
" Amarah takkan membawamu kemana-mana, ia hanya akan membuat keadaan semakin parah." Ucap Aini saat dia melihat Daffa pulang dengan penuh perasaan kesal.
" Tadi aku ditilang."
" Kenapa?" tanya Aini penasaran.
"Karena aku gak punya SIM."
" Masak sih, bukannya SIM selalu ada di dalam dompet kamu ya?"
" Bukan SIM mobil."
" La terus?"
" Surat ijin mencintaimu."
" Huuu gombal, udah gak mempan. Sana mandi aja." Pekik Aini.
" Gak mempan ya?"
" Gak."
" Kalau surat ijin membuat anak mempan gak?"
" Lama lama aku goreng kamu yaa..." Keluh Aini sambil memperlihatkan wajan yang panas karena Aini sedang menumis cumi cumi pedas manis.
" Nasib nasib, punya istri galak amat gak bisa diajak romantis dikit."
Aini terkekeh melihat Daffa yang menarik paksa kakinya untuk naik ke lantai dua.
" Yang benar saja sekarang dia jadi lebih sering berkata gombal tapi di saat yang tidak tepat."
Setelah selesai masak, Aini naik ke lantai atas untuk melihat apakah Daffa sudah selesai dengan mandinya.
Aini menggeleng gelengkan kepalanya saat melihat handuk yang seharusnya Daffa bawa ke kamar mandi justru tergeletak di atas tempat tidur.
" Heran ya. Sebenarnya apa yang dia lakukan sebelum masuk ke dalam kamar mandi kenapa handuknya bisa tertinggal disini."
Aini lalu berjalan menuju kamar mandi dan tepat saat Aini sudah berada di depan pintu Daffa membuka pintu.
" Mencari ini?" Tanya Aini sambil memperlihatkan handuk di tangan kanannya.
" Heheh, Hal yang paling membahagiakan di dunia ini ketika kita berdua sama-sama saling mengerti dan mencinta."
" Haduh jangan mulai lagi deh mendingan cepetan aku udah mulai lapar."
__ADS_1
" Baiklah istri ku..."
Aini tersenyum lalu berjalan keluar dari kamar untuk menutupi wajahnya yang memerah.
"Jangan pernah menyerah dengan hubungan ini meski kita harus belajar memahami ribuan kali." Pekik Aini yang sangat yakin jika apa yang sedang terjadi kepada suaminya adalah proses menuju kenormalannya menjadi suami yang seutuhnya.
Setiap malam, saat ini terbangun di sepertiga malamnya dia selalu berdoa sambil melihat wajah suaminya dan berharap suaminya akan segera mendapatkan kembali ke perkasaannya.
Aini juga wanita yang menginginkan pernikahan yang sempurna di mana kedua suami istri sudah bersatu secara lahir dan batin.
Untuk beberapa bulan terakhir ini Aini tentunya sangat bahagia karena zakat sudah mulai menunjukkan perubahan.
Dokter R dan Kenzo sudah pernah memberitahu sedikit tentang kondisi data kepada Aini saat ini baru saja pulang dari makan siang bersama dengan Dafa di kantornya.
Mereka mengatakan bahwa sebenarnya keperkasaan dari Dafa sudah normal dia hanya butuh sesuatu setruman untuk membangkitkan tenaga listriknya. Jawaban yang didapat dari dokter R dan Ken saat ini bertanya tentang kondisi dari suaminya.
Aini sudah duduk di meja makan ketika Daffa turun dan bergabung dengannya.
"Sebaik-baiknya cinta adalah pernikahan dan sebaik-baiknya mencintai adalah saling mendoakan. Jadi, jangan terbawa emosi terus, ya."
" Siapa yang emosi?" tanya Aini.
"Kamu kan, padahal tadi aku cuma mencoba untuk menyampaikan kata-kata puitis yang aku temukan di pinggir jalan tapi ternyata kamu justru menanggapinya dengan emosi."
" Haha, kayak sampah aja nemu di pinggir jalan."
" Ohya?"
" Ya, seperti halnya diriku walaupun casing ku terlihat begini-begini saja tapi jauh di dalam hatiku ada keinginan untuk sesuatu yang bahkan aku sendiri ragu untuk memulainya." Ucap Daffa yang secara tersirat ingin mengatakan kepada Aini bahwa sebenarnya dirinya sudah siap untuk menjadi suami yang sempurna tapi dia masih ragu apakah keperkasaannya bisa bangkit ketika Dafa mencoba untuk memulainya.
"Hal terbaik yang dibawakan hidup bagiku adalah kamu. Terima kasih telah menjadi partner untukku selama ini." Ucap Aini sambil berjalan mendekati Daffa ketika dia sudah selesai mencuci piring.
