
"Tidak ada agama yang menganjurkan orang marah. Sama halnya dengan Islam. Memaafkan adalah cara terbaik untuk menyelesaikan semua masalah dengan keluarga."
Aini masih terdiam sambil memandangi foto ibu dan ayahnya setelah dia mencoba mencari sesuatu tentang masa lalu di kamar sang ibu.
Aini masih tidak bergeming. Rasanya kepercayaan kepada orang tuanya sudah luntur.
Aini merasakan di khianati, dia kecewa kepada sang Ayah karena telah menyakiti ibunya.
Dan kecewa kepada Ibu karena beliau terus menyimpan rahasia pahit ini sampai akhir hayatnya.
Di sisi lain, Aini bangga kepada sang ibu yang berhati mulia, dia bahkan pandai menyembunyikan luka dari anak anaknya hingga tidak ada yang tahu bahwa di balik semua senyum dan kebahagiaan ada luka mendalam.
"Ketika kesedihan menjatuhkan air mata air maka Allah meminta kita untuk berusaha tersenyum." Ucap Daffa sambil mendekati Aini dan duduk di sebelahnya.
"Allah selalu memberikan senyum di balik kesedihan. Allah selalu memberikan harapan di balik keputusasaan." Imbuhnya.
" Aku... aku..."
" Aku ada disini.." Ucap Daffa sambil memegang tangan Aini.
"Kesabaran itu adalah sesuatu yang terpuji kecuali, termasuk kepada anggota keluarga." Lirih Aini.
" Kalau begitu ingatlah bahwa ada aku yang akan selalu memberikan stok kesabaran yang melimpah padamu sehingga kamu akan terbiasa dan mulai menerima kenyataan ini." Ucap Daffa sambil mengangkat dagu Aini sehingga dua mata mereka saling beradu.
"Tidak biasanya saya kehilangan kesabaranku. Tapi kalau saya mulai marah, saya sanggup menjadi menyeramkan." Pekik Aini."
" Karena itulah aku memutuskan untuk datang kesini dan meninggalkan proyek besar. Aku tidak peduli jika tindakan ku ini membuat aku bangkrut dan jatuh miskin asalkan aku tetap bisa menjaga agar istriku tidak berubah menyeramkan." Ucap Daffa.
" Ya walaupun aku penasaran jika istriku berubah menjadi menyeramkan apakah masih terlihat sama cantik nya atau justru lebih terlihat cantik saat menyeramkan."
" Suami... kamu menghina saya?"
" Aku sedang mencoba merayu, apa tidak boleh?"
Aini tersenyum dan langsung memeluk Daffa.
" Terima kasih sudah ada di sini bersamaku, terima kasih karena sudah menjadi sandaran dan menjadi benteng pertahanan agar aku masih tetap bisa mengendalikan diriku."
" Itulah gunanya seorang suami dan istri yang akan saling melengkapi satu sama lain. Jika yang satu sedang dalam keadaan emosi maka yang satunya harus bisa meredam. Begitu juga saat salah satunya sedang mengalami masalah maka yang lainnya tidak boleh pergi mereka harus tetap bersama-sama itulah arti pasangan yang sesungguhnya."
Aini semakin mempererat pelukannya.
" Aku ada disini, Jangan pernah merasa bahwa semua yang ada di sekitarmu sudah menghianatimu. Percayalah pasti akan ada alasan kenapa semua ini terjadi dan baru terungkap hari."
__ADS_1
"Aku terlalu haus kasih sayang, perhatian sejak kepergian orang tua ku hingga aku lupa bagaimana harusnya aku bersikap."
" Kenapa kamu masih belum juga mengerti bahwa kamu masih memiliki aku, suami kamu yang akan selalu melimpahkan kasih sayang dan perhatian."
"Zaman memang sudah berubah tapi manusia tetap sama. Kita tetap butuh cinta, kebahagiaan, dan kehangatan sebuah keluarga." Ucap Daffa kemudian.
"Surga yang nyata saat ini yang bisa kita rasakan adalah rumah kita yang dipenuhi kehangatan dari keluarga kita. Cobalah untuk menerima dia sebagai Ibu sambung mu, atau setidaknya sapa pada saudara mu."
"Kehidupan keluarga bahagia yang ku impikan selama ini seketika sirna ketika masalah tak terduga muncul." Ucap Aini.
" Kalau begitu taman lagi kebahagiaan yang sempat sirna itu. Bedanya sekarang kamu menambahkan pupuk agar kebahagiaan itu bisa semakin tumbuh dan bercahaya."
