
" Aini maukah kamu menjadi satu satunya pemilik dari hati ini?" tanya Daffa.
" Tidak."
" Ah tadi minta tembak, giliran udah di tembak malah di tolak. Sakit tahu Aini. Sakit." Pekik Daffa sambil menunjuk nunjuk dada nya.
Aini menahan tawa nya.
Cup
" Aku sudah mencintai mu sejak kamu sah menjadi suamiku." Ucap Aini sambil mencium bibir Daffa.
My first kiss.....
AHH....
Daffa pingsan sambil tersenyum..
" Mungkin aku kiper terburuk sedunia, membiarkan kamu membobol hatiku berkali-kali dengan cintamu." Pekik Daffa setengah pingsan.
" Hadeh..., bobol hati hal biasa. Seharusnya kamu bangga ketika bisa membobol gawang ku." Keluh Aini sambil memompang tubuh Daffa ke atas kursi.
Daffa mengintip dengan mata sipit Aini yang sedang mengoceh tentang gawang.
Ketika mereka hampir sampai di atas sofa, Daffa langsung bangun dan membuat Aini terjatuh di atas sofa sementara Daffa ada diatasnya.
" Jadi kamu ingin aku membobol gawang?. Baiklah aku akan lakukan." Ucap Daffa sambil tersenyum smirk.
" Se...se..ka..rang?"
" Ya, agar aku dan kamu resmi menjadi suami istri lahir dan batin." Pekik Daffa.
" Tunda saja karena aku kesini untuk meminta ijin untuk ikut mama pulang."
" Apa?" Daffa yang siap membuka jas nya kembali memakai jas dan pergi dari Aini.
" Aku mendapat kabar kurang mengenakkan dari kakakku yang mengharuskan aku pulang.."
" Memangnya kabar apa?"
Aini kemudian menceritakan percakapannya dengan sang kakak.
" Assalamualaikum Aini.."
" Walaikumsalam kakak.."
" Aini apa kabar, bagaimana kabar Aini dan suami?"
" Baik kak, apa ada sesuatu yang terjadi?"
" Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
" Karena jika kakak langsung menanyakan kabar setelah mengucapkan salam itu artinya ada sesuatu yang sedang terjadi."
" Maaf Aini.."
" Katakan saja kak .."
" Apa kamu kuat jika kakak mengatakan nya via telepon?"
" Insyallah Aini kuat."
__ADS_1
" Tidak tidak, lebih baik kakak datang saja ke kota dan memberi tahu kamu secara langsung."
" Insyallah Aini kuat kak.."
" Baiklah, bismillahirrahmanirrahim. Kakak ingin menyampaikan sesuatu."
" Tapi sebelum itu, kakak ingin cerita sedikit. Jadi beberapa hari yang lalu panti asuhan kita sering kedatangan dua orang wanita dan satu laki laki, yang satunya wanita paruh baya sementara yang satu lagi wanita bercadar yang usianya masih sangat muda mungkin sekitar 4 atau 5 tahun lebih muda dari kamu. Sementara yang laki laki mungkin seumuran dengan kakak."
" Lalu masalah nya dimana?"
"Masalah nya adalah, mereka mengaku sebagai istri dan anak dari almarhum ayah."
Jeder !!!!
Aini yang saat itu sedang memilih buat segar langsung menjatuhkannya.
Untung jatuhnya diatas keranjang, kalau jatuhnya di lantai kan bisa bahaya.
" Kakak dan Mas Akbar awalnya tidak percaya tapi setelah wanita yang mengaku sebagai istri almarhum Ayah menunjukkan beberapa foto serta bukti akte kelahiran meraka. Mau tidak mau kami percaya."
" Aini... kamu masih ada disana?"
" Aini?"
" Istighfar Aini, kakak tahu ini adalah kabar yang sangat mengejutkan di saat hati kita masih berduka karena kepergian Ibu. Kakak harap kamu dan suami bersedia untuk datang kemari dan mencari kebenaran."
" Aini..."
" Aini akan pulang kak.."
" Jangan memaksakan diri jika ternyata suami kamu tidak mengizinkannya."
" Kalau begitu Kakak akan menunggu kedatanganmu. Assalamualaikum.."
" Walaikumsalam."
Aini menghapus air mata yang mengalir begitu saja di pipinya saat bercerita tentang kabar yang dia dapatkan dari sang kakak.
" Aku mengizinkan kamu pulang bersama dengan mama dan maaf aku tidak bisa ikut denganmu tapi aku berjanji akan segera menyusulmu begitu pekerjaanku selesai." Ucap Daffa.
" Aini kamu harus tahu, ayah adalah cinta pertama anak perempuannya yang tak akan mengkhianati apalagi menyakiti anaknya." Ucap Daffa sambil memegang tangan Aini.
"Aku akan meresapi semua makna di balik kenyataan pahit yang beliau berikan itu dan akan kujadikan pelajaran untuk menuju masa depan yang lebih baik." Ucap Aini sambil kembali menetaskan air mata. Daffa membawa Aini ke dalam pelukannya.
"Ayah, aku tak tahu mengapa aku bisa menjadi mengecewakan seperti ini ketika dewasa, yang aku tahu, itu adalah bentuk kekecewaanku di masa dewasaku saat ini." Lirih Aini.
"Mungkin banyak orang yang lupa bahwa hubungan dapat bertahan lama karena senantiasa dilandasi rasa perhatian, tanggung jawab, dan saling melengkapi. Aku harap kamu akan menghadapi ini dengan kelapangan hati."
Setelah dirasa Aini tenang, Daffa memutuskan untuk mengantarkan Aini pulang.
" Titip Aini ma, Daffa berjanji akan segera menyusul begitu pekerjaan Daffa selesai." Ucap Daffa saat Mama dan Daffi sudah bersiap untuk pulang.
" Iya."
" Calon jodohku... calon jodohku..." Pekik Viona yang berlari menghampiri Daffi.
" Ya Tuhan, dia lagi.."
Daffa seperti mendapatkan ide, dia lantas langsung mendatangi Viona dan meminta Viona untuk membawa pakaian selama beberapa hari.
Viona terlihat senang dan langsung masuk kembali ke dalam rumah.
__ADS_1
" Apa yang kamu katakan sehingga dia tersenyum seolah-olah sedang mendapat uang kaget." tanya Daffi.
" Aku memintanya untuk ikut kalian pulang ke kampung sehingga Aini akan mempunyai teman ketika dia membutuhkan seseorang untuk menghibur hatinya karena aku tahu Viona adalah teman yang pantas untuk mengubah mood yang tadinya buruk menjadi baik."
" Yang benar saja." Pekik Daffi.
" Sudah tidak apa apa."
" Dia selalu memanggilku dengan sebutan calon jodoh seolah-olah aku kan benar-benar menjadi jodohnya."
" Ya bagus dong, ucapan adalah doa." Pekik Mama.
" Dih amit amit punya bini kayak dia." Keluh Daffi.
" Jangan seperti itu, kamu hanya belum mengenal Fiona jika kamu sudah mengenal Viona kamu akan tahu bahwa sebenarnya dia adalah orang asing walaupun otaknya memang kadang-kadang suka konslet dadakan." Ucap Daffa.
Tak beberapa lama kemudian Fiona kembali dengan membawa koper kecil.
" Lapor mas Daffa, mbak Aini dan nyonya mama. Viona sudah siap untuk ikut kalian ke kampung halaman walaupun Fiona harus menutup sementara ladang uang yang baru saja rilis..."
" Lebai." Pekik Daffi sambil masuk ke dalam mobil.
" Kamu duduk di depan aja." Ucap Daffa saat melihat Viona akan masuk ke dalam mobil dan duduk di dekat Aini.
" Kata nya tidak boleh duduk berdua dengan yang bukan muhrim."
" Kan kalian duduknya tidak berdekatan, ada jaraknya. Lagipula di belakang ada mama dan Aini. Jadi kalian tidak benar-benar duduk berdua."
" Seperti itu?"
" Iya sepertinya itu. Kalau kamu maksa duduk di belakang nanti kamu akan terhimpit oleh Mama dan Aini terus kamu jadi penyet dan gepeng gimana?. Emang kamu mau jadi kayak rempeyek?"
" Ya jangan dong, jadi rengginang aja, walaupun bertumpuk tapi gurih dan bikin nagih." Ucap Viona
Tin
Tin
Tin
" Jadi berangkat gak sih?. Drama aja terus...." Pekik Daffi.
" Gue sumpahin Viona jadi istri lu." Teriak Daffa.
" Ah mas Daffa, aku aminin deh.." Ucap Viona sambil tersenyum dan masuk ke dalam mobil.
" Potongan kayak gini mau jadi istri ku.. Ora sudi."
" Jangan gitu, ntar jadi istri beneran gimana?" Ucap Viona.
" Kalau jadi istri tak buatin restoran yang gede bertingkat tingkat sampek ada kolam renangnya sama tempat karaoke."
" Aku sudah tidak sabar untuk itu." Pekik Viona.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1