
" Suami apa kamu baik-baik saja?" Tanya Aini yang panik karena Daffa tiba-tiba berhenti dan memegangi jantungnya.
" Ak..ku ti...dak... a...ap...a a..apa..."
Dan tiba tiba saja Daffa menjadi gugup takkala Aini juga ikut memegang jantung nya.
" Apa kamu terkena demam perjalanan?."
" Ha?"
" Jantung mu berbunyi tidak karuan. Dam dum dam dum dam dum begitu dan kamu juga gagap. Apa sebaiknya kita menginap di hotel saja?"
" Aa...aa....www.....a...kk...s...s..hgik..."
" Ha?"
" aaa... yuu....eee...mmm.."
Aini mengkerutkan dahi dan menggeleng-gelengkan kepalanya karena dia sama sekali tidak mengerti apa yang Daffa ucapkan.
Aini kemudian mengambil ponsel nya dan menghubungi Kenzo.
" Sekertaris Ken bisakah kamu datang ke sini dengan kecepatan ZET?. Aku akan segera mengirimkan lokasi terkini keberadaan aku dan Suami."
" Memangnya ada hal apa sehingga Nyonya memintaku untuk datang?"
" Hah aku tidak bisa menjelaskannya yang jelas keadaannya sudah sangat buruk dan sangat kritis."
" Ha?. Apa?. siapa yang kritis?"
" Kekasihmu, dan juga yang menjadi suamiku." Pekik Aini yang membuat Daffa melotot.
Dia ingin sekali protes karena Aini menyebut data sebagai kekasih gense walaupun ada kata suami di belakang nya. Tapi sayang sekali suara Daffa seakan-akan hilang dan tidak dapat berbicara.
Dia mulai berpikir bahwa tubuhnya kembali rusak karena Daffa kembali ke kota.
Itu artinya tubuhku mengalami infeksi dadakan ketika aku tinggal di kota. Buktinya saat berada di desa Aku sama sekali tidak pernah mengalami kejadian ini.
Setelah lama berbincang-bincang Kenzo akhirnya segera meluncur ke sana dengan menggunakan helikopter mengingat Aini mengatakan bahwa keadaan Daffa benar-benar sangat kritis.
Aini keluar dari dalam mobil sehingga Kenzo bisa duduk disamping Daffa karena Daffa tidak bisa menggerakkan dirinya sendiri.
" Tuan bos apa yang terjadi pada anda?"
Daffa memandang Aini dan mencoba untuk menjelaskan apa yang terjadi kepada Kenzo namun ternyata suaranya masih belum kembali.
" Tenang Tuan bos. Tenang. Tarik nafas.... hembuskan..."
Daffa mengikuti instruksi yang diberikan Kenzo.
Setelah cukup lama...
" Ken..."
" Ya..."
" Jantung ku terasa mati."
" Kalau jantung Bos mati itu artinya sekarang bos adalah 👻👻..."
Pletak !!!
Daffa menyentil dahi Kenzo.
" Aw, sakit bos.." Teriak Kenzo
Aini yang dengan suara teriakan dari Kenzo menjadi berpikir bahwa mereka berdua melakukan sesuatu yang sangat intim.
" Pelan kan suara mu.." Pekik Daffa.
" Lagian bos kenapa nyentil saya. Kan sakit."
" Begini, dimana kita kita dokter yang cepat menyembuhkan sel sel tulang."
__ADS_1
" Memangnya tulang tulang bos kenapa?"
" Kacau. Aku rasa penempatannya sudah tidak sejajar lagi karena setiap kali aku berbicara sesuatu yang sangat intim dengan Aini aku selalu merasa bahwa seluruh jaringan otot-otot dalam tubuhku bergerak sendiri dan lepas tidak terkendali."
" Bos ini sudah sinting." Lirih Kenzo.
" Kenapa kau justru menganggapku sinting apa kamu suka jika seluruh organ-organ dalam tubuhku tidak berfungsi dengan normal. Sepertinya memang kota ini membawa pengaruh yang buruk terhadap kesehatanku."
Dirinya sendiri yang buruk kenapa menyalahkan kota.
" Ken kau harus segera membantuku untuk mencari solusi."
" Solusi apa?"
" Solusi tentang diriku karena aku tidak ingin mati dalam keadaan aku yang masih belum berjuang untuk menyembuhkan Si entong."
" Astaga, denger yang sebenarnya rusak itu bukan organ-organ di dalam tubuh bos tapi hati."
" Maksud mu hatiku. Hatiku sudah busuk?"
Ah Tuhan..
Kenzo menepuk dahinya sendiri.
" Bukan busuk tapi hati sudah mulai menunjukkan tanda-tanda..."
