
"Perselingkuhan terjadi bukan karena ada niat, tapi perselingkuhan terjadi karna istri aku masih laku." Pekik Daffa yang membuat Aini dan Kenzo terkejut.
" Hai suami."
" Halo Tuan Bos."
" Ckckck, ternyata begini ya kelakuan kalian saat di depanku?"
" Aini, kamu istri ku lo. Gimana ceritanya kamu bisa main dengan dia. Dia pakai terong lo, memangnya kamu gak takut kalau nanti terongnya keluar ulet? Hiii menggelikan."
Aini melongo, dia Tentu saja tidak mengerti kemana arah pembicaraan dari Daffa.
"Kamu Kenzo. Jomblo tidak harus malu. Jomblo bukan berarti tidak laku, tapi memang tidak ada yang mau."
" Tuan Bos, sepertinya anda sudah salah paham." Ucap Kenzo.
"Pepatah bijak berkata 'tidak akan pernah ada kata terlambat untuk belajar'. Berarti belajar mencintai pacar orang juga masih bisa. Tapi jangan harap kamu bisa menggoda Aini karena Aku saja belum sempat menggoda dia kenapa jadi kamu duluan. Suaminya kan aku, jadi seharusnya memang aku dulu yang menggoda bukan kamu." Ketus Daffa sambil menarik tangan Aini untuk pergi menjauh dari Kenzo.
" Jadi sekarang aku pacar kamu?" Tanya Aini sambil mengedipkan mata saat mereka sudah ada di ruangan Daffa.
" Pacar kalau di kantor dan istri kalau di rumah." Ucap Daffa santai sambil duduk di kursi kebesarannya.
Aini tersenyum lalu meletakkan nampan di atas meja dan berjalan menuju Daffa.
Pluk...!
Aini duduk dipangkuan Daffa, gerakan tiba tiba itu tentu saja membuat Daffa seperti kesetrum.
" Apa yang kamu lakukan?. Bukankah kursi di ruangan ini banyak?. Kenapa memilih duduk di pangkuanku?"
" Katanya aku adalah seorang pacar ketika aku berada di kantormu dan seperti inilah yang dilakukan oleh pacar."
" Kaa....ta si...apa?" Tanya Daffa sedikit gagap.
" Kata aku."
" Kamu kata siapa?"
" Kata pilem di tipi tipi."
" Lalu apa yang dilakukan dalam adegan yang kamu lihat?"
Aini mendekati Daffa dan berbisik.
" Aku mencintaimu, Ayo kita bercinta."
Mata Daffa hampir saja copot mendengar bisikan itu. Dia menatap Aini dengan tatapan intensif.
" Kenapa dia saja?" Tanya Aini.
" Aku tidak bisa melakukannya, ini masih di kantor."
Aini mengkerutkan dahinya mendengar apa yang baru saja dikatakan Daffa.
" Memangnya kenapa jika ini di kantor bukankah kita hanya akan melakukan makan siang?"
" Tunggu apa, bukankah tadi kamu mengatakan bahwa kamu akan mengajak aku untuk....."
Daffa memejamkan mata saat dia menyadari bahwa yang dia dengar tadi hanyalah halusinasi dan khayalannya saja.
" Memangnya kamu mendengar Aku mengatakan apa aku kan hanya mengatakan jika aku datang ke sini untuk mengajakmu makan siang bersama Aku sudah lapar."
__ADS_1
Daffa terlihat salah tingkah Karena dia sudah salah menduga dan berpikiran bahwa Aini akan mengajaknya bercinta sekarang.
Aini lalu turun dari pangkuan Dafa dan segera membuka rantang makanan serta menatanya di atas meja.
Sepertinya aku benar-benar sudah gila karena terlalu membayangkan hal gila.
" Biasanya aku yang selalu mementing doa sebelum kita makan sekarang gantian dong kamu yang memimpin doa agar aku merasa bahwa kamu benar-benar suami aku." Pekik Aini.
" Siap laksanakan."
Aini kemudian mulai memejamkan mata dan bersiap untuk mendengar doa yang akan diucapkan oleh Daffa.
"Demi mengenang mantan yang telah move on mendahului kita, mengheningkan cinta, mulai!"
" Bismillahirohmanirohim allahumma bariklana fima rozaktana wakina adzabannar amin." Ucap Aini dengan kecepatan tempur yang sangat hebat lalu mulai memakan makanan yang ada di sebelahnya.
" Kamu kenapa?" Tanya Daffa.
" Ya kamu orang aku suruh kamu membacakan doa sebelum kita makan kenapa kamu justru mengajak aku untuk mengheningkan cipta mengingat mantan kamu." Ketus Aini.
" Maaf maaf, aku benar-benar tidak fokus tadi jadi bisakah kita mengulanginya lagi?"
" Sudah terlambat lebih baik cepat makan karena aku sudah merasa sangat lapar."
" Baiklah..."
" Aini..."
" Hem?"
"Heran sama peneliti yang susah payah nyari situs purbakala sampai gali tanah, padahal tinggal buka Google terus ketik 'purbakala'."
Aini meletakkan sendok dan juga piringnya lalu sedikit bergeser agar dia bisa dekat dengan Daffa.
" Wah iya boleh juga kata kamu, bisa aja kan mereka mengambilnya dari Italia dari Prancis atau dari planet dinotaurus."
" Hadeh suami aku jadi meragukan apakah dulu kamu menempuh jalur pendidikan atau dari bayi kamu sudah disulap menjadi orang yang memimpin perusahaan."
" Aini Pendidikan adalah pintu kesuksesan dan tidak mungkin aku langsung sukses tanpa melalui jalur pendidikan dan Mencontek adalah kuncinya."
" Kenapa kamu menatapku seperti itu. Bukankah apa yang aku katakan benar?. Aku benar kan?" Tanya Daffa.
"Cobalah bertanya pada rumput yang bergoyang dan betapa kamu akan dianggap gila." Ketus Aini sambil kembali melanjutkan makan.
" Aku tidak akan melakukannya."
" Kenapa?"
"Kita hidup di zaman kalau pas salah dimarahin dan dimaki, kalau pas bener dibilang tumben."
" Aini..."
" Ada apa lagi?"
" Kamu tahu nggak sih kalau aku itu sangat mencintai kamu."
" Hemm..."
" Kira-kira wajar nggak sih kalau aku tuh cinta sama kamu. Cinta yang semakin hari semakin bertambah atau mungkin cintaku Ke kamu itu seperti air galon isi ulang yang tidak akan pernah ada habisnya."
"Mencintai aku itu wajar, yang gak wajar mencintai bapakmu."
__ADS_1
" Pfffftttt, lucunya kalau aku mencintai Bapak aku sendiri yang ada malah kita akan main perang-perangan."
" Sebenarnya kamu tuh kenapa sih kamu salah minum obat atau kamu habis disentil sama dedemit?"
" Kamu itu yang kenapa. Kayaknya salah terus aku di matamu, besok pindahlah aku di hidungmu."
" Sudah sudah. Ini sebaiknya kamu makan makanan ini agar otak kamu penuh dengan gizi yang seimbang." Ucap Aini sambil menambahkan beberapa sayur dan juga ikan ke dalam piring Daffa.
"Bukan makanan saja yang harus memiliki gizi yang seimbang, tapi hati ini perlu penyeimbang. Penyeimbangnya ya kamu."
" Memangnya kamu pikir aku ini timbangan sehingga aku harus jadi penyeimbang kamu?"
" Yaa kan tadi aku coba buat ngegombalin kamu masa kamu nggak peka sih?"
Aini hanya menatap Dafa karena sebenarnya dia sudah sangat gemas ingin *******-***** Dafa seperti kertas ulangan yang hasilnya 0.
"Tatapanmu memanglah sederhana, namun dapat mengalihkan dunia."
Aini mempercepat tempo makannya lalu segera menyuapi Daffa agar dapat segera menghabiskan makanannya dan tentunya agar tidak lagi mengeluarkan kata-kata yang bahkan dia sendiri tidak mengerti apa artinya.
Dia bilangnya menggombal tapi bagiku justru terdengar seperti.... Ah sudahlah lebih baik aku pulang sebelum aku benar-benar ikutan menjadi gila sepertinya.
" Aku pulang dulu yaa.."
" Mau diantar gak?"
" Gak usah."
" Yah kenapa?"
" Besok besok aja kalau kamu udah kembali menjadi Daffa yang normal."
" La sekarang memang aku gak normal."
" Bukan nggak normal tapi belum."
Aini kemudian mencium punggung tangan dari Dafa sebelum akhirnya dia pulang.
" Assalamualaikum..."
" Walaikumsalam..."
"Hati-hati di jalan. Hatinya jangan jalan-jalan. Ingat, ada hati yang lagi dijalani."
Aini berbalik dan menatap Daffa sambil berkata.
" Gak jelas."
Daffa tersenyum melihat Aini.
" Hahhhh, Jatuh cinta itu pakai perasaan. Peliharanya pakai penghasilan. Aku jadi ingin memberikan seluruh penghasilanku agar cintaku tetap terpelihara olehnya." Pekik Daffa.
"Cinta itu bagai jam pasir. Ketika hati terisi, otak mulai kosong. Sama seperti otakku yang mulai kosong saat aku berada di sampingmu."
" ARGHHH.... KAPAN AKU BISA MENIKAMNYA TUHAN ...." Teriakan Daffa yang membuat semua karyawan yang ada disana langsung berhamburan dan melihat apa yang terjadi di balik kaca tidak terlihat dari luar itu.
" Haduh sekarang apa lagi yang dilakukan oleh Bos gila itu."
Ups maaf...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...