
Ting...
Tong...
Ting...
Tong...
Aini dan Daffa sedang makan saat mereka mendengar suara bell pintu berbunyi.
" Sepertinya ada tamu." Ucap Aini.
" Mana aku tidak mendengar apapun." Pekik Daffa sambil terus makan.
Ting..
Tong..
Ting..
Tong...
" Nah itu bunyinya..." Ucap Aini saat dia kembali mendengar suara bel pintu.
" Aku tidak mendengar suara selain suara hatiku yang memanggil manggil namamu." Ucap Daffa.
" Huh...." Aini melengos pergi.
" Lah dia kabur, padahal aku sudah coba untuk menjadi pria gombal loh.." Lirih Daffa.
Karena tidak ingin makanannya nanti dihabiskan oleh tamu yang datang meskipun Daffa tidak tahu siapa yang akan bertamu tapi Daffa memilih untuk segera menghabiskan makanannya sebelum Aini membawa tamu itu duduk dan bergabung di meja makan.
" Hai tetangga..." Ucap seorang gadis berpakaian minim.
" Walaikumsalam..." Pekik Aini.
" Eh salah yaa.. ya udah aku ulangi lagi yaa..."
Gadis tadi menekan bell pintu kemudian mengucapkan salam.
" Assalamualaikum tetangga."
" Udah telat." Pekik Aini.
" Hehe..."
" Cari siapa dan ada keperluan apa?" Tanya Aini.
" Begini, aku tetangga baru dan karena aku baru, masih new dan segelan aku belum memiliki tetangga."
" Udah nikah?"
" Kalau nikah belum, tapi kalau kawin udah."
" Ha?" Aini sedikit loading karena baginya nikah dan kawin adalah hal yang sama.
Sementara bagi gadis itu nikah dan kawin adalah dua hal yang berbeda.
" Maksud nya???" Tanya Aini.
" Ya kawin masak enggak tahu kawin sih. Itu lo kegiatan ber ehem ehem."
" Emm ya, nanti aku cari tahu sendiri aja, ngomong-ngomong ada perlu apa kemarin."
" Lah kok tanya lagi sih bukannya aku sudah mengatakan jika aku masih belum mempunyai tetangga jadi aku datang ke rumahmu karena ternyata rumahmu yang paling dekat dengan rumahku karena aku ingin berkenalan dan memiliki seorang teman di sini. Dan lihat aku membawa makanan." Ucapnya.
__ADS_1
" Wah baik sekali dan kebetulan aku juga sedang makan, bagaimana kalau kita makan bersama di dalam?"
" Jadi apa kamu mau menerimaku sebagai tetangga?"
" Tentu saja, bukankah kita harus hidup bertetangga karena kita selalu membutuhkan tetangga, terutama saat kita berpulang ke Rahmatullah."
" Hehe..., namaku Viona."
" Panggil saja aku Aini."
Keduanya kemudian masuk ke dalam dan menuju dapur.
Aini terkejut karena Daffa sudah menghabiskan seluruh makanan yang ada di sana.
Viona terkejut karena melihat pemandangan spektakuler di depannya. Bagaimana tidak terkejut, Daffa adalah sosok paling tamvan yang pernah Viona temui. Postur tubuhnya yang gagah perkasa...
Ah Viona jadi membayangkan betapa perkasanya sang raja perkasa. Belut Belitung.
" Halo apa kamu baik-baik saja?" Tanya Aini.
" Dia siapa?" Tanya Viona yang masih termenung dengan bayangan nya sendiri.
" Dia suamiku."
" Oh maaf. Assalamualaikum suaminya tetangga."
" Sudah aku bilang panggil aku Aini."
" Iya maaf kadang kadang otakku suka loading kalau lagi laper."
" Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita duduk dan makan. Aku juga penasaran apa yang kamu bawa, apakah itu aman di makan." Tanya Aini sambil melirik rantang yang dibawa Viona.
" Ini?, Tentu saja ini sangat aman dimakan karena aku sendiri yang memasaknya. Aku adalah lulusan master chef Indonesia loh."
" Iya dan Aku pastikan bahwa makanan yang aku bawa ini sangat aman dan layak untuk dimakan."
" Sudah bersertifikat Halal?" Tanya Aini yang membuat Daffa menahan tawanya.
" Belum, masih proses..."
" Proses ke...?"
" Proses masuk ke dalam mulut."
" Ha?"