" Kebusukan?" Ucap Daffa.
" Tanda tanda cinta."
" Cinta?"
" Ya."
" Cinta siapa?"
" Cinta hantu. Ya cinta bos kepada Nyonya bos sudah mulai mengembang."
" Mau tahu rahasianya kenapa bisa mengembang?" Ucap Kenzo.
" Bagaimana?"
Kenzo mendekati telinga Daffa dan berkata.
" Di kocok."
Brak !!!
Setelah mengatakan itu cancel segera keluar dari mobil Daffa sambil mengumpat,
" Bos Oon."
Kenzo kemudian segera menghampiri Aini dan mengatakan bahwa Daffa baik-baik saja dan langsung kembali menuju helikopternya.
" Loh sekertaris Ken kamu mau kemana?"
" Nyonya Bos aku serahkan urusan Tuan Bos kepada anda karena aku sedang ada kencan buta hari ini" Teriak Ken yang sudah berada di dalam helikopter.
Aini hanya bisa menatap kepergian Kenzo dengan nanar.
Aini kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam mobil dan melihat bahwa Daffa termenung.
Sebenarnya Daffa termenung bukan karena melamun melainkan memikirkan apa yang baru saja dibisikkan oleh Kenzo.
Bagaimana bisa Aini mengocok-ngocok hatiku sampai mengembang.
Bukankah hatiku berada di dalam tubuhku.
Bagaimana caranya mengeluarkan hatiku tanpa aku tahu.
Apa Aini mempunyai teknik khusus untuk mengocok hati dari dalam tanpa mengeluarkannya?.
" Suami apa kamu baik-baik saja?"
__ADS_1
" Ah iya tentu soal kocak mengocok itu biarkan menjadi urusanku."
" Ha?" Aini benggong. Begitu juga Daffa yang tiba-tiba salah tingkah karena dia reflek mengatakan soal kocok mengocok.
"Maaf, mulutku kadang-kadang memang suka berbicara sendiri tanpa bisa aku kontrol."
" Oke..."
Aini masuk ke dalam mobil dengan hati-hati dan mulai berpikir bahwa itu mungkin salah satu gejala karena Si entong milik suaminya yang tidak bisa terbangun.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Hening..
Semua larut dalam pemikirannya masing-masing.
Daffa yang terus saja memikirkan Bagaimana cara Aini mengocok hatinya sehingga mengembang dengan sempurna, sementara Aini menjadi kepo dengan kocok mengocok yang dikatakan oleh Daffa.
" Apa mungkin suami dah sekretaris Ken tadi bermain kocok mengocok?" Lirih Aini.
Mereka terus saja berperang dengan pemikirannya sendiri hingga tidak ada yang sadar bahwa mereka sudah sampai di rumah.
" Suami, sepertinya kita sudah sampai." Pekik Aini.
" Ah iya bener kita sudah sampai. Lalu kenapa kita masih ada di sini?" Tanya Daffa.
" Itu karena aku melihat kamu masih termenung sendiri jadi karena aku takut terjadi serangan kocok mengocok aku memutuskan untuk menunggu kamu tersadar." Ucap Aini.
" Hehe..." Daffa tertawa aneh yang akhirnya membuat Aini juga ikutan tertawa.
" Hehehehe..."
" Hehe...."
" Hehehe...."
Keduanya saling bersahut-sahutan tertawa sehingga akhirnya terkekeh-kekeh.
" Kocok mengocok yaa..." Pekik Daffa sambil melepas sabuk mobil dan turun.
Aini berhenti tertawa dan mulai mengira bahwa suaminya sudah memasuki fase gila karena kocok mengocok.
Aini iku turun dan melihat suaminya yang terus saja mengulang kata kocok mengocok sambil tangannya memperagakan sesuatu.
" Suami..." Panggil Aini.
" Ya?, mau dikocok?" Tanya Daffa.
" Tidak aku akan mengocok nya sendiri." Ucap Aini
" Baiklah." Ucap Daffa yang kembali melangkah dan hendak memasuki rumah.
" Suami..."
" Yaa, katanya mau kocok sendiri kok masih manggil?. Mau di kocokin yaa.??"
" Bukan. Tapi aku mau suami membantu membawakan barang barang yang kita bawa."
Srettt !!!
Daffa langsung mendapatkan kembali kesadarannya Daffa bergegas membuka bagasi dan membawa semua barang-barang mereka masuk ke dalam rumah.
Aini terkekeh melihat tingkah Daffa.
" Wah wah, sepertinya aku harus berhati-hati dengan kata kocok mengocok karena itu merupakan kata Kramat yang akan membuat suamiku menjadi gila." Lirih nya.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1