Ajari Aku Selingkuh

Ajari Aku Selingkuh
Bab 84 : Cemburu


__ADS_3

" Selamat pagi kesayangan..." Ucap Daffa.


Aini membuka mata dan tersenyum, namun kebahagiaan Aini tiba-tiba sirna tak kala dia menyadari bahwa Daffa bukan menyapa dirinya melainkan menyapa bayi yang ada di dalam kandungannya.


" Jadi yang di sapa cuma jabang bayi?. Emaknya enggak?" Tanya Aini.


" Bukankah Kamu sendiri yang bilang jika kita harus lebih sering berinteraksi dengan calon bayi kita agar dia merasa bahagia dan tumbuh sehat di dalam sana."


" Iya, tapi bukan berarti sang ayah harus mengabaikan emaknya juga."


" Ah jadi sekarang ada yang cemburu?" Pekik Daffa.


Aini terdiam, dia kemudian bergegas bangun menuju kamar mandi, berganti pakaian dan turun untuk membuat sarapan.


" Aku salah apa?" Lirih Daffa sambil melihat Aini yang keluar kamar tanpa melihatnya lagi.


"Orang bilang kamu tidak bisa hidup tanpa cinta, tapi menurutku oksigen lebih penting." Ucap Daffa sebelum akhirnya dia memutuskan untuk turun dan menyusul Aini.


Daffa mulai menyadari jika Aini sudah marah dia tidak akan mendapat jatah setidaknya sampai akhir pekan ini.


"Pergi beli buku, jalannya pakai nyebrang. Jangan ragu sama aku, hati ini milik kamu seorang." Ucap Daffa sambil memeluk Aini dari belakang.


" Pergilah jangan ganggu aku yang sedang fokus memasak." Ucap Aini dengan nada sewot.


"Rasa sayangku ke kamu ibarat macetnya Jakarta, awet dan nggak bisa ilang." Ucap Daffa sambil tetep memeluk Aini.


" Pergilah nanti nasi nya gosong." Ketus Aini.


"Kalau pasangan yang lagi mesra disebut love birds, maka pasangan yang lagi bertengkar seperti kita disebut angry birds."


Aini memilih diam karena dia ingin mencoba yang sekali kali marah pada Daffa karena tidak memperdulikan nya.


Ya walaupun sebenarnya Aini sudah tahu bahwa ketika akan ada seorang anak yang hadir maka anak itulah yang akan menjadi prioritas pertama dari orang tuanya.


Tapi Aini pikir tidak apa-apa lah sekali-kali dia bersikap marah dan cuek kepada Daffa.


" Susah ya ngomong sama orang tua, dibilang aku lagi masak pergilah dan jangan mengganggu masih saja tetap seperti ini." Ucap Aini sambil mematikan kompor.


"Aku tahu kita tak seumuran, tapi aku ingin seumur hidup dengan kamu." Ucao Daffa sambil ikut bergeser saat Aini akan mengambil piring.


" Mau sampai kapan kamu seperti ini, apa kamu tidak akan pergi bekerja?" Tanya Aini saat Daffa masih terus memeluk dirinya hingga dia selesai menata makanan untuk makan pagi mereka.


" Diluar hujan..."


" Ya terus kenapa sama hujan?"


"Katanya kalau sering hujan itu bisa bikin seseorang terhanyut, kalau aku sekarang sedang terhanyut di dalam cintamu." Ucap Daffa sambil mengelus perut Aini.

__ADS_1


" Sayang, ayok bantu ayah membujuk bunda..." Ucap Daffa yang membuat Aini tersenyum namun tidak memperhatikan nya pada Daffa.


" Udah dewasa masih aja tingkah nya kayak anak kecil."


"Meskipun aku udah dewasa, tapi aku gak bisa hidup mandiri. Buktinya aku gak bisa hidup tanpa kamu. Benar kan sayang..." Ucap Daffa sambil mengelus perut Aini lagi.


"Istriku, kalau kamu bidadari pasti aku akan patahkan sayapmu. Soalnya aku gak rela kamu kembali ke surga."


" Kalau aku bidadari yaa aku gak mau lah ketemu sama kamu."


" Aini, kamu benar-benar menyakiti hatiku." Pekik Daffa sambil duduk dan mulai memakan makanan yang di buat Aini.


Daffa duduk dan makan bukan karena dia marah kepada Aini tapi karena memang perutnya tidak bisa diajak kompromi yang sudah merasa sangat lapar.


