Ajari Aku Selingkuh

Ajari Aku Selingkuh
Bab 37 : Pengen kawin


__ADS_3

" Aini aku ingin menikah, aku sudah merubah penampilan ku. Dan aku ingin menikah."


Aini tersenyum walaupun sebenarnya hatinya sangat kacau karena balon yang meletus warna hijau.


" Aku harus bagaimana, aku selalu gagal soal cinta."


"Kegagalan dalam hubungan asmara sering kali membuat seseorang sedih, bahkan trauma untuk membuka hati dan memualai hubungan baru dengan orang lain. Karena merasa sering dikecewakan oleh pasangan, beberapa orang memutuskan untuk lebih baik sendirian daripada punya pacar tapi bikin sakit hati terus."


" Kenapa kamu coba untuk menjalani hidup ini sendirian dan nikmati alurnya." Ucap Aini.


"Kesendirian mengajakmu untuk lebih dewasa dan tidak bergantung pada orang lain."


" Tapi pasti akan kesepian jika terus sendirian." Keluh Viona.


" Ingat kesendirian itu diberikan utk membantu menemukan siapa diri kita dan berhenti mencari penghargaan dari luar diri, karena kamu berharga."


" Aku sudah pernah celap celup masak iya masih berharga." Pekik Viona.


" Sendiri itu bebas, tapi ada saatnya untuk bebas dari kesendirian dan mulai memperhatikan hidup yang akan datang. Kesendirian membuat kita berpikir apa yang belum kita miliki dan apa yang harus kita miliki sekarang."


" Kesendirian mungkin bisa memberi aku kekuatan untuk menjalani hidup. Tapi untuk menjadi seseorang yang kuat, aku tidak bisa sendirian. Aku tahu aku wanita yang suka celup sana celup sini. Tapi jauh dari lubuk hati terdangkal."


" Terdalam."


" Eh iya terjungkal."


" Terdongkol."


" Terjungkit."


" Terombang-ambing."


" Aini. Aku sedang mencoba untuk mengatakan isi otakku."


" Hati."


" Eh iya hati."


" Nanti mati lo kalau hatinya di keluarkan, emangnya bisa."


" Pasti sakit lah."


" Ya sudah gak usah di keluarin."


" Tapi nanti gatel kalau gak di keluarin."


" Gampang tinggal di garuk."


" Gak di kocok?"


" Boleh, tapi ngocok sendiri."


" Di kocokin gak boleh?"


" Ya kan lagi sendiri."


" Ohya.."


" Kalau di kocokin terus tumpah tumpah gimana?"


" Di bersihin lah."


" Pakek apa?"


" Mama melon."


" Mama lemon."


" Bukan sunlight?"


" Gimana kalau pakek vanish?. Bersih tanpa melukai serat kain."


" Boleh. Belinya dimana?"

__ADS_1


" Toko Cod... Toko COD. Nanti ngocok di tempat..."


" Aini!!!"


" Hehe, maap. Lanjutkan.."


" Tapi sampek mana?"


" Grogol mungkin."


" Intinya aku pengen kawin." Ketus Viona.


" Kawin apa nikah?"


" Nikah."


" Yakin?"


" Ya kawin juga sih. Masak iya nikah aja."


Aini menggeleng gelengkan kepalanya.


" Terkadang kesendirian, membuatku lebih tau makna hidup. Tak ada pertengkaran, tak ada kebohongan, tak ada aturan dan keterpaksaan."


" Ciee mode serius."


" Aini. Aku ngambek nih.."


" Ya ngambek aja. Emang aku pikirin."


" Ya harus dipikirin lah, karena aku minta pertanggungjawaban kamu."


" Kok aku?"


" Ya kan kamu yang bikin aku ngambek. Ngambek aku mahal lo."


" Yang rencana ngambek siapa?" Tanya Aini


" Aku."


" Ya kalau aku ngambek kamu harus bujuk aku."


" Memangnya aku siapa?"


" Aini."


" Maksud ku, aku siapa kamu?"


" Temen."


" Masak iya temen bujuk temen?"


" Iya yaa.., ya udah gak jadi ngambek."


" Jomblo pasti berlalu. Semua ada saatnya, saat semua kesendirian menjadi sebuah kebersamaan dengannya kekasih halal. Bersabarlah." Ucap Aini saat mengantar kepulangan Viona.


Aini menahan tawa melihat Viona yang pulang dengan mulut maju seperti bebek.


" Sudah diantar sampai sini saja. Lebih baik aku melangkah sendiri dari pada kita melangkah berdua namun hatimu tak bersamaku." Ucap Viona sambil melengos pulang. Padahal Aini baru mengantar nya sampai depan pintu.


" Hiks hiks, aku benar-benar menjadi jomblo sekarang." Pekik Viona sambil masuk ke dalam rumah nya


" Tapi tidak apa apa. Menjadi jomblo itu bukanlah sesuatu yang perlu disesali, tetapi anggaplah proses yang harus dilewati untuk menemukan pasangan sejati."


" Ciee.. tumben aku pinter. Ini pasti karena aku sudah ketularan pintar nya Aini, hehe..."


...----------------...


" Tuan Daffa, apa anda baik baik saja?" Tanya Ken setelah mereka selesai meeting.


" Memangnya kamu pikir aku kenapa?"


" Maaf, tapi ini adalah kali pertamanya anda memimpin meeting dalam keadaan penuh canda tawa."

__ADS_1


" Hidup tanpa becanda rasanya hampa bukan? yaahhh memang begitulah, terlalu serius menanggapi sesuatu terkadang memang membuat kita menjadi begitu kaku dan pusing sendiri."


" Dari mana anda mendapatkan kata kata seperti itu?"


" Dari pikiran turun ke mulut. Dan dari mulut aku mengucapkannya."


" Ya siapa bilang diucapkan dari hidung." Lirih Ken.


" Kamu mengatakan sesuatu?"


" Ahahah tidak." Ucap Ken sambil menutup mulut rapat-rapat.


Kenzo berjalan di belakang Daffa yang terus menyapa para karyawan nya.


Kenzo sampai di buat melongo dengan tingkah laku Daffa.


" Ken..."


" Ya Tuan?"


"Kamu tahu nggak, aku seperti mentega, dan Aini seperti wajan panas. Soalnya pas lihat muka Aini aku meleleh." Ucap Daffa sambil duduk di kursi kebesarannya.


Kenzo menepuk dahinya sendiri. Dan saat Kenzo akan pergi keluar.


" Ken..."


" Ya Tuan?"


" Hati-hati di jalan. Hatinya jangan jalan-jalan. Ingat, ada hati yang lagi dijalani."


" Seperti anda mulai gila Tuan." Pekik Kenzo sambil nyelonong begitu saja.


" Hahah... Ya Ken aku memang sudah gila." Teriak Daffa.


" Huft... setiap bertemu dengan nya jantung hatiku terasa berhenti berdetak, tapi kenapa nggak mati-mati ya.." Pekik Daffa sambil melihat foto foto Aini yang dia ambil secara diam-diam.


" Cinta laksana pembodohan. Hanya karena namamu saja sudah membuatku gila. Hahah..."


Kenzo menggeleng gelengkan kepalanya melihat Daffa dari luar yang tersenyum sendiri sambil melihat foto Aini.


" Aku bahagia akhirnya dia bisa kembali merasakan cinta tapi aku juga sedih karena cinta sudah membuatnya gila." Pekik Kenzo.


" Satu tambah satu dua itu matematika, kalau aku tambah kamu bisa tiga, empat, lima dan seterusnya sampai bahagia dengan anak kita." Ucap Daffa.


" Anak. Hiks hiks... Aku tidak bisa memproduksi anak.. Hwaa.... hwa.... hwaa.. maafkan aku Aini."


Kenzo menepuk dahinya sendiri melihat Daffa yang berteriak lantang. Daffa segera masuk karena seluruh karyawan menghentikan aktivitasnya saat mendengar teriakkan Daffa.


Kenzo langsung menyumpal mulut Daffa dengan gorengan yang ada diatas meja.


" Mmmm... Mm Kurammm ajammm kammmm....mmm..."


" Kunyah... Kunyah.... Telan... nah bagus.., sekarang ini minum dulu." Ucap Kenzo sambil memberikan segelas air putih kepada Daffa.


" Heh, sejak kapan kamu menjadi sekretaris laknat." Ketus Daffa.


" Sejak anda menjadi gila."


" Kenzo, aku tidak gila tapi ini adalah kegilaan karena rasa bahagia akan cinta. Cintaku pada Aini."


" Ya ya aku tahu. Tapi cinta itu harusnya seperti pelajaran kimia, bukan cuma teori tapi ada praktik juga." Bisik Kenzo.


" Cinta itu bagai jam pasir. Ketika hati terisi, otak mulai traveling untuk membuat jadwal praktek kimia yang menyenangkan."


" Praktek kimia seperti apa yang bisa dilakukan atas dasar cinta?" Tanya Daffa.


" Ya banyak... kayak lumba lumba duduk. Katak berkuda, Joget kudanil, goyang dumang sama oplosan. jangan lupa goyang dua jari dulu biar gak kenak jarang goyang."


Daffa memutar kursinya untuk memikirkan apa yang baru saja dikatakan kenzo.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2