
"Jika aku harus memilih antara bernapas dan mencintaimu, aku akan menggunakan napas terakhir untuk memberitahumu aku mencintaimu." Raga Daffa seolah-olah berbicara saat dirinya menyentuh bibir Aini.
"Aku selalu dipenuhi dengan rasa suka cita dan kedamaian yang mendalam setiap kali memikirkan fakta bahwa kita akan menghabiskan sisa hidup kita dalam pelukan satu sama lain." Ucap raga Aini yang seolah menjawab perkataan dari raga Daffa.
"Aku suka bagaimana kita kacau tapi romantis,dan semoga ketika berapa banyak masalah datang atau pergi kita akan tetap stabil."
"Hatiku adalah yang paling beruntung dan paling bahagia di alam semesta karena kamu hidup di dalamnya. Tidak ada kata yang dapat menjelaskan betapa aku bersyukur menjadi penerima cinta dan dukunganmu."
Malam itu mereka mengekspresikan untuk pertama kalinya bertapa mereka saling mencintai.
Daffa menyudahi ciuman itu dan memeluk Aini.
" Tidurlah, Aku ingin melihatmu di meja makan besok pagi." Ucap Daffa.
Aini tersenyum, walaupun hanya sebatas ciuman tapi itu sudah merupakan kemajuan yang baik.
Aini tidur di dalam pelukan Daffa, sementara Daffa mencoba menetralkan tubuhnya pasca dia dengan berani mencium bibir Aini.
Pagi harinya..
Aini melihat Daffa masih tertidur, Aini juga baru menyadari jika suaminya ternyata lebih tampan dari yang dia pikirkan.
"Hatiku mengandung semua kebahagiaan di dunia karena kamu adalah cinta dalam hidupku, suamiku, dan sahabat terbaikku." Aini mendekati Daffa dan mencium pipinya.
" Selamat pagi suamiku." Bisik Aini sambil berjalan menuju ruang ganti sebelum pergi ke dapur dan membuat sarapan.
Tanpa Aini tahu bahwa saat ini Daffa tersenyum sambil memegangi pipinya.
"Kamu adalah sahabat dan kekasihku, dan aku tidak tahu sisi mana darimu yang paling aku nikmati. Aku menghargai setiap sisi, sama seperti aku telah menghargai hidup kita bersama." Lirih Daffa.
Daffa segera bersiap untuk turun dan sarapan bersama Aini.
" Selamat pagi istri ku.."
Aini tersenyum dan berbalik badan.
" Aini, ketika aku mengatakan aku mencintaimu, aku tidak mengatakan nya dengan santai. Aku mengatakan nya untuk mengingatkanmu bahwa kamu adalah segalanya bagiku, dan hal terbaik yang pernah terjadi padaku dalam hidup." Ucap Daffa sambil mendekati Aini dan kembali mencium bibir Aini.
" Jadi kita mau makan atau tidak?" Tanya Aini saat Daffa hanya diam memandangi nya.
" Ah iya kamu benar karena kita harus makan dan aku harus pergi bekerja. Apa sebaiknya aku tetap di sini untuk memastikan bahwa kamu tidak akan sakit lagi?" Tanya Daffa.
" Tidak, aku baik-baik saja pergilah bekerja adalah hasil kembali ingatlah bahwa aku disini menunggu kepulangan mu." Ucap Aini.
Mereka kemudian makan bersama hingga bel pintu kembali terdengar.
" Biar aku saja." Ucap Daffa saat Aini meletakkan sendok dan garpu untuk melihat siapa yang datang.
Daffa terkejut karena melihat gadis muslimah datang.
" Assalamualaikum..."
" Walaikumsalam, cari siapa?" Pekik Daffa.
" Ah mas Daffa. Ini saya Viona." Kekeh Viona sambil berpose pisss ...
Daffa menepuk dahinya sendiri, lalu menggerakkan tangannya sebagai kode agar Fiona masuk ke dalam.
__ADS_1
Viona berjalan dengan santai dan anggun.
" Ada apa dengan kakimu?" Tanya Daffa
"Hehe, aku masih belum terbiasa dengan pakaian ini."
Saat sampai di dapur, Aini juga terkejut melihat perubahan Viona yang terbilang cepat.
" Viona?"
" Assalamualaikum.."
" Masyaallah, walaikumsalam.."
" Aku sengaja datang kesini karena mendengar bahwa kamu sakit, jadi aku buatkan makanan hangat." Ucap Viona.
" Terima kasih banyak."
Aini kemudian mengambilkan satu piring untuk Viona dan mereka kemudian melanjutkan makan.
" Aini, aku sudah merubah penampilan ku tapi kenapa sampai sekarang jodohku masih belum datang?"
" Pfff..." Daffa akan tertawa namun Aini langsung menatapnya tajam sehingga Daffa kembali diam.
" Aku udah capek nunggu." Ucap Viona.
" Apa yang kamu lakukan selama kamu menunggu?" Tanya Aini.
"Saya bekerja keras karena sadar kalau uang nggak punya kaki buat jalan sendiri ke kantong saya." Ucap Viona yang membuat Aini tertawa.
"Secapek-capeknya kerja, lebih capek nganggur." Ucap Daffa.
" Lah memangnya aku gak pernah bener yaa?"
" Iya kan laki laki selalu salah." Kekeh Viona.
"Dengar, hidup itu seperti taksi. Argonya tetap berjalan walau kendaraannya berjalan atau berhenti." Ucap Daffa.
" Hmm, rasanya ingin sekali membalas pengkhianatan mantan, tapi aku tidak tahu caranya." Ucap Viona sambil menunduk.
"Pembalasan paling sadis buat mantan adalah menjadi ibu tirinya."
" Maksud mas Daffa aku harus menikah dengan aki aki?"
" Ya kalau aki nya masih baru dan fresh kenapa tidak?"
" Lah kalau udah karatan?"
" Yaa derita nya kamu hahaha.."
" Daffa..." Ucap Aini.
" Hehe maaf.."
" Aini menurut mu aku ini jelek atau cantik?"
" Cantik lah.."
__ADS_1
" Tapi banyak yang bilang aku jeleek."
"Jika orang itu menyebutmu jelek, janganlah berputus asa, belum tentu orang itu berkata bohong." Ucap Daffa.
" Jadi maksud mas Daffa aku ini jelek?"
" Aku cuma bilang kata orang, kalau kata aku sih kamu yang cantik namanya juga wanita ya pasti cantik nggak mungkin ada wanita ganteng."
" Iya juga yaa.."
" Viona.." Panggil Aini.
" Apa kamu tidak berencana untuk menemui kedua orang tua kamu mana tahu mereka sedang merindukan kamu. Dan berharap kamu kembali."
" Hmm entahlah terkadang aku juga merindukan mereka terutama ayah. Aku dan ayah dulu sangat dekat."
"Sebuah studi menyatakan bahwa kedekatan ayah pada anaknya itu bagaikan kedekatan anak pada ayahnya." Ucap Daffa.
" Suami sebaiknya kamu berhenti dan tidak menghabiskan makanan yang ada dikirim kamu." Ucap Aini.
" Kenapa?"
" Otak kamu jadi konslet."
" Hehe..."
" Aku ingin sekali pulang tapi aku sudah pergi tahu aku tidak akan pernah pulang sebelum aku membawa uang yang banyak." Ucap Viona.
"Viona. Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahagia daripada tidak memiliki."
" Daffa.."
" Apa aku benar kan?"
Aini terdiam lalu dia mencoba mencerna perkataan yang baru saja dikatakan oleh Daffa. Dan Aini tidak bisa mem pungkiri bahwa apa yang dikatakan dapat itu memang benar.
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahagia daripada tidak memiliki uang.
"Terkadang kita membutuhkan kesendirian untuk merenungi hidup dan menentukan hidup seperti apa yang kita inginkan sebelum memutuskan untuk kembali melangkah." Ucap Aini
" Tapi berhati-hatilah jangan sampai ketawa sendiri nanti disangka orang gila." Kekeh Daffa sambil tertawa terbahak-bahak.
" Sudah jangan dengarkan dia, dia dalam mode konslet." Ucap Aini.
" Intinya adalah jangan pernah putus asa dan teruslah melangkah."
"Benar, jangan pernah berhenti tuk melangkah, apalagi saat melintas sendirian di kuburan pada malam hari, hahaha..." Pekik Daffa sambil kabur dari meja makan.
Namun baru beberapa langkah Daffa meninggalkan meja makan dia berhenti dan berbalik.
"Ohya Viona. Jika tuhan belum menjawab doamu, bersabarlah, dan ingat bukan cuman kamu yang berdoa."
Wakakak...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...