
Setelah memasukkan semua barang ke dalam kamar, Daffa memutuskan untuk berendam agar pikirannya lebih tenang.
Saat Daffa sudah selesai berendam betapa terkejutnya dia saat keluar kamar mandi dan mendapati Aini berada di sana sambil menatap pakaiannya.
" Ka...u apa yang kamu lakukan?"
" Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak menutup diri lagi? Jadi aku memutuskan untuk tinggal sekamar dengan kamu." Ucap Aini sambil tersenyum.
Glek !!
" Tinggal sekamar?. Tidakkah ini terlalu cepat?" Pekik Daffa.
" Tentu saja tidak. Aku akan bicara dengan sekertaris Ken jika kamu tidak tega untuk menyakiti hati nya karena sekarang kamu akan tidur sekamar dan seranjang denganku." Pekik Aini.
" A...ku... ak...."
" Ah, penyakit gagap nya kambuh?. Ya sudah selamat menikmati kegagapan, aku mau mandi dulu." Ucap Aini sambil berjalan melewati Daffa.
" Eh tunggu tunggu. Mau mandi dimana?" Tanya Daffa sambil memegang lengan Aini.
" Kamar mandinya disana kan?. Tentu saja aku mau mandi disana." Ucap Aini sambil menunjuk kamar mandi.
" Tapi kan.. itu..."
" Sudah tidak apa apa. Aku adalah istri yang pandai menjaga rahasia."
Sekali lagi, Aini tersenyum dan berlalu meninggalkan Daffa dan masuk ke kamar mandi.
Daffa mondar mandir di sekitar kamar nya.
Dia terus memikirkan nasib karena akan tidur sekamar dengan Aini.
" Huft kenapa rasanya beda. Padahal saat ada dirumah ku atau rumah Aini kami juga tidur bersama. Tapi kenapa sekarang rasanya lebih menakutkan dari tergoda kreditan panci." Pekik Daffa.
Daffa yang tidak bisa mengendalikan dirinya memutuskan untuk menghubungi dokter R dan mengatakan bahwa dirinya akan tinggal sekamar Aini.
" Ya itu bagus dong, bukankah itu yang selama ini kamu harapkan dan inginkan?"
" Iya aku tahu. Hanya saja aku merasa bahwa hal ini terlalu cepat dan aku seperti kehilangan kendali atas diriku sendiri."
" Hais lalu kamu nelponku berharap aku melakukan apa?" Ketus dokter R.
" Ya apa kek. Dan ya kenapa rasanya sangat berbeda saat aku dan Aini berada di desa. Disana kami juga tinggal dalam satu kamar dan dalam satu ranjang yang sama tapi aku merasa biasa saja."
" Itu karena saat kalian berada jauh dari kota kalian sedang merasa sedih."
"Aku merasa bahwa diriku akan jadi pendiam."
" Pendiam?"
__ADS_1
"Ya pendiam, diam-diam aku jatuh cinta pada nya. Ada Tika,di atasnya kuku. Ternyata tawa nya membekas di hatiku. R, sepertinya aku memang jatuh cinta seperti yang dikatakan Kenzo. Tapi bagaimana aku menghadapi nya?"
" Hais sudah ikuti saja drama nya, lalu kamu akan tahu sendiri."
" Tapi aku takut..."
" Haduh kamu ini seperti akan di perkosa saja."
" Aku harus bagaimana. Aku benar-benar gemetar sekarang."
" Rapatkan saja kakimu, itu akan mengurangi rasa gemetar."
Setelah mengatakan itu dokter R memilih untuk menutup telpon. Dia benar-benar mengira bahwa Daffa sudah tidak waras sejak Aini memutuskan untuk mulai berbicara dengan nya.
Sementara itu, Daffa semakin gemetar tak kala melihat Aini keluar dengan menggunakan pakaian tidur serba pendek.
" Apa yang kamu kenakan?"
" Baju tidur." Jawab Aini santai sambil duduk di meja rias dan mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.
Glek !!
Lagi lagi Daffa menelan ludahnya lagi melihat leher mulus Aini yang terbuka karena sang rambut berkibar terkena angin hairdryer.
" Ternyata Tuhan itu baik yah. Saat aku minta bunga mawar, aku diberi taman yang indah. Saat aku meminta setetes air, aku diberi lautan. Eh, saat aku minta malaikat, aku diberi kamu." Ucap Aini setelah dia selesai mengeringkan rambut nya dan berjalan ke arah Daffa.
"Kamu tau nggak, aku seperti mentega, dan kamu seperti wajan panas. Soalnya pas lihat muka kamu aku meleleh." Ucap Daffa tiba tiba.
Seketika yang Daffa benar-benar meleleh di hadapan Aini.
" Astaga, penyakitnya kumat lagi."
...----------------...
Pagi harinya Daffa terbangun dan dia tidak melihat Aini.
" Huft ternyata aku tidur sekamar dengan Aini hanya mimpi." Pekik nya.
" Selamat pagi suami..."
" Haa...."
Daffa terkejut dan nyaris kehilangan seluruh fungsi tubuhnya lagi.
" Kamu tadi ngumpet di mana tiba tiba muncul kayak jalangkung."
" Mau tahu aku ngumpet dimana?"
" Iya cepetan." Ketus Daffa sambil menetralisasi jantung yang tadi hampir lari dari tempatnya.
__ADS_1
" Di hatimu..."
EMAAAKKKKK !!!!!
Daffa merasakan ada sesuatu yang mengalir di hidungnya.
" Akibat di kocok sendiri ya?" Kekeh Aini sambil memberikan tisu kepada Daffa.
Aini membantu Daffa membersihkan cairan merah yang keluar dari hidung nya.
"Seorang istri adalah mereka yang tidak hanya sekedar menjadi istri, tapi juga mampu menjadi kekasih sekaligus sahabat suaminya. Jadi aku berharap kamu bisa menerima ku sebagai seorang sahabat." Ucap Aini sambil terus tersenyum pada Daffa.
"Istriku, ketika kamu mencintaiku, maka cintailah aku apa adanya. Jangan kamu harapkan kesempurnaan dariku. Karena kesempurnaan adalah ketika kamu bisa mencintaiku tanpa syarat." Ucap Daffa sambil memegang tangan Aini yang akan pergi dari wajah nya
"Aku mencintai kamu karena Allah. Dan Cinta yang terjadi karena Allah tidak akan pernah berakhir." Balas Aini.
"Kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia. Kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini. Hati ini sepertinya sudah benar benar mencintaimu walaupun aku tidak tahu kapan kamu menanam benihnya." Pekik Daffa sambil terus menatap Aini.
"Aku ingin menghabiskan sisa waktu hidupku hanya bersama dirimu, karena ku tahu ada di sampingmu adalah kebahagiaan yang besar untukku. Selain itu aku juga tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain dirimu, suamiku." Aini mencium punggung tangan Daffa.
"Akhirnya aku mengerti indahnya cinta, itu semua karena dirimu." Ucap Daffa.
"Cinta kita adalah cinta yang terbaik, karena engkau telah membuat imanku meningkat, juga membantuku di dunia ini. Karena itulah, aku ingin berjumpa kembali denganmu di surga."
" Ha?. Apa kamu akan mengunjungi surga itu sekarang suamiku?"
" Ah itu tidak tidak... Maksud ku aku ingin mengajakmu untuk mengunjungi surga dunia."
" Apa itu artinya kamu bersedia menanamkan benih-benih kadal padaku?"
" Bukan hanya benih kadal. Benih dinosaurus pun aku tidak akan bisa karena si entong masih tertidur...."
Brak !!
Daffa tiba-tiba pingsan. Aini sudah tidak panik seperti saat pertama melihat nya. Sekarang Aini berpikir bahwa segala-gejala yang ditunjukkan Daffa saat bersamanya adalah gejala karena sebelumnya Daffa tidak pernah dekat dengan seorang wanita dan hanya dekat dengan seorang laki-laki.
"Memang tidak mudah untuk meninggalkan kekasih sesama jenis. Tapi aku yakin bisa menuntut nya kembali mencintai wanita." Pekik Aini.
Aini lalu memutuskan untuk pergi ke dapur dan membuat makanan untuk mereka.
Sepeninggalan Aini, Daffa membuka mata dan mengeluh..
" Kenapa dia masih mengira aku pecinta gagang bertelur dua. Entong... cepatlah bangun agar kamu bisa menikmati indahnya di celup coklat hangat."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...