Aini mencoba untuk tidak mempedulikan Daffa dan tetap bersikap pada sikap yang sebelumnya hingga dia mengantar Daffa sampai ke depan rumah dan memberikan tas kerjanya.


"Ada 3 hal di dunia ini yang paling aku sukai. Matahari saat pagi hari, bulan ketika malam hari, dan yang terakhir adalah kamu untuk selamanya." Ucap Daffa sambil mencium kening, pipi dan bibir Aini.


Aini tidak tahan lagi, dia akhirnya tersenyum dan memeluk Daffa.


" Cepatlah pulang, aku akan merindukanmu." Ucap Aini yang membuat Daffa kembali mencium kening Aini.


"Seandainya sekarang adalah tanggal 28 oktober 1928, aku akan ubah naskah sumpah pemuda menjadi sumpah aku cinta kamu."


" Pergilah, kamu akan terlambat nanti." Ucap Aini


" Walaikumsalam.."


...----------------...


Di kantor...


"Jika kamu bertanya hal terindah apa yang pernah singgah di kehidupanku, aku akan menjawab hal itu adalah kamu" Ucap Kenzo sambil memandangi Nina yang sedang membuat kopi di dapur kantor.


"Biasanya orang yang lagi nyasar itu rugi ya, tapi tahu gak? Aku gak merasa rugi sebab cintaku sudah nyasar ke hati bidadari." Ucap Kenzo yang semakin membuat wajah Nina memerah.


"Jangan diam aja dong, memang diam itu emas, tapi ketahuilah suara kamu itu seperti berlian." Ucap Kenzo lagi.


" Baiklah aku akan bicara jadi dengarkan." Ucap Nina.


" Tentu saja."


" Datang lah kerumah karena keluarga ku sudah menantikannya." Ucap Nina sambil berlalu meninggalkan Kenzo.


Kenzo menga-nga tidak percaya. Selama beberapa bulan ini dirinya memang tidak pernah menembak Nina karena takut terjerumus ke hal hal yang tidak boleh dilakukan sebelum pernikahan.


Jadilah selama ini Kenzo hanya menggoda Nina dengan kata kata romantis untuk menunjukkan betapa Kenzo sangat menyayangi dan mencintai Nina.

__ADS_1


Dan sekarang hanya beberapa kata saja membuat Kenzo diam tidak berdaya. Hingga membuat Daffa menggeleng gelengkan kepalanya saat dia tidak menemukan Kenzo di seluruh ruangan dan justru menemukan nya di dapur.


" Ken Thut ternyata kamu disini. Sedang apa disini?" tanya Daffa sambil menepuk bahu Kenzo.


Kenzo melihat Daffa dan tersenyum lalu...


Brak !!!


Kenzo pingsan.


🌸🌸🌸🌸


"Kursi makin lama makin antik, kalau kamu makin lama makin cantik sayangku." Ucap Daffi saat melihat Viona sedang duduk di dekat halte setelah mengantar pesanan terkahir.


Viona hanya melihat sekilas lalu berniat pergi, tapi Daffi segera memegang tangan Viona.


" Maaf, aku harus pulang dan sebaiknya kamu harus menjaga sikap agar tidak ada hati yang terluka karena salah paham."


" Apa maksud mu?"


" Sudahlah Daffi, aku tahu kamu sudah bahagia dengan Lala. Jadi tidak perlu lagi datang dan menemuiku."


"Seandainya kamu jadi maling, aku akan jadi hansipnya. Iya, karena sampai kapan pun aku akan ngejar-ngejar kamu." Ucap Daffi sambil bersiap mengejar Viona yang sudah meninggalkan Daffi.


Sesampainya di rumah, Viona yang tahu bahwa Daffi mengikuti nya segera masuk ke dalam rumah dan ketika Viona akan menutup pintu, Daffi menahan nya.


" Viona, ada apa denganmu?"


" Kamu yang ada apa. Kenapa kamu muncul lagi di hadapan ku?"


" Itu karena aku sudah siap untuk menjadikan mu milikku satu satunya.."


Deg !!!


Viona melihat Daffi sekilas lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Sejak kenal kamu berat badanku nambah terus. Karena buat aku kamu tuh berat, berat untuk dilupain dan ditinggalin." Ucap Daffi.


"Ibarat sebuah jam, kamu itu baterainya. Soalnya hanya kamu yang mampu membuat jarum-jarum cintaku berputar."


" Kamu seperti air dan aku adalah tanaman nya dimana aku tidak akan bisa hidup tanpa siraman darimu."


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2