Ajari Aku Selingkuh

Ajari Aku Selingkuh
Bab 76 : Kejutan tidak menyenangkan


__ADS_3

Daffi baru saja turun dari mobil ketika kedua orang tuanya akan pulang setelah mengetahui bahwa Daffi tidak ada di kantor selama beberapa hari.


" Mama..."


" Daffi..."


" Mama ada disini?"


" Ya kebetulan papa ada urusan bisnis jadi mama memutuskan untuk ikut. Dan kami barusaja ingin menemui kamu." Ucap Mama sambil tersenyum.


Daffi tidak dapat menahan diri lagi, dia berjalan mendekati Ibu dan langsung memeluknya.


" Maafkan aku mom..." Pekik Daffi yang membuat Mama serta Papa nya saling berpandangan.


Mereka kemudian sudah ada di penginapan tempat dimana Mama dan Papa nya tinggal selama di kota.


" Maafkan Daffi ma, selama ini Daffi selalu mengira Mama dan Papa tidak pernah menyayangi Daffi karena Mama selalu mengutamakan Daffa." Ucap Daffi.


Mama dan Papa saling berpandangan, mereka berdua kemudian berfikir mungkin inilah saat di mana keluarganya akan kembali seperti dulu.


" Aku selalu merasa Mama dan Papa menuntut apa yang harus aku lakukan tapi Mama dan Papa tidak pernah melakukan hal yang sama pada Daffa. Aku merasa bahwa mama dan papa mencoba untuk menjadikan aku seperti mereka tanpa melihat sebenarnya apa yang aku inginkan."


"Orangtuamu tidak pernah ingin kamu menjadi seperti mereka tapi mereka ingin kamu menjadi lebih baik dari mereka." Ucap Papa.


" Nak selama ini kami bukan menuntutmu untuk menjadi apa yang kami inginkan tapi kami hanya memberikan pilihan atas apa yang akan kamu jalani. Sama seperti Daffa, kami tidak pernah membedakan kalian kami juga melakukan hal yang sama kepadamu dan juga saudara kembarmu. Kami hanya memberikan jalan memberikan arahan dan jalan mana yang nanti akan kalian pilih itu terserah kalian orang tua hanya mengarahkannya saja.,"


" Aku pikir kalian melakukan itu karena kalian tidak menyayangi aku dan lebih menyayangi Daffa." Ucap Daffi


"Tak ada manusia yang menyayangimu melebihi ibu kamu. Dan dia tetap rela menyayangimu meskipun bukan ia yang paling kamu sayangi." Ucap Papa sambil duduk di samping Daffi.


"Orang tua adalah tempat berlindung seorang anak. Jika sang anak sudah tak merasa aman lagi di sana maka kami harus belajar menjadi orang tua lagi. Karena kami tahu bahwa masih ada satu anak lagi yang belum mendapatkan kebahagiaan dan menjadikan orang tuanya tempat berlindung." Ucap Mama sambil tersenyum.


" Tapi Mama selalu saja marah atas apa yang tidak pernah bisa aku lakukan. Mama selalu kecewa saat aku melakukan kebalikan dari apa yang dilakukan oleh Daffa."

__ADS_1


"Ketika seorang ibu menangis, percayalah, hatinya sudah sangat terluka. Dan percayalah, dia tidak sedikitpun membencimu." Ucap Papa.


Daffi menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


Jadi sebenarnya dululah dia yang menyimpang dari jalan yang sudah ditunjukkan oleh kedua orang tuanya karena Daffi menganggap bahwa kedua orang tuanya lebih menyayangi dan menyanjung Daffa ketimbang dirinya.


Tapi sekarang akhirnya Daffi mengerti bahwa sebenarnya orang tuanya melakukan hal yang sama hanya saja dulu dia terlalu pergi jauh dari jalan yang sudah ditunjukkan oleh kedua orang tuanya.


"Saat kamu tidak mau menerima pendapat orangtuamu mereka hanya diam dan berdoa yang terbaik untuk mu, tapi saat mereka yang tidak bisa menerima pendapatmu kemarahan yang kamu berikan pada mereka."


Ucapan Mama membuat Daffi mengingat hari di mana dia pergi dari rumah dan marah kepada kedua orang tuanya karena merasa bahwa dia diperlakukan sebagai anak tiri.


Daffi langsung bersimpuh di hadapan Ibunya dan memohon ampun serta meminta maaf.


"Mama tahu kamu sakit ketika mama menghukummu, tapi tahukah sakit yang mama rasakan?. Mama jauh lebih sakit ketika kamu tidak dapat meraih apa yang seharusnya sudah kamu raih."


"Sebaik-baiknya anak adalah dia yang mengutamakan kepentingan orang tuanya daripada kepentingan pribadinya. Maafkan aku mama, papa aku berjanji mulai sekarang aku akan memperbaiki sikapku."


Daffi tentu saja merasa senang karena inilah saatnya dia akan memperkenalkan Fiona kepada kedua orang tuanya mengingat rumah Viona dan Aini yang berdekatan.


Namun saat sudah sampai di rumah Aini dan Daffa, Daffi terkejut karena melihat yang ada disana adalah Lala.


" Ma kenapa ada Lala?" Tanya Daffi.


" Nanti kamu juga tahu..."


Daffi merasakan ada sesuatu di balik hadirnya Lala, Daffi melihat ke arah ponselnya di mana Fiona membalas pesan yang dikirimkan Daffi agar Fiona datang ke rumah Aini dan Daffa dengan jawapan iya.


Tak beberapa lama kemudian Fiona datang dengan membawa beberapa macam makanan.


Viona tentu saja terkejut karena di sana juga ada mama dan papa Daffi dan Daffa.


Karena sebelumnya mama dan papa sudah mengenal baik Fiona tentu saja kedatangan Fiona membuat mereka berdua sangat bahagia karena mereka menganggap Fiona sebagai keluarga juga.

__ADS_1


Viona sendiri tidak merasakan apa-apa karena dia menganggap undangan yang dikirimkan Daffi kepadanya adalah undangan makan malam bersama dengan keluarganya.


Hingga kemudian Viona mendengar bahwa kedua orang tuanya mengatakan jika mereka berencana menjodohkan Lala dan Daffi.


" Jadi kenapa Mama mengajak Lala untuk ikut datang ke sini karena Mama ingin Lala dan Daffi menjadi pasangan yang akan menyusul langkah Daffa dan Aini." Ucap mama sambil tersenyum.


" Benar, hari ini juga David sudah membuktikan bahwa dia akan berusaha untuk lebih mementingkan keluarga lagi ketimbang urusan pribadinya jadi papa pikir ini juga waktu yang tepat untuk membahas perihal hubungan Daffi dan Lala." Ucap Papa.


" Tapi pa, aku udah lala adalah sahabat kita adalah teman teman yang melebihi saudara dan tidak akan pernah hubungan kita sampai ke batas itu." Ucap Daffi.


" Mama dan Papa tahu bahwa kalian adalah teman sejak dulu Tapi apa salahnya kalian mencoba untuk kembali melangkah dan membangun hubungan yang lebih dari sekedar pertemanan dan persaudaraan." Ucap Mama sambil tersenyum ke arah Lala yang terlihat memerah.


" Aku rasa Lala juga menyukai Daffi lihatlah wajahnya memerah." Ucap Daffa.


Melihat Daffa yang ikut dalam pembicaraan itu membuat Aini langsung menginjak kakinya.


Daffa langsung melihat arah istrinya itu seolah-olah bertanya ada apa. Aini kemudian mengkode agar Daffa melihat ke arah Fiona yang menunduk.


Daffa kemudian tak sadar jika Fiona menyukai Daffi dan begitu juga sebaliknya karena Daffa melihat Daffi terus saja melihat ke arah Fiona.


" Ehem tapi mama, papa. Aku rasa biarkan Daffi memutuskan siapa yang akan menjadi pasangan hidupnya. Bukankah Mama selalu mengatakan bahwa walaupun kami kembar tapi kami tidak pernah sama dalam hal apapun. Aku rasa Mama tidak bisa menentukan pasangan Daffi seperti ketika Mama menentukan pasangan untuk Daffa." Ucap Daffa.


" Aini setuju ma, Bukankah Mama dan Papa tadi mengatakan bahwa Daffi baru saja berniat untuk memperbaiki diri dan lebih mengutamakan keluarga jadi alangkah baiknya kita membiarkan Daffi memilih sendiri pasangan hidupnya." Ucap Aini.


" Tapi aku mencintai Daffi."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2