Ajari Aku Selingkuh

Ajari Aku Selingkuh
AAS 22 : Daffa dan Akbar


__ADS_3

" Suami kebetulan sekali kamu ada di sini jadi aku tidak perlu kembali ke sana dan mencarimu untuk mengatakan bahwa kita akan makan siang bersama." Ucap Aini saat mengetahui bahwa Daffa datang.


" Tidak perlu aku datang ke sini karena aku tahu bahwa kamu pasti akan mencariku. Jadi aku datang lebih cepat dari dugaan." Ucap Daffa sambil tersenyum manis.


Aini kemudian mulai menata makanan di atas piring dan memberikannya kepada Daffa.


Mereka hanya makan berdua karena yang lainnya masih sibuk menyiapkan makan siang yang akan mereka berikan kepada anak-anak panti.


" Aini.."


" Ya..."


" Aku ingin mengatakan sesuatu.."


" Tentu, katakan saja."


Daffa memejamkan mata dan menghela nafas panjang sebelum dia mulai mengucapkan 4 kata yang diberikan Akbar kepadanya.


" Aku akan mencuci piringnya."


" Uhuk uhuk uhuk..."


Aini yang saat itu sedang menghabiskan sisa makanan terakhir menjadi terkejut karena perkataan Daffa.


Daffa refleks langsung memberikan segelas air kepada Aini dan Aini juga langsung menghabiskannya.


" Apa kamu baik baik saja?"


" Ya, aku hanya sedikit terkejut dengan penuturan yang baru saja suami katakan."


" Apa suami yakin?" Tanya Aini.


" Ya, kenapa Apa kamu tidak percaya padaku?"


" Percaya hanya saja ini sedikit aneh karena biasanya tidak pernah ada suami yang mencuci piring."


" Tentu saja ada. Yaitu aku." Ucap Daffa sambil menepuk dadanya sendiri seolah-olah dirinya sedang bangga bahwa dia adalah suami pertama yang memecahkan rekor dalam membantu mencuci piring istrinya.

__ADS_1


Aini kemudian berdiri dan menarik tangan Daffa. Daffa mengikutinya hingga mata Dafa membelalak sempurna melihat banyaknya tumpukan piring di ruang khusus mencuci.


" Selamat menikmati mencuci piring suamiku." Kekeh Aini sambil tersenyum dan berlalu meninggalkan Daffa yang sudah memasang wajah tidak karu-karuan.


Karena tidak ingin kehilangan tingkat kekerenan nya dan juga sudah sangat gengsi untuk menolak dan menarik kembali kata-kata yang telah Daffa ucapkan. Daffa akhirnya melakukan apa yang tadi dia katakan.


Daffa boleh mencuci piring hingga apa datang karena Akbar mencarinya.


" Adik ipar apa yang kamu lakukan di sini kenapa kamu mencuci piring?"


" Bukankah tadi kakak mengatakan bahwa 4 kata dibalik suksesnya sebuah pernikahan adalah aku akan mencuci piring. Jadi aku mengatakannya kepada Aini saat aku sedang makan siang tadi."


Akbar menepuk dahinya dan langsung menarik Daffa menjauh dari ruangan cuci piring itu.


" Iya aku memang mengatakan bahwa itu adalah 4 kunci suksesnya sebuah pernikahan tapi kamu tidak boleh melakukannya di sini."


" Lalu dimana?"


" Nanti setelah kamu kembali ke kota dan tinggal berdua bersama dengan Aini. Atau kamu boleh juga mengatakannya di sini dengan catatan kamu sedang makan malam berdua hanya berdua. Dan pastikan kalian sedang makan malam lho ya bukan makan pagi atau makan siang karena inilah yang akan terjadi jika kamu mengatakannya pada saat siang hari."


" Dengar, Hampir semua pasangan menginginkan rumah tangga yang mereka bina bisa berjalan lancar. Jauh dari pertengkaran, solid, saling menghargai, jujur, menjunjung komitmen, dan terutama, terus saling mencintai. Jadi kamu harus bisa lebih mengenal istrimu agar kamu bisa menciptakan suasana yang nyaman dan tenang di dalam rumah."