" Ya jadi setelah makanan ini masuk ke dalam mulut tetangga pasti akan mengatakan bahwa makanan ini sangat halal dan sudah bersertifikat."
Aini mengenal nafas panjang sebelum akhirnya Aini mengajak Fiona untuk duduk.
Fiona mulai membuka satu persatu rantang makanan yang dia bawa.
Cumi pedas manis...
Udang saus tiram..
Dan Mr.Crab bumbu kemangi.
Daffa melihatnya seperti dirinya yang belum makan selama berhari-hari dan membuat air liur nya menetes.
" Suami, kondisikan air liurnya. Nanti kalau terjatuh di makanan kan bahaya."
" Memangnya aku penyebab virus rabies apa."
" Jangan bertengkar lebih baik dimakan saja dan rasakan kenikmatan nya, uhhh... yaa .." Ucap Fiona sambil bergeliat.
__ADS_1
" Kamu kenapa?" Tanya Daffa.
" Gak apa apa, aku hanya sedang meregangkan otot-otot dalam tubuh."
" Oh Aku pikir kamu sedang mengalami gatal-gatal."
" Pfff, gatal..." Kekeh Aini.
Daffa dan Aini mulai mencoba makanan yang dibawa oleh Viona dan betapa terkejutnya dia sangat mengetahui bahwa rasanya tidak kalah enak dengan restoran berkelas dan juga makanan yang ada di TV TV.
" Aini kamu belum mengenalkan suamimu kepadaku."
" Ah iya maaf saking enaknya makanan yang kamu bawa aku jadi lupa untuk mengenalkan kalian. Suami ini adalah Fiona tetangga baru kita dan Fiona ini adalah suamiku Daffa."
" Hai Tuan Tamvan, eh maksudnya Tuan Daffa." Ucap Fiona sambil memainkan kedua matanya.
" Loh matanya gatal ya?" Tanya Aini
" Iya minta di garuk." Imbuh Daffa.
" Suami kamu kerja apa?" Tanya Viona.
" Wakil rakyat mungkin." Pekik Aini.
"Kalau aku jadi wakil rakyat aku pasti gagal." Ucap Daffa.
" Lah kenapa?" Tanya Aini dan Fiona hampir bersamaan.
"Gimana mau mikirin rakyat, kalau yang selalu ada di pikiranku hanyalah kamu istriku.."
" Ah...." Daffa mencoba untuk menggombali Aini Namun ternyata yang meleleh adalah Fiona.
"Viona, kalau cari pasangan itu jangan liat dari kegantengannya, tapi dari matanya, mata pencahariannya." Ucap Aini.
" La kenapa?"
" Ya nanti nasibmu seperti aku dapat pasangan ganteng tapi mata pencahariannya pegombal." Kekeh Aini.
"Biasanya cewek yang masih sendiri itu belum punya pacar. Biasanya." Ucap Daffa.
" Ya kan memang masih belum punya pacar mangkanya sendiri." Ucap Aini sementara Viona masih terus memperhatikan cara dapat melahap Mr krab. Viona terus memperhatikan Bagaimana lidah Daffa mencari celah untuk mendapatkan sesuatu yang sangat nikmat di balik cangkang keras yang dimiliki oleh Mr. Krab.
" Viona udah punya pacar?" Tanya Daffa yang langsung membuat Fiona tersadar dan kembali pada dunia nyatanya.
" Hmmm, punya sih tapi kata pacar itu hanya berlaku untukku."
" Kenapa?"
" Hmm..., Udah sering antar-jemput. Udah sering hang-out bareng. Udah sering makan siang dan makan malam bareng. Ternyata, cuma dianggap sebatas teman. Sedih deh!" Ucap Viona sambil kembali bergeliat seperti cacing yang disiram air garam.
" Viona Sebenarnya kamu tuh kenapa sih kamu gatal ya?"
" Iya aku gatal karena ulat bulu yang ada di balik sana.." Pekik Fiona tanpa sadar.
" Maksudnya?" Tanya Daffa dan Aini secara bersamaan.
" Maksudnya aku terkenal ulat bulu dari tanaman yang ada di depan pagar rumahku." Ucap Fiona.
Ya Tuhan aku pasti gila karena aku sudah membayangkan suami orang lain. Tapi Tuhan, jika dia jodohku, dekatkanlah. Tapi, jika dia bukan jodohku, aku rela dia Engkau memberiku laki-laki yang mirip dengannya, jadi aku mohon Tuhan kirimkan aku satu yang seperti dia"
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1