Ajari Aku Selingkuh

Ajari Aku Selingkuh
Bab 55 : Gila


__ADS_3

" Aini, apa kamu sudah siap?" Tanya Daffa.


" Siap untuk apa?"


Daffa mencium kening Aini, lalu turun ke kedua mata hingga mendarat sempurna di bibir Aini.


Aini memejamkan mata, Dia kemudian mengerti arti kata siap yang diucapkan oleh Daffa.


Daffa membantu melepaskan semua pakaian yang dikenakan oleh Aini tanpa melepas bibir nya.


Aini melepaskan bibirnya dan menatap Daffa saat dia akan membuka lembar terakhir yang menutupi dirinya.


" Ada apa?"


" Apa kamu yakin akan melakukan ini bagaimana jika nanti sekretaris dan merasa kecewa?"


" Justru aku yang akan merasa lebih kecewa jika aku tidak berhasil melakukannya malam ini." Pekik Daffa.


" Kalau begitu tunggu apa lagi Ayo segera kita lakukan dan menciptakan suasana baru setelah kita menghabiskan malam bersama." Bisik Aini yang membuat si entong sangat bersemangat.


" Akhirnya kamu akan bisa melihat siapa Si entong yang selama ini aku bicarakan."


" Benarkah?" Tanya Aini.


Daffa kemudian membuka selimutnya dan terlihatlah Si entong yang sudah gagah perkasa dibalik celana pendek yang Daffa kenakan.


Aini membuka celana itu lalu menutupi dirinya dan Daffa dengan selimut.


" Walaupun kita sudah berdua Tapi alangkah baiknya masih ada satu kain yang menutupi tubuh kita."


Daffa langsung bangkit dan berada atas Aini.


" Aini aku tahu mungkin ini terlambat tapi aku harap kamu menerima keterlambatanku ini."


" Bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?" Pekik Aini.


Daffa tersenyum, dia lalu kembali ciuman nya.


Sang tangan rupanya sudah tidak sabar ingin menjelajah apa yang ada di hadapan.


Aini begitu terbuai dengan sentuhan yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya.


" Hmmm, apa se enak ini rasanya.." Lirih Aini.


" Sayang ini hanya permulanya saja ketika kita sudah masuk ke dalam intinya maka kamu akan merasakan keenakan yang hakiki."


" Aku sudah tidak sabar untuk itu.." ucap Aini sambil memejamkan mata.


Daffa sungguh gemas melihat ekspresi dari Aini yang membuatnya semakin ingin terus menikmati apa yang seharusnya dia nikmati sejak dulu.


Daffa sudah berhasil membuat Aini merasakan pemanasan indahnya malam pertama.


" Apa kamu sudah siap?"Tanya Daffa dan Aini mengangguk.


Mulut Daffa terlihat komat kamit.


" Suami apa yang kamu lakukan kenapa kamu terlihat seperti membaca mantra?"


" Sabarlah sebentar, Aku sedang membaca mantra untuk menyalurkan kekuatan sebelum aku melakukan unboxing."


" Unboxing apa?" Tanya Aini.


" Sayang bukankah kita akan melakukan sesuatu yang seharusnya kita lakukan sejak dulu jadi bersabarlah sebentar sebaring aku menyiapkan si entong."


" Tapi ini sudah jam 09.00 pagi apakah kamu akan terus memejamkan mata dan berkomat kami?"


" Tidak, ini masih malam dan kita masih mencoba untuk melakukan penyatuan diri."


" Penyatuan diri apa sebenarnya apa yang kamu katakan?" Ucap Aini.


" Sayang bersabarlah. Kata di awal memang akan terasa sakit tapi ketika sudah menuju pertengahan rasa sakitnya akan berubah menjadi rasa enak yang membuatmu merasa ingin lagi dan lagi."


" Ingin apa sih?"


Tiba tiba saja Daffa bertingkah seperti sedang merasakan sensasi pedas.


Aini terus memperhatikannya hingga Daffa terlihat seperti kerasukan setan pedas.


Aini yang panik langsung mengambil gelas berisi air di sebelahnya dan langsung mencipratkan ke wajah Daffa.


" Ah sayang maaf mungkin goyangan ku terlalu hot sehingga membuat atap rumah kita bocor. Besok aku akan belo noodrop biar gak bocor bocor." Pekik Daffa.


" Astaga sebenarnya ada apa dengan suamiku?"


Aini kemudian membuka selimut dan melihat sesuatu berdiri di balik sana.


Kyaaa !!!!

__ADS_1


Aini reflek menyiram air yang ada ditangannya.


Daffa langsung membuka mata dan melihat si entong sudah basah dengan gelas yang tergeletak di sebelahnya.


Sementara Aini sudah lari untuk mengambil sapu.


Daffa masih belum sadar, dia melihat dirinya sendiri yang masih berpakaian lengkap dan juga menjadi keberadaan dari pakaian Aini. Karena sejauh yang dia ingat dia melempar pakaian Aini ke bawah tempat tidur.


Saat Aini datang membawa sapu barulah Daffa sadar bahwa apa yang terjadi hanya sebuah mimpi.


" Ternyata hanya mimpi..." Lirih Daffa sambil menangis dan berjalan menuju kamar mandi.


Sementara Aini memiringkan kepalanya melihat Daffa menyeret kakinya menuju kamar mandi.


" Dia kenapa yaa?. Apa dia sedih karena aku membangunkan nya yang sedang mimpi makan seblak setan?"


🌸🌸🌸


Di kantor, Daffa tidak bisa fokus dia justru sedang meratapi nasibnya yang hanya bisa terus bermimpi dan membayangkan.


Hingga saat seorang karyawan masuk membawakan minuman. Daffa beranggapan itu adalah Aini yang sedang datang untuk menggoda nya.


" Sayang... Apa kamu mau *****?" Tanya Aini dalam bayangan Daffa.


Sementara yang terjadi di hadapan nya dan Kenzo adalah pegawai itu sedang masuk dan menawarkan kopi atau susu kepada Kenzo dan Daffa.


" Ya aku mau, Kemarilah sayang." Ucap Daffa yang membuat kenzo terbatuk-batuk.


" Uhukk... Uhuk..."


Kenzo melambaikan tangannya di hadapan Daffa namun Daffa justru senyum senyum sendiri dengan satu tangan meraih tangan Kenzo dan menariknya hingga mau tidak mau Kenzo duduk di pangkuan Daffa.


" Kamu boleh keluar." Perintah Kenzo pada pelayan itu.


" Sayang, aku tahu ini bukan saat yang tepat. Tapi aku menginginkan mu. Jadi ayo kita lakukan setengah ronde saja. Yang setengah lagi kalau udah sampai rumah." Bisik Daffa ditelinga Kenzo.


" Astaga, seperti dia sedang kesurupan."


" Tuan bos sadar lah, ini kantor."


" Apa?. Iya kamu benar


Bagaimana kalau kita main di sofa aja?" Pekik Daffa sambil menggendong Kenzo ala koala.


" Sayang kamu berat sekali."


" YA BERAT LAH ORANG KAMU LAGI GENDONG KINGKONG." Ucap Kenzo di telinga Daffa


Daffa yang sadar langsung menjatuhkan kenzo.


" Ya Tuhan sudah dua kali aku dijatuhkan dengan cara seperti ini. Satu kali lagi mungkin aku bisa dapat jodoh." Pekik Kenzo.


" Ken tut sebenarnya apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu selalu saja mencoba untuk menggoda aku. Padahal kan aku sudah resmi menjadi suami Aini."


" Tuan, anda yang mencoba untuk menggoda saya." Pekik Kenzo.


" Coba sini aku lihat mata mu agar aku tahu apakah kamu berbohong atau tidak."


" Apa hubungannya dengan mata?" Tanya Kenzo.


"Katanya mata tidak bisa bohong."


" Ya iyalah kan mata cuman bisa melihat." Ketus Kenzo sambil berdiri dan bersiap untuk pergi.


" Mau kemana?" Tanya Daffa.


" Jonggol."


" Ngapain?"


" Beli terong."


" Buat apa?"


Kenzo memejamkan mata menahan emosi nya sungguh rasanya Kenzo ingin sekali mencakar cakar ayam.


" Kenzo untuk apa beli terong di Jonggol kayak di sini gak ada aja." Ucap Daffa.


" Sudah lah Tuan, saya harus kembali bekerja."


" Ya sudah sana."


Kenzo keluar dari ruangan Daffa dengan perasaan kesal sambil memegangi bokong nya.


" Mungkin sebaiknya aku memasang silikon untuk berjaga-jaga jika Tuan itu melempar ku lagi. Jadi saat aku terjatuh karena di lempar bokongku tidak akan pernah sakit lagi justru akan terpental dengan sendirinya. Tuwing.. tuwing... Tuwing.... Kayak bola nya lala Teletubbies awowkwkwkw."


Daffa yang mengintip dari balik tempat kerjanya langsung mencoba mencari tahu sebenarnya apa yang akan di lakukan Kenzo dengan terong.

__ADS_1


" Apa mungkin Kenzo akan bermain kocok mengkocok dengan terong?"


" Lah emang terongnya dia kenapa?"


" Apa terong nya udah layu jadi Kenzo akan menggantinya dengan terong terongan?"


Daffa terdiam, tiba tiba dia kembali teringat tentang mimpi semalam.


" Sial. Aku kira itu bukan mimpi ternyata mimpi. Argh.... "


Daffa melihat foto Aini, tiba-tiba dalam pikirannya membayangkan Aini datang padanya menggunakan lingerie tipis.


" Aku pasti sudah gila." Ucap Daffa.


Daffa lalu memutuskan menemui Kenzo untuk memastikan apakah terongnya baik baik saja atau sudah layu.


" Kenzo..." Bisik Daffa.


" Kucing bertelor. Ya Tuhan Tuan!!! Bisa tidak anda tidak datang seperti jalangkung."


" Aku kan bos, jadi terserah aku dong mau datang kapan aja. Lagian kelamaan kalau nunggu undangan dari kamu, gimana mau ngasih undangan kalau masih jomblo aja."


Wakakak...


Kenzo menepuk dahinya.


" Ada apa bos kesini?" Tanya Kenzo.


" Kamu sudah beli terong nya?"


Ya Tuhan, jadi dia kesini hanya untuk menanyakan soal terong?


" Kenzo dengar, jika kamu ada masalah dengan milikmu sebaiknya jangan langsung memutuskan untuk bereksperimen dengan terong."


" Tuhan sebenarnya Apa yang sedang anda katakan?" Tanya Kenzo.


" Kamu mau mencoba bermain kocok mengocok dengan terong."


Mata Kenzo membulat sempurna mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Daffa.


" Tuan asal anda tahu yaa milik saya itu sangat kokoh dan kuat."


" Ya kan itu selogan nya semen."


" Tapi sungguh milik saya bisa on 24 jam."


" Wah bagus dong. Kamu bisa pakek buat nerangin rumah biar hemat listrik." Kekeh Daffa sambil pergi meninggalkan Kenzo.


" Ya Tuhan, apa dia akan benar-benar gila sekarang?"


Sepuluh menit sebelum makan siang, Kenzo memutuskan untuk membelikan makanan bagi Daffa.


Saat hendak masuk ke dalam lift. Dia melihat Aini baru saja keluar dari sana.


" Nyonya Bos." Panggil Kenzo.


" Apa kabar Sekertaris Ken?"


" Nyonya bisa saya bicara sebentar dengan anda."


" Apa ini menyangkut Daffa?" Tanya Aini dan Kenzo mengangguk.


" Sudah aku duga dan kebetulan sekali aku juga ingin membicarakan sesuatu tentang dirinya."


" Sebaiknya kita mencari tempat yang aman karena jika sampai Tuan Bos mau bawa saya sedang mencoba untuk mengerjakan dan berbicara maka habislah riwayat saya."


" Gak apa apa. Nanti aku bantu kamu buat nulis riwayat hidup."


Kenzo lalu memutuskan untuk berbicara dengan Aini di sebelah ruangan nya.


"Nyonya apakah akhir-akhir ini Tuan Daffa mengalami hal-hal aneh seperti apa dia tidak sengaja kesurupan atau tidak sengaja walaupun kuntilanak atau memakan sesajen yang ada di pinggir-pinggir jalan?"


" Haha Sekertaris Ken kamu itu lucu sekali bagaimana bisa suamiku memakan sesajen sementara dia selalu menggunakan mobil dalam perjalanan nya."


" Benar juga ya dari aku yang selalu mengantarkannya sampai ke tujuan."


" Memangnya ada apa?"


Kenzo lalu menceritakan apa yang terjadi di kantor hari ini.


Aini terkejut lalu dia juga menceritakan apa yang dialami Daffa pagi tadi.


" Nyonya Bos, sebaiknya kita harus menyelidiki kasus gila nya Tuan Bos."


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2