Aku Vs Masa Lalu Suamiku

Aku Vs Masa Lalu Suamiku
bab 11 Erik Gunawan 2


__ADS_3

Setelah hampir dua puluh menit mobil putih Edgar sudah sampai di parkiran khusus presdir. Edgar memasuki gedung kantor nya dengan berjalan cepat, tidak mau membuat klien penting nya terlalu lama menunggu.


Para karyawan yang melihat Edgar datang menundukkan kepala nya. Memberi hormat.


"Pak Salim dan putra nya sudah menunggu di ruang meeting pak." Ucap Dava sekertaris Edgar dan juga sahabat nya itu.


"Apa berkas nya sudah kamu siap kan?" Tanya Edgar setelah mereka berdua berada di dalam lift.


"Sudah,."


Setelah sampai didepan ruang meeting, Dava membukakan pintu untuk Edgar atasan nya. Lalu Edgar masuk dan langsung menyambut klien nya.


"Pak Salim selamat datang, maaf sudah membuat menunggu." Ucap Edgar sembari menyalami rekan kerja nya itu.


"Tidak apa-apa nak Edgar. Oh ya kenalkan ini putra saya yang akan menggantikan saya nanti nya. Erik satria Gunawan."


Ucap pak Salim mengenalkan putra nya.


Edgar menoleh..


Deg..


"Anda!" Ucap Edgar dan Erik bersamaan.


"Lho kalian sudah saling kenal rupanya." Ucap pak Salim.


"Tidak!" Jawab Edgar dan Erik bersamaan lagi.


Pak Salim memandang Erik dan Edgar bergantian. Menelisik ada apa dengan mereka berdua.


"Maksud saya, ya tadi kami sempat bertemu pak." Ucap Edgar menjawab keheranan pak Salim.


Dia merutuki dirinya sendiri dalam hati. Kenapa tadi dia tidak menyadari kehadiran Erik disamping pak Salim. Mungkin saking terburu buru.


Erik hanya mengangguk setuju.


"Ah, mari silahkan duduk. Sekertaris saya akan mempresentasikan tentang produk baru kami." 


Acara meeting berjalan lancar hari ini. Walaupun tadi Edgar sempat memandang sinis pada erik. Erik yang dipandangi Edgar pun tidak mempedulikan nya. Setelah kepergian Erik dan pak Salim. Edgar menghempaskan dirinya duduk di sofa ruang kerja nya.


"Ini minum dulu pak." Ucap Dava menyerahkan air minum pada Edgar yang sepertinya terlihat kelelahan.

__ADS_1


"Sudah tidak ada orang kenapa masih memanggilku pak dav." Menatap kesal.


"Eh sorry gar."


Dava melihat Edgar menunjuk sofa disamping nya yang artinya menyuruh Dava untuk duduk.


Kalau sudah seperti ini pasti Edgar mempunyai keluh kesah yang akan diceritakan pada Dava.


"Apa ada masalah gar?" Tanya Dava memancing sahabat nya itu.


Edgar memijit pelipis nya. Rasa pusing tiba tiba menghampiri nya.


"Erik , Erik gunamawan seperti nya dekat dengan Dewi." Mendesah kesal lagi kan.


"Dekat dengan calon istri mu. Lantas kenapa kalau mereka dekat?" Bertanya dengan santai tidak mempedulikan mata Edgar yang melotot menatap tajam kearah nya.


"Kau ini bodoh sekali dav!" Kesal lagi melemparkan bantal pada wajah Dava.


"Haha, jadi Edgar Permana putra sedang cemburu rupanya." Dava Terkekeh mengambil bantal yang dilempar edgar di samping kaki nya.


"Cari pacar sana, agar kamu merasakan apa yang aku rasakan." Mencibir.


"Tidak mau!. Cinta itu ribet. Sendiri gini saja happy kok." Ucap Dava dengan santai nya. Menaruh bantal yang di lempar Edgar tadi di belakang punggung nya.


"Cih.. kenapa jadi aku?. Apa kamu tidak sadar diri gar dulu yang hampir bunuh diri karena wanita kan kamu." Mencibir dalam hati. 


"Apa? Kamu mengumpat ku!" Edgar seperti tau arti tatapan dan senyuman menyebalkan Dava.


"Tidak, tidak. Kalau begitu saya kembali ke ruangan saya meneruskan pekerjaan saya yang tertunda pak." Pamit Dava membungkukan badan lalu bergegas keluar.


"Cih.. baj*Ngan kecil itu!" 


Edgar memutuskan untuk berkutat kembali pada pekerjaan nya. Berharap pikiran nya bisa teralihkan.


***


Ditaman , seorang laki laki menatap kosong pada danau kecil di depan nya.


Dia meremas rambut, mengeluarkan emosi yang ditahan nya.


Terduduk di tanah bersimpuh dengan kaki yang ditekuk.

__ADS_1


"Kenapa semua menjadi seperti? Kenapa orang yang aku cintai akan menikah dengan orang lain!?" Berteriak frustasi menjalar di seluruh tubuh nya.


"Apa kamu tahu, aku mencintai mu sejak lama wi. Aku sangat mencintai mu. Aku pulang untuk mengutarakan isi hati ku. Tapi ,, tapi kenapa kabar pernikahan mu yang ku dapat. Hiks .. hiks .."


Erik tidak sanggup lagi membendung air mata nya. Rasa kecewa dan penyesalan memenuhi rongga dada nya.


Andai dulu dia sudah mengutarakan perasan nya. Semua pasti tidak akan seperti ini. Sekian lama dia hanya berani memendam rasa cinta nya. 


"Bodoh! Bodoh! Bodoh sekali kamu Rik. Pengecut..!" Menangis menyesali keputusan nya.


Erik menoleh kala merasakan tangan seseorang menepuk pundak nya.


Menatap tajam pada wanita di belakang nya.


"Kamu siapa?" Tanya Erik setelah berdiri dan mengusap air mata di wajah nya.


"Eh ternyata dia lupa padaku." 


Batin wanita itu.


"Aku Mia, teman Dewi. Yang kamu lihat di kedai tadi." Ucap Mia tersenyum.


"Minum mas, biar tenang." Mia mengulurkan tangan nya yang sedang memegang sebotol air mineral pada Erik.


Tetapi Erik tidak menerima nya. Dia langsung pergi meninggalkan Mia yang berdiri terpaku menatap kepergian nya.


Mia menghela nafas kasar. Menatap Eir mineral ditangan nya.


" Aku begini kan karena kasihan padanya. Kenapa dia seperti itu. Huh."


Saat Mia kembali dari kontrakan nya mengambil barang-barang yang masih tertinggal di kontrakan, dia melewati taman dan melihat Erik duduk bersimpuh dan seperti menangis.


Dia memandang dari kejauhan awal nya. Melihat Erik yang sepertinya sangat frustasi, dia memberanikan diri mendekat.


.


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2