
Daffa menunjukkan mana surat wasiat asli dan palsu yang dibuat oleh almarhum ayah Aini.
Ibu kelagapan dan menyalahkan ketiga orang yang saat ini masih terduduk di lantai.
" Mereka pasti sudah mengubah surat wasiat itu karena memang mereka sejak awal menginginkan panti asuhan ini." Ucap Ibu sambil menunjuk ke tiga orang yang semakin menunduk itu.
Mereka tidak menyadari jika akhirnya merekalah yang akan dijadikan kambing hitam oleh Ibu.
"Mengakui kesalahan diri adalah salah satu sikap yang paling berat untuk dilakukan. Terlebih jika yang melakukan kesalahan tersebut adalah orang yang memiliki kedudukan atau jabatan tinggi, atau merupakan tokoh besar. Tentu mereka akan akan enggan mengakui kekhilafan diri. Bahkan, tidak sedikit yang mencari kambing hitam atas kesalahan yang diperbuatnya." Ucap Akbar kemudian.
"Hanya orang besar dan yang berlapang dada lah yang berani mengakui kesalahan diri atau kekhilafannya. Mengapa demikian? Karena setiap orang memiliki hasrat untuk dianggap penting dan hebat oleh orang orang lain. Oleh sebab itu, mereka beranggapan bahwa dengan mengakui kesalahan diri maka harkat dan martabat mereka akan menurunkan. Tentu ini akan merugikan citra mereka. " Imbuh Akbar.
" Konspirasi ini benar-benar melukai hatiku. Bawa semua orang yang ikut terlibat dan menikmati dana dari donatur yang seharusnya menjadi hak dari penghuni panti asuhan ini." Ucap Aini sambil memijat keningnya.
Ketiga orang itu saling berpandangan kemudian mereka mengerti bahwa Aini meminta mereka untuk mengajak orang yang juga ikut menikmati aliran dana dan bergabung dalam konspirasi yang diciptakan oleh ibu dan dua anaknya itu.
Tak lama berselang, ketiga orang itu kembali dengan 5 orang lainnya.
" Pak Ahmad..." Pekik Yuli.
Aini menoleh, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Pak Ahmad berada dalam lingkaran konspirasi itu.
Pak Ahmad adalah sahabat dan juga orang yang dipercaya almarhum ayah dan ibu Aini untuk membantu mengawasi pergerakan dari dana dan juga fasilitas yang akan diterima oleh para penghuni panti asuhan terutama para balita.
" Pak Ahmad?" Pekik Aini.
Pak Ahmad langsung mendatangi Aini dan bersujud di hadapannya.
" Maafkan aku Aini... Maafkan aku, untuk sesaat aku tergoda dengan apa yang dijanjikan oleh mereka Maafkan aku Maafkan Aku..."
__ADS_1
" Bangunlah, anda tidak pantas berlutut di hadapan saya karena saya jauh lebih mudah dari anda."
Degh !!!
Semua orang yang ada di sana menjadi tergantung karena ketika Aini sudah mengatakan kata anda dan saya itu artinya dia sudah berada di puncak kemarahannya hanya saja dia menunjukkan kemarahannya dengan cara yang lain, tidak seperti mereka yang langsung berkata menyakitkan dan dengan nada yang tinggi.
"Barangsiapa pernah melakukan kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya maupun sesuatu yang lain, maka hendaklah dia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi [hari kiamat]. [Kelak] jika dia mempunyai amal saleh, akan diambil darinya seukuran kezalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan [lagi], akan diambil dari keburukan saudaranya [yang dizalimi] kemudian dibebankan padanya.” [H.R. Al-Bukhari] Rasulullah Saw. mengajari kita untuk berani mengakui kesalahan." Ucap Aini kemudian.
"Muslim sejati adalah orang yang tidak pernah menzalimi orang lain, baik dengan lidah maupun dengan tangannya sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Orang muslim [sejati] adalah orang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari [gangguan] lidah dan tangannya.” [H.R. Bukhari dan Muslim]."
Semua yang ada disana terdiam. Daffa sendiri melumu karena dia melihat Aini pada sisi yang berbeda. Daffa tahu antara kemarahan dan kekecewaan menjadi satu dalam tubuh Aini tapi Aini bisa tetap mengontrolnya sehingga kekecewaan dan kemarahan itu tidak meluap-luap.
" Jangan merasa menjadi yang paling tinggi dan benar Aini. Ingat bahwa kamu juga manusia biasa yang mungkin pernah melakukan kesalahan jadi jangan menganggap bahwa kesalahan yang kami lakukan ini terlampau besar sehingga kamu merasa bahwa kamulah yang paling benar dan kamu yang paling berkuasa." Ucap Ibu.
" Benar, jangan lupakan bahwa sekarang seluruh aset dan juga panti asuhan ini sudah menjadi milik kami dan sudah kami balik nama menjadi hak milik kami."
" Benarkah?, Lalu bagaimana kalian akan menjelaskan tentang ini?" Ucap Daffa sambil membawa berkas kepemilikan yang asli.
" Siapa kalian?" Tanya Ibu.
" Ah iya bagaimana bisa aku lupa mengatakan kepada ibu. Maaf Bu seharusnya aku mengatakan kepada Ibu dari awal sehingga ketika ibu akan mencoba melakukan konspirasi seperti ini Ibu bisa berpikir dua kali sebelum melakukannya." Ucap Aini.
" Apa maksud kamu?"
" Karena kearifan dan keramahan dari almarhum ayah dan ibu membuat mereka disegani oleh semua orang bahkan dari semua kalangan termasuk para gangster dan mafia. Mereka dengan senang hati menawarkan diri untuk menjadi pelindung pelapis dari mereka yang akan menjahati panti asuhan dan juga dari mereka yang berkhianat." Ucap Akbar mewakili Aini karena melihat Aini merasakan sesuatu yang mungkin menyakiti dirinya.
" Aku tidak percaya ini pasti bagian dari drama yang akan kamu mainkan untuk menyingkirkan aku karena kamu tidak menerima bahwa sekarang seluruh harta kekayaan dari almarhumah ayah dan ibu kamu menjadi milik kami." Ucap Ibu.
" Ibu bisa tanyakan kepada Pak Ahmad dan juga rekan-rekan Ibu lainnya yang ikut dalam konspirasi yang ibu ciptakan." Ucap Yuli.
__ADS_1
" Hei kamu kenapa kamu diam saja dan kenapa muka kamu terlihat ketakutan. Bukankah ini hanya drama yang dimainkan oleh Aini dan juga saudaranya." Ucap Ibu.
Tapi tidak ada dari mereka yang mau menjawab karena memang apa yang dikatakan oleh Akbar dan Yuli benar adanya.
" Semua sudah siap." Ucap seseorang bertubuh besar kepada tiga orang yang sudah berdiri di belakang Ibu dan dua anaknya.
Tanpa disuruh Pak Ahmad dan beberapa rekan yang lainnya langsung berjalan mengikuti orang-orang besar itu.
" Hei kalian mau kemana?" Tanya ibu.
" Kami sudah melakukan kesalahan dan kami harus ikut untuk melakukan penebusan dosa yang sudah kami perbuat." Ucap Pak Ahmad.
"Tidak ada malapetaka yang lebih buruk daripada keinginan untuk memiliki segala sesuatu yang pernah ada. Menyedihkan, tapi benar." Ucap Aini sambil berlalu pergi.
Sepertinya hari ini sudah cukup bagi Aini dan membiarkan urusan orang-orang yang berkhianat dan melakukan konspirasi menjadi urusan mereka yang sudah perbaiki hati mau mengurus mereka yang berkhianat.
Ibu dan dua anaknya memilih untuk berlari dan mengunci diri di dalam kamar karena mereka tidak ingin ikut bersama dengan orang-orang yang tampak menyeramkan itu.
Daffa dan Yuli memilih untuk membiarkan mereka terlebih dahulu karena mereka akan fokus kepada Aini yang terlihat sudah merasakan sesuatu.
" Aini apa kamu baik-baik saja?" Tanya Daffa.
" Aku baik..." Ucap Aini sambil tersenyum kemudian pandangannya menjadi kabur..
Brak!!!
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...