" Kamu adalah orang yang mampu mengendalikan diriku atas kemarahan yang menguasai diriku. Kamu adalah penyangga saat diriku sudah tidak dapat lagi menahan robohnya pertahanan hati ketika aku tidak bisa menerima kenyataan pahit yang terjadi begitu saja di dalam hidup."
"Sebaiknya kita sholat isya berjamaah.," Pekik Daffa saat Aini sudah berada di hadapannya.
Daffa sangat gugup dan merasakan ada sengatan setrum yang mengalir dalam tubuhnya ketika dirinya sedekat itu dengan Aini.
Aini tersenyum lalu menggandeng tangan suaminya naik ke lantai atas untuk bersiap sholat.
" Kayak anak TK aja tangan nya di gandeng." Kekeh Daffa.
" Ya, ini salah satu tanda bahwa kamu adalah milikku dan aku tidak akan membiarkan siapapun menggenggam tangan ini selain diriku.," Ucap Aini yang membuat Daffa meleleh.
Mereka berdua melakukan sholat dengan hikmah.
__ADS_1
"Setiap detak jantungku adalah milikmu, setiap sinar matahari datang darimu, dan setiap hembusan udara yang aku hirup, aku hirup untukmu." Ucap Daffa sambil mencium kening Aini ketika mereka sudah selesai melakukan sholat isya.
" Kirain udara yang kamu hirup adalah oksigen." Kekeh Aini.
" Bukan tapi karbondioksida." Ketus Daffa sambil beranjak dari tempat di duduknya untuk meletakkan sajadah serta topi. Aini tersenyum melihat Daffa yang sepertinya mulai ngambek.
Aini berjalan menuju kamar ganti, sementara Daffa memilih untuk berada di balkon rumah mereka, melihat padatnya ibukota saat malam hari.
Daffa baru menyadari alasan kenapa Aini lebih senang berada di sini ketika malam hari itu karena dari atas rumah mereka lampu-lampu jalanan dan juga lampu-lampu rumah serta kendaraan terlihat sangat indah.
"Tahukah kamu apa arti kebahagiaan bagiku? Kebahagiaanku adalah menunggu kamu setelah seharian bekerja keras, memasak makan malam yang lezat, merawat kamu ketika sakit dan mendukungmu di saat-saat kemenangan. Mulai sekarang, kita memiliki takdir yang sama dan satu hati untuk dua orang."
Daffa berbalik karena dia mendengar suara Aini.
Subhanallah....
Daffa tidak bisa berkedip melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Jangan kan untuk berkedip, untuk bernafas dan menelan air liurnya saja Daffa tidak mampu.
Bagaimana bisa Daffa melakukan itu semua sementara di hadapan nya berdiri Aini dengan menggunakan pakaian yang sangat tipis, walaupun pakaiannya tidak terawangan tapi pakaian itu mampu membangkitkan otong otongan.
Daffa berjalan mendekati Aini sambil menutup jendela tanpa melihatnya, Daffa menutup dengan kedua tangan di belakang sementara matanya tidak lepas menatap Aini.
"Menjadi cinta pertama seseorang mungkin menyenangkan, tapi menjadi cinta terakhir mereka jauh di luar sempurna. Aku cinta kamu istri ku." Ucap Daffa sambil memegang pipi Aini.
"Aku memiliki suami yang baik dan penuh kasih. Membuat aku merasa sangat dicintai dan istimewa. Aku ingin membalas budi manis dengan memberi tahu kamu betapa kamu harus dihargai dan dicintai. Aku juga mencintaimu suamiku."
" Tidak pernah kubayangkan akan memiliki istri seperti dirimu yang mau menerima segala kekuranganku."
" Sama sepertimu yang menutupi kekuranganku atas amarah dan kesedihan yang selalu tidak pernah dapat aku kendalikan."
"Kamu adalah secangkir kopi hangat di pagi hujan, selimut lembut di malam yang dingin, pelangi setelah badai dan sauna di akhir minggu yang sulit. Kamu adalah cinta, gairah, dan kenyamanan hidupku." Ucap Daffa sambil berjalan maju dan membuat Aini mundur hingga mereka sama sama terjatuh di atas tempat tidur.
"Aku mencintaimu apa adanya, semua yang telah kamu lakukan dan semua yang akan aku lakukan." Ucap Daffa.
Aini memejamkan mata saat bibir Daffa mendarat di keningnya lalu ke bagian wajah lainnya.
Suamiku tersayang, kamu telah melakukan sesuatu yang selalu membuatku berterima kasih. Kamu memberi saya hadiah dengan hidup baru, yang merupakan kelanjutan dari cinta kita. Kamu membuat hidupku lebih bermakna.
Istriku cintamu adalah dokter untuk lukaku, teman kesedihanku, mentor dilemaku, guru untuk tindakanku, pendamping kegembiraanku.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...