Ajari Aku Selingkuh

Ajari Aku Selingkuh
Bab 72 : Tambah lagi..


__ADS_3

" Sayang, bagaimana kalau kita tinggal disini beberapa hari lagi." Ucap Daffa sambil memeluk Aini dari belakang.


Aini yang tengah menikmati keindahan villa dan juga rintik rintik hujan di salah satu villa yang ada di Ubud Gianyar Bali tentu saja terkejut mendengar penuturan Daffa.


Aini kemudian tahu kenapa Daffi memilih Ubud, karena di situ hampir tiada hari tanpa hujan. Benar benar mendukung momen romantis dan berhoneymoon.


" Memangnya kenapa jika kita pulang lusa?" Tanya Aini.


" Begini, bulan madu yang singkat lebih baik daripada tidak sama sekali, tetapi bulan madu yang panjang adalah yang terbaik." 


" Kata siapa?"


" Kata suamimu yang tamvan ini lah.."


"Bulan madu adalah awal dari kebijaksanaan, tetapi awal dari kebijaksanaan adalah akhir dari percintaan." Ucap Aini.


" Jadi apakah kamu bersedia untuk memperpanjang masa bulan madu kita?"


Aini melotot sementara Daffa tersenyum gila.


Gila...


Ya..


Aini sudah merasa bahwa Daffa menjadi gila permanen.


Setelah sebelumnya gila karena keperjakaan nya tidak bisa bangkit, sekarang dia gila karena keperjakaan nya tidak bisa berhenti.


"Cinta adalah... seseorang untuk berbagi surga dengannya. Dan aku telah menemukan surga ku.." Bisik Daffa yang membuat Aini merinding.


Sepertinya setelah ini dia harus menelpon dokter untuk berkonsultasi bagaimana cara membuat keperjakaan bisa istirahat sebentar.


"Kebahagiaan terdiri dari menjalani setiap hari seolah-olah itu adalah hari pertama bulan madu dan hari terakhir liburanmu." Pekik Aini.


" Jadi kamu tidak mau memperpanjang masa bulan madu kita yaa?" Ucap Daffa dengan nada sedih.


" Bukan begitu hanya saja..."


" Baiklah tidak apa apa..."


Daffa pergi dari Aini, Aini menggeleng gelengkan kepalanya Daffa sekarang terlihat seperti anak yang ngambek karena keinginannya tidak terpenuhi.


Aini tersenyum lalu menghampiri Daffa yang tidur di tempat tidur.


"Ini untuk semua tempat yang kita kunjungi. Dan ini untuk semua tempat yang akan kita tuju. Dan ini untuk aku berbisik lagi dan lagi dan lagi dan lagi; Aku mencintaimu." Ucap Aini sambil menunjuk hatinya dan hati Daffa secara bergantian.


"Tidak ada yang sebanding untuk menjadi orang yang memegang tempat khusus di hatimu. Aku berharap kamu mendapatkan bulan madu yang paling indah!" Ucap Daffa.


"Ini cara terbaik untuk bersama, berpegangan tangan satu sama lain, dan menikmati setiap saat hari. Aku sudah memiliki bulan madu yang bahagia!" Ucap Aini sambil tersenyum dan mengelus pipi Daffa.


Terdiam...

__ADS_1


Keduanya diam dan saling menatap.


" Aku mencintaimu, dan aku hanya ingin melukis banyak kenangan indah yang tidak pernah kamu dapatkan di awal pernikahan kita." Ucap Daffa.


"Pernikahan adalah jalan yang diambil oleh dua orang jatuh cinta. Milikmu baru saja dimulai. Dan kita baru saja memulai kenangan indah yang akan kita ingat sampai akhir hayat." Ucap Aini sambil tersenyum.


" Tidak henti-hentinya aku berkata bahwa aku adalah pria paling beruntung yang rela meninggalkan semua titel tampan, keren, mewah dan lainnya untuk wanita seperti kamu, Aku sangat mencintaimu istri ku..."


" Aku juga mencintaimu sayang..."


Aini dan Daffa tersenyum, mereka saling mendekat hingga momen mereka hampir berciuman terganggu dengan suara ponsel berdering.


Ponsel Aini...


Aini tersenyum dan langsung berjalan untuk mengambil ponselnya.


" Mama..." Pekik Aini.


Aini lalu mengangkat panggilan dari mamanya itu dan ternyata mama sedang berada di kota.


Mama mengatakan bahwa kemungkinan besok atau lusa mama dan papa akan berkunjung ke rumah Daffa dan Aini.


" Emm soal itu, maaf ma. Sebenarnya kami berdua sedang berada di pulau Bali."


"Apa Daffa mengajak mu untuk berbisnis?" Tanya Mama yang membuat Aini melihat Daffa. Daffa memejamkan mata mungkin dia sedikit kesal momen romantis nya terganggu.


" Ya, mas Daffa mengajak ini untuk berbisnis tapi bukan bisnis pekerjaan yang biasa dilakukan oleh mas Daffa tapi ini tentang bisnis pabrik bayi." Ucap Aini sedikit berbisik.


Setelah memutuskan panggilannya mama segera mendatangi suaminya dan mengatakan bahwa Daffa sudah kembali menjadi pria normal dan sekarang dia serta Aini sedang berbulan madu di Bali.


Papa tentu saja sangat bahagia, kini mereka sudah bisa melepaskan beban yang selama ini mereka pikul karena memikirkan tentang Daffa yang masih belum bisa menunaikan tugasnya sebagai seorang suami.


Kini dalam hidup mereka berdua sudah hilang dan mereka akan fokus pada kehidupan Daffi.


" Waktu nya mencari jodoh untuk Daffi.." Pekik Papa.


" Ya papa benar, semoga saja Daffi segera mendapatkan jodoh dan membawanya berbulan madu sehingga dua menantu kita bisa hamil secara bersamaan." Kekeh Mama.


" Papa sudah tidak sabar untuk itu. Bagaimana jika nanti anak mereka semua kembar. Ah pasti akan menyenangkan." Pekik Papa .


Kembali pada Daffa dan Aini.


Aini bersyukur karena sekarang dia telah menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya.


Aini berjalan menuju Daffa setelah dia meninggalkan semua pakaiannya.


" Mau makan siang?" Tawar Aini.


Daffa membuka mata dan tersenyum. Dia lalu membawa Aini masuk ke dalam selimut keindahan.


...----------------...

__ADS_1


Malam yang indah untuk pasangan yang masih belum bisa berhenti melakukan sesuatu....


Tapi malam galau sedang dirasakan Viona dan Daffi.


Viona berpikir Daffi pasti sedang katarak dan mengalami patah lidah mengingat dia terus saja mengatakan sesuatu yang tidak biasa didengar oleh telinga Viona.


Sementara Daffi sendiri berdoa agar Viona tidak menolak nya karena itu akan mencoreng nama baik Daffi yang terkenal tidak pernah menolak wanita.


Di tempat lain ada Lala yang sedang binggung karena beberapa hari ini Daffi tidak dapat di temukan. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi.


Membuat Lala khawatir tentang apa yang terjadi pada Daffi, tapi teman yang lain mengatakan bahwa Daffi mungkin sedang bisnis atau melakukan yang biasa Daffi lakukan yaitu bersenang-senang dengan wanita.


Lala sendiri tidak percaya karena Lala sudah mengetahui dengan mata kepala bahwa Daffi sudah berubah.


Hari itu, setelah pergi ke mall disaat Daffi bertemu dengan Viona. Lala mengajaknya di bar.


Mereka berdua sama sama mabuk, dan Lala memanfaatkan kesempatan itu untuk bisa tidur dengan Daffi.


Namun Daffi menolak, sejak itu Lala berpikir Daffi benar benar sudah berubah. Dalam keadaan mabuk dia sudah menolak wanita untuk bergelut apalagi dalam keadaan sadar.


Lala memutuskan untuk memperpanjang masa tinggal nya di kota karena sebenernya kedatangan nya untuk menyatakan cinta pada Daffi.


Lala tidak rela jika lelaki yang di cintai nya di miliki orang lain.


" Aku tidak akan membiarkan kamu dimiliki oleh orang lain selain aku.." Pekik Lala.


Lala kemudian tersenyum manis saat bertemu dengan orang tua Daffi yang saat itu berada di kota yang sama.


Orang tua Daffi yang memang sudah mengenal Lala, tentu saja merasa bahagia karena bisa bertemu Lala di kota itu.


Mama dan Lala sering menghabiskan waktu berdua hingga mereka sangat dekat.


Mama kemudian berbicara kepada tentang jodoh Daffi.


" Pa, bagaimana kalau kita jodohkan Daffi dengan Lala?. Lala kan teman Daffi sejak dulu."


" Ya kan mereka teman ma, belum tentu juga Daffi dan Lala mau ketika mereka akan dijodohkan." Ucap Papa.


" Ya karena itu kita coba untuk mendekatkan mereka. Mana tahu dari teman mereka bersedia menjadi teman hidup."


"Hmmm, Mama benar juga."


Lala yang saat itu datang ke penginapan mama dan papa Daffi untuk mengantarkan makanan yang dia buat tentu saja merasa bahagia ketika dia tidak sengaja mendengar apa yang baru saja orang tua dari itu bicarakan.


" Aku akan di jodohkan dengan Daffi. Tentu saja aku sangat bersedia..." Pekik Lala.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2