"Hanya orang yang sudah menikah yang mengerti kamu bisa sengsara dan bahagia pada saat bersamaan." Ucap Akbar yang membuat Daffa tersentil pasalnya selama ini dirinyalah yang membuat jarak dalam pernikahan yang dia bangun bersama dengan Aini hanya karena dirinya begitu malu untuk mengakui bahwa senjatanya tidak bisa bangun dengan sempurna karena sebuah kecelakaan.


"Ingat selalu, dalam pernikahan itu, semuanya 50/50. contohnya istri memasak, suami makan. Istri mencuci, Suami memakai. istri berbelanja, Suami membayar. Percayalah itu adalah nilai 100 untuk sebuah rumah tangga yang indah."


Daffa terdiam, semua yang dikatakan Akbar adalah semua yang tidak pernah dilakukan Daffa kepada Aini.


" Aku merasa bahwa aku adalah suami yang sangat buruk untuk Aini." Lirih Daffa.


"Seorang wanita mengkhawatirkan masa depan sampai dia mendapatkan seorang suami. Seorang pria tidak pernah mengkhawatirkan masa depan sampai dia mendapatkan seorang istri. Jadi jangan pernah berpikir bahwa kamu sudah terlambat untuk menjadi suami yang baik." Ucap Akbar yang seolah-olah mengerti apa yang ada di dalam pikiran Daffa.


" Untuk kehidupan pernikahan yang bahagia, pria harus ingat, ketika kamu salah atau melakukan kesalahan akui segera, ketika benar tetap bungkam. Niscaya kebahagiaan akan selalu terjaga." Pekik Akbar.


" Mengarungi bahtera rumah tangga bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak hal yang perlu dipersiapkan, baik secara fisik maupun mental. Baik secara materi atau pikiran. Semua itu diperlukan untuk menghasilkan rumah tangga yang baik dan harmonis. Jadi jangan pernah menganggap bahwa sudah terlambat untuk memperbaiki keadaan." Ucap Akbar lagi.


Ah ingin sekali Daffa memeluk kakak ipar nya itu dan berterima kasih sambil menciumi pipinya karena telah memberikan siraman rohani kepada nya.

__ADS_1


" Aini... Im coming...." Batin Daffa.


...----------------...


Keesokan harinya Daffa benar-benar terkejut karena ternyata Aini akan ikut kembali ke kota bersama nya.


Setelah menginap satu hari dirumah Mama, Daffa dan Aini mulai melakukan perjalanan kembali ke kota.


Keduanya sama-sama terdiam karena memikirkan perkataan sang ibu ketika mereka berpamitan.


" Membina biduk rumah tangga supaya tetap bahagia itu tidaklah mudah. Akan ada banyak masalah dari mana saja, membuat hubungan suami istri jadi bermasalah. Agar hubungan suami istri makin harmonis, nggak ada salahnya mengisi waktu untuk bercanda gurau."


Sesekali mereka saling berpandangan, keduanya sama sama berpikir bagaimana mereka bisa bercanda tawa sementara untuk berkomunikasi saja keduanya sangat jarang.


" Aini..."


" Ya..."


" Maaf aku ingin memberitahumu bahwa sebenarnya aku bukanlah pria yang menyukai laki-laki. Aku adalah pria normal hanya saja kejantananku yang sedang tidak normal."


" Aku tahu."


" Apa?"


" Semalam Mama memberitahu aku tentang apa yang pernah kamu alami bersama dengan saudara kembar kamu." Ucap Aini sambil tersenyum sementara Daffa terlihat pasrah.


"Aku tidak dapat berjanji untuk memperbaiki semua masalahmu, tetapi aku bisa berjanji kamu tidak akan menghadapi semuanya sendirian. Aku mencintaimu karena Allah. Kita sudah menjadi satu kesatuan ketika kamu mengucapkan kalimat dan disahkan oleh para saksi. Jadi Aku tidak akan membiarkan kamu menghadapi masalahmu sendiri."


" Untuk itu izinkanlah aku membantumu menyelesaikan masalah yang sedang kamu hadapi." Ucap Aini sambil tersenyum menatap Daffa. Senyuman yang mampu menggetarkan jiwa dan pada Daffa sehingga dapat memilih untuk menepikan mobilnya karena merasa bahwa jantungnya akan segera keluar.


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2