
Aini saat Daffa benar-benar dengan perkataannya tentang membuat tenda di tempat itu.
" Sayang kamu tidak benar-benar mengajak aku untuk bermalam di sini kan?" Tanya Aini.
" Kan kamu sendiri tadi yang bilang bahwa pemandangan ini bagus jadi apa salahnya kita melakukan percobaan untuk bermalam di sini."
" Astaga dapat dari mana sih kamu ide percobaan segala?"
" Ya kan kalau gagal kita tinggal pulang."
" Gak mau ah, aku mau tidur di rumah aja."
" Eh kenapa?"
" Ya aku gak mau semua orang pada tahu kalau kamu itu suka ngorok." ketus Aini.
" Aku?... Ngorok?" Ucap Daffa sambil menunjuk dirinya sendiri karena tidak percaya dengan apa yang baru saja ini katakan.
Haha dia pasti bercanda mana mungkin manusia setampan dan sefenomenal aku ini kalau tidur ngorok. Ya kan nggak cocok sama ketampanan yang hakiki ini.
"Rasanya setiap malam aku tak bisa tidur karena mendengarmu mengorok. Jadi Aku tidak akan membiarkan orang lain tidak bisa tidur karena harus mendengarmu mengorok."
" Apalagi ini di tempat terbuka aku takut jika suara ngorok mu itu akan semakin menyebar ke seluruh penjuru dunia dan membuat semua orang tidak bisa tidur."
"Wanita memang rata-rata lebih suka memiliki kecantikan daripada otak, karena rata-rata pria dapat melihat lebih baik daripada yang dapat dia pikirkan."
" Kamu coba nyindir aku?" Tanya Aini.
" Enggak. Begini rasanya jadi pengantin baru. Semuanya sungguh mengejutkan." Ucap Daffa.
" Mengejutkan apa?" Tanya Aini.
" Ya mengejutkan ketika kamu mengungkapkan fakta bahwa selama ini aku tidur nya ngorok."
" Pfffftttt, Ya emang bener aku nggak pernah bohong.."
"Baru aja hidup berumah tangga, ternyata rumit yaaa..."
" Iya emang rumit, kalau sederhana namanya rumah makan." Kekeh Aini.
" Jadi kita nggak akan melakukan percobaan untuk bermalam di sini?" tanya Daffa memastikan.
" Ya enggak lah, kalau mau bermalam pakai tenda itu ya di laut di bukit di gunung di jurang."
" Mati dong.."
" Eh iya jangan deh kalau nanti mati kan aku jadi janda."
" Janda perawan." Bisik Aini sebelum dia berlari meninggalkan Daffa.
"Aku memang pendiam, diam-diam aku jatuh cinta padamu. Ada jamu,di atasnya kuku. Ternyata tawamu membekas di hatiku. ciieee ah ha yuhu... Dasar otak kenapa gak cair dari tadi si..." Ketus Daffa.
" Aini.. im coming..."
Daffa mengejar Aini dan melihat hal ini sedang berdiri di sebuah poster model.
" Kamu kenal dia gak sih?" Ucap Aini sambil menunjuk model internasional.
"Aku nggak hafal siapa miss universe, yang aku tau aku miss you so much." Bisik Daffa yang membuat wajah Aini memerah.
" Sudah yuk jalan jalan ke sana." Ajak Daffa.
Mereka kemudian kembali menelusuri taman yang ada di restoran itu.
" Aini.."
" Ya?"
"Yang kamu lihat di kulkas, itu bukan hati sapi."
" La terus?"
__ADS_1
" Itu hatiku yang beku karena ditinggal kamu."
" Yah hatinya udah aku goreng tadi pagi jadi kamu udah punya hati dong."
" Tetep punya."
" Mana? Kan hatinya kamu tinggal di kulkas terus aku udah goreng hatinya."
" Hatiku ada dengan hatimu..."
" Ahhh...." Kali ini Aini yang meleleh Untung saja dia bisa mengkondisikan dirinya sehingga tidak sampai meleleh seperti mentega.
"Tidak peduli seberapa sederhana dan ketidakjelasanmu. Tapi bagiku, kamu adalah kesempurnaan yang memiliki kejelasan." Ucap Aini.
"Istriku. Kamu memang tidak pernah menyerah. Aku pernah melihat dia begitu ngotot sehingga dia memasukkan kata sandi yang salah berulang kali sampai dia berhasil meyakinkan komputer bahwa dia benar!"
" Hahaha.. maafkan aku, tapi itu bukan salahku. Tapi salah jari jariku yang keseleo." Pekik Aini.
" Daffa... Ah maksud ku sayang..."
" Yaa?"
" Apa kamu sudah mulai mencintai ku?"
" Maksud ku cinta yang benar benar cinta. Bukan cinta pura pura."
"Istriku, cintaku padamu seperti utang. Awalnya kecil, didiemin, tahu-tahu gede sendiri. Mendengar kamu kentut saja aku sudah bahagia."
" Emangnya kamu pernah dengar aku kentut?"
" Ya enggak sih, tapi coba deh sekarang kamu kentut agar aku bisa mendengarnya dan membuktikan kepadamu bahwa aku sudah bahagia walau hanya mendengar suara kentut."
" Jorok ah kayak belakang suka makan kentut."
" Makan nyamuk."
" Ya kan itu cicak."
" Anggap aja iya."
" Terus aku sama kayak belalang?"
" Mungkin."
"Aku rela jadi belalang asal kamu kupu-kupunya. Lalu kita siang makan nasi kalau malam minum susu."
" Haha kita main pok ame ame dong."
"Kamu belum tahu ya..." Ucap Daffa.
" Apa?"
"Namaku sebenarnya Tarzan."
" Orang hutan?"
"Tarzandung cintamu sampai jatuh. Awokwowk."
" Eh eh...."
Brak !!
Setelah mengatakan itu Daffa justru beneran kesandung batu membuat Aini tidak bisa lagi menahan tertawanya.
"Menikah itu layaknya memiliki seorang teman baik yang tidak pernah mengingat apapun yang kau katakan. Udah yuk kita pulang." Ucap Aini sambil membantu Daffa untuk bangun.
" Kalau begitu selamat! Kamu terperangkap denganku selamanya." Ucap Daffa.
"Panda apa yang bikin seneng?" Tanya Aini.
"Bayi panda pasti."
__ADS_1
" Pandangin kamu setiap hari." Ucap Aini.
Daffa tersenyum sambil menahan diri agar tidak meleleh.
"Kalo motor butuh bensin, bunga butuh air, kalau aku butuh kamu."
" Butuh apanya?" Ucap Aini sambil berjalan mundur karena Daffa berada di sekitarnya.
" Aku butuh kamu untuk menjadi ibu dari anak anak ku.."
Aini langsung berhenti dan diam mematung.
" Tadi bilang apa?" Tanya Aini saat Daffa sudah berdiri di depan nya.
"Cintaku padamu bukan seluas samudera, tapi bagaikan angka 0 yang terus berputar tanpa ujung."
" Bukan itu."
"Istri adalah tulang rusukmu, ia bukanlah wanita yang bisa engkau suruh-suruh. Perlakukanlah ia dengan kelembutan, maka ia akan lebih lembut dari perlakuanmu."
" Malah ceramah." Ketus Aini sambil kembali berjalan meninggalkan Daffa menuju mobil yang tidak jauh dari sana.
🌸🌸🌸🌸
Mereka sudah ada di tempat tidur dan bersiap untuk tidur, tapi tidak ada satu dari mereka yang bisa memejamkan mata karena sedang ada dalam pikirannya masing-masing.
Aini memikirkan perkataan Daffa yang mengatakan bahwa dia membutuhkan Aini untuk menjadi Ibu dari anak-anaknya. Apa itu artinya siapa sudah siap untuk memberikan apa yang menjadi hak Aini?
Sementara Daffa memikirkan Bagaimana cara dia melakukan percobaan unboxing.
" Aini, apa kamu sudah tidur?" Tanya Daffa. Posisi mereka saling membelakangi sehingga tidak ada dari mereka yang mengetahui apakah salah satunya sudah tidur atau belum.
" Belum." Ucap Aini.
"Aku takut kalau pengen ngajak kamu main. Soalnya kamu nggak pantes diajak main-main. Kamu pantesnya diseriusin."
" Emangnya mau main apa?"
" Main panas panasan.."
" Ini kan malam, mana bisa main panas panasan."
" Bisa lah.."
" Gimana?"
" Sini deh deket aku.."
Aini menggeser tubuhnya hingga menempel pada tubuh Daffa.
" Udah nih. Terus apa?"
" Besok aja udah malem, mak Othor mau tidur. Wakakak...."
" Kok tidur? kan udah pagi ini." Pekik Aini.
" Ya pagi dalam dunia mak Thor, dunia kita kan masih malam."
" Gitu yaa?"
" Iyaa, di up nya pagi tapi mak thor nulisnya tadi malem nunggu bocah tidur."
" Oh gitu?."
" Iyaa, dalam dunia kita emang malem. Tapi sekarang di up nya pagi. Jadi hayuk lah kita tidur aja.." Ajak Daffa.
" Cuus..."
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...