"Hargailah semua yang ada padamu sekarang, karena kamu tidak akan tahu kapan mereka akan pergi." Ucap Daffa sambil tersenyum.
...----------------...
Tiga hari sudah Aini ada disana tapi selama itu Aini tidak pernah melihat tiga anggota barunya.
Selama itu juga tidak ada yang berani untuk membahasnya lagi. Mereka semua sepakat untuk menunggu hingga Aini sendiri yang memulai pembicaraan.
Hari ini, Daffa pamit untuk pergi keluar sebentar dan meminta Viona untuk terus mengawasi Aini.
" Aku heran deh kenapa setiap mas Daffa atau keluarga Aini pergi mereka selalu mengatakan agar aku mengawasi Aini. Memangnya Aini makhluk yang bisa menghilang jika tidak diawasi?" Pekik Viona sambil berjalan masuk mencari keberadaan Aini.
Lalu Viona melihat jika Aini sedang ada di makam orang tuanya.
" Viona..."
" Ya..."
" Hargailah waktu bersama dengan keluarga, karena jika mereka sudah tidak ada lagi bersama kita yang ada hanya sebuah sesal karena semasa hidup kita kurang menghabiskan waktu bersama mereka."
Viona terdiam, bayangan nya kembali ke masa dimana orang tua nya menangis dan tidak mengijinkan Viona untuk ke kota.
Tapi karena ego sesaat Viona tetap ke kota demi hidup yang lebih baik. Tapi bukannya hidup lebih baik, Viona justru terjun ke dunia kelam.
Beruntung saat dia memutuskan untuk dari basement ke sebuah perumahan elit dia bertemu dengan Aini sehingga sedikit demi sedikit hatinya terbuka.
Aini melihat Viona terdiam.
" Masih belum terlambat bagi kamu untuk memperbaiki keadaan." Pekik Aini sambil tersenyum.
" Menurutmu begitu?"
__ADS_1
" Ya.., tapi sebelum itu apa kamu mau membantu ku?"
" Tentu."
Aini kemudian mengajak Viona untuk masuk ke dalam rumah dan membersihkan kamar yang dulu di tempati orang tua nya.
" Kenapa semua barang-barang nya di masukan ke dalam kardus?" Tanya Viona.
" Karena kamar ini akan ditempati oleh anggota keluarga yang baru." Ucap Aini sambil tersenyum.
Malam kemarin...
Aini memutuskan untuk tidur di kamar orang tuanya, tapi karena Aini tidak bisa tidur airnya memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan rahasia yang memang ada di dalam kamar orang tuanya itu.
Sebenarnya bukan ruang rahasia, tapi sering digunakan untuk membaca buku dan menyimpan berkas-berkas rahasia yang berkaitan dengan kepengurusan panti asuhan.
Aini mencoba mencari sesuatu yang mungkin memang sengaja ditinggalkan oleh orang tuanya sebagai bentuk pesan atau apa saja yang berkaitan dengan munculnya anggota keluarga baru.
Saat Aini merasa lelah karena dia tidak menemukan apapun dan memutuskan untuk berbaring di atas sofa. Pandangannya mengarah kepada loteng.
" Kenapa ayah dan ibu selalu meletakkan buku di atas loteng itu?" Celoteh Aini saat dia masih berumur sekitar 6 tahun dan melihat jika ayah dan ibunya selalu meletakkan catatan di atas Loteng itu."
" Kelak jika Aini dan kakak sudah dewasa dan terdapat sesuatu masalah yang tidak dapat kalian selesaikan kalian bisa mencarinya di sini mana tahu di dalam sini ada sesuatu yang bisa menyelesaikan masalah kalian." Ucap Ibu.
Hal yang sama juga dikatakan oleh ayah hanya bedanya tidak ada yang tahu jika dua orang itu juga meletakkan catatan di loteng.
Ibu berpikir bahwa hanya ibu yang meletakkan catatan untuk anak-anaknya kelak, begitu juga sang ayah.
Saat ini baru menyadari itu dia langsung bergegas menuju loteng dan mencari catatan itu.
Catatan di temukan.
Dengan skill kecepatan membaca Aini mampu membaca catatan milik Ibu dan ayah nya.
Aini menangis sambil memeluk catatan itu dan pagi harinya dia mengunjungi makam orang tuanya untuk meminta maaf.
Ketika Fiona datang Aini berpikir bahwa Fiona memang sengaja dikirimkan Tuhan untuknya agar dia bisa menemani dan menjadi teman penghibur hati di saat seperti ini.
" Terima kasih Viona..." Lirih Aini saat melihat Viona membersihkan barang barang milik orang tua nya.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...