajin bersih-bersih ya jelas aman."


"Cewek itu memang aneh, sukanya jajan, hobinya makan, kebiasaannya ngemil, cita-citanya langsing." Ucap Daffi saat dia melihat visi dan misi Fiona yang ditempel di setiap pintu.


" Itu dulu, sekarang udah nggak sekarang udah ganti sukanya itu cari uang, hobinya cari uang dan cita-citanya jadi kaya raya."


" Lah kenapa kok tiba-tiba ganti?"


" Iya biar kalau udah nikah aku siap secara materi dan juga mental."


" Memangnya hubungannya jadi kaya sama nikah apa?"


" Ya biasanya kan kalau udah mapan jodoh datang sendiri. Kan ada pepatah yang mengatakan yang tampan akan kalah dengan yang mapan."


" Ya Itu kan untuk laki-laki." Ucap Daffi.


" Yaa setidaknya aku menganggap bahwa itu juga berlaku untuk aku karena waktu aku tidak mempunyai apa-apa aku tidak memiliki seseorang yang berniat untuk mengajakku kejenjang yang lebih serius jadi aku pikir aku akan memperkaya diriku mana tahu nanti aku akan dipertemukan dengan jodohku."


" Haha ada ya manusia pikirannya kayak kamu."


" Ada lah aku bukti nya."


Viona kemudian memilih untuk ke dapur untuk melihat apakah dia mempunyai beberapa cemilan dan minuman yang bisa dia hidangkan kepada Daffi.


Daffi awalnya memilih untuk duduk sambil menunggu Viona, tapi kemudian pandangannya tertuju pada secarik kertas yang ada di pintu kamar Viona.


Salat ya cantik, modal glowing doang gak bisa baperin malaikat Ridwan.


" Haha gila juga yaa dia kira-kira dia itu belajar kata-kata kayak gini dari mana sih." Pekik Daffi.


Tak lama kemudian Fiona datang sambil membawa beberapa cemilan dan dua buah minuman hangat.


" Maaf aku nggak punya cemilan semewah dan minuman senikmat yang biasa kamu nikmati." Ucap Viona sambil meletakkan nampan yang dia bawa di atas meja.


" Hei Aku jadi penasaran kira-kira kalau kamu ngegombalin malaikat Ridwan gimana ya?"


"Punya mulut dijaga, jangan kalah sama pantat deh. Pantat aja kalau mau kentut mikir dulu ada yang dengerin apa nggak. Masa mulut mau ngomong gak dipikir dulu?"


" Hahaha, ya habis nya kamu bikin kata kata kayak udah mau ketemu malaikat Ridwan aja."


" Namanya juga nyemangatin diri sendiri maklum nggak ada yang nyemangatin aku." Kekeh Viona.

__ADS_1


" Eh Daffi.."


" Hmmmm.."


" Menurut kamu aku ini jelek nggak sih?"


" Kenapa?"


" Ya nggak apa-apa tanya aja."


"Jika tampang kamu jelek tapi memiliki hati yang baik, tulus, dan mau bekerja keras, kamu tetap saja jelek."


" Hadeh gak jelas banget." Ketus Viona.


"Berlatih membuat kita menjadi sempurna, tapi tidak ada manusia yang sempurna, jadi buat apa kita susah payah berlatih?"


" Iya juga ya Kenapa kamu seolah-olah tahu jika aku sedang berusaha untuk menjadi pribadi yang sempurna."


" Ya tahulah kan baru saja kamu yang ngasih tahu aku."


" Haha iya..."


" Kamu tinggal sendiri?" Tanya Daffi setelah Dia menghabiskan setengah dari minuman yang dibawa oleh Viona.


" Ya, tapi aku mempunyai keluarga mereka ada di kampung. Hmm ngomong sama keluarga aku jadi kangen sama ayahku."


" Tahu gak, sebuah studi menyatakan bahwa kedekatan ayah pada anaknya itu bagaikan kedekatan anak pada ayahnya."


" Iya aku juga baru tahu jika hubungan ibu dan ayah adalah hubungan suami istri."


" Hahaha..." Daffi tidak dapat lagi menahan tawanya lalu dia teringat tentang perkataan Daffa.


" Jadi pekerjaan Apa yang membuatmu harus hijrah ke kota?" Tanya Viona.


" Pekerjaan yang sangat berat saking beratnya sampai kamu tidak akan kuat jika aku menceritakannya jadi lebih baik aku tidak usah menceritakannya kepadamu agar kamu tidak merasa keberatan."


"Pekerjaan seberat apa pun akan lebih terasa ringan jika kita tidak mengerjakannya."


" Hah kamu benar rasanya pekerjaan itu setiap hari semakin menumpuk."


" Gampang Kalau kamu tidak ingin pekerjaan itu menumpuk setiap harinya."


" Gimana?"


" Ya tinggal di jejerin aja pekerjaannya jadi nggak akan numpuk kan?"


Daffi menepuk dahinya.


"Barangsiapa yang bekerja dengan semangat, keringat, dan air mata di hari Senin, niscaya keesokan harinya adalah hari Selasa."


Daffi merasa bahwa dirinya sudah kehilangan kata-kata dan mulai berpikir sebenarnya Fiona ini makhluk seperti apa.


Apa jangan-jangan sebenarnya dia adalah alien yang menyamar menjadi manusia.


" Viona.."

__ADS_1


" Ya?"


" Bagaimana bisa kamu menjalani hidup ini seorang diri?"


" Mudah hanya terus berjalan dan jangan berhenti tuk melangkah, apalagi saat melintas sendirian di kuburan pada malam hari.."


" Memangnya kamu pernah lewat kuburan malam hari?"


" Pernah gara-gara ketahuan nongkrong di pos satpam hahaa."


" Nongkrong sama lewat kuburan apa hubungannya?"


" Ya soalnya aku nongkrong sambil main domino jadinya di kejar satpam nya."


" Ternyata kamu pernah jadi manusia nakal juga ya?"


" Namanya juga hidup. Hidup itu ibarat roda berputar, kadang di atas kadang di bawah. Makanya kalau pas di atas jangan lupa injek rem. Haha. Udah ah sana pulang, aku mau tidur." Pekik Viona.


" Oke terima kasih karena sudah mengizinkanku mampir dan memberikan aku kudapan kamu tahu aja kalau sebenarnya aku sedang. "


Setelah memastikan bahwa Daffi benar-benar hilang dari pandangan Fiona segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan memutuskan untuk beristirahat.


"Bermimpilah setinggi langit, jika kamu terjatuh berarti tidurmu kurang di tengah." Pekik Viona sambil menggeser tempat tidurnya dan membuat posisinya berada di tengah-tengah tempat tidur.


Keesokan harinya Fiona bangun dan dia langsung bersemangat untuk membuka bisnis makanannya lagi.


"Saya tahu kalau rezeki itu hanya titipan. Tapi Tuhan, kalau mau menitipkan rezeki itu sedikit lebih banyak." Ucap nya sambil menunggu orderan masuk di dalam ponselnya.


Sambil menunggu ada pesanan masuk Fiona memilih untuk pemasukan pakaiannya ke dalam mesin cuci.


Sambil memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci Viona mengingat percakapannya kemarin dengan Daffi.


"Hari ini dicuci, dijemur, dilipat, disetrika. Eh, besok ada lagi. Persis kayak perasaan aku ke kamu. Nggak pernah habis. Nggak pernah kelar. Ada terus hehe.."


Setelah selesai mencuci pakaian dan menjemur di belakang rumah Fiona masuk ke dalam dan memeriksa ponselnya.


"HP-nya sih harga dewa, kameranya mantap jiwa, mainnya social media, tapi yang chat kagak ada."


Viona meletakkan kembali ponselnya hingga tidak lama kemudian terdengar suara notifikasi pesanan masuk.


" Alhamdulillah dikit-dikit kan lama-lama jadi bukit." Pekik Viona yang mulai bersemangat memasak dan menyiapkan pesanan yang masuk hari itu.


Ditempat lain Aini mulai membiasakan diri dengan kehadiran orang-orang baru yang akan menempati rumah itu.


Aini bahkan sudah mulai terlihat akrab dengan dua saudara barunya yang bernama Adam dan Hawa.


Daffa terlihat sangat bahagia karena akhirnya Aini bisa melepas rasa kecewanya dan bisa menerima kehadiran keluarga baru.


" Aini sudah berjuang keras untuk menghilangkan rasa kecewa jadi aku juga harus berjuang keras untuk bisa menjadi suami lahir batin untuknya."


" Si entong setelah kita kembali ke kota kita akan mencoba untuk melakukan unboxing."


" Semangat. yeeaahhhh..